27-09-2011, 10:57 AM
Jalur Kereta Api Cibungkul-Pirusa, Nasibmu Kini
Selasa, 27 September 2011 10:46 WIB
AGAK aneh. Rencana pengaktifan kembali jalur kereta api Galunggung-Tasik, baru menggelembung sekarang. Itu pun muncul dari Kementrian Dalam Negri, bukan inisiatif Pemerintah Provinsi Jawa Barat atau Pemerintah Daerah setempat. Artinya, Peraturan Daerah ihwal Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), yang sudah diketok DPRD Provinsi Jawa Barat harus dibongkar lagi. Tak cuma Galunggung, jalur kereta Kota Banjar-Cijulang, Cikajang-Cibatu, Cikampek -Jatibarang-Cirebon, dan Indramayu-Jatibarang pun disebut-sebut dalam hasil evaluasi RTRW itu.
Jalur kereta Galunggung-Tasik, dibangun setelah Gunung Galunggung meletus, 5 April 1982. Paska bencana, pasir Galunggung dieksploitasi. Demi mengangkut pasir kelas tinggi, jadilah jalur khusus kereta dari kampung Cibungkul Indihiang hingga ke Pirusa, cekdam Sinagar. Antara tahun 1984-1985, gerbong-gerbong kereta melenggang mengangkut pasir ke Jakarta. Jadilah jalan tol dan bandara. Setelah pasir terkuras, kereta api pengangkut pasir tidak aktif lagi. Jalur khusus itu pun dibiarkan terlantar hingga kini. Lebih dari tigapuluh tahun lamanya, jalur khusus kereta itu mati. Bukan waktu yang sebentar.
Selama itu pula, tidak tampak ada upaya untuk merevitalisasi jalur itu. Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya, yang paling dominan dari sisi kewilayahan bisa memainkan peran untuk merevitalisasi jalur itu. Apalagi Gunung Galunggung, sudah menjadi ikon yang melekat.
Jalur khusus kereta api Galunggung-Tasik, bisa menjadi bangkitan multi sektor. Bukan alat transportasi masal semata, tetapi juga menjadi penopang sektor ekonomi, sosial, dan budaya. Sangat sejalan, bila pengaktifan kembali jalur itu bisa mempertajam langkah untuk mempertahankan kawasan hijau, minimal 30% dari luas daerah aliran sungai. Apalagi, aktiÂviÂÂtas penggalian pasir di kawasan Gunung Galunggung saat ini masih terus berlangsung, meskipun pasir muntahan letusan tahun 1982 silam sudah habis.
Siapa tahu, bila jalur kereta api Galunggung-Tasik dihidupkan kembali bisa mendorong geliat ekonomi yang ramah lingkungan. Penggalian pasir besar-besaran bisa dikurangi, dialihkan ke sektor wisata dan agribisnis. ***
http://www.duddy.web.id/Editorial/jalur-...-kini.html
------------
Yang jadi pertanyaan2 aku pribadi :
1. Di wilayah Galunggung dan Pirusa itu kawasan apa yah? Pemukiman, wisata atau pertanian semata?
2. Apa bener sejalan dg penghijauan, moda KA minimal barang akan bisa bergeliat lagi? Minimal utk dari dan ke Bandung entah via Gadongbong atau Gedebage gitu...
3. Letusan dah berhenti, tapi pasir masih terus digali bisa terbilang secara 'ilegal'. Tapi dg adanya KA barang apa dijamin penggalian pasir akan berhenti? Siapa yang membutuhkan pasir dan akan diapakan di kota setempat? Misalnya entah dibawa ke Jakarta gitu...
Selasa, 27 September 2011 10:46 WIB
AGAK aneh. Rencana pengaktifan kembali jalur kereta api Galunggung-Tasik, baru menggelembung sekarang. Itu pun muncul dari Kementrian Dalam Negri, bukan inisiatif Pemerintah Provinsi Jawa Barat atau Pemerintah Daerah setempat. Artinya, Peraturan Daerah ihwal Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), yang sudah diketok DPRD Provinsi Jawa Barat harus dibongkar lagi. Tak cuma Galunggung, jalur kereta Kota Banjar-Cijulang, Cikajang-Cibatu, Cikampek -Jatibarang-Cirebon, dan Indramayu-Jatibarang pun disebut-sebut dalam hasil evaluasi RTRW itu.
Jalur kereta Galunggung-Tasik, dibangun setelah Gunung Galunggung meletus, 5 April 1982. Paska bencana, pasir Galunggung dieksploitasi. Demi mengangkut pasir kelas tinggi, jadilah jalur khusus kereta dari kampung Cibungkul Indihiang hingga ke Pirusa, cekdam Sinagar. Antara tahun 1984-1985, gerbong-gerbong kereta melenggang mengangkut pasir ke Jakarta. Jadilah jalan tol dan bandara. Setelah pasir terkuras, kereta api pengangkut pasir tidak aktif lagi. Jalur khusus itu pun dibiarkan terlantar hingga kini. Lebih dari tigapuluh tahun lamanya, jalur khusus kereta itu mati. Bukan waktu yang sebentar.
Selama itu pula, tidak tampak ada upaya untuk merevitalisasi jalur itu. Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya, yang paling dominan dari sisi kewilayahan bisa memainkan peran untuk merevitalisasi jalur itu. Apalagi Gunung Galunggung, sudah menjadi ikon yang melekat.
Jalur khusus kereta api Galunggung-Tasik, bisa menjadi bangkitan multi sektor. Bukan alat transportasi masal semata, tetapi juga menjadi penopang sektor ekonomi, sosial, dan budaya. Sangat sejalan, bila pengaktifan kembali jalur itu bisa mempertajam langkah untuk mempertahankan kawasan hijau, minimal 30% dari luas daerah aliran sungai. Apalagi, aktiÂviÂÂtas penggalian pasir di kawasan Gunung Galunggung saat ini masih terus berlangsung, meskipun pasir muntahan letusan tahun 1982 silam sudah habis.
Siapa tahu, bila jalur kereta api Galunggung-Tasik dihidupkan kembali bisa mendorong geliat ekonomi yang ramah lingkungan. Penggalian pasir besar-besaran bisa dikurangi, dialihkan ke sektor wisata dan agribisnis. ***
http://www.duddy.web.id/Editorial/jalur-...-kini.html
------------
Yang jadi pertanyaan2 aku pribadi :
1. Di wilayah Galunggung dan Pirusa itu kawasan apa yah? Pemukiman, wisata atau pertanian semata?
2. Apa bener sejalan dg penghijauan, moda KA minimal barang akan bisa bergeliat lagi? Minimal utk dari dan ke Bandung entah via Gadongbong atau Gedebage gitu...
3. Letusan dah berhenti, tapi pasir masih terus digali bisa terbilang secara 'ilegal'. Tapi dg adanya KA barang apa dijamin penggalian pasir akan berhenti? Siapa yang membutuhkan pasir dan akan diapakan di kota setempat? Misalnya entah dibawa ke Jakarta gitu...




![[Image: 5147433576_a332603046.jpg]](http://farm5.staticflickr.com/4049/5147433576_a332603046.jpg)

