Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Suasana kereta-api masa kemerdekaan 1947
#1
Lawatan Pasca perang Keliling Jawa
Oleh Ronald S. Kain - Disarikan dari http://nationalgeographic.co.id/

Inilah saat yang menarik untuk mengunjungi Batavia—bekas ibu kota Hindia Belanda—dan daerah sekitarnya yang dikuasai Belanda, juga Yogyakarta—ibu kota negara belia Republik Indonesia—dan tempat-tempat lainnya di pedalaman. Saya datang untuk mengumpulkan bahan buku tentang perubahan penting yang terjadi di Hindia Belanda.

Sejak lawatan saya ke Jawa tahun 1947, Belanda dan Republik Indonesia telah menyetujui proposal PBB bahwa masa depan politik Jawa, Sumatra, dan Madura ditentukan melalui plebisit.

Ke Yogyakarta, Benteng Republik

Pagi-pagi esoknya, saya dan Harry Summers naik gerbong dinas kereta api yang menuju Yogyakarta, ibu kota Republik yang terletak di bagian tengah Jawa. Kami berdua sangat bersemangat mengunjungi wilayah yang berada di bawah pemerintahan nasionalis sejak proklamasi Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Di dalam gerbong itu ada dua menteri Kabinet Republik dan pejabat lain yang kembali ke Yogyakarta dari penandatanganan resmi perjanjian damai Linggarjati dengan Belanda di Batavia beberapa hari sebelumnya, pada 25 Maret 1947. Ternyata, selain kami tak ada orang kulit putih lain di kereta itu.

Tak sampai satu jam lepas dari Batavia, kereta kami berhenti di Kranji yang menjadi perbatasan daerah yang dikuasai Belanda di sekitar Batavia. Di tapal batas tersebut, semua penumpang kecuali yang ada di gerbong dinas harus melewati pemeriksaan militer dan pabean Belanda.

Saat melihat satu peleton tentara Belanda yang kekar berlatih di peron stasiun, saya teringat bahwa selama berbulan-bulan pasukan Belanda dan Republik saling berhadapan di perbatasan ini. Tak jarang meletus pertempuran kecil meski sudah ada perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani kedua belah pihak November 1946.

Tak jauh selepas Kranji kami berhenti lagi untuk pemeriksaan tanda pengenal semua penumpang yang dilakukan oleh perwira dan prajurit Republik.

Banyak penjaga perbatasan di sisi Indonesia tampak baru beranjak remaja, sebagian besar begitu pendek dan kurus sehingga senapan yang mereka bawa terlihat terlalu berat. Seragam yang mereka pakai juga sangat beragam, demikian pula perlengkapan senjatanya. Sebagian besar seragam dan perlengkapan kelihatannya berasal dari tentara Jepang. Para prajurit tersebut mondar-mandir dengan penuh gaya di peron, jelas menikmati perannya sebagai tentara.

Rambut Panjang Bukti Patriotisme

Beberapa pemuda di tempat tersebut, seperti di banyak tempat lainnya di pedalaman Jawa, membiarkan rambut mereka tumbuh panjang untuk memenuhi sumpah di awal perang kemerdekaan untuk tidak memangkas rambut sampai Indonesia meraih kemerdekaan. Sehingga, orang asing sulit membedakan jenis kelamin beberapa orang "gondrong" itu.

Seorang petugas yang tampak efisien, pasti gadis, memeriksa tanda pengenal semua orang yang turun dari kereta. Saya diberi tahu bahwa para penjaga dan gadis itu termasuk di antara banyak siswa yang dibebaskan dari sekolahnya untuk membantu menjalankan roda pemerintahan.

Sepanjang pagi, lokomotif berbahan bakar kayu dengan kru Indonesia tersebut menghela kereta dengan cukup cepat di pesisir Jawa nan luas yang jadi lumbung padi Hindia Belanda. Sawah hijau membentang hingga ke laut di utara dan pegunungan terjal yang menjulang di ufuk selatan.

Menanam dan menuai padi di wilayah seluas ini perlu usaha yang besar karena setiap benih padi ditancapkan ke dalam lumpur dengan tangan manusia dan dipanen juga dengan tangan—cara tersebut tak berubah selama dua atau tiga ribu tahun.

Memancing di Sawah

Sesekali kami melihat pemancing berdiri mematung dengan joran panjang dan senar terulur ke dalam sawah yang padinya hampir dewasa. Rumpun padi menyembunyikan genangan air yang sangat dangkal, tetapi tetap dihuni ikan kecil yang menjadi lauk tambahan bagi petani yang umumnya hanya makan nasi dan buah.

Sesekali kami melihat orang desa mandi telanjang di sungai berlumpur yang banyak buaya.

Di pedesaan banyak kerbau dan hampir selalu diiringi anak gembala yang hanya memakai cawat. Baik kerbau yang merumput di tepi rel kereta api atau yang berkubang di lumpur atau di sungai, biasanya ada bocah angon yang kulitnya terbakar matahari dan menunggangi punggung lebar salah satu kerbau.

Di kemudian hari, Presiden Republik Indonesia Achmad Soekarno memberi tahu saya tentang salah satu kebiasaan makhluk raksasa bertanduk besar melengkung yang digunakan untuk menarik bajak kayu di sawah. Kerbau, kata Soekarno, biasanya lembut dan jinak, tetapi mudah marah dan berbahaya jika petani mencoba memaksanya bekerja setelah pukul 11 pagi, saat sinar matahari yang nyaris tegak lurus membuatnya ingin berendam di dalam air atau lumpur.

Selama singgah di beberapa stasiun sepanjang jalur kereta, kami mencoba beberapa jenis buah, termasuk manggis lezat yang kulit ungunya menyimpan daging buah putih nan segar; juga kelapa hijau besar yang menyemburkan air menyejukkan seperti air mancur kecil saat seorang anak kecil melubanginya dengan tangkas.

Namun, beberapa "makanan lezat" yang disodorkan penjaja kepada penumpang pribumi yang menggemarinya membuat perutku bergolak saat melihatnya—ayam panggang, keripik pisang, daging kambing, kue ketan, dan sebagainya, yang terpanggang sinar matahari tropis dan bertabur debu serta jelaga kereta api yang lewat.

Sesekali, pengemis memilukan yang bertubuh penuh koreng dan berpakaian kotor luar biasa, berhasil menghindari penjaga kereta api dan mengangkat keranjang kecilnya meminta-minta kepada penumpang. Orang yang terjangkit sifilis dan penyakit kulit meningkat tajam di Jawa karena bubarnya pelayanan kesehatan masyarakat Belanda pra-perang dan kurangnya obat-obatan.

Gerbong Padat Seperti Kereta Bawah Tanah New York

Semua kursi sudah terisi, jadi orang bergegas memperebutkan posisi terbaik berikutnya, di lengan kursi atau di atas koper.

Penumpang yang berpeluh terus mendesak masuk sampai gerbong itu padat seperti kereta bawah tanah New York di jam sibuk. Kami harus bersesakan seperti itu selama sebagian besar perjalanan 14 jam ke Batavia.

Bocah Indonesia di gerbong kami sangat manis. Bayi dari suku Jawa yang dipangku ibunya—perempuan desa yang duduk di lantai gang di samping saya. Bocah itu menetek dengan anteng dan tidak pernah merengek sedikit pun sepanjang hari. Dia juga menghibur diri dengan menarik bulu lengan saya dan ketika saya menepuk tangan kecilnya, kedua orang tuanya yang bertelanjang kaki memberi saya senyum paling menghangatkan hati yang pernah saya terima.

Pada waktu makan siang yang mulai lebih awal dan berakhir lebih lambat, para anggota keluarga mengobrol sambil bergegas mengambil bekal makanan yang disimpan dalam karung atau tas yang tersebar di seantero gerbong.

Penumpang yang tidak membawa bekal harus bergantung pada penjual makanan di stasiun persinggahan. Masalahnya, hampir tak mungkin menerobos ke peron, sekalipun rela mengambil risiko kehilangan tempat duduk berharga di lengan kursi yang keras.

Celah jendela gerbong hanya cukup untuk lewat tangan manusia yang didatarkan, tetapi pedagang berhasil menyusupkan beberapa telur bebek rebus, jeruk kecil, dan buah kecil lainnya yang kami jadikan pengganjal perut.

------------------------------------------------------
Yang diambil hanya yang ada deskripsi tentang kereta
api jaman perjuangan, untuk lengkapnya silahkan
ke http://nationalgeographic.co.id/featurep...ing-jawa/1
------------------------------------------------------
Reply
#2
salah satu saksi sejarah Indonesia
Terharu

[spoiler]


[Image: palaganambarawa.jpg]


Quote:kepada pemilik gambar, saya ngopi ya... Xie Xie
[/spoiler]
jerit peluit iringi putaran cakram membelai batang baja
. . . . .



[Image: new2copy.jpg]
Reply
#3
Top Banget Tepuk Tangan Tepuk Tangan

hebat boeng...tapi kok sepi thread-nya...yang poenya impo monggo di sajiken...Wooooyy
kangen.... Lok Merah Biru  Sedih
Reply
#4
(07-09-2010, 07:33 AM)nino Wrote: salah satu saksi sejarah Indonesia
Terharu

[spoiler]


[Image: palaganambarawa.jpg]


Quote:kepada pemilik gambar, saya ngopi ya... Xie Xie
[/spoiler]

saya juga pernah liat ni gerbong di museum transportasi TMII



ADD ME PLEASE
Facebook
Ayo Cintai Dan Lestarikan Kereta Api
Reply
#5
Ini dari k*sk*s....
Ternyatah yang ngepost Om Ipenk....

[spoiler=Dimanah ayuh?]

[Image: 138136647b0b888845ce6594af245eb6d0a659d9.jpg][/spoiler]

[spoiler=Sta Gubeng sesaaat setelah direbut Belanda]

[Image: 198693_178297042239114_100001764585959_4...1890_n.jpg]
stasiun surabaya gubeng 1947 ketika tentara Belanda berhasil menguasai surabaya (yang jadi sampul buku terkenal di eropa karya jan debruin)[/spoiler]

[spoiler=Tawanan TNI]

[Image: knil6.jpg]
agresi militer ke 2 1948 Tentara belanda menginterogasi dan memeriksa para tawanan dari kereta api[/spoiler]

[spoiler=Mobilisasi kendaraan perang]

[Image: knil4.jpg]
rombongan kendaraan amphibi marinir belanda dipindahkan menggunakan kereta api dari probolinggo ke surabaya 1947[/spoiler]

Credit to Om Ipenk (we supratman)
[Image: overstappen.png]
Lagih ah...

[spoiler=Manggarai 1947]

[Image: 283108_173638462704972_100001764585959_3...9997_n.jpg]
eks tentara PETA yang baru turun di stasiun mangarai 1947 [/spoiler]

[spoiler=Amir S]

[Image: 223609_2213615230101_1539177534_2342807_7123424_n.jpg]
amir syarifudin[/spoiler]

[spoiler=Rangkasbetung]

[Image: jb-5701-239-29-rangkas0.jpg]
presiden sukarno dalm kunjungan ke Rangkasitung dalam kawalan TRI[/spoiler]

[spoiler=KA Kepresidenan]

[Image: 216995_171868979548587_100001764585959_3...7992_n.jpg]
PM sutan sharir di dalam kereta kepresidenan setelah dari rangkasbitung bersama presiden Sukarno [/spoiler]

[spoiler=Jangan liad tupinya, liad bakgoundnya]

[Image: TRI12.jpg][/spoiler]

[spoiler=Penghuni pertama Jakarta dari luar Jawa]

[Image: 284816_173651662703652_100001764585959_3...0126_n.jpg]
gerbong kereta pembawa romusha yang di pulangkan oleh pemerintah ned-idies 1949 di sta tj priuk dan kemudian menyebar di seluruh jakarta .. setelah itu maka di jakarta terdapat daerah2 seperti kampung bali, kampung ambon, mangarai dsb .. karena merekalah penghuni pertama daerah tersebut[/spoiler]
[Image: overstappen.png]
Nambah?

[spoiler=Lok CC2835]

[Image: 197347_1850349668689_1539177534_1931597_6088846_n.jpg]
Lokomotif C2835 adalah lokomotif ke presidan (bung karno) ketika hijrah dari Jakarta ke jogja 1948 CMIIW , perhatikan desain cow cachernya .. dilapisi pelat baja[/spoiler]

[spoiler=Lori Inspeksi versi militer]

[Image: 285227_168968786505273_100001764585959_3...4293_n.jpg]
Patroli Tram denagn sepeda rel / sigli, Aceh 1908 (jan debruin)[spoiler]

[spoiler=Lok C1126]

[Image: 282706_168975966504555_100001764585959_3...9390_n.jpg]
Agresi Militer belanda II loko nya C 1126 membawa serdadu belanda untuk bergeser kedudukannya.. di setasiun manakah ini??? ... (jan debruin)[/spoiler]

[spoiler=Sta perbatasan]

[Image: 267898_165982576803894_100001764585959_3...9664_n.jpg]
Agresi militer belanda ke 2 1948 (jan de bruin ) Tentara belanda mengawasi daerah perbatasan antara jakarta dan jawa barat [/spoiler]

[spoiler=Tank and trem]

[Image: 248188_155914987808480_100001699401329_3...5831_n.jpg]
stuart nya belanda jalan berdampingan dengan tram di jakarta[/spoiler]
[Image: overstappen.png]
Lagih ye.... ya... ya... ya....

[spoiler=Tentara Republik saat evakuasi]

[Image: cbnv.jpg]
Evacuation TNI . Recording Captain Schuringa.
Date{1946-1950}[/spoiler]

[spoiler=Trem , Surabaia]

[Image: COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Militaire_politie...029299.jpg][/spoiler]

[spoiler=Surabaia 1948]

[Image: TRI14.jpg][/spoiler]

[spoiler=Hiburan dari atas kereta]

[Image: 185392_178745095527642_100001764585959_4...3382_n.jpg]

[Image: 185392_178745095527642_100001764585959_4...3382_n.jpg]
para serdadu Ned-indies sedang menikmati waktu senggang dengan menikmati hiburan kabaret di atas sebuah gerbong kereta api di stasiun waru jawa timur [/spoiler]

[spoiler=Palembang]

[Image: Train-te-Kertapati-1947.jpg][/spoiler]

All pics were credits to all hero/heroine of Indonesia
And credits to uploader.


[Image: spammingsj0.gif]
Reply
#6
GERBONG MAUT
(Kisah Maut Jaman Perjuangan Kemerdekaan Indonesia)


[Image: gerbongmautjogjaicon201.jpg]


Pada Sabtu tanggal 23 Nopember 1947 Tentara NICA Belanda akan memindahkan 100 tawanan Indonesia dari penjara Bondowoso ke penjara Kalisosok Surabaya. Para tawanan ini terdiri dari para pejuang dan rakyat sipil. Mereka kemudian dibawa ke Stasiun Bondowoso dan dimasukkan ke dalam 3 gerbong. 32 orang masuk ke gerbong pertama dengan No. GR 5769, 30 orang ke gerbong kedua dengan No. GR 4416 dan sisanya sebanyak 38 orang dimasukkan ke gerbong ketiga dengan No. GR 10152. Gerbong-gerbong ini bukan gerbong penumpang tetapi gerbong barang terbuat dari baja yang tertutup dan tanpa ventilasi. Jadi walaupun hari masih pagi, di dalam gerbong sangat panas dan gelap gulita setelah gerbong dikunci.

Jam 07:30 WIB kereta bertolak ke Surabaya. Di Stasiun Kalisat, gerbong tawanan harus menunggu kereta dari Banyuwangi. Selama 2 jam mereka terpanggang dalam gerbong di bawah terik matahari. Kemudian kereta beranjak meuju Stasiun Jember. Jam 10:30 WIB kereta melanjutkan perjalanan ke Probolinggo. Para tawanan benar-benar terpanggang. Sepanjang perjalanan terjadi hal-hal yang memilukan. Bahkan untuk menghilangkan rasa haus, sebagian tawanan terpaksa minum air seni tahanan lainnya.

Mendekati Stasiun Jatiroto, terjadi hujan yang cukup deras. Tetesan air hujan yang masuk dari lubang-lubang kecil ke dalam gerbong, dimanfaatkan oleh para tawanan yang masih hidup. Tapi tidak demikian dengan tawanan di gerbong ketiga (No. GR 10152). Karena gerbongnya masih baru, maka mereka tidak mendapatkan tetesan air sedikitpun. Sesampai di Surabaya, di dalam gerbong ketiga ini tidak ada satu pun tawanan yang hidup. Tragis..

Jam 20:00 WIB kereta sampai di Stasiun Wonokromo. Para tawanan didata. Hasilnya, di gerbong pertama No. GR 5769 sebanyak 5 orang sakit keras; gerbong kedua No. GR 4416 sebanyak 8 orang meninggal; di gerbong ketiga No. GR 10152 seluruh tawanan sebanyak 38 orang meninggal semua.


Sedih Huaaaa.....hik..hikNangis
jogjaicon.blogspot.com
(Berbagai sumber tulisan dan gambar di google)

kangen.... Lok Merah Biru  Sedih
Reply
#7
manstab manstab foto2nya....SGU lawas,WR lawas...ckckckckckck....
INDONESIA dan Soerabaia tidak akan pernah mati didalam hatiku

my pictures at http://www.flickr.com/photos/34328266@N07/


Visit us at LIMA MATA PHOTOGRAPHY
Reply
#8
Kereta api memang tidak bisa lepas dari sejarah sebelum/sesudah merdekany negri ini. Sudah seharusnya kita merawat & menjaga aset dan kereta api itu sendiri..Big Grin
TUT TUT.. KOBONG..!!




~Presjam~
Reply
#9
(18-10-2011, 04:02 PM)Gege Wrote: [spoiler=Lok C1126]

[Image: 282706_168975966504555_100001764585959_3...9390_n.jpg]
Agresi Militer belanda II loko nya C 1126 membawa serdadu belanda untuk bergeser kedudukannya.. di setasiun manakah ini??? ... (jan debruin)[/spoiler]

Kalo gak salah ini di sta. Tangerang ya CMIIW Bingung
Berharap Rangkas Jaya ditarik lokomotif listrik..
Reply
#10
Terima kasih CC sumbangan fotonya, bagus2 dan bersejarah
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)