04-09-2010, 10:28 AM
Lawatan Pasca perang Keliling Jawa
Oleh Ronald S. Kain - Disarikan dari http://nationalgeographic.co.id/
Inilah saat yang menarik untuk mengunjungi Bataviaâ€â€bekas ibu kota Hindia Belandaâ€â€dan daerah sekitarnya yang dikuasai Belanda, juga Yogyakartaâ€â€ibu kota negara belia Republik Indonesiaâ€â€dan tempat-tempat lainnya di pedalaman. Saya datang untuk mengumpulkan bahan buku tentang perubahan penting yang terjadi di Hindia Belanda.
Sejak lawatan saya ke Jawa tahun 1947, Belanda dan Republik Indonesia telah menyetujui proposal PBB bahwa masa depan politik Jawa, Sumatra, dan Madura ditentukan melalui plebisit.
Ke Yogyakarta, Benteng Republik
Pagi-pagi esoknya, saya dan Harry Summers naik gerbong dinas kereta api yang menuju Yogyakarta, ibu kota Republik yang terletak di bagian tengah Jawa. Kami berdua sangat bersemangat mengunjungi wilayah yang berada di bawah pemerintahan nasionalis sejak proklamasi Republik Indonesia 17 Agustus 1945.
Di dalam gerbong itu ada dua menteri Kabinet Republik dan pejabat lain yang kembali ke Yogyakarta dari penandatanganan resmi perjanjian damai Linggarjati dengan Belanda di Batavia beberapa hari sebelumnya, pada 25 Maret 1947. Ternyata, selain kami tak ada orang kulit putih lain di kereta itu.
Tak sampai satu jam lepas dari Batavia, kereta kami berhenti di Kranji yang menjadi perbatasan daerah yang dikuasai Belanda di sekitar Batavia. Di tapal batas tersebut, semua penumpang kecuali yang ada di gerbong dinas harus melewati pemeriksaan militer dan pabean Belanda.
Saat melihat satu peleton tentara Belanda yang kekar berlatih di peron stasiun, saya teringat bahwa selama berbulan-bulan pasukan Belanda dan Republik saling berhadapan di perbatasan ini. Tak jarang meletus pertempuran kecil meski sudah ada perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani kedua belah pihak November 1946.
Tak jauh selepas Kranji kami berhenti lagi untuk pemeriksaan tanda pengenal semua penumpang yang dilakukan oleh perwira dan prajurit Republik.
Banyak penjaga perbatasan di sisi Indonesia tampak baru beranjak remaja, sebagian besar begitu pendek dan kurus sehingga senapan yang mereka bawa terlihat terlalu berat. Seragam yang mereka pakai juga sangat beragam, demikian pula perlengkapan senjatanya. Sebagian besar seragam dan perlengkapan kelihatannya berasal dari tentara Jepang. Para prajurit tersebut mondar-mandir dengan penuh gaya di peron, jelas menikmati perannya sebagai tentara.
Rambut Panjang Bukti Patriotisme
Beberapa pemuda di tempat tersebut, seperti di banyak tempat lainnya di pedalaman Jawa, membiarkan rambut mereka tumbuh panjang untuk memenuhi sumpah di awal perang kemerdekaan untuk tidak memangkas rambut sampai Indonesia meraih kemerdekaan. Sehingga, orang asing sulit membedakan jenis kelamin beberapa orang "gondrong" itu.
Seorang petugas yang tampak efisien, pasti gadis, memeriksa tanda pengenal semua orang yang turun dari kereta. Saya diberi tahu bahwa para penjaga dan gadis itu termasuk di antara banyak siswa yang dibebaskan dari sekolahnya untuk membantu menjalankan roda pemerintahan.
Sepanjang pagi, lokomotif berbahan bakar kayu dengan kru Indonesia tersebut menghela kereta dengan cukup cepat di pesisir Jawa nan luas yang jadi lumbung padi Hindia Belanda. Sawah hijau membentang hingga ke laut di utara dan pegunungan terjal yang menjulang di ufuk selatan.
Menanam dan menuai padi di wilayah seluas ini perlu usaha yang besar karena setiap benih padi ditancapkan ke dalam lumpur dengan tangan manusia dan dipanen juga dengan tanganâ€â€cara tersebut tak berubah selama dua atau tiga ribu tahun.
Memancing di Sawah
Sesekali kami melihat pemancing berdiri mematung dengan joran panjang dan senar terulur ke dalam sawah yang padinya hampir dewasa. Rumpun padi menyembunyikan genangan air yang sangat dangkal, tetapi tetap dihuni ikan kecil yang menjadi lauk tambahan bagi petani yang umumnya hanya makan nasi dan buah.
Sesekali kami melihat orang desa mandi telanjang di sungai berlumpur yang banyak buaya.
Di pedesaan banyak kerbau dan hampir selalu diiringi anak gembala yang hanya memakai cawat. Baik kerbau yang merumput di tepi rel kereta api atau yang berkubang di lumpur atau di sungai, biasanya ada bocah angon yang kulitnya terbakar matahari dan menunggangi punggung lebar salah satu kerbau.
Di kemudian hari, Presiden Republik Indonesia Achmad Soekarno memberi tahu saya tentang salah satu kebiasaan makhluk raksasa bertanduk besar melengkung yang digunakan untuk menarik bajak kayu di sawah. Kerbau, kata Soekarno, biasanya lembut dan jinak, tetapi mudah marah dan berbahaya jika petani mencoba memaksanya bekerja setelah pukul 11 pagi, saat sinar matahari yang nyaris tegak lurus membuatnya ingin berendam di dalam air atau lumpur.
Selama singgah di beberapa stasiun sepanjang jalur kereta, kami mencoba beberapa jenis buah, termasuk manggis lezat yang kulit ungunya menyimpan daging buah putih nan segar; juga kelapa hijau besar yang menyemburkan air menyejukkan seperti air mancur kecil saat seorang anak kecil melubanginya dengan tangkas.
Namun, beberapa "makanan lezat" yang disodorkan penjaja kepada penumpang pribumi yang menggemarinya membuat perutku bergolak saat melihatnyaâ€â€ayam panggang, keripik pisang, daging kambing, kue ketan, dan sebagainya, yang terpanggang sinar matahari tropis dan bertabur debu serta jelaga kereta api yang lewat.
Sesekali, pengemis memilukan yang bertubuh penuh koreng dan berpakaian kotor luar biasa, berhasil menghindari penjaga kereta api dan mengangkat keranjang kecilnya meminta-minta kepada penumpang. Orang yang terjangkit sifilis dan penyakit kulit meningkat tajam di Jawa karena bubarnya pelayanan kesehatan masyarakat Belanda pra-perang dan kurangnya obat-obatan.
Gerbong Padat Seperti Kereta Bawah Tanah New York
Semua kursi sudah terisi, jadi orang bergegas memperebutkan posisi terbaik berikutnya, di lengan kursi atau di atas koper.
Penumpang yang berpeluh terus mendesak masuk sampai gerbong itu padat seperti kereta bawah tanah New York di jam sibuk. Kami harus bersesakan seperti itu selama sebagian besar perjalanan 14 jam ke Batavia.
Bocah Indonesia di gerbong kami sangat manis. Bayi dari suku Jawa yang dipangku ibunyaâ€â€perempuan desa yang duduk di lantai gang di samping saya. Bocah itu menetek dengan anteng dan tidak pernah merengek sedikit pun sepanjang hari. Dia juga menghibur diri dengan menarik bulu lengan saya dan ketika saya menepuk tangan kecilnya, kedua orang tuanya yang bertelanjang kaki memberi saya senyum paling menghangatkan hati yang pernah saya terima.
Pada waktu makan siang yang mulai lebih awal dan berakhir lebih lambat, para anggota keluarga mengobrol sambil bergegas mengambil bekal makanan yang disimpan dalam karung atau tas yang tersebar di seantero gerbong.
Penumpang yang tidak membawa bekal harus bergantung pada penjual makanan di stasiun persinggahan. Masalahnya, hampir tak mungkin menerobos ke peron, sekalipun rela mengambil risiko kehilangan tempat duduk berharga di lengan kursi yang keras.
Celah jendela gerbong hanya cukup untuk lewat tangan manusia yang didatarkan, tetapi pedagang berhasil menyusupkan beberapa telur bebek rebus, jeruk kecil, dan buah kecil lainnya yang kami jadikan pengganjal perut.
------------------------------------------------------
Yang diambil hanya yang ada deskripsi tentang kereta
api jaman perjuangan, untuk lengkapnya silahkan
ke http://nationalgeographic.co.id/featurep...ing-jawa/1
------------------------------------------------------
Oleh Ronald S. Kain - Disarikan dari http://nationalgeographic.co.id/
Inilah saat yang menarik untuk mengunjungi Bataviaâ€â€bekas ibu kota Hindia Belandaâ€â€dan daerah sekitarnya yang dikuasai Belanda, juga Yogyakartaâ€â€ibu kota negara belia Republik Indonesiaâ€â€dan tempat-tempat lainnya di pedalaman. Saya datang untuk mengumpulkan bahan buku tentang perubahan penting yang terjadi di Hindia Belanda.
Sejak lawatan saya ke Jawa tahun 1947, Belanda dan Republik Indonesia telah menyetujui proposal PBB bahwa masa depan politik Jawa, Sumatra, dan Madura ditentukan melalui plebisit.
Ke Yogyakarta, Benteng Republik
Pagi-pagi esoknya, saya dan Harry Summers naik gerbong dinas kereta api yang menuju Yogyakarta, ibu kota Republik yang terletak di bagian tengah Jawa. Kami berdua sangat bersemangat mengunjungi wilayah yang berada di bawah pemerintahan nasionalis sejak proklamasi Republik Indonesia 17 Agustus 1945.
Di dalam gerbong itu ada dua menteri Kabinet Republik dan pejabat lain yang kembali ke Yogyakarta dari penandatanganan resmi perjanjian damai Linggarjati dengan Belanda di Batavia beberapa hari sebelumnya, pada 25 Maret 1947. Ternyata, selain kami tak ada orang kulit putih lain di kereta itu.
Tak sampai satu jam lepas dari Batavia, kereta kami berhenti di Kranji yang menjadi perbatasan daerah yang dikuasai Belanda di sekitar Batavia. Di tapal batas tersebut, semua penumpang kecuali yang ada di gerbong dinas harus melewati pemeriksaan militer dan pabean Belanda.
Saat melihat satu peleton tentara Belanda yang kekar berlatih di peron stasiun, saya teringat bahwa selama berbulan-bulan pasukan Belanda dan Republik saling berhadapan di perbatasan ini. Tak jarang meletus pertempuran kecil meski sudah ada perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani kedua belah pihak November 1946.
Tak jauh selepas Kranji kami berhenti lagi untuk pemeriksaan tanda pengenal semua penumpang yang dilakukan oleh perwira dan prajurit Republik.
Banyak penjaga perbatasan di sisi Indonesia tampak baru beranjak remaja, sebagian besar begitu pendek dan kurus sehingga senapan yang mereka bawa terlihat terlalu berat. Seragam yang mereka pakai juga sangat beragam, demikian pula perlengkapan senjatanya. Sebagian besar seragam dan perlengkapan kelihatannya berasal dari tentara Jepang. Para prajurit tersebut mondar-mandir dengan penuh gaya di peron, jelas menikmati perannya sebagai tentara.
Rambut Panjang Bukti Patriotisme
Beberapa pemuda di tempat tersebut, seperti di banyak tempat lainnya di pedalaman Jawa, membiarkan rambut mereka tumbuh panjang untuk memenuhi sumpah di awal perang kemerdekaan untuk tidak memangkas rambut sampai Indonesia meraih kemerdekaan. Sehingga, orang asing sulit membedakan jenis kelamin beberapa orang "gondrong" itu.
Seorang petugas yang tampak efisien, pasti gadis, memeriksa tanda pengenal semua orang yang turun dari kereta. Saya diberi tahu bahwa para penjaga dan gadis itu termasuk di antara banyak siswa yang dibebaskan dari sekolahnya untuk membantu menjalankan roda pemerintahan.
Sepanjang pagi, lokomotif berbahan bakar kayu dengan kru Indonesia tersebut menghela kereta dengan cukup cepat di pesisir Jawa nan luas yang jadi lumbung padi Hindia Belanda. Sawah hijau membentang hingga ke laut di utara dan pegunungan terjal yang menjulang di ufuk selatan.
Menanam dan menuai padi di wilayah seluas ini perlu usaha yang besar karena setiap benih padi ditancapkan ke dalam lumpur dengan tangan manusia dan dipanen juga dengan tanganâ€â€cara tersebut tak berubah selama dua atau tiga ribu tahun.
Memancing di Sawah
Sesekali kami melihat pemancing berdiri mematung dengan joran panjang dan senar terulur ke dalam sawah yang padinya hampir dewasa. Rumpun padi menyembunyikan genangan air yang sangat dangkal, tetapi tetap dihuni ikan kecil yang menjadi lauk tambahan bagi petani yang umumnya hanya makan nasi dan buah.
Sesekali kami melihat orang desa mandi telanjang di sungai berlumpur yang banyak buaya.
Di pedesaan banyak kerbau dan hampir selalu diiringi anak gembala yang hanya memakai cawat. Baik kerbau yang merumput di tepi rel kereta api atau yang berkubang di lumpur atau di sungai, biasanya ada bocah angon yang kulitnya terbakar matahari dan menunggangi punggung lebar salah satu kerbau.
Di kemudian hari, Presiden Republik Indonesia Achmad Soekarno memberi tahu saya tentang salah satu kebiasaan makhluk raksasa bertanduk besar melengkung yang digunakan untuk menarik bajak kayu di sawah. Kerbau, kata Soekarno, biasanya lembut dan jinak, tetapi mudah marah dan berbahaya jika petani mencoba memaksanya bekerja setelah pukul 11 pagi, saat sinar matahari yang nyaris tegak lurus membuatnya ingin berendam di dalam air atau lumpur.
Selama singgah di beberapa stasiun sepanjang jalur kereta, kami mencoba beberapa jenis buah, termasuk manggis lezat yang kulit ungunya menyimpan daging buah putih nan segar; juga kelapa hijau besar yang menyemburkan air menyejukkan seperti air mancur kecil saat seorang anak kecil melubanginya dengan tangkas.
Namun, beberapa "makanan lezat" yang disodorkan penjaja kepada penumpang pribumi yang menggemarinya membuat perutku bergolak saat melihatnyaâ€â€ayam panggang, keripik pisang, daging kambing, kue ketan, dan sebagainya, yang terpanggang sinar matahari tropis dan bertabur debu serta jelaga kereta api yang lewat.
Sesekali, pengemis memilukan yang bertubuh penuh koreng dan berpakaian kotor luar biasa, berhasil menghindari penjaga kereta api dan mengangkat keranjang kecilnya meminta-minta kepada penumpang. Orang yang terjangkit sifilis dan penyakit kulit meningkat tajam di Jawa karena bubarnya pelayanan kesehatan masyarakat Belanda pra-perang dan kurangnya obat-obatan.
Gerbong Padat Seperti Kereta Bawah Tanah New York
Semua kursi sudah terisi, jadi orang bergegas memperebutkan posisi terbaik berikutnya, di lengan kursi atau di atas koper.
Penumpang yang berpeluh terus mendesak masuk sampai gerbong itu padat seperti kereta bawah tanah New York di jam sibuk. Kami harus bersesakan seperti itu selama sebagian besar perjalanan 14 jam ke Batavia.
Bocah Indonesia di gerbong kami sangat manis. Bayi dari suku Jawa yang dipangku ibunyaâ€â€perempuan desa yang duduk di lantai gang di samping saya. Bocah itu menetek dengan anteng dan tidak pernah merengek sedikit pun sepanjang hari. Dia juga menghibur diri dengan menarik bulu lengan saya dan ketika saya menepuk tangan kecilnya, kedua orang tuanya yang bertelanjang kaki memberi saya senyum paling menghangatkan hati yang pernah saya terima.
Pada waktu makan siang yang mulai lebih awal dan berakhir lebih lambat, para anggota keluarga mengobrol sambil bergegas mengambil bekal makanan yang disimpan dalam karung atau tas yang tersebar di seantero gerbong.
Penumpang yang tidak membawa bekal harus bergantung pada penjual makanan di stasiun persinggahan. Masalahnya, hampir tak mungkin menerobos ke peron, sekalipun rela mengambil risiko kehilangan tempat duduk berharga di lengan kursi yang keras.
Celah jendela gerbong hanya cukup untuk lewat tangan manusia yang didatarkan, tetapi pedagang berhasil menyusupkan beberapa telur bebek rebus, jeruk kecil, dan buah kecil lainnya yang kami jadikan pengganjal perut.
------------------------------------------------------
Yang diambil hanya yang ada deskripsi tentang kereta
api jaman perjuangan, untuk lengkapnya silahkan
ke http://nationalgeographic.co.id/featurep...ing-jawa/1
------------------------------------------------------





![[Image: palaganambarawa.jpg]](http://img709.imageshack.us/img709/8459/palaganambarawa.jpg)

![[Image: new2copy.jpg]](https://img254.imageshack.us/img254/7018/new2copy.jpg)




[/spoiler]![[Image: 198693_178297042239114_100001764585959_4...1890_n.jpg]](http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/198693_178297042239114_100001764585959_410723_4451890_n.jpg)
![[Image: knil6.jpg]](http://i876.photobucket.com/albums/ab324/ipenk_jhon/knil6.jpg)
![[Image: knil4.jpg]](http://i876.photobucket.com/albums/ab324/ipenk_jhon/knil4.jpg)
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
![[Image: 283108_173638462704972_100001764585959_3...9997_n.jpg]](http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/283108_173638462704972_100001764585959_398902_8169997_n.jpg)
![[Image: 223609_2213615230101_1539177534_2342807_7123424_n.jpg]](http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/223609_2213615230101_1539177534_2342807_7123424_n.jpg)
![[Image: jb-5701-239-29-rangkas0.jpg]](http://akumassa.files.wordpress.com/2008/12/jb-5701-239-29-rangkas0.jpg)
![[Image: 216995_171868979548587_100001764585959_3...7992_n.jpg]](http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/216995_171868979548587_100001764585959_393835_277992_n.jpg)
[/spoiler]![[Image: 284816_173651662703652_100001764585959_3...0126_n.jpg]](http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/284816_173651662703652_100001764585959_398915_7220126_n.jpg)
![[Image: 197347_1850349668689_1539177534_1931597_6088846_n.jpg]](http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/197347_1850349668689_1539177534_1931597_6088846_n.jpg)
![[Image: 285227_168968786505273_100001764585959_3...4293_n.jpg]](http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/285227_168968786505273_100001764585959_385411_5324293_n.jpg)
![[Image: 282706_168975966504555_100001764585959_3...9390_n.jpg]](http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/282706_168975966504555_100001764585959_385438_5669390_n.jpg)
![[Image: 267898_165982576803894_100001764585959_3...9664_n.jpg]](http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/267898_165982576803894_100001764585959_376456_1349664_n.jpg)
![[Image: 248188_155914987808480_100001699401329_3...5831_n.jpg]](http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/248188_155914987808480_100001699401329_364883_3985831_n.jpg)
![[Image: cbnv.jpg]](http://i876.photobucket.com/albums/ab324/ipenk_jhon/cbnv.jpg)
[/spoiler]
[/spoiler]![[Image: 185392_178745095527642_100001764585959_4...3382_n.jpg]](http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/185392_178745095527642_100001764585959_411849_6903382_n.jpg)
[/spoiler]![[Image: spammingsj0.gif]](http://i1211.photobucket.com/albums/cc423/gegenugroho/spammingsj0.gif)



