Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Tragedi Ratu Jaya epsisode 2 & 3 tahun 1993
#1
KERETA api sering dianggap sebagai angkutan umum paling aman ketimbang bus atau pesawat terbang. Tapi lain yang terjadi Selasa pagi 02 November 1993 di jalur Jakarta-Bogor. Dua kereta rel listrik (KRL) beradu kepala di Desa Ratu Jaya, Depok. Kerasnya benturan membuat kedua kepala KRL itu ''benjol'' ke atas, hampir 3 meter tingginya. Yang terdengar kemudian jerit dan rintihan penumpang. Dan yang terlihat, selain darah tercecer di mana-mana, sekitar 20 penumpang tewas dan 100 orang lebih luka-luka. Sebagian penumpang yang luka-luka kini masih dirawat di rumah sakit di Depok, Bogor, dan Jakarta. Yang meninggal termasuk dua masinis KRL yang nahas itu.
Adi Purnomo mengemudikan kereta dari arah Jakarta menuju Bogor, dan Mohammad Junaedi dari arah berlawanan. Sialnya, Siti Rudiyati, istri Adi, ikut tewas di gerbong KRL yang dikemudikan Junaedi. Ia dalam perjalanan ke tempat kerjanya, pabrik konveksi di Tebet, Jakarta.
Tentu, berita tabrakan itu segera sampai ke ruang sidang kabinet, Rabu pekan lalu. Presiden Soeharto sempat menanyai Menteri Perhubungan Haryanto Dhanutirto perihal musibah itu. ''Itu kesalahan siapa? Manusia atau alat?'' begitu kata Pak Harto seperti ditirukan oleh seorang pejabat. ''Kesalahan manusia, Pak,'' jawab Haryanto. ''Manusia yang mana?'' kata Pak Harto lagi dengan nada tinggi. Menteri B.J. Habibie, yang hadir di situ, segera menyela, ''Pak Harto... saya rasa kita harus punya double track, agar kecelakaan itu tak terjadi lagi.'' Siapa yang salah belum sempat dijelaskan oleh Menteri Haryanto sampai sidang kabinet usai, ketika Pak Harto kemudian mengunjungi korban musibah itu di Rumah Sakit Bhakti Yudha, Depok.
Sebelumnya, dua KRL nahas itu memang sempat berhenti di Stasiun Depok Lama dan Citayam, Bogor. Dua stasiun kecil itu dihubungkan dengan rel tunggal (single track). Pagi itu, sekitar pukul 07.30, hampir bersamaan, dua ular besi itu dilepas oleh pimpinan perjalanan kereta api (PPKA) di dua stasiun tadi. Ada yang ganjil memang. Saat itu seharusnya KRL dari Jakarta menunggu di Stasiun Depok Lama sampai kereta yang dari Citayam berjarak sekitar 6 km itu tiba. Salahkah masinis? ''Masinis Adi sudah senior. Dia tak mungkin berangkat tanpa perintah PPKA,'' kata seorang masinis. Memang, sampai akhir pekan lalu, dua pejabat PPKA di Stasiun Depok Lama dan Citayam masih diperiksa polisi.
Dari hasil pemeriksaan sementara, menurut polisi, mereka berdua dianggap punya andil dalam tabrakan itu sekalipun, kabarnya, perlengkapan elektronik untuk mendeteksi kereta yang melintas mendadak rusak. Slamet, PPKA Depok Lama, sempat memberi kabar keberangkatan kereta dari stasiunnya. Namun, pesannya tak diterima dengan jelas oleh Djamaludin, PPKA Citayam. Kabarnya, telepon antar stasiun itu terputus. Di tengah ketidakjelasan itulah mereka berdua memberangkatkan kereta. Konon, Djamaludin masih sempat mengejar kereta yang sudah telanjur dilepasnya, dengan menggunakan ojek.
Tapi upayanya sia-sia. Sebelum kereta tersusul, tabrakan sudah terjadi. Alat komunikasi antar stasiun, antar kereta api, atau kereta api ke stasiun, seperti halnya radio pada taksi, tak dimiliki oleh kereta api. Sehingga, kalau misalnya hubungan dua stasiun macet seperti itu, dua kereta yang meluncur di satu jalur tak bisa berkomunikasi. Bahkan, seperti cerita seorang masinis lainnya yang sudah menjalani jalur itu selama 15 tahun, interkom yang menghubungkan masinis di lokomotif depan dan di lokomotif belakang pun dicopot oleh Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) dua tahun lalu.
Faktor perlengkapan keselamatan kereta api mungkin sedikit terabaikan. Kata seorang masinis, ''Ada kereta yang speedometer-nya tak jalan. Dan kipas angin di ruang masinis juga dicopot.'' Belum lagi susunan kursi di gerbong penumpang. Sebelumnya, setiap gerbong hanya bisa diisi 86 orang. Namun, sejak dua tahun lalu, bangku cuma di pinggir sehingga tiap gerbong bisa dijejali sampai 500 penumpang.
Jalur Jakarta-Bogor terbilang paling padat. Setiap hari, menurut Menteri Haryanto, tercatat sekitar 70 ribu sampai 100 ribu penumpang yang menggunakan jasa KRL itu. Mereka dilayani dengan 80 keberangkatan kereta dari Jakarta maupun Bogor. Penumpangnya sebagian besar adalah pedagang, pegawai rendahan, dan mahasiswa. Maklum, harga karcis KRL memang lebih miring ketimbang bus, cuma Rp 500 untuk Bogor-Jakarta. Sekalipun tercatat sebagai trayek gemuk, toh jalur Jakarta-Bogor ini belum
dibuat ganda.
Tentu dibutuhkan keterampilan khusus untuk mengatur penggunaan rel pada saat frekuensi kereta meningkat. Sebab, manajemen rel yang semrawut akan menyebabkan bencana. Enam bulan lalu, misalnya, menurut seorang masinis, kecelakaan serupa nyaris terjadi di antara Stasiun Citayam dan Depok Lama. Ketika itu kereta Pakuan Express dari Bogor hampir berlaga dengan KRL dari Jakarta. Untung, kedua masinisnya sama- sama melihat dan sempat mengerem hingga jarak kedua moncong kereta tinggal lima meter. Kereta Pakuan mengalah, mundur ke Stasiun Citayam.
Dua puluh lima tahun silam juga terjadi tabrakan dahsyat di tempat itu.''Korbannya lebih banyak, mungkin 200-an orang tewas,'' kenang seorang ibu setengah baya yang tinggal di sana. Begitu banyak yang mati hingga daun pisang di kebun sekitar itu habis untuk menutupi mayat.

Sumber : Suratkabar terbitan ibukota

Reply
#2
wah kang asep masih simpan artikel ini....
terimakasih kang...
Tersenyuum

Reply
#3
hi serem...
tapi banyak perlengkapan keamanan yang notabene mahal pada dicopotin ya?padahal bahaya tuh..
~Because Your Smilling Is Our Happiness~
My Railway Photos
My Video Collection

YAHOO!

petr_cech_indo
Reply
#4
Wah thanks infonya kang asep
hm miskom lagi miskom lagi
emang biasanya PLH gara2 miskom >.<
Ketika anda berniat mencari pengetahuan atau ilmu, yang harus anda lakukan adalah membaca, mencari informasi, mendengar diskusi, dan memberi pendapat yang logis. Dan itulah gunanya forum :3.

Apakah Hibernasi bisa menghasilkan ilmu dan informasi? Semua orang pun tau jawabannya...

Hibernasi いみは ねていきます. XDa
l


Reply
#5
maklum negeri salah urus...
seharusnya KA lebih diperhatikan karena lebih efisien dan murah...
kalau saja para pejabat gak memikirkan pantat (kursi, uang, sama perempuan, kenapa uang? karena kalo dimakan berakhir di pantat juga)...

kapan ya ada trem lagi di surabaya....?
dah bosen naik angkot ke kampus....
Reply
#6
dulu iwan fals menciptakan lagu 1910 (tragedi bintaro) mungkin dengan maksud untuk mengingatkan kita semua akan akibat jika kita lalai mengurus kereta api dengan baik. semoga arwah para korban tenang di alam sana.
Reply
#7
kisah yang sangat tragis, puluhan orang meregang nyawa, sampai kapan ini terjadi? bisakah hal2 seperti ini diminimalisir atau mungkin dihilangkan dari dunia perkeretaapian???
Reply
#8
Ada yang sedikit mesti diralat... Seingat aku bukan tanggal 2, tapi tanggal 3. Kronologinya persis begitu seperti kebanyakan narasumber. Kejadian yang menimpa pasutri tsb memang sempat dilontarkan oleh sang bapak sekaligus mertua dari pasutri tersebut. Tentunya di siaran berita RCTI sebagai satu - satunya siaran TV swasta saat itu. Karena Anteve belum banyak nyiarin TV saat baru seumur jagung. Tapi aku baru tau kalau KS Citayam sempet ngejar tuh KRL. Jadi -+nya seperti pak Jamhari KS Sudimara waktu Tragedi Bintaro yah... Tapi dia berlari sejauh mungkin.

Koran SUARA PEMBARUAN langganan saya yang harusnya terbit sekitar jam 5 sore seinget saya langsung terbit di jam 2 atau 3 siang gitu deh... Saking BREAKING NEWS-nya saat itu. Ohya, aku juga punya foto tragedi 30 Juni 2005 silam lho di Pasar Minggu.

Reply
#9
Silahkan di upload Mas Dana.
Trims.

[Image: spammingsj0.gif]
Reply
#10
jaman segitu holec belom ada tuh, apalagi hibah, berarti krl rheostatic kah ? atau yg vernekel ?.
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)