Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Soalan Rel (Tukar Bantalan, Spesifikasi, dll)
#1
Dear rekan-rekan railfans semua khususnya para komunitas "S35", bagaimana khabar ?...

sekedar cerita dari pengalaman pribadi saja (dan seingatnya juga)..

masih ingat kalau nggak salah waktu itu saya masih kelas 2 STM (kira-kira tahun 1988) pas kebetulan dari om saya yang masih dinas (inisialnya AP dari Kebumen) di Seksi Jalan dan Bangunan Jatinegara melalui anak buahnya memberitahukan akan adanya "cangkulan" yaitu ganti bantalan kayu menjadi bantalan beton disepanjang lintasan setelah jembatan (antara stasiun Buaran dan Klender Baru).

setelah berbuka puasa (karena pas bulan puasa) maka saya sendiri pergi kelokasi untuk berusaha "ngintip" gimana sih caranya ganti bantalan rel KA ? ternyata cukup sulit juga.

sebelumnya penanggung jawab akan mendapatkan "informasi terakhir" mengenai KA terakhir yang akan liwat dan setelah itu akan dipasang "lingkaran merah" 50 meter sebelum bantalan yang diganti, setelah itu bantalan rel dari kayu yang akan diganti segera diserbu oleh para "lebah" pekerja kita.. cepat dan gesit. ada yang buka baut rel, ada yang "maculin" batu balas, ada yang menyiapkan rel baru juga jejeran bantalan beton (buatan WiKa) terakhir berusaha "dongkrak" rel yang seterusnya di singkirkan disisi lintasan.

ada sebagian pekerja yang meratakan sekaligus memadatkan lintasan yang telah dibongkar tersebut yang selanjutnya diletakan bantalan beton diatasanya sesuai instruksi dari mandor. setelah diukur kerataan bantalan beton dengan permukaan tanah maka diletakan rel saat itu masih berupa potongan panjang yang kemudian diukur kerataan dan kesejajarannya untuk kemudian disambung dengan cara dicor menggunakan "bijih besi" dimana sebelumnya dicairkan dengan cara di panaskan dahulu.... oh ya, sambungan tersebut ada cetakannya (dan di buat dengan semacam "tanah liat") selanjutnya biji besi yang telah mencair karena di panaskan dituangkan ke rel yang akan disambung itu... ajaib... langsung tersambung rapi dan rata.... hasilnya seperti yang kita nikmati sekarang saat naik kereta api... jarang terdengar suara "sandungan" roda KA dengan sambungan rel karena jarak sambungan rel yang satu dengan yang lainnya sangat berjauhan.

setalahnya maka dipasang pada dudukan bantalan beton dan langsung secara manual rekan-rekan pekerja mengikatnya dengan pandrol clip untuk mengikat rel tersebut dengan bantalan....

wuah.... selama kurang lebih 5 jam "melototin" akhirnya di "perawanin" juga deh jalan tersebut sama KA Senja Utama Semarang dari Semarang yang dari jauh sudah kasih S35 (seperti "perjaka ketemu perawan", nafsu sekali untuk mecoba yang pertama kali) maka dengan perlahan-lahan batas 5 km/jam dilewati... ternya... SUKSESSSSS maka seluruh rekan-rekan tim jalan dan Bangunan Jatinegara merasa puas atas hasil kerjanya.

satu hal yang sangat menggelikan saat pekerjaan berlangsung, rupanya bila ada KA yang menggunakan "Spur Salah" maka otomatis KA tersebut akan perlahan-lahan dan secara spontan masinis juga KP terkadang "melempari" rokok dan makanan kecil.. yah sebagai ungkapan terima kasih dan mungkin juga sebagai harapan semoga perjalanan KA semakain lancar dan aman.



dari

== "Lok Bima Kunting" =='
Reply
#2
Wah mas Agus....

Trims infonya.
Kalo ada lagi cerita yang mau disharing, boleh tuh.... Lolol

Makasih yah,
ternyata pekerja-pekerja kita selain murah, juga gesit..

Ironis

[Image: spammingsj0.gif]
Reply
#3
Gege Wrote:Wah mas Agus....

Trims infonya.
Kalo ada lagi cerita yang mau disharing, boleh tuh.... Lolol

Makasih yah,
ternyata pekerja-pekerja kita selain murah, juga gesit..

Ironis


ya itulah mas Gege.... justru seperti itulah "pahlawan-pahlawan" yang seharusnya diperhatikan.

saya pernah membayangkan saat pertama kali ke Bandung naik Parahyangan en pas "nyebrang" jembatan yang tinggi timbul pikiran... gila.. gimana ngebangunnya nih... apalagi dibangun jaman Belanda yang nota bene belum adanya perlengkapan yang maju...."

maka saya langsung sontak dalam hati bahwa berbicara tehnologi tranportasi dan bangunan dimulai dari KA.

segitu aja mas Gege.. BTW kok cepet di respon sih.. memangnya ada dimana neh ?...



salam,

== "Lok Bima Kunting "==
Reply
#4
Ada beberapa hal yg masih penasaran ingin saya ketahui mengenai gauge 1067mm di Indonesia. Maaf bila pertanyaanya terlalu banyak, atau malahan mengada-ada; karena saya baru2 saja tertarik dengan kereta api.

1. Jarak minimum diantara tengah2 dari 2 buah jalan kereta utama lurus (gauge 1067mm) jaman sekarang.

2. Jarak diantara tengah2 dari 2 buah bantalan (kayu) jalan utama secara umum.

3. Dimensi dari bantalan kayu (Panjang x Lebar x Tinggi-tebal) secara umum dari jalan lurus.

4. Tinggi langit2 terowongan minimum.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak
Reply
#5
http://en.wikipedia.org/wiki/Rail_gauge

mungkin bisa membantu
Reply
#6
Friend, gua pernah liat di NATGEO tentang jalur Rel tertinggi yang ada di CINA...

di sana masang rel gak kayak di sini ya....

kalo di sini kan di pasang penyangga, baru kasih rel, baru di baut

kalo disana relnya udah dipasang di tempat lain, jadi tinggal disambungin per blok.....

jadi lebih cepet....

pertanyaan gua, kok di sini gak kayak getu aja??????
Reply
#7
alasannya gini ..... di Indonesia .....
1. pemasok suku cadang (rel, penambat, bantalan, lasplat dll) dari berbagai perusahaan dan datengnya gak bisa dipastikan karena ada yang harus import dari luar negeri ..
2. kalo di setting di luar area pemasangan maka harus ada workshop yg cukup besar untuk itu dan di indonesai belum ada ....
3. perlu alat angkut khusus untuk mengangkut jalan rel yg sudah disetting tsb ... Indonesia belum punya ...
4. infra struktur sekitar jalan rel di Indonesia tidak mendukung sistem tersebut .... (bisa-bisa ada rumah penduduk yang kesabet rel) ....
5. perkembangan pembuatan jalan rel di Indonesia sangat lambat (bandingkan dengan jalan tol / jalan raya) .... pembangunan jalan rel di Indonesia hanya mencapai 25 km / tahun .... malah lebih banyak yang ditutup ....
6. 'political will' atw 'goverment will' belum tertarik untuk memfokuskan diri pada perkeretaapian ...
7. ...... segitu dulu ... nanti cari alasan yg lain .... (lagi BT nih ...)
Reply
#8
Sebab di indonesia perkembangan kereta apinya agak kurang perkembangannya...teknis maupun nonteknisnya krn pemerintah lebih asik n mengutamakan teknologi jalan raya terutama jalan tol n industri outomotif dianggap lebih menguntungkan...

[Image: th_IMG_0864.jpg][/URL]
Dilarang keras membawa klonengan di Atas kereta api
Reply
#9
Yups...
Di Indonesia, tenaga kerja murah dibandingkan dengan di luar negeri, pun teknologi yang dikuasai masih djaman Madjapahit (walaupun zaman itu kita bisa membuat skyscraper macem Borobudur!!)
Jadi di kita semua pekerjaan masih dilakukan secara manual. Tinggal lulusan Teknik sipil kita yang kudu punya inovasi teknologi yang tepat guna... :tos:

Bandingkan...
Indonesia

kapanlagi

20080919091449_MekanikPenpulleratworking_48d30b197ef41.JPG
Yang merasa punya potona, pinjem yeh... Big Grin

Luar Negeri

kapanlagi

20080919091501_trackganger_48d30b25753bc.jpg

kapanlagi

20080919091508_gantijembatan_48d30b2cc5dab.jpg
Poto oleh : Santo Tjokro

[Image: spammingsj0.gif]
Reply
#10
teknologi ada,inovasi ada, cuma kepentok biaya,males investasi u/ pembelian alat2 kerja & lemah di perawatan

Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)