Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengalaman Pahit dan Menyedihkan Naik KA (Semua Pengalaman Pahit Yang dialami RF)
#91
aku juga pernah...

waktu itu aku sama temen2 KOMUTER mau ketemuan di malang kotabaru naik penataran...

giliran mau turun.....yang nama nya sepeda motor di tarok di depan pintu.....fiiuuhhh

akhirnya dengan susah payah bisa keluar juga...Big Grin
Indonesian Railway Photography

Facebook
Twitter
Reply
#92
(10-10-2009, 06:21 AM)Joe_cn Wrote:
(05-10-2009, 07:22 PM)cavalino Wrote:
Pengalaman pertama naek KA BIMA dr YK - JNG klo gak salah awal bulan Juni 2009, blm lama abs stasiun YK, lampu mati total karena filter generator rusak & kotor, br nyala pas nyampe stasiun PWT Sedih

Wah kalo mati lampu berarti Ac jug amati ya?
Untung malem jadi ga terlalu kepanansan...


Udah pasti itu...
Orang sebagian penumpang yang tadinya tidurnya nyenyak banget pake selimut & bantal, pada bangun semua, pintu bordes juga di buka karena di dalam panas banget Sedih
Reply
#93
hm...............pernah dulu waktu masih umur 10 tahun, naek sritanjung dari MN mo ke BW karena kereta penuh jadi aku yang masih kecil....berdiri deket pintu....
eh...udah berdiri ada orang yang nindih kakiku dengan kardus....waduh...sakit..........
|warm up|


[Image: 418089_2580690805272_1494496598_32011478...2663_n.jpg]
Reply
#94
waktu kecil pernah naik Bangunkarta dari MN (waktu itu msh ekonomi) keretanya penuh sesak sampai naik pun hampir pisah dgn almarhum ayah saya... sy sama adik cuma bisa nangis...
Tambah kecepatan kereta api agar tdk kalah bersaing setelah Toll Trans-Jawa rampung...
Reply
#95
Pengalaman pahit....:

1) Naik KA Gajayana lebaran ke Malang samapi lebih dari 24 jam tidak sampai-sampai gara-gara ada Jembatan rusak di Ngawi. KA sudah sampai Surabaya, tapi memutar lagi lewat Kertosono. Akhirnya aku memutuskan turun Stasiun Pasar Turi, Surabaya dan melanjutkan perjalanan dengan bis ke Malang. Ini terjadi kira-kira pada lebaran tahun 2004.

2) Naik KA Argo Anggrek siang menuju Surabaya tapi listrik mati mulai dari Semarang. Kereta jadi gelap dan panas sampai Surabaya. Akhirnya setiap tiket mendapat refund Rp 100.000,_ Ini terjadi pada lebaran 2006.

3) Naik KA Jayabaya Selatan pada kira-kira tahun 2000 menuju Surabaya. Loko mogok Di Karawang dan menunggu loko pengganti yang lama sekali dari Jakarta....

4) Masih diingat-ingatTersenyuum
Reply
#96
Tahun 1999 saya mendaki ke G. Ciremai berdua dengan teman saya. Sepulangnya saya turun ke Cirebon. Kami naik KA ekonomi (saya lupa namanya, dan juga saat itu belum begitu suka KA) dari Parujakan. Berangkat siang, dan kami ada di bordes gerbong terakhir. Saya dari dulu lebih suka berdiri di bordes daripada di dalam. Dari 8 rangkaian, hanya 6 gerbong di depan yang terisi. Sepanjang lintas CN-SMC itulah awal musibah kami. Kurang lebih di daerah Tegal tiba² saja saya menyadari bahwa kami disudutkan segerombol pemalak. Posisi kami berdiri di pintu kereta, dan jika saya melawan, dengan mudahnya mereka tinggal menendang saya keluar. Sempat mau nekat meloncat keluar, namun kereta sangat kencang. Pilihannya dibunuh atau tewas mengenaskan pikir saya. Hanya sedikit berontak, dan kami sudah digiring oleh sekitar 10 anak ke dalam kereta. Mereka terdiri dari berbagai profesi; pengamen, gelandangan, pengemis, preman, asongan, tukang sapu, dll. Mulailah dari carrier (ransel) kami dijarah. Dirampas dengan utuh. Selanjutnya sepatu, jam, topi, uang, dompet, dan ... hingga baju-celana kami dirampas. Ditukar dengan pakaian mereka yang lusuh dan nggak layak itu. Teman saya bahkan mendapat "bonus", ditendang ketua gengnya setelah merampas sepatunya. Pipinya jadi cap sol sepatunya sendiri hingga kepalanya membentur kaca jendela. Sepanjang jalan, saya sudah tak tahu melewati mana saja kereta itu. Yang jelas mereka turun tahap demi setahap di tiap stasiun.
Result : saya memakai celana kolor pendek dan kaos oblong dengan sandal jepit, dan teman saya juga sama ... tapi telanjang kaki. Kasihan, saya berikan sandal jepitnya ke dia.

Tanpa alas kaki, kami akhirnya sampai juga di SMC dengan yang melekat di badan saja. Di hadapan Polsuska, tak ada yang bisa kami berikan selain cerita, mengingat semuanya dirampas total. Hanya celana dalam saja yang tidak ditukar (glekk!!). Mereka hanya mendengarkan, hanya mengingatkan. Tanpa empati. Saya hanya diantar ke Komandannya. Sama. Jadi pendengar dan basa-basi juga. Bahkan saya memohon sedikit receh hanya untuk rokok atau makan pun tak bergeming. Satu²nya hanya surat keterangan pengganti karcis naik Matarmaja.

Penderitaan belum berakhir. Saat KA itu berangkat menjelang dini hari dari sana, kami lapar, haus dan kedinginan.
Beruntunglah teman selonjor kami seorang gelandangan anak². Karena kasihan, dengan kesana kemari dia mencari makanan, minum dan rokok untuk kami bertiga. Saya tak peduli lagi jika itu air minum Aqua sisa², nasi sisa². Rokok sebatang pun bergiliran.

Sampai di ML, sekitar jam 2-3 sore waktu itu. Kami mengajak dia ikut ke rumah saya. Bertiga jalan kaki dari Kotabaru ke Sawojajar (3.5 km) dalam keadaan lusuh, lapar, haus dan telanjang kaki. Sampai di rumah saya diam, tak bercerita apa² ke keluarga (hingga sekarang).

Sebagai balas budi, saya menawarkan anak itu (saya lupa namanya) untuk tinggal di rumah selama dia mau. Hingga beberapa hari saya bekerja, dia ikut saya. Suatu sore, saya mandi selepas kerja. Setelah selesai dia sudah tidak ada di dalam. Saya tanya ke tetangga, bilang dia barusan keluar gang. Bersamanya, Ericsson A1018s milik saya jadi "uang saku"nya (dulu masih ada roaming, jadi kalo keluar kota malas bawa hp). Padahal itu hp kedua yang saya beli dari uang saya sendiri (seri itu masih mahal banget buat ukuran saya).

Saya ikhlas, tak anggap balas budi. Meskipun kena pepatah; sudah jatuh, tertimpa tangga, saya nggak kapok atau trauma naik kereta. Tak ada hikmah yang saya rasakan, tapi jawaban. Saya sekarang tahu, kenapa penjahat kebanyakan mengambil semua identitas korbannya (SIM, tiket KA dan KTP saya pun juga diminta paksa). Agar tak bisa diusut, atau pihak berwajib kesulitan menangani laporan sang korban. Sedikit flashback, sayapun dianggap penumpang gelap alias kambing, karena tak bisa menunjukkan apa². Mungkin gara² itu saya diacuhkan oleh pihak SMC saat itu. Terlebih lagi, setelah itu saya mencari tahu tentang peta² rawan CN-SMC (juga input dari Pak Purwo, pemilik warung dipo ML). Ternyata saya termasuk beruntung. Saya termasuk dari beberapa yang lolos dengan selamat dari kejahatan mereka . Mereka tak segan² melempar keluar atau membunuh korbannya yang melawan. Saya nggak tahu apakah jalur itu sudah aman sekarang.

Masalahnya juga masih berekor. Perlengkapan kami yang dirampas sebagian adalah pinjaman dan harganya mahal. Tenda yang saya pinjam seharga 700.000 saat itu. Belum lagi yang dipinjam teman saya. Belum selesai menggantinya, dia tewas karena overdosis beberapa bulan setelah itu. Menyesalnya, kenapa bukan saat saya sendirian yang jadi korban, saat solo trek ke G. Raung, Bondowoso (sekitar tahun 2002 saya masih naik KA jurusan Jember-Panarukan). Lengkap sudah penderitaan, beban mental dan materi buat saya. Saya yang mengajaknya ke Ciremai, dia kena musibah, berhutang dan dipanggil Tuhan dengan cara yang mengenaskan....

Sedih

[Image: 4860986383_7d35fd903e_b.jpg]
Reply
#97
Wah pengalaman yg sangat tragis memilukan bro Huaaaa.....hik..hik
Reply
#98
(09-12-2009, 10:27 AM)Penjelajah Wrote: [spoiler]
Tahun 1999 saya mendaki ke G. Ciremai berdua dengan teman saya. Sepulangnya saya turun ke Cirebon. Kami naik KA ekonomi (saya lupa namanya, dan juga saat itu belum begitu suka KA) dari Parujakan. Berangkat siang, dan kami ada di bordes gerbong terakhir. Saya dari dulu lebih suka berdiri di bordes daripada di dalam. Dari 8 rangkaian, hanya 6 gerbong di depan yang terisi. Sepanjang lintas CN-SMC itulah awal musibah kami. Kurang lebih di daerah Tegal tiba² saja saya menyadari bahwa kami disudutkan segerombol pemalak. Posisi kami berdiri di pintu kereta, dan jika saya melawan, dengan mudahnya mereka tinggal menendang saya keluar. Sempat mau nekat meloncat keluar, namun kereta sangat kencang. Pilihannya dibunuh atau tewas mengenaskan pikir saya. Hanya sedikit berontak, dan kami sudah digiring oleh sekitar 10 anak ke dalam kereta. Mereka terdiri dari berbagai profesi; pengamen, gelandangan, pengemis, preman, asongan, tukang sapu, dll. Mulailah dari carrier (ransel) kami dijarah. Dirampas dengan utuh. Selanjutnya sepatu, jam, topi, uang, dompet, dan ... hingga baju-celana kami dirampas. Ditukar dengan pakaian mereka yang lusuh dan nggak layak itu. Teman saya bahkan mendapat "bonus", ditendang ketua gengnya setelah merampas sepatunya. Pipinya jadi cap sol sepatunya sendiri hingga kepalanya membentur kaca jendela. Sepanjang jalan, saya sudah tak tahu melewati mana saja kereta itu. Yang jelas mereka turun tahap demi setahap di tiap stasiun.
Result : saya memakai celana kolor pendek dan kaos oblong dengan sandal jepit, dan teman saya juga sama ... tapi telanjang kaki. Kasihan, saya berikan sandal jepitnya ke dia.

Tanpa alas kaki, kami akhirnya sampai juga di SMC dengan yang melekat di badan saja. Di hadapan Polsuska, tak ada yang bisa kami berikan selain cerita, mengingat semuanya dirampas total. Hanya celana dalam saja yang tidak ditukar (glekk!!). Mereka hanya mendengarkan, hanya mengingatkan. Tanpa empati. Saya hanya diantar ke Komandannya. Sama. Jadi pendengar dan basa-basi juga. Bahkan saya memohon sedikit receh hanya untuk rokok atau makan pun tak bergeming. Satu²nya hanya surat keterangan pengganti karcis naik Matarmaja.

Penderitaan belum berakhir. Saat KA itu berangkat menjelang dini hari dari sana, kami lapar, haus dan kedinginan.
Beruntunglah teman selonjor kami seorang gelandangan anak². Karena kasihan, dengan kesana kemari dia mencari makanan, minum dan rokok untuk kami bertiga. Saya tak peduli lagi jika itu air minum Aqua sisa², nasi sisa². Rokok sebatang pun bergiliran.

Sampai di ML, sekitar jam 2-3 sore waktu itu. Kami mengajak dia ikut ke rumah saya. Bertiga jalan kaki dari Kotabaru ke Sawojajar (3.5 km) dalam keadaan lusuh, lapar, haus dan telanjang kaki. Sampai di rumah saya diam, tak bercerita apa² ke keluarga (hingga sekarang).

Sebagai balas budi, saya menawarkan anak itu (saya lupa namanya) untuk tinggal di rumah selama dia mau. Hingga beberapa hari saya bekerja, dia ikut saya. Suatu sore, saya mandi selepas kerja. Setelah selesai dia sudah tidak ada di dalam. Saya tanya ke tetangga, bilang dia barusan keluar gang. Bersamanya, Ericsson A1018s milik saya jadi "uang saku"nya (dulu masih ada roaming, jadi kalo keluar kota malas bawa hp). Padahal itu hp kedua yang saya beli dari uang saya sendiri (seri itu masih mahal banget buat ukuran saya).

Saya ikhlas, tak anggap balas budi. Meskipun kena pepatah; sudah jatuh, tertimpa tangga, saya nggak kapok atau trauma naik kereta. Tak ada hikmah yang saya rasakan, tapi jawaban. Saya sekarang tahu, kenapa penjahat kebanyakan mengambil semua identitas korbannya (SIM, tiket KA dan KTP saya pun juga diminta paksa). Agar tak bisa diusut, atau pihak berwajib kesulitan menangani laporan sang korban. Sedikit flashback, sayapun dianggap penumpang gelap alias kambing, karena tak bisa menunjukkan apa². Mungkin gara² itu saya diacuhkan oleh pihak SMC saat itu. Terlebih lagi, setelah itu saya mencari tahu tentang peta² rawan CN-SMC (juga input dari Pak Purwo, pemilik warung dipo ML). Ternyata saya termasuk beruntung. Saya termasuk dari beberapa yang lolos dengan selamat dari kejahatan mereka . Mereka tak segan² melempar keluar atau membunuh korbannya yang melawan. Saya nggak tahu apakah jalur itu sudah aman sekarang.

Masalahnya juga masih berekor. Perlengkapan kami yang dirampas sebagian adalah pinjaman dan harganya mahal. Tenda yang saya pinjam seharga 700.000 saat itu. Belum lagi yang dipinjam teman saya. Belum selesai menggantinya, dia tewas karena overdosis beberapa bulan setelah itu. Menyesalnya, kenapa bukan saat saya sendirian yang jadi korban, saat solo trek ke G. Raung, Bondowoso (sekitar tahun 2002 saya masih naik KA jurusan Jember-Panarukan). Lengkap sudah penderitaan, beban mental dan materi buat saya. Saya yang mengajaknya ke Ciremai, dia kena musibah, berhutang dan dipanggil Tuhan dengan cara yang mengenaskan.... [/spoiler]

Sedih

wah parah banged, 1 hal yg harus di jadikan pelajaran " Bordes bukan tempat penumpang " Ga peduli walau bayar karcis sekalipun, bordes wilayah yang sangat berbahaya
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply
#99
th 88 naik fajar bisnis berdua nyokap duduk di gerbong terakhir, ditengah sawah daerah kroya 2 rangkaian terakhir ketinggalan (putus) sampe 30 mnt balik lagi tuh rangkaian depan yg niggalin.
th 98 naik ekonomi pas lebaran dr tn.abang sendirian berdiri di pinggir pintu samping wc sepanjang jakarta - jogja, penderitaan ditambah hujan lebat setengah perjalanan sampe baju kering lagi ketiup angin & diprupuk KA mo berangkat diuber2 orang bawa samurai wuhh panik lah semua yg dipintu saling dorong apesnya aku paling ujung alhamdulillah ketolong peronnya yg habis & orang gila itu terjatuh
th 2004 naik ekonomi dari yk ke jkt pas di pwt orang yg duduk didepanku tasnya yg dipeluk sepanjang jalan dirampas orang pas dia lg ketiduran dalem tas itu ada hp 12 unit kebetulan dia pedagang hp
skarang belom berani lg naik KA yg non AC klo sendirian
Reply
Bordes dalam peraturan PT.KA memang bukan tempat penumpang. Masalahnya bukan itu, tapi moment yang pas untuk menyudutkan saya saat itu. Satu kalimat terlupa; saya sempat membuang multitool V*CT*R*N*X milik saya keluar, saat diancam. Daripada senjata makan tuan nantinya... Terbukti dengan sepatu makan tuan juga akhirnya.

[Image: 4860986383_7d35fd903e_b.jpg]
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)