Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Jalur mati Purwokerto-Wonosobo
#11
(23-06-2009, 10:19 PM)asep_0907 Wrote:
(23-06-2009, 02:07 PM)Gege Wrote: Ada yang punya pics hasil mblusukan daeah ini???
Bagi-bagi dong biar ada gambarannya gitu loh...

Trims.

apakah diriku harus bongkar-bongkar arsip lagi he...he....
Playboy

bongkar aja kang.....hasil mblusukan tahun lalu di jalur situ.......

[Image: bannersaveourearth.png]

My Website Railway Photography www.flickr.com/photos/Agung_Ajunks

My videos on www.youtube.com/user/cc20409
Reply
#12
(23-06-2009, 11:51 PM)Agung Wrote:
(23-06-2009, 10:19 PM)asep_0907 Wrote:
(23-06-2009, 02:07 PM)Gege Wrote: Ada yang punya pics hasil mblusukan daeah ini???
Bagi-bagi dong biar ada gambarannya gitu loh...

Trims.

apakah diriku harus bongkar-bongkar arsip lagi he...he....
Playboy

bongkar aja kang.....hasil mblusukan tahun lalu di jalur situ.......

kalau soal foto gampang, sekarang aku lagi ngolah sejarahnya...sabar yo...
Xie Xie

Reply
#13
Jalur trem Purwokerto-Wonosobo mulai di bangun secara bertahap tahun 1893 oleh SDS (Serajoedal Stoomtram Maatschappij) dengan modal sebesar F 1.500.000 jalan kereta api lembah Serayu dibawah pimpinan Ir.C.Groll.

Pembangunan jalur ini dimulai Dari Maos menyusuri lembah Kali Serayu dan sejajar dengan jalan raya Maos-Rawalo serta melewati beberapa desa seperti Panisinan, Tinggartugu, Glempong (mulai menjauhi pinggiran Kali Serayu), Tinggardjengkol, Gringging, Sampang (menjauhi jalan raya) dan di terowongan Kebasen bersisian sampai akhirnya di jembatan Kali Serayu, jalur SDS menyilang dan melewati kolong jembatan jalur kereta sekarang (Kroya-Petuguran) punyanya SS (Statspoorwegen).

Yang pasti jalur trem ini tidak meninggalkan atau tidak jauh dari pabrik-pabrik gula yang ada di Banyumas karena dari pabrik-pabrik gula inilah nantinya pengangkutan rutin akan dilakukan. Disamping itu juga karena sebelumnya pihak pabrik gulalah yang sering menyampaikan usulan tentang perlunya dibuat sebuah sistem pengangkutan yang modern dan cepat.

Untuk tahap pertama dengan surat keputusan Pemerintah Belanda Gvt. Besl. 23 Desember 1893 no. 6, jalur yang di bangun adalah :
 Maos-Purwokerto (timur) sepanjang 29 km diresmikan pengoperasinya pada tanggal 16 Juli 1896
 Purwokerto Timur-Pasarwees-Sangkalputung-Sokaraja sepanjang 9 km diresmikan pengoperasinya pada tanggal 05 Desember 1896
 Sokaradja-Bandjarsari-Muntang-Karangkemuri-Kemangkon-Purworedja (Klampok) sepanjang 16 km diresmikan pengoperasinya pada tanggal 02 Juli 1897
 Purworedja-Gandulor-Mandiradja-Purwonegoro-Gumiwong-Binorong-Mantrianom-Putjang-Wangon-Bandjarnegara sepanjang 30 km diresmikan pengoperasinya pada tanggal 18 Mei Juli 1898

Jalur ini diujicoba terlebih dahulu untuk pengangkutan barang milik Pemerintah. Untuk selanjutnya disamping mengoperasikan gerbong barang, perusahaan ini juga mengoperasikan gerbong penumpang untuk masyarakat umum, yang terdiri dari gerbong kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga.
Dalam pengembangan selanjutnya perusahaan ini berpikir untuk memperluas aktifitasnya, Maka perwakilan utama di Hindia Belanda pada tanggal 12 Mei 1898 meminta konsesi tambahan bagi SDS untuk membuka dan mengeksploitasi cabang dari Banjarsari menuju arah timur laut ke Kota Purbalingga. Alasan yang dipakai adalah bahwa sepanjang lintasan ini terdapat dua pabrik gula yaitu pabrik gula Kalimana dan pabrik gula Bojong yang membutuhkan keberadaan kereta api.

Permintaan ini dikabulkan, Namun demikian pemerintah meminta syarat kepada pihak SDS untuk membuka Kota Banyumas bagi jalur trem ini karena Kota Banyumas mempunyai peranan penting bagi pemerintah. Disana terdapat kantor Residen dan memerintah seorang Bupati. Diharapkan dengan dibukanya kota ini bagi jalur trem, maka urusan pemerintahan menjadi lebih lancar.

Tetapi syarat dari pemerintah ini tidak dituruti oleh SDS. Lewat suratnya tanggal 31 Mei 1899 No.7 mereka minta kepada pihak pemerintah untuk mencabut syarat tersebut, karena untuk membuka Kota Banyumas dari jalur trem akan memakan biaya yang sangat besar, sementara keuntungan yang akan didapatkan dari jalur itu hampir pasti tidak ada. Permintaan itu hanya dikabulkan oleh pemerintah lewat sebuah jawaban yang diberikan tanggal 26 Juni 1899.

Dengan berbekal surat keputusan Pemerintah Belanda Gvt. Besl. 22 September 1898 no. 19 yang telah keluar duluan, maka jalur dari Bandjarsari-Djompo-Kalimanah-Purbalingga sepanjang 7 km dibuat. Pada tanggal 01 Juli 1900 jalur ini mulai dioperasikan dan dibuka untuk umum. Penolakan untuk membuka jalur Kota Banyumas menandakan bahwa perusahaan transportasi tersebut semata-mata mementingkan kepentingan ekonomi perusahaannya tanpa memperhatikan kepentingan pemerintah.

Selain untuk kepentingan pengangkutan barang-barang komoditi ekspor dari Banyumas alat transportasi ini juga diperuntukan untuk mengangkut penduduk yang akan bepergian. Trem SDS ini ternyata sangat diminati oleh masyarakat Banyumas sebagai sarana transportasi yang efektif dan murah.

Perusahaan-perusahaan swasta besar yang paling berkepentingan dan paling banyak menggunakan jasa trem adalah perusahaan gula. Sejak trem SDS beroperasi maka seluruh muatan milik pabrik gula kecuali tebu dari perkebunan baik yang dari pabrik maupun yang ke pabrik diangkut dengan trem. Barang-barang milik pabrik gula yang diangkut dengan trem antara lain perlengkapan pabrik seperti batu gamping, mesin, dan barang logam, bahan bakar, dan pembungkus gula.

Selain itu dimuat juga perlengkapan perkebunan tebu seperti bibit dan pupuk. Barang-barang tersebut semuanya didatangkan dari luar Banyumas, bahkan dari luar negeri. Sedangkan yang dibawa keluar dari Banyumas misalnya gula dan sirup tebu. Barang-barang ini dibawa ke pelabuhan Cilacap untuk selanjutnya dikapalkan ke luar negeri atau barang-barang tersebut dibawa ke Stasiun Maos untuk selanjutnya di angkut oleh kereta api negara (SS) ke Batavia.

Memasuki dekade kedua abad ke-20, daerah pedalaman yang kaya dengan hasil perkebunan dan pertanian yaitu Wonosobo di lirik juga oleh SDS. Jaringan tambahan ini sangat penting mengingat daerah Wonosobo sebelah utara (Dieng) merupakan penghasil tembakau yang sangat potensial. Sebelumnya pengiriman tembakau ke Batavia dilakukan melalui jalan darat lewat Pekalongan. Padahal jalan darat lewat jalur ini sangat sulit, karena harus melewati daerah pegunungan Kali Bening.

Untuk itu, berbekal surat keputusan Pemerintah Belanda Gvt. Besl. 22 Juni 1912 no. 12. Untuk tahap ketiga jalur yang di bangun adalah :
 Banjarnegara-Sokanandi-Singomerto-Sigaluh-Prigi-Bandingan-Bojonegoro-Tunggoro-Selokromo sepanjang 19 km diresmikan pengoperasinya pada tanggal 01 Mei 1916
 Selokromo-Krasak-Selomerto-Penawangan-Wonosobo sepanjang 14 km diresmikan pengoperasinya pada tanggal 07 Juni 1917

Stasiun kereta api yang menjadi bukti kuat bahwa Wonosobo merupakan pemasok berbagai hasil bumi, tahun 1975 tidak terpakai lagi. Menurut seorang pensiunan pegawai PT Kereta Api Indonesia, pada awal tahun 1980-an jalur kereta api itu pernah digunakan untuk mengangkut pipa-pipa besar untuk proyek pembangkit listrik tenaga air di Kecamatan Garung.

Setelah itu pernah ada rencana PT Dieng Djaya sebuah perusahaan pengalengan jamur di Wonosobo untuk menggunakan kereta api sebagai pengangkut ampas tebu untuk media penanaman jamur. Pada masa Menteri Perhubungan Haryanto Danutirto juga pernah ada rencana untuk menghidupkan kembali jalur kereta api Wonosobo-Purwokerto itu. Akan tetapi, rencana itu tidak pernah terlaksana hingga sekarang

Kini beberapa bagian stasiun kereta api itu sudah berubah menjadi permukiman. Di bagian depan masih tampak bangunan utama stasiun, tetapi sudah menjadi bengkel dan sebagian digunakan untuk gudang pupuk. Beberapa bagian jalur kereta api, di atasnya sudah didirikan bangunan rumah. Peralatan-peralatan di stasiun sudah banyak yang hilang. Akan tetapi, perumahan pegawai masih banyak yang utuh.

Reply
#14
yap klo misal ini berhasil diaktifkan kembali mudah mudahan jalur yg mati lainnya bisa diaktifkan juga

amin.
Train is never death for my life specially KA Lodaya
Reply
#15
-------------------------------------------------------------------------
I love ciamis station...Playboy
Reply
#16
@rz-aa : Please dijelasin lokasi jembatan2 ini ada di mana saja...? Kelihatannya di daerah Banjarnegara-an ya...?
"Everyone can train..." #sloganoperatorsepoertempodoeloe


[Image: 10p0h7r.jpg]





Reply
#17
kalo yg pertama itu di batas kota banjarnegara....
yang kedua di antara banjarnegara-wonosobo
yang ketiga sebelum masuk wonosobo keliatannya.....
yang keempat kurang beitu paham.

[Image: bannersaveourearth.png]

My Website Railway Photography www.flickr.com/photos/Agung_Ajunks

My videos on www.youtube.com/user/cc20409
Reply
#18
Ya... beberapa rel bahkan berada lebih tinggi dari jalan raya dan bersilang dengan jalan raya melalui jembatan di perbatasan Banjarnegara-Wonosobo. Waktu itu juga blusukannya masih kecil sekitar umur 6 tahun diajak sama kakek, belum kenal kamera apalagi memotret...
Tokyo Metro 05-108F|Sora Naegi

[Image: 2r56iya.jpg]

Jabodetabek no Tsuukin Dentetsu (KCJ)
Reply
#19
(24-06-2009, 11:39 PM)see_204XX Wrote: @rz-aa : Please dijelasin lokasi jembatan2 ini ada di mana saja...? Kelihatannya di daerah Banjarnegara-an ya...?

waduh.... gatau ane...
maklum bukan orang sana sama waktu itu ga sempet merhatikan...Xie Xie
(25-06-2009, 01:20 AM)Agung Wrote: kalo yg pertama itu di batas kota banjarnegara....
yang kedua di antara banjarnegara-wonosobo
yang ketiga sebelum masuk wonosobo keliatannya.....
yang keempat kurang beitu paham.

yang keempat itu sama kayak yang ke tiga... cuma yg ke 4 itu foto dari atasBye Bye
-------------------------------------------------------------------------
I love ciamis station...Playboy
Reply
#20
paling inget yg poto nomer 1 karena waktu perjalanan dari PWT berhenti pas di dekat situ buat buang air kecil
kalo poto yang karena jembatannya terlalu rendah jadinya jalannya ngerong di bawah rel masih ada gak ya ato skrg masih bisa ditemukan
ato mungkin poto yg nomer 2 itu
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 3 Guest(s)