Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Pengandaian Lingkar Jakarta (Fiktif Belaka)
#11
fungsi asli dari jalur lingkar jakarta
bukannya untuk ballon loop
pengganti turn table
untuk muter lokomotif???
Reply
#12
bojonggede_express Wrote:fungsi asli dari jalur lingkar jakarta
bukannya untuk ballon loop
pengganti turn table
untuk muter lokomotif???

wah gak mungkin banget fungsi aslinya itu..
boros biaya dan tenaga banget kalo ngebuat jalur lingkar segitu panjangya cuma buat muter lok..
y g??
ketika dunia aviasi dan kereta api menyatu di tubuhku Playboy
Reply
#13
pokoknya saya setuju saja sama pak dana. yang penting kalo transfer antar koridornya dipermudah alias gak usah mbayar lagi kayak busway. syukur2 kalo tiket elektroniknya sudah terwujud. Nyengir
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#14
Dana Komuter Wrote:
big bro Wrote:kok kayanya mayoritas treat bikinnan railfans satu ini selalu di tambahkan kata PENGANDAIAN ya..... Bingung
Yeh... kalau mau gak pengandaian, coba bayangkan yang gambar 1 saya itu jadi kenyataan... Kalau yang gambar 2 sulit deh pastinya... Kapan ya... Hanya butuh kapan waktunya dijalani apabila pak Kahumas Daops 1 Jakarta Akhmad Sujadi menaggapi positif usulan saya ini. Tapi, bagaimana?? Stasiun Manggarai saja masih kayak sekarang...

Semisal dari Bogor cuma beneran sampai Manggarai, terus menyambung ke semisal stasiun Juanda dg sesam KRL Ekonomi AC, apakah efisien perpindahan jalur terjadi bersamaan semisal dengan kedatangan KRL Ekonomi dari arah Jatinegara yang notabene menangkut para penumpang KRL Ekonomi rute Bekasi - Jatinegara? Yang dari Bogor masuk peron st. Mgr semisal di jalur 5, sedangkan yang dari Jng masuk peron st. Mgr jalur 3. Di waktu yang bersamaan mereka keluar stasiun Manggarai berbarengan dan ada juga yang hendak menerusi semisal naik sesama KRL Ekonomi tapi khusus semisal Lingkar Barat Jakarta seperti yang aku harapkan. Wah... Bisa bentrok dan mengganggu aktifitas KA luar kota pastinya.

Kenapa mengganggu KA luar kota? Karena kedatangan KA luar kota dari arah beberapa kota di Jawa identik di waktu pagi hari. Tidak terkecuali keberangkatan yang pagi hari ke beberapa kota di Jawa. Yang dari sepur / peron 5 hendak ke luar st. Mgr, sedangkan yg dari sepur / peron 3 hendak ke peron 6 utk narik Lingkar Barat Jakarta... eh... di jalur 4 ada KA langsir dari Gambir. WAW... Jeng jeng.... Tau sendiri disiplin masyarakat kita...
Kapan ya...

Mungkin lebih baik kalo kedatangan KA luar kota cukup sampai St. Manggarai daripada sampai St. Gambir.
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply
#15
bonbon Wrote:Mungkin lebih baik kalo kedatangan KA luar kota cukup sampai St. Manggarai daripada sampai St. Gambir.

boleh aja, kalo manggarai sudah punya akses jalan arteri kayak merdeka timur, yang lebar dan mudah diakses dari berbagai penjuru kota lewat jalan raya. Kapan ya...

dan juga manggarai harus punya land mark tandingannya monas... Nyengir
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#16
Asal tahu saja... Peron2 stasiun Manggarai difasilitasi tangga buat para penumpang dari gerbong KA menuju stasiun emplasement Manggarai. Begitu pun sebaliknya. Nah... kalau saja stasiun Manggarai dirancang seperti stasiun Ps. Senen yang juga punya tangga ke bawah tanah, apa yang terjadi? Pasti aku pribadi sudah membayangkan masyarakat lebih memilih lewat peron - peron sebelahan alias tidak lewat tangga ke bawah tanah. Kalau saja ada beberapa KA luar kota semisal cuma sampai di stasiun Manggarai (bukan di Gambir lagi seperti rencana semula), apakah masyarakat akan terus - terusan sabar menunggu KA2 yang melintas?

Contohnya saja ada KA Parahyangan datang dari Bandung memasuki peron 3 st. Mgr. Di saat yang bersamaan datang KRL Pakuan AC dari Bogor masuk peron 5 st. Mgr. Karena masyarakat tidak mau turun tangga ke bawah tanah, apakah mereka mesti sabar supaya si Parahyangan diilangsir mundur atau pun maju ke dipo? Entah mungkin diponya kelak di stasiun Jatinegara, tetap di Manggarai, Bukit Duri atau di mana pun, kalau saja langsiran butuh waktu semisal 5 menit untuk menyambung si lok dg si gerbong, maka masyarakat kehabisan waktu. Peron 5 yang aku maksud jadi penuh.

Itu sih sekilas gambaran dari aku sendiri. Namun, tinggal gimana pembuktiannya mungkin saja berbeda... Kalau soal tangga peron buat penyeberangan antar peron yang maksud itu dihapus, maka satu2nya alternatif yaitu melewati tangga ke bawah tanah spt di stasiun Ps. Senen. Gambaran lain mungkin stasiun Malang Kotabaru juga, dll...

Reply
#17
Dana Komuter Wrote:Asal tahu saja... Peron2 stasiun Manggarai difasilitasi tangga buat para penumpang dari gerbong KA menuju stasiun emplasement Manggarai. Begitu pun sebaliknya. Nah... kalau saja stasiun Manggarai dirancang seperti stasiun Ps. Senen yang juga punya tangga ke bawah tanah, apa yang terjadi? Pasti aku pribadi sudah membayangkan masyarakat lebih memilih lewat peron - peron sebelahan alias tidak lewat tangga ke bawah tanah. Kalau saja ada beberapa KA luar kota semisal cuma sampai di stasiun Manggarai (bukan di Gambir lagi seperti rencana semula), apakah masyarakat akan terus - terusan sabar menunggu KA2 yang melintas?

Contohnya saja ada KA Parahyangan datang dari Bandung memasuki peron 3 st. Mgr. Di saat yang bersamaan datang KRL Pakuan AC dari Bogor masuk peron 5 st. Mgr. Karena masyarakat tidak mau turun tangga ke bawah tanah, apakah mereka mesti sabar supaya si Parahyangan diilangsir mundur atau pun maju ke dipo? Entah mungkin diponya kelak di stasiun Jatinegara, tetap di Manggarai, Bukit Duri atau di mana pun, kalau saja langsiran butuh waktu semisal 5 menit untuk menyambung si lok dg si gerbong, maka masyarakat kehabisan waktu. Peron 5 yang aku maksud jadi penuh.

Itu sih sekilas gambaran dari aku sendiri. Namun, tinggal gimana pembuktiannya mungkin saja berbeda... Kalau soal tangga peron buat penyeberangan antar peron yang maksud itu dihapus, maka satu2nya alternatif yaitu melewati tangga ke bawah tanah spt di stasiun Ps. Senen. Gambaran lain mungkin stasiun Malang Kotabaru juga, dll...

wah bisa2 sering terjadi PLH dengan penumpang komuter tuh... Ngeledek
idealnya penyebrangan antar peron tidak sebidang dengan rel seperti yang ada di gambir, ps.senen ato sudirman.
Klo mo bener2 jalan konsep MRT di jakarta harus dibenahi stasiunnya dan perlu ditambah jalur/stasiun baru yang letaknya strategis dan dekat pusat keramaian. klo perlu bikin jalur yang lewat uki cawang ato lebak bulus..

btw klo tiap pagi gw suka liat odong2 dari bekasi yang lewat jatinegara-manggarai-tanah abang-duri-angke-kap.bandan-ps.senen. namanya krl lingkar.. yg kayak gitu maksudnya om? :mikir:
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)