Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Railfanning di Semenanjung Malaya.
ternyata ga cuma kereta yg bisa silangan, pesawat juga bisa silangan di udara ya mas Ngakak

atau mungkin saya yang agak norak karena memang baru sekali ini ngeliatnya Bingung
Reply
(08-01-2012, 10:14 PM)omaniax Wrote: ternyata ga cuma kereta yg bisa silangan, pesawat juga bisa silangan di udara ya mas Ngakak

atau mungkin saya yang agak norak karena memang baru sekali ini ngeliatnya Bingung

Mungkin maksudnya mengalah sama pesawat lain? Itu bisa saja terjadi. Istilahnya holding.

Cuman alasannya berbeda dengan di dunia KA Indonesia, dimana kalau di KA kereta kelas rendah bisa mengalah sama kereta kelas tinggi, di dunia penerbangan yang datang duluan yang dapat prioritas.
Reply
ooo berarti wajar ya mas silangan pesawat itu dengan alasan yang mas sebutkan...
terima kasih atas penjelasannya Xie Xie
Reply
Setelah istirahat selama beberapa jam di Cengkareng, kamipun langsung bergerak menuju ke terminal 1C.
Ini adalah pertama kalinya saya menjejakkan kaki ke terminal 1C sejak tahun 1989. Dan walaupun sudah ada program face lift beberapa waktu lalu, tetap saja penampilannya tidak banyak berubah sejak 22 tahun silam.


[Image: n1-2.jpg]

Selesai urusan check in, kamipun keatas. Ruapanya disana ada lounge. Saya sebenarnya bukan fans berat lounge, tapi abang saya mengajak, akhirnya sayapun ikut masuk.
Menu makanan disini menurut saya jauh lebih baik dari yang di Medan.


[Image: n2-2.jpg]

Makanan yang saya ambil (Rawon plus Nasi Goreng matching nggak?)


[Image: n3-1.jpg]

Selesai istirahat di lounge, kamipun langsung menuju ke gate.


[Image: n4-2.jpg]

Suasana di gate malam itu.


[Image: n5-1.jpg]

Rupanya koridor nya sekarang menjadi bagian dari ruang tunggu di gate.


[Image: n6-2.jpg]

[Image: overstappen.png]
Dulu koridornya tidak ber-AC dan tidak berjendela seperti ini.

Pesawat saya malam itu: Boeing 737-400 PK-GCA.


[Image: n7-2.jpg]

Wah, ternyata waving gallery terminal 1C ada disitu.


[Image: n8-1.jpg]

Jadi teringat dulu sewaktu saya tinggal di Jakarta, sering sekali kesini kalau mengantar bapak saya yang pergi berdinas keluar kota.

Langit-langit gate.


[Image: n9-1.jpg]

Kali ini kita benar-benar kena delay hingga lebih dari satu jam. Sangat membosankan rasanya menunggu di bandara Cengkareng. Tidak ada yang bisa kita lakukan disini.

Tapi akhirnya kami pun boarding. Kelihatan pesawat Citylink yang lainnya.


[Image: n10-1.jpg]

Pesawat kami.


[Image: n11-1.jpg]

Interior pesawat.


[Image: n12-1.jpg]

[Image: overstappen.png]
Sayap pesawat.


[Image: n13-1.jpg]

Tak lama kemudian pesawat bergerak menuju ke runway. Kita sempat holding sebentar untuk mengasih jalan Sriwiajaya Air yang mendarat ini.


[Image: n14-1.jpg]

Setelah clear, kamipun take off dari Cengkareng.


[Image: n15-1.jpg]

Tidak banyak yang bisa diceritakan dari perjalanan dari Cengkareng ke Surabaya. Yang pasti kami akhirnya mendarat dengan selamat di bandara Juanda.


[Image: n16-1.jpg]

BERSAMBUNG.
Reply
Belum ada respon juga Bethe
Reply
btw kok naiknya gk lewat garbarata ya? emang khusus citilink gk pake garbarata ato itu cuma insidental?

btw di pesawat jkt-sby dapet makan gk mas Ngiler?
Silence Is Golden

But My Eyes Still SeeNgeledek
Reply
Ternyata saya baru tahu kalau airline mau makai garbarata, mereka harus bayar. Makanya untuk mengurangi biaya, mereka tidak menggunakan garbarata.

Berhubung sudah last flight, otomatis kita tidak dapat makan Bethe

Tapi ya karena sudah malam, kita nggak mikir makan, tapi mikir ranjang dirumah.... Ngantuk
Reply
keren mas.. seru nyimaknya
Reply
Setelah beberapa hari beristirahat di Surabaya, sayapun kembali ke Bandung. Kali ini saya berangkat ke Bandung menggunakan kereta api favorit saya: Argo Wilis. Saya suka sekali naik KA ini karena beberapa hal, seperti bisa melihat pemandangan pulau Jawa, serta praminya yang cakep-cakep.

Tidak seperti beberapa perjalanan naik KA saya sebelumnya, kalau dulu seluruh keluarga ikut mengantar ke stasiun; kini karena ada peraturan dimana pengantar tidak boleh masuk peron, maka yang mengantar ke stasiun hanya ibu saya.

Di stasiun, suasananya cukup ramai, karena KA Penataran pagi dari Malang baru saja masuk Surabaya.


[Image: o1-1.jpg]

Suasana saat boarding.


[Image: o2-1.jpg]

Ternyata sebelum berangkat ada PS (Pemeriksaan Serentak). Ini adalah pemeriksaan oleh petugas PT KA yang non-crew, untuk memastikan bahwa tidak ada penumpang gelap, dan semua petugas KA sudah menyiapkan ID mereka masing-masing.


[Image: o3-1.jpg]

Pukul 7.30 pagi, KA Argo Wilis berangkat menuju ke Bandung. Kelihatan pemandangan gunung Welirang dan Penanggungan yang tertutup awan diantara Sepanjang-Mojokerto.


[Image: o4-1.jpg]


[Image: o5.jpg]

[Image: overstappen.png]
Perhentian pertama adalah Jombang. Sekarang KA Argo Wilis juga berhenti di Jombang dan Kertosono (serta Mojokerto kalau ada yang pesan). Dulu di Jawa Timur dia hanya berhenti di Madiun!

PPKA memberikan clearance.


[Image: o6.jpg]

Jalanan yang paralel jalur KA antara Jombang-Kertosono.


[Image: o7.jpg]

Antara Jombang-Kertosono ada jalan mobil yang paralel dengan jalur KA sejauh hampir 10 kilometer. Dulu waktu kecil ini adalah salah satu tempat favorit saya untuk “balapan” dengan KA yang lewat.

Suasana di dalam KA.


[Image: o8.jpg]

Tak lama kemudian kami sampai di Kertosono. Kelihatan gerbong-gerbong KA Bangunkarta yang stabling di Kertosono.


[Image: o9.jpg]

Jaman dulu, KA ini stabling di Jombang, tapi entah kenapa kok dipindah ke Kertosono?

Selesai menaikkan penumpang, KA melanjutkan perjalanan.


[Image: o10.jpg]

[Image: overstappen.png]
Pak kondektur pun mulai memeriksa karcis penumpang.


[Image: o11.jpg]

Pemandangan pedesaan yang “rustic” di daerah Saradan, yang terkenal karena hutan jatinya.


[Image: o12.jpg]

Gunung Wilis (asal nama KA Argo Wilis) yang tertutup awan.


[Image: o13.jpg]

Menjelang masuk stasiun Babadan, KA kami tertahan sinyal lama sekali. Sampai ada petugas yang iseng keluar.


[Image: o14.jpg]

Rupanya dia menunggu KA Sancaka dari Yogya (lokonya kelihatan samar-samar di latar belakang).

Tak lama kemudian KA kami masuk stasiun Babadan, berhenti disebelah KA Sancaka.


[Image: o15.jpg]

[Image: overstappen.png]
Saya iseng lari kedepan, memotret lokomtif KA saya.


[Image: o16.jpg]

Mobil dan motor yang menunggu KA Sancaka pergi.


[Image: o17.jpg]

Karena pelataran stasiun Babadan dipotong jalan raya, maka kalau ada rangkaian KA yang panjang berhenti di stasiun ini, maka jalannya pasti ditutup.


PPKA memberi clearance KA Sancaka untuk berangkat.


[Image: o18.jpg]

Dan perlintasan pun dibuka.


[Image: o19.jpg]

Pekarangan stasiun Babadan. Tampak sinyal yang mengangkat di sisi kiri gambar, tanda bahwa KA kita boleh berangkat..


[Image: o20.jpg]

[Image: overstappen.png]
Setelah sekitar sejam perjalanan, KA kami masuk Madiun. Tampak beberapa KA yang sedang di finishing touch di INKA.


[Image: o21.jpg]

Pelataran stasiun Madiun. Tampak serangkaian gerbong flatcar (gerbong peti kemas) baru yang diparkir.


[Image: o22.jpg]

Dipo lokomotif Madiun yang kini didominasi lokomotif warna kuning hijau, seperti yang saya lihat di masa kecil dulu.


[Image: o23.jpg]

Tapi saat BB301 26 ini mendekat, kelihatan kalau warnanya ada yang salah.


[Image: o24.jpg]

Setelah agak lama berhenti KA kita berangkat. Kelihatan jalur “street running” di latar belakang.


[Image: o25.jpg]

[Image: overstappen.png]
Karena lapar, saya makan bekal makan Nasi Udang Bu Rudi yang dibelikan ibu saya sebelum ke stasiun.


[Image: o26.jpg]

Pemandangan sawah yang agak kering.


[Image: o27.jpg]

[Image: overstappen.png]
Saya lebih banyak tidur selepas itu. Baru bangun saat kereta lepas dari Solo. Walaupun cuacanya hujan, herannya gunung Merapi dan Merbabu kelihatan cukup jelas!


[Image: o28.jpg]


[Image: o29.jpg]


[Image: o30.jpg]


[Image: o31.jpg]

Tak lama kemudian KA saya sampai di stasiun Yogyakarta. Tak banyak yang saya foto disini, kecuali satu gerbong bekas gerbong tidur kelas 1 KA Bima, yang kini menjadi gerbong tempat duduk.


[Image: o32.jpg]

Rangkaian KRD warna anggur.


[Image: o33.jpg]

[Image: overstappen.png]
Pemandangan di sekitar Wates. Hujan deras terus, bahkan hingga Tasikmalaya!


[Image: o34.jpg]

Suasana saat berhenti di Kebumen. Ada rangkaian gerbong tanker dan ballast yang diparkir.


[Image: o35.jpg]

Melihat ke barat. Tampak ada lampu lokomotif di kejauhan.


[Image: o36.jpg]

Ternyata itu KA Argo Dwipangga yang ditarik CC204 09.


[Image: o37.jpg]

Jadi teringat, pernah memotret mantan saya di depan loko ini, waktu dia masih baru.

Di Kroya, jalur yang menuju ke Purwokerto (dan Jakarta) berpisah.


[Image: o38.jpg]

Persawahan di sekitar Maos yang basah.


[Image: o39.jpg]

[Image: overstappen.png]
Saat lewat Banjar, saya melihah satu pemandangan yang tidak saya duga: Gunung Ciremai!


[Image: o40.jpg]

Saya agak heran juga, bagaimana gunung yang terletak di pantai utara Jawa bisa kelihatan di Banjar yang terletak di selatan Jawa? Apa karena fisiknya yang besar dan tinggi sampai bisa kelihatan dari jarak sangat jauh?

Tak banyak yang saya foto selepas Banjar karena hari mulai gelap. Namun ada hal yang menarik saat kereta berhenti di Cipeundeuy.

Saat saya keluar untuk membeli makan, saya tiba-tiba mengalami vertigo yang cukup mengganggu.
Dugaan saya, karena sebelumnya terbiasa di hawa super panas di Singapore, tiba-tiba harus menyesuaikan dengan hawa pegunungan yang dingin di Cipeundeuy, tibuh saya mengalami alttitude sickness......

Tepat pukul 9 malam, KA Argo Wilis yang saya tumpangi akhirnya sampai di stasiun Bandung.
Dan karena masih ada angkot, sayapun memilih naik angkot ke rumah saya.

Akhirnya berakhir sudah perjalanan yang sangat panjang dan menyenangkan ini.

Terima kasih atas tepuk tangannya.
Reply
benar2 petualangan yang seru abis mas,, Tepuk Tangan
thanks telah berbagi pengetahuan dn pengalamannya Top Banget
Silence Is Golden

But My Eyes Still SeeNgeledek
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)