Wah! Keasyikan baca nih???
Bagi anda yang asyik melihat TR ini di Warnet, waspadai yang satu ini.
Esok harinya kami mulai melakukan eksplorasi di Kuala Lumpur. Melihat siapa tahu ada obyek yang menarik untuk dilihat di sekitaran sini.
Kami naik LRT dari stesen PWTC yang memang terletak dekat hotel kami tinggal.
Suasana di dalam LRT.
Kami turun di stasiun Masjid Jamek.
Dari sini kami berjalan menuju ke daerah Chinatown KL. Di perjalanan kami melintasi Masjid Jamek. Anda mungkin bertanya, mengapa kok saya mengarahkan kameranya agak keatas? Karena kalau pas ke depan, akan kelihatan sampah berserakan di bawah.
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Karena terbiasa dengan hawa dingin di Bandung, beradaptasi dengan hawa panas di Kuala Lumpur membuat saya kecapaian. Kayaknya saya harus minum....
Kami berkunjung sebentar ke Jalan Petaling yang terkenal itu. Sayangnya, waktu itu belum pada buka. Dan selain itu reputasinya yang agak terkenal sebagai tempat “tipu-tipu†membuat kami pergi ke tempat lain.
Karena kesal tidak bisa trainspotting di KL, maka saya lebih memilih spotting....
Jalan Petaling tampak dari kejauhan.
Melihat toko ini, tadinya saya pikir patung itu bisa beranak. Rupanya yang dimaksud adalah grosir boneka.
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Dari Chinatown, kami bergerak menuju ke Tourist Center yang terletak di antara stasiun monorail Bukit Nanas dan KLCC Petronas Towers.
Untuk itu, kami harus naik monorail. Nah saat mendekati stasiun monorail ada satu monorail yang liverinya mengingatkan saya dengan livery pesawat yang di Medan.
Tak lama kemudian kami naik monorail. Jadi teringat waktu pertama kali naik monorail, saya merasa agak ngeri karena rasanya seperti mau jatuh kebawah saja. [sm=jabrik.gif] Namun yang enak, dari atas anda bisa melihat pemandangan daerah-daerah urban yang dilewati.
Termasuk penjara Pudu yang bersejarah, namun katanya sebentar lagi mau dirobohkan, biarpun sangat bersejarah.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di Bukit Nanas. Ini monorail yang kami naiki tadi.
Saat turun kebawah, tiba-tiba saya melihat sebuah monorail dengan livery Garuda Indonesia! Wah, keren! Ayo kawan-kawan, mari kita menyanyi
GARUDA DI SEPURKU
Tak lama kemudian kami sampai di Balai Pelancongan.
Di sini abang saya sebenarnya ingin mencari data-data atau tentang siap saja pemandu wisata yang bisa dihubungi. Sayangnya, agen tourist di sini cenderung lepas tangan. Mereka berkata di sini cuman menyediakan informasi. That is all. [sm=lirik.gif]
Kalau mau yang lebih detail, silahkan cari dan hubungi agen wisata di Malaysia.
Karena kecewa, abang saya mengajak kita pergi ke tempat tujuan kita berikutnya, yaitu KLCC Petronas Towers.
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Sesampainya di depan, kami foto-foto bareng di depan menara tersebut. Saya juga asyik memotret desain pintu masuknya yang beraksen metalic.
Di situ juga banyak turis India yang foto-foto bareng. Cuman sayangnya, mereka sangat tidak tertib sekali, karena anak-anak kecilnya suka melempar baju ke pancurannya terus mandi-mandi disitu (padahal itu dilarang).
Akibatnya security disitu dibuat cukup sibuk.
Jaman dulu, waktu masih kerja di KL, saya sangat suka sekali datang ke KLCC. Selain karena mudah dijangkau dan biaya transport sangat murah, anda juga tidak harus keluar banyak uang untuk menikmati tempat ini.
Dulu kalau saya lagi kantong cekak, tapi pingin hiburan maksimal, ya perginya ke KLCC. Tamannya sangat keren (biar hawanya kaya berdiri di sebelah bakaran sate kalau siang hari).
Saya juga suka mampir ke toko buku Kinokuniya yang kayaknya bisa membuat Gramedia seperti kios koran. Saking lengkapnya, segala jenis buku ada. Harganya pun bisa lebih murah ketimbang di Indonesia untuk buku atau majalah impor.
Tapi kalau nyari majalah, kedai favorit saya adalah kedai majalah yang terletak di depan supermarket Cold Storage KLCC. Di situ saya dulu sering beli majalah Railfans & Railroad.
Dalam kunjungan kali ini, saya beli majalah TRAINS (Locomotive Special Edition), Model Railroad, dan 2 majalah Air International.
Selesai muter-muter KLCC, kami naik LRT ke stasiun KL Sentral buat beli tiket KA ke Johor Bahru.
Karena LRT ini tidak ada masinisnya, maka saya bisa memotret dengan leluasa ke depan. Sayangnya kacanya penuh air, jadi hasilnya tidak maksimal.
Kamipun sampai di stasiun KL Sentral.
Turun kebawah, kami menuju ke kounter KTM Antarbandar.
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Harga tiketnya lumayan murah juga untuk perjalanan KA ber-AC selama 7 jam. Tiket tempat tidur kelas 2, yang bawah harga per orang RM 45, sementara yang atas RM 39. Kalau rate RM 1 = Rp 2.800,- ya harga tiketnya sama dengan Rp 126.000,- dan Rp 109.200,-. Bandingkan dengan harga tiket KA Argo Lawu, Argo Dwipangga atau Taksaka di Indonesia yang rata-rata diatas Rp 200.000,-!
Selesai beli tiket, abang saya mengajak kami ke depan sebentar, karena dia mau merokok dulu.
Di depan saya memotret pintu masuk stasiun KL Sentral yang sewaktu saya lihatkan ke kawan-kawan railfans di Indonesia membuat mereka kagum.
Kini di depan ada bangunan baru (dan kayaknya belum dipakai).
Dulu di tahun 2004, tempat ini masih tanah kosong bekas pelataran depo kereta dan lokomotif. Maklum tempat dimana stasiun KL Sentral dibangun dulunya adalah depo kereta penumpang dan barang yang besar. Persis seperti depo kereta Jakarta Kota yang terletak di belakang Mangga Dua di Jakarta sono.
Bahkan pelataran parkiran KL Sentral kini juga mulai dibangun bangunan, sehingga mereka yang mau ke stasiun Monorail harus memutar jauh, nggak bisa langsung kaya dulu.
Tidak seperti stasiun besar KA di Indonesia, di sebelah stasiun KL Sentral ada dua hotel besar nan mewah yang merupakan jaringan internasional, seperti Le Meridien (saya tidak ingat yang satunya lagi).
Apakah oom
flyingDent atau oom
bubu pernah menginap di sini?
Selesai merokok (saya tidak ikut), kami naik monorail ke Bukit Nanas lagi. Dari sini kita berjalan menuju ke KL Tower.
Dealer mobil yang arsitektur gedungnya menarik.
Sesampainya di KL Tower kami istirahat sejenak. Kelihatan wajah-wajah loyo kami.
![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)
Tapi cabaran masih banyak lagi! Dari gerbang masuk, kami memutuskan untuk jalan hingga keatas. Padahal jalannya sangat menanjak dan panjang. Belum lagi hawanya yang lumayan panas disana. [sm=getok3.gif]
KL Tower difoto dari bawah.
It’s a long and winding road....
Sesampainya diatas, kami melihat ada counter “Free Shuttle Bus†Angslem! Rupanya dari bawah keatas kita bisa naik bis gratis??? [sm=jabrik.gif] Wah...!!! [sm=jabrik.gif] Tapi dari sisi positifnya, kami berhasil mengurangi bobot tubuh kami barang beberapa kilo. He..he.he.. [sm=goodjob.gif]
Namun karena capek (dan tiket mahal), kami memutuskan untuk tidak naik keatas. Sayang....padahal kami sudah didepan pintu.
Kamipun memilih rehat sebentar di sebuah cafe di dekat situ. Saya pesan Iced Chocolate.
Pelayannya terkesan kurang ramah. [sm=lirik.gif] Yang agak ramah adalah seorang pelayan wanita (sepertinya supervisor di situ) berwajah campuran Tionghoa-Melayu. Sewaktu kami ajak ngobrol, rupanya beliau orang Manado! Cuman beliau besar di Kuala Lumpur.
Selesai urusan hari itu, kami balik ke hotel. Saudara-saudara saya sudah terlalu lemes untuk melakukan kegiatan lagi.
Padahal malam itu saya diundang kawan saya, seorang railfans Malaysia bernama Eddy. Beliau mengajak saya untuk makan sate. Wah, lumayan juga karena saya sudah lama nggak makan sate Melayu yang rasanya kayaknya nggak akan dijumpai di Indonesia.
Saya tadinya mengajak saudara-saudara saya untuk ikut. Tapi mereka menolak karena sudah capek untuk jalan lagi. Selain itu abang saya agak kuatir dengan kondisi keuangan, jadi dia lebih memilih berhemat.
Well, sebenarnya itu agak berlebihan, karena ternyata kemudian saya dijemput pake mobilnya bang Eddy, yang merupakan sedan besar yang cukup buat kita berempat.
Selain itu ternyata saya makan ditraktir, dan kalau itu kurang dia juga membeli lagi untuk oleh-oleh buat saudara saya di hotel!
Selesai mandi, sayapun turun ke lobby hotel. Bang Eddy kemudian datang, dan dengan mobil dan sayapun langsung masuk ke mobil, dan menyerahkan oleh-oleh buat beliau.
By the way, ini foto saya dan bang Eddy, waktu dia datang berkunjung ke Indonesia. Ini difoto di depo lokomotif Jatinegara. Bang Eddy yang pake celana jeans di sebelah kanan.
Dia mengajak saya makan sate Melayu yang warungnya terletak di depan gedung Celcom.
Awalnya saya agak kaget melihat lontongnya yang kecil dan sedikit, sementara kuahnya banyak kaya kuah sop. Tapi begitu makan, wah langsung lupa diri saking enaknya. [sm=melet.gif]
Selama di tempat makan, kami bertukar cerita dan pengalaman seputar kereta api. Dan juga perbedaan antara bahasa Indonesia dan Melayu Malaysia yang suka dibuat bahan lelucon di kedua belah pihak.
Contohnya, pernah sekali bang Eddy mampir ke Indonesia. Waktu dia naik taxi, sopir bertanya “Mau kemana?†Bang Eddy menjawab “Nak pusing-pusing!†Tahu si sopir taxi bawa kemana? Ternyata ke klinik puskesmas! [sm=jabrik.gif] Bang Eddy kaget, tapi si sopir taxi menjawab “Katanya pusing-pusing?†Padahal maksudnya adalah jalan-jalan. [sm=ngakak.gif]
Selesai makan saya pesan minuman-yang-tidak-akan-anda-temui-di-Bandung-walaupun-namanya-
Air Bandung
Selesai makan bang Eddy mengantar saya balik ke hotel. Dan sayapun pamit berpisah dengan bang Eddy, dan kemudian membawakan oleh-oleh sate ke saudara-saudara saya yang terkejut melihat ukurannya.
BERSAMBUNG.