(30-10-2011, 06:17 AM)eri4nto Wrote: kalau bbm non-subsidi, pd dasarnya pemerintah (c.q. kemenkeu dan esdm) sangat senang kalau ini bisa diterapkan shg belanja subsidi bisa dialokasikan untuk hal2 lain yg tak kalah penting. terbukti beberapa kali ada wacana untuk menghapus atau membatasi bbm subsidi tp selalu tidak jadi karena ada penolakan dr masyarakat, dpr dan pihak2 terkait lainnya.
tepat mas... seandainya BBM subsidi untuk kendaraan pribadi dicabut, memang akan terjadi gejolak.. dimana setiap perubahan (apalagi perubahan tersebut membuat keluar dari zona nyaman) pasti banyak pihak yang tidak puas.... namun gejolak juga akan ada waktunya.. ga terus2 an koq.. pasti juga akan tercipta kembali yang namanya normalisasi situasi
bicara ttg subsidi klo diimbangi dengan kebijakan yang pas ttg subsidi misalnya:
- subsidi BBM untuk pemilik motor diberikan pada motor max 100cc
- subsidi BBM untuk angkutan umum kelas ekonomi dan angkutan umum perkotaan..bahkan angkudes harus diprioritaskan
- subsidi BBM untuk mobil angkutan barang, diberikan pada perusahaan angkutan barang dengan kapasitas angkut maks, perbulan XXX ton... sehingga membantu menumbuhkan wirausaha bidang pengangkutan, sementara perusahaan angkutan besar, pengangkutan tambang dan perkayuan serta sejenisnya... tidak diberikan subsidi BBM, nah disini yang dapet subsidi BBM ya tentu yg butuh: misalnya angkutan barang max kelas colt diesel (truk kecil)
- sdiberikan pada usaha huler mandiri dan UKM dengan aset max Rp. 100 juta
- subsidi diberikan hanya pada KA ekonomi
- untuk penyeberangan ASDP, kapal nelayan lokal, pengangkutan barang nusantara dengan GWT max XXX ton dan penerbangan perintis
namun mas.. sayangnya, di era penerapan sistem, Trias Politica yang menjadikan politik sebagai panglima ini, segala kebijakan yang ada tidak seluruhnya dibuat dengan standar dan alokasi yang tepat... pasti ada yang namanya sponsor dalam kebijakan kebijakan untuk tujuan "pencitraan, penyelamatan dan pembidikan kubu tertentu"... coba njenengan perhatikan pas penggodokan banyak kebijakan yang "celakanya" musti lewat RDP.. banyak hal2 yang jelas2 melenceng dari preposisi dasar kebijakan2 (terutama bidang anggaran) yang merupakan hasil kesepakatan... bukan lagi merupakan hasil perhitungan dan perencanaan yang cermat... ya yang kelimpungan jelas pelaksana teknisnya toh...
padahal jika alokasi sibsidi diberikan secara lebih tepat dan kebijakan subsidi tersebut tidak dicampuri dengan kompromi politis... tentu akan ada penyelamatan APBN dalam kisaran yang sangat besar yang bisa dialokasikan untuk sistem pendidikan nasional, pembangunan sistem pelayanan kesehatan dan jaminan sosial nasional.. yang tentu saja implementasi BPJS ga akan serumit saat ini
ups sorry... jadi melenceng ya..

yuk