Posts: 30
Threads: 0
Joined: Jan 2011
Reputation:
0
@mas baso...foto diambil diperbatasan perum Bumi sindang asri..belakang pom bensin..mungkin jika ada perluasan perumahan pasti akan hilang semua sisanya....
Kebetulan ada rekan saya asli cibarusah..menurut beliau pd masa SD sekitar thn 1979an beliau sering diajak ayahnya naik lori yg didorong orang & menurut beliau bekas rel yg di cibarusah sekarang sudah jd perumahan yg berda tepat dibelakang pasar..seandainya jalurnya masih ada dipakai untuk trem yg melayani jalur cibarusah lemah abang...wiiiiihhhh mantab abis kali ya...
RF chandra, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Jan 2011.
Posts: 997
Threads: 0
Joined: Jun 2009
Reputation:
17
(20-05-2011, 12:21 AM)chandra Wrote: @mas baso...foto diambil diperbatasan perum Bumi sindang asri..belakang pom bensin..mungkin jika ada perluasan perumahan pasti akan hilang semua sisanya....
Kebetulan ada rekan saya asli cibarusah..menurut beliau pd masa SD sekitar thn 1979an beliau sering diajak ayahnya naik lori yg didorong orang & menurut beliau bekas rel yg di cibarusah sekarang sudah jd perumahan yg berda tepat dibelakang pasar..seandainya jalurnya masih ada dipakai untuk trem yg melayani jalur cibarusah lemah abang...wiiiiihhhh mantab abis kali ya...
pastinya...
sekarang kalau mau menuju cibarusah dari lemahabang atau sebaliknya pasti terkena macet,
mungkin kalau jalur lori ini dipakai lagi bakalan rame peminat nya....
Posts: 397
Threads: 0
Joined: Feb 2009
Reputation:
8
(02-10-2010, 11:27 PM)Kazuya Wrote: nemu artikel menarik nih...
Mengapa Lemah Abang strategis? Karena memiliki tiga simpangan utama, yakni pertemuan arus lalulintas jalan negara dan provinsi dari Jakarta, pantai utara dan selatan Pulau Jawa, serta Cibarusah, Bogor, dan Cianjur. Itu sebabnya, tatkala dibangun rel kereta api Manggarai-Kedunggedeh pada 1887-1890, di Lemah Abang disediakan satu stasiun.
Pembangunan rel kerata api yang dilakukan Pemerintah Hindia Belanda bersama perusahaan Beos (Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij atau Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), itu tidak terlepas dari kebijakan politik liberal yang memperbolehkan masuknya penanaman modal asing ke Hindia Belanda.
Berbondong-bondonglah para pengusaha untuk menginvestasikan modalnya ke sejumlah daerah, termasuk Bekasi, Tambun, Cikarang, Lemah Abang, Kedunggedeh, Cibarusah, dan Karawang.
Memang, pada masa itu, sudah ada jalan raya yang menghubungkan Lemah Abang dengan Bogor dan Cianjur melalui Cibarusah. Namun, kondisinya amat menyedihkan sebagai akibat adanya tanah partikelir (partuculiere landerijen), Tuan-tuan tanah tidak membuat jalan yang baik, selain yang diperlukan langsung untuk kepentingannya.
“Oleh karena itu di Distrik Bekasi dan Distrik Cikarang (juga Distrik Cibarusah) hampir tidak ada jalan yang dapat dilalui mobil, kecuali jalan raya yang melalui kedua distrik itu,†kata Residen Batavia P.H. Willemse dalam Memori Serah Jabatannya pada 26 Oktober 1931.
Bagaimana cara tuan tanah (landheer) menggairahkan investasinya, terutama mengirim hasil panen (padi, kelapa, karet, jati, tebu, sayur-mayur) yang melimpah dari Particuliere Landerijen Cibarusah dan sekitarnya ke Batavia dan mancanegara melalui Pelabuhan Tanjung Priok?
Tentu saja mereka tidak mau mengaspal Jalan Lemah Abang-Cibarusah sepanjang 30 kilometer itu. Alasannya, selain biayanya amat mahal, juga lebih menguntungkan penduduk pribumi ketimbang perusahaannya.
Solusinya, tuan tanah membangun rel kereta api Lemah Abang-Cibarusah. Dengan begitu, rel hanya bisa digunakan untuk mengirim hasil panen perusahannya. Orang lain, mah, masak bodo.
Karena, rel kereta api untuk kepentingan pengiriman hasil panen, tuan tanah Cibarusah hanya mengandalkan Stasiun Lemah Abang dan satu stasiun yang dibuatnya di Cibarusah. Mereka tidak membangun stasiun atau halte untuk masyarakat umum.
Karena itu, tuan tanah tidak menggunakan lokomotif besar, melainkan ukuran kecil. Ada pula gerobag segi empat ukuran sekitar 2x2 meter, memiliki roda kereta namun tak berlokomotif. Cara mengoperasikannya, kereta yang berada di atas rel, didorong oleh penumpangnya sambil berlari.
Bila gerobag sudah melaju, penumpangnya nomplok atau meloncat ke atas gerobag yang tengah melaju kencang. Penduduk sekitar menyebutnya sebagai lori atau dogong.
Melalui milisnya, para pecinta kereta api yang umumnya para anak muda merasa penasaran dengan keberadaan rel Lemah Abang-Cibarusah yang konon bermula di sebelah selatan Stasiun Lemah Abang. Namun tidak ada jejaknya. “Sebelah selatan Stasiun Lemah Abang, tapi di mana persisnya?†kata salah seorang pecinta kereta api.
Anak muda Cibarusah, Agah Handoko, yang beruntung sempat mendapat cerita para orangtua di kampungnya, mengungkapkan kereta atau lori mengangkut hasil produksi dari kongsi (perusahaan) tuan tanah di pojok Salak Jonggol (gudang pupuk sekarang ) dan kongsi di Cibarusah (sekarang Pasar Cibarusah) ke kongsi di Lemah Abang (sekarang Bapelkes).
Untuk membuktikan, beberapa bulan lalu Agah mencoba menelusuri bekas rel dari Cibarusah hingga Bapelkes di Lemah Abang. “Ternyata sisa-sisa relnya sedikit pun sudah tidak tersisa. Mungkin sudah dirusak warga untuk dijual besi dan bantalan relnya,†ujar Agah melalui status jejaring sosial Facebook.
Yang bisa dilihat sebagai kenangan akan keberadaan dogong, kata dia, “Hanyalah berupa pematang sawah yang lain dari yang lain, yaitu agak lebar menandakan dulunya bekas jalur rel dogong, yang masih terlihat di antara persawahan Cibarusah-Lemah Abang.â€Â
Seperti halnya Agah, beberapa tahun lalu saya juga sempat mencari jejak lokasi rel kereta api Lemah Abang-Cibarusah, namun tidak sebatang rel pun yang tersisa.
Tapaknya pun telah berubah menjadi hunian penduduk. Informasi agak jelas saya peroleh tatkala melihat-lihat peta masa Hindia Belanda pada 1930-an di Arsip Nasional Ciladak Jakarta Selatan.
Dalam arsip bernomor Sheet 38/XXXVII-C terlihat, di lokasi Bapelkes yang berada di sebelah selatan rel Stasiun Lemah Abang sekarang, pada masa itu bernama Rijstpellerij Mitjhels Arnold. Adapun rel Lemah Abang-Cibarusah berada sejajar di sebelah barat jalan raya Lemah Abang-Cibarusah. Pada sisi rel terdapat keterangan “Decauvilleâ€Â.
Kampung-kampung yang kemudian disulap menjadi kawasan industri Jababeka dan Lippo Cikarang, masih terlihat jelas, diantaranya Cibeber, Rawaindah, Cibeureum, Gombong, Sempoe, Pasirkonci, Tegalgede, Kepuh, Rawasentul, dan Poponcol. Juga ada Kali Ulu, Kali Cibeurem, dan Kali Cilemahabang.
Dari situ menunjukkan, betapa Lemah Abang-Cibarusah telah menjadi kawasan industri bukan hanya sejak tigapuluh tahun terakhir, tetapi juga sejak berabad-abad silam. Untuk mengenang kejayaannya, pada 1950 Lemah Abang dijadikan nama salah satu kecamatan di Kabupaten Bekasi.
Namun oleh peneliti dan pemerintahan pada satu dekade lalu, nama Kecamatan Lemah Abang dihapus dan ganti menjadi Kecamatan Cikarang Timur. Kini, tinggal satu penanda yang masih tersisa, Stasiun Lemah Abang.
Kalau tidak ada upaya melestarikan, tidak tertutup kemungkinan nama Lemah Abang akan punah. Salah satu indikasinya, kini dibangun Cikarang Dry Port, bukan Lemah Abang Dry Port.
J ika memperhatikan uraian artikel di atas dapat dipilah fakta-fakta penting :
1) Tidak ada stasiun/ halte lain selain Lemah Abang dan Cibarusa
2) Gerbong dapat didorong penumpangnya sambil berlari
3) Penggunaan lokomotif kecil
4) Adanya tulisan "decauville" pada peta rel
Dapat disimpulkan bahwa karakter jalur tersebut nampaknya mirip karakter jalur lori perkebunan yang tidak memiliki stasiun-stasiun (halte). Yang ada adalah emplasemen awal dan stasiun tujuan yang berfungsi sebagai semacam dry port. Dengan kata lain, fungsi jalur tersebut pada jaman Belanda adalah sebagai angkutan hasil bumi/ feeder dari emplasemen Cibarusa menuju Stasiun Lemah Abang. Selanjutnya hasil bumi tersebut diangkut oleh KA barang SS ke tempat tujuan akhir.
Berkaitan dengan gerbong yang bisa didorong sambil berlari, sampai sekarang sangat umum terlihat orang-orang mendorong gerobak-gerobak/ gerbong lori karena ukurannya yang memang kecil. Jika yang didorong adalah gerobak ukuran besar, tentu agak kesulitan.
Terakhir, kata "decauville" juga lazim dikenakan pada ukuran gauge 600-700 mm yang menjadi ciri khas lori.
Namun, berdasarkan uraian kawan-kawan sebelumnya, pada jaman perjuangan terdapat upaya untuk menghidupkan jalur ini kembali. Berbeda dengan fungsi aslinya pada jaman pra pendudukan Jepang, pada jaman perjuangan nampaknya akan dijadikan sebagai jalur KA pengangkut penumpang. Untuk itu, para pejuang berupaya membangun kembali jalur tersebut sekaligus me-regauge ukurannya dari ukuran decauville menjadi ukuran 1067 mm.
Kemungkinan lain, jalur tersebut oleh para pejuang tetap dibangun sesuai ukuran aslinya yang "decauville" dan menjadikan jalur Lemah Abang-Cibarusa masuk dalam kategori AKAL (Angkutan Kereta Api Lori).
Sekedar catatan tambahan, istilah AKAL ini saya dapatkan dari seorang pensiunan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) di Malang. Beliau menjelaskan bahwa pada jaman perjuangan yang penuh ketidakpastian, lori sempat digunakan sebagai AKAL.
Jika ada rekan-rekan lain yang memiliki kejelasan info tentang benar dan tidaknya jalur Lemah Abang-Cibarusa sebagai jalur decauville, mohon pencerahan.
Salam Spoor,
Posts: 3,087
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
27
Intinya... andai kata dibangun kembali bentangan rel di bekas petak relnya itu, apa para warga mau secara swa sembada mungkin? Serta - merta membangun jalurnya itu dengan kondisi minimal seadanya aja deh... Maksud aku bangun untuk lori lebar sepurnya tetep 1067 mm. Stasiun gak perlu, tapi cukup pos - pos pemberhentian dan bagaikan Punokawan yang bisa menyetopkan KA di petak rel mana pun. Aku rasa pasti akan ada urat nadi kehidupan lagi deh... seperti adanya pasar tradisional, pasar kaget, entah mungkin mal, real estate, dll...
Posts: 2,796
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
25
kalau di koridor ini sudah banyak angkot/mikrolet yang beroperasi, penghidupan jalur ini bakalan sia-sia karena bakal mendapat tentangan berat dari mereka.
tapi kalau digunakan untuk angkutan spesifik, misalnya barang dari industri2 disekitarnya, barangkali masih bisa.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Posts: 397
Threads: 0
Joined: Feb 2009
Reputation:
8
(01-08-2011, 11:07 AM)ady_mcady Wrote: kalau di koridor ini sudah banyak angkot/mikrolet yang beroperasi, penghidupan jalur ini bakalan sia-sia karena bakal mendapat tentangan berat dari mereka.
tapi kalau digunakan untuk angkutan spesifik, misalnya barang dari industri2 disekitarnya, barangkali masih bisa.
Ah Mas, kadang perlu suatu ketegasan untuk menghidupkan kembali suatu jalur KA. Jika perlu, para sopir angkot direkrut jadi masinis atau crew nya heheheheh
Salam Spoor,
Posts: 3,087
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
27
Ojeker sama sopir angkot n Mikrolet alih profesi aja... Khan gak perlu kena Polisii tidur, gundukan tanah, portal, dll...
Palingan sisi2 positif dan negatif dr kereta lori yg ada :
Sisi Negatif :
- Lewat pasar tumpah ruah, harus permisi bilang ke pr pedagang kalo kita2 mau numpang lewat dulu... Toh lori ini...
- Juragan2 angkot ama Mikrolet bisa apesss... kekurangan sopir2 handal mrk. Krn pd alih profesi.
Sisi Positif :
- Meski ada kalanya ngetem, toh di bbrp pos pemberhentian ada bbrp sepur percabangan. Dibuat spt trem aja...
- Kalau pun ngetem bukan di pos2 pemberhentian, setidaknya ada daerah / petak rel di mana yg gak kehalang kereta2 lorti di belakangnya. Pengalaman di bus dalam kota Ciputat - Jakarta pas ngetemnya lama, begitu dateng bus sejenis dan 1 rute, gantian yg kami tumpangin itu berlaju lagi meski penumpangnya masih dikit yg naik.
Itu semua menurut aku pribadi...
Posts: 719
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
6
Ojek, Angkot, Mikrolet atau bus 3/4, dan elf bukan halangan berarti; yg jadi halangan besarnya adalah hampir sebagian besar jalur telah beralih fungsi, khususnya mulai dari kawasan EJIP (East Jakasta Industrial Park) sampai Lemahabang
sisa jalur yg masih jelas hanya pada postingan kang Chandra dan kalo di Gmaps pada koordinat -6.400761,107.095435 sampai koordinat -6.396518,107.102323
kalo mau nelusurin koordinat tadi, mulai start dari taman buaya (-6.393245,107.10316) ke arah Cibarusah, railbed ada di sebelah kanan
Plymouth PKC menuju hari kejayaannya dengan angkutan yang berbeda, yaitu BATUBARA
walau koleksi foto belon banyak
koleksi foto saya
Posts: 719
Threads: 0
Joined: Aug 2010
Reputation:
6
baru nyadar, kyanya jalur ini ga diambil alih sama DKA/PJKA/PT. Kereta Api Indonesia (Persero), soalnya dari pertama kali lewat situ (sekitar 1994) sampe sekarang (2012) ga nemu satupun tanda papan aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
Plymouth PKC menuju hari kejayaannya dengan angkutan yang berbeda, yaitu BATUBARA
walau koleksi foto belon banyak
koleksi foto saya
Posts: 344
Threads: 0
Joined: May 2012
Reputation:
2
(01-06-2012, 04:52 AM)van Baso Wrote: baru nyadar, kyanya jalur ini ga diambil alih sama DKA/PJKA/PT. Kereta Api Indonesia (Persero), soalnya dari pertama kali lewat situ (sekitar 1994) sampe sekarang (2012) ga nemu satupun tanda papan aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
Karena jalur ini bukan dibangun ma perusahaan ka kolonial belanda macam nism, ss atau sejenisnya...lagi pula kl ga salah jalur ini dibongkar sama tentara pendudukan jepang...
|