07-12-2010, 01:39 PM
Dulu kalo mo ke jakarta lebih sering naik KA, karena dulu saya alergi debu dan asap makanya selalu saya dan ortu (adik saya baru lahir tahun 2000, 7 tahun lebih muda) selalu naik Eksekutif (kebiasaan sampai sekarang, biar jalan sendiri tetap naik K1, naik Bisnis baru sekali sekitar tahun 2000-an pokoke stripping K2 Parahyangannya putih-krem). Dan itupun naik K1 Parahyangan yang, notabene, untuk 3 orang jauh lebih murah daripada K1 Argo Gede. Setiap naik KA, lebih sering turun di Jatinegara karena oma saya tinggal di Pondok Bambu.
Semenjak Argo Gede yang dari Gambir tidak lagi berhenti di Jatinegara, saya meminta, kalo boleh, berangkat dari Bandung naik Argo Gede baru pulang dari Jakarta naik Parahyangan, biar adil. Dan permintaan saya pun dituruti.
Di dalam KA, saya lebih suka duduk diam menikmati perjalanan, makanya tidak pernah bisa tidur. Saking dinginnya AC Argo Gede dan Parahyangan kala itu, ibu saya tidak pernah lupa membawakan mantel saya untuk di perjalanan.
Dan saking sukanya akan kereta api, khususnya Argo Gede, pernah suatu hari saya dan pembantu saya hampir terbawa KA Argo Gede ke Jakarta. Kisahnya kami berdua baru pulang dari suatu acara. Kami memutuskan untuk naik angkot St. Hall-Gn. Batu dari Srasiun Hall. Singkat kata kami melintas lewat gedung stasiun. Di jalur 6 stabling KA Argo Gede. Daripada memutar, kami pun melewati gerbong tersebut. Tapi saya memohon sebentar untuk melihat-lihat bentar interior KA kesukaan saya itu.
Beruntung pembantu saya mengajak pulang setelah menikmati satu gerbong penuh, karena ketika kami sampai di peron jalur 3 rangkaian tersebut diberangkatkan menuju Jakarta. Coba kalo saya bersikeras tinggal, bisa-bisa kami dibawa pergi ke Jakarta tanpa sepengetahuan ortu saya. Bisa-bisa saya ga bakal boleh naik KA lagi gara-garanya...
Semenjak Argo Gede yang dari Gambir tidak lagi berhenti di Jatinegara, saya meminta, kalo boleh, berangkat dari Bandung naik Argo Gede baru pulang dari Jakarta naik Parahyangan, biar adil. Dan permintaan saya pun dituruti.
Di dalam KA, saya lebih suka duduk diam menikmati perjalanan, makanya tidak pernah bisa tidur. Saking dinginnya AC Argo Gede dan Parahyangan kala itu, ibu saya tidak pernah lupa membawakan mantel saya untuk di perjalanan.
Dan saking sukanya akan kereta api, khususnya Argo Gede, pernah suatu hari saya dan pembantu saya hampir terbawa KA Argo Gede ke Jakarta. Kisahnya kami berdua baru pulang dari suatu acara. Kami memutuskan untuk naik angkot St. Hall-Gn. Batu dari Srasiun Hall. Singkat kata kami melintas lewat gedung stasiun. Di jalur 6 stabling KA Argo Gede. Daripada memutar, kami pun melewati gerbong tersebut. Tapi saya memohon sebentar untuk melihat-lihat bentar interior KA kesukaan saya itu.
Beruntung pembantu saya mengajak pulang setelah menikmati satu gerbong penuh, karena ketika kami sampai di peron jalur 3 rangkaian tersebut diberangkatkan menuju Jakarta. Coba kalo saya bersikeras tinggal, bisa-bisa kami dibawa pergi ke Jakarta tanpa sepengetahuan ortu saya. Bisa-bisa saya ga bakal boleh naik KA lagi gara-garanya...



![[Image: overstappen.png]](http://www.semboyan35.com/images/overstappen.png)


aku juga bingung ... kenapa dulu senengnya cuma ngeliatin doank ...



![[Image: 00031_Iansbiggrandma_1Oktober2008_NEW320x240.jpg]](http://i1118.photobucket.com/albums/k620/nearistudiosoerabaia/00031_Iansbiggrandma_1Oktober2008_NEW320x240.jpg)
![[Image: plate10.png]](http://i45.servimg.com/u/f45/14/05/48/53/plate10.png)
![[Image: oldpatent_1937525c.jpg]](http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/01937/oldpatent_1937525c.jpg)

![[Image: sepur.jpg]](http://www.the-indonesia.com/wp-content/uploads/2010/08/sepur.jpg)
![[Image: 563857_4530512792181_58504576_n.jpg]](https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/563857_4530512792181_58504576_n.jpg)