18-03-2011, 12:49 AM
Setelah sukses menangkap Senja Bengawan membawa aling2 berpenghuni, Lagi...... KA Pasundan Ekspress juga Berpenghuni ......
| Poll: Gerbong paling depan dan paling belakang bukan untuk penumpang. Setuju? You do not have permission to vote in this poll. |
|||
| Sangat setuju | 12 | 5.77% | |
| Setuju | 21 | 10.10% | |
| Tidak berpendapat | 5 | 2.40% | |
| Tidak setuju | 57 | 27.40% | |
| Sangat tidak setuju | 113 | 54.33% | |
| Total | 208 vote(s) | 100% | |
| * You voted for this item. | [Show Results] |
|
[Diskusi] Gerbong Aling Aling
|
|
18-03-2011, 12:49 AM
Setelah sukses menangkap Senja Bengawan membawa aling2 berpenghuni, Lagi...... KA Pasundan Ekspress juga Berpenghuni ......
18-03-2011, 05:43 AM
(09-03-2011, 09:51 PM)kemal reza Wrote:(07-03-2011, 11:56 AM)krisnasip Wrote: gara gara ada aturan ini ke yogya aja ribut ama istri mending naik pesawat aja ke yogya naik kereta ngak aman Saya paling suka naik kereta mas dibandingkan pesawat ![]()
Jauh lebih happy naik kereta dari pd pesawat, ngak tau kenapa
Menunggu kebangkitan era transportasi Kereta Api seperti dulu ![]() BIS akap, pesawat, jalan tol merupakan pesaing terberat
23-03-2011, 12:28 PM
Sebenarnya ini postingan pak Prayudi, seorang staff senior Dirjen KA yang cukup dekat dengan railfans, di milis KA. Berhubung saya sudah tidak ikut milis KA (dan ada banyak anggota forum ini yang tidak ikut milis), maka saya lempar postingan beliau ke forum ini.
Mohon tanggapan kawan-kawan. ![]() Quote:Pak De Lutfi, dan Pak Nova,...... Lalu ada ini lagi. Kalau nggak salah seputar KA aling-aling. Quote:Dear Pak Ben.
23-03-2011, 12:58 PM
Dengan kebijakan gerbong aling-aling, tentu sangat mengurangi kapasitas penumpang yang bisa diangkut, dan boros bahan bakar. Padahal saat ini harga BBM industri sedang mahal. Tentunya ini adalah kebijakan yang tidak bijak.
23-03-2011, 12:58 PM
lebih tepatnya mungkin bukan jalan raya (di jakarta aja nambahnya cuman 0.01 persen) yg banyak malah alokasi jalan tol
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelar
23-03-2011, 01:05 PM
Quote:skrg penomoran itu dapat di trace, sesuai standard ISO 9001, di mana, Identification Number sebuah produk dapat di tracing dan Historicalnya jelas. mungkin analoginya, Bagaimana kita melihat, hanya dari nomor registrasi pasien di rumah sakit, bisa ketahuan bahwa orang tersebut pernah sakit batuk, liver, ginjal, otak, jantung, panu? Yang sepintas kelihatan dari sistem penomoran tersebut adalah umur dari lokomotif tersebut. Kalau manusia yang tua ada yang masih sehat dan ada sakit-sakitan, apa tercermin cuma dari umurnya? Untuk mengetahui history dari lokomotif, tentunya dengan pengarsipan yang baik mengenai service record lokomotif tersebut.
23-03-2011, 01:27 PM
Saya juga termasuk RF yang tidak setuju dengan penomoran baru lok...
Untuk tracing history ya boleh saja, tetapi kenapa penomoran pun ikut berubah? Misal CC 204 23 jadi CC 204 11 01, kenapa bukan CC 204 11 23? Buktinya saudara tuanya CC 201 23 berubah hanya jadi CC 201 77 23 (ditambah tahun MD-nya saja)? Kan kesannya terdapat perbedaan antara penomoran CC 201 dan 204...
23-03-2011, 01:57 PM
Ndak mau mengomentari kebijakan 'aneh' operator KA, cuman mau menggarisbawahi statement yang dikutip :
(23-03-2011, 12:28 PM)bagus70 Wrote:Quote:Wajar sebuah kebijakan kontroversial di sikapi beraneka ragam oleh berbagai kalangan, namun dalam batas kepatutan dan edukatif, sehingga saya menyayangkan kalau anggota millis berkomentar di luar batas dan tidak menunjukan kedewasaan berpikir. Banyak komentar negatif, cenderung kasar dan memojokan (baik ke pada sumber masalah=operator KA maupun sesama rekan member RF lainnya) tanpa diakhiri kesimpulan dan solusi jelas dari member (dan TS tentunya!) forum ini dalam menanggapi suatu kasus. Untuk mengingatkan semua member RF disini : Bahwa pernyataan yang rekan² tuliskan di sini dibaca/dikonsumsi semua pihak dan dapat dijadikan bukti di persidangan (apabila dimejahijaukan, ingat UU ITE khan?). Lalu ketika nila setitik rusak susu sebelanga. Tau kan? Karena ulah (baik pernyatan, tingkah laku) segelintir oknum, yang mengatasnamakan, RailFans lalu RF yang lain juga kena getahnya (walaupun yang bersangkutan tidak tau menahu soal itu) So, seperti yang telah saya katakan berulang², dewasalah dalam menuliskan suatu pernyatan dan bertanggungjawablah terhadap apa yang Anda tuliskan baik di forum maupun dunia nyata Mari.... ![]()
23-03-2011, 07:33 PM
(23-03-2011, 01:27 PM)dtRAiNeR Wrote: Saya juga termasuk RF yang tidak setuju dengan penomoran baru lok...Saya sangat sependapat. Mestinya cukup disisipkan MDnya saja, tidak tiap tahun nomor urutnya direset.
23-03-2011, 07:53 PM
(This post was last modified: 23-03-2011, 08:04 PM by Bangunkarta.)
wah... mau nanggepin ya om.....
kalo terkait penomeran baru loko sih... jujur saya belum bisa comment... mgkin persoalan tersebut lebih pada pengurutan loko aja... yg sebelumnya berdasarkan urutan release loko tersebut... dan sekarang mgkin berdasarkan urutan release berdasarkan tahun release.... tentang gerbong aling2.... hmmmm mungkin saya mencoba memberikan pandangan aja ya.... bisa-bisa aja seh kalo misalnya gerbong paling depan dan belakang dikosongin dari penumpang... cuman kesannya mubadzir aja kalo bener2 dikosongin melompong... alangkah lebih baik kalo dimanfaatkan untuk menambah layanan bagi penumpang... pada kelas-1 misalnya... sebagai layanan bagasi bagi penumpang... saya pernah si nulis di usulan fasilitas kelas-1 (06-12-2010, 03:56 PM)Bangunkarta Wrote: dari judul trid nya..... fasilitas kelas-1 berarti memang kelas eksekutif ya (satwa dan argo).... padahal dengan adanya brand Argo, harusnya fasilitasnya memang lebih dari sekedar kelas eksekutif biasa, lah harganya aja lebih.......nah untuk KA kelas dibawahnya, baik untuk Bisnis dan Ekonomi, mungkin gerbong aling2 bisa difungsikan sebagai gerbong parcel aja... daripada mubadzir... mending dimanfaatkan untuk tambahan angkutan barang... mungkin bisa menambah pemasukan.... nah terkait kesetaraan anggaran untuk Kereta Api dan Jalan raya..... hmmmm, kayanya masih masuk akal apabila APBN untuk KA jumlahnya jauh apabila dibandingkan untuk jalan raya... bukannya apa sih... ini pendapat pribadi yaaa.... seperti kita ketahui wilayah NKRI kan berupa wilayah kepulauan... dan membentang dari Sabang-Merauke dan dari Timor-Talaud... dalam waktu ini proyeksi pembangunan NKRI adalah untuk membangun pulau-pulau yg masih tertinggal dari Jawa dan terutama pulau-pulau terluar dari NKRI, karena itu menyangkut kedaulatan negara.. nah di pulau-pulau yg masih tertinggal tersebut, infrastruktur yg dibangun adalah Bandara (perintis) dan pelabuhan... untuk mempercepat dan mengefisienkan mobilitas manusia dan raw materials... dan tentu saja untuk menghubungkan bandara, pelabuhan, dan kota2 di wilayah tersebut, maka jalan raya adalah pilihan yg saat ini paling tepat.... sekali lagi, untuk saat ini.... dan perimbangan panjang jalan negara dari Sabang-Merauku dan dari Timor-Talaud.. tentu sangat besar apabila dibandingkan dengan panjang jalur kereta api, yg tentu saja masih butuh anggaran besar untuk perbaikan di sana-sini...... mungkin pandangan selanjutnya adalah: jalur KA tersebut akan efisien dibangun di wilayah2 dengan kepadatan dan mobilitas penduduk tinggi... dan apabila anggaran untuk KA diperbesar prosentase nya terhadap anggaran untuk jalan raya.... justru di khawatirkan pola pembangunan akan kembali ke rezim yg lalu... dengan pembangunan yg Jawa Sentris, atau lebih tepatnya Jakarta Sentris, dan bukan pembangunan yang berlandaskan Wawasan Nusantara... bukankah untuk saat ini kondisi Jakarta dan Jawa sudah penuh sesak? sehingga dimulai upaya2 pemerataan pembangunan dan kemajuan ke seluruh wilayah NKRI... mungkin jga sebagai rencana awal dalam pemindahan Ibukota negara ke Kalimanatn Tengah (Palangkaraya) CMIIW..... dan mungkin kurang tepat apabila menyamakan kondisi Indonesia dengan negara maju terkait perimbangan anggaran KA dan moda transportasi lainnya... mengingat NKRI adalah negara kepulauan dan jumlah pulau nya ribuan, dan semua pulau tersebut butuh anggaran besar untuk mengejar ketertinggalan dari Jawa, Madura dan Bali... selain itu wilayah negara maju kan kebantakan juga berada di kontinent... selain Jepang tentunya... namun mohon diingat, kepulauan Jepang tidak sebanyak Indonesia... dan di jepang juga infrastruktur jalannya sudah bagus di semua lini... dengan kepadatan penduduk yg lumayan tinggi di hampir semua wilayah... tentu sangat wajar apabila Jepang saat ini lebih concern atas pembangunan angkutan massal dan cepat... namun hal tersebut belum dijumpai di Indonesia... indonesia bru pada tahap membangun wilayah2 lain untuk mengejar ketertinggalan dari Jawa, Madura, Bali.... sehingga yg dibangun baru infrastruktur dasar.. (Jalan, Bandara Perintis dan pelabuhan).. dan mungkin ke dapannya, apabila di pulau2 besar di seluruh wilayah NKRI... telah mempunyai infrastruktur yg bagus dan mobilitas penduduk mulai baik... sangat mungkin APBN akan di concernkan untuk pembangunan angkutan massal cepat (baik itu penumpang atau barang)... sehingga mobilitas penduduk dan raw materials ke seluruh wilayah NKRI hingga pelosok pedalaman sekalipun akan sangat baik dan efisien, apabila telah ada integrasi antar moda: KA, Pesawat terbang, Angkutan laut, angkutan jalan raya dan ASDP sekali lagi ini pendapat pribadi saya..... bukan berdasarkan pernyataan resmi sispa-pun...... mohon koreksi bila saya salah...... with my Best Regards, Bangunkarta ![]()
"Penipuan Publik atau kebohongan Publik adalah seseorang yang dengan sadar berkata - menyampaikan - melakukan kebohongan dan ungkapan tersebut, tersebar luas dan bisa dipahami sebagai kebenaran atau dipercayai kebenarannya"
~just quote~ |
|
« Next Oldest | Next Newest »
|