Poll: Gerbong paling depan dan paling belakang bukan untuk penumpang. Setuju?
You do not have permission to vote in this poll.
Sangat setuju
5.77%
12 5.77%
Setuju
10.10%
21 10.10%
Tidak berpendapat
2.40%
5 2.40%
Tidak setuju
27.40%
57 27.40%
Sangat tidak setuju
54.33%
113 54.33%
Total 208 vote(s) 100%
* You voted for this item. [Show Results]

Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
[Diskusi] Gerbong Aling Aling
peraturan atau kebijakan aneh ini secara tidak langsung "membunuh" pelan-pelan perkeretapian kita.
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
(24-02-2011, 05:35 PM)rapih_dhoho Wrote: Kepada
Yth. Jajaran Direksi PT. KAI Persero
di Tempat

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya adalah seorang pelnaggan KA setia, sejak dari saya kuliah sampai saat ini bekerja disalah satu kota di Jawa Timur saya selalu menggunakan angkutan KA. Mulai dari KA eksekutif termahal Argo, Bromo Anggrek, sampai KA lokal ekonomi termurah, KRD Surabaya-Kertosono, sudah pernah saya naiki. Saya selalu menggunakan moda angkutan KA karena sifatnya yang massal dan bebas macet sehingga saya dapat menikmati perjalanan saya.

Beberapa saat ini saya merasa ada hal yang aneh dalam perjlanan KA, dan ini saya rasa sangat mengganggu keselurahan penumpang. Hal ini berkaitan dengan peraturan pengosongan gerbong paling depan dan paling belakang kereta penumpang yang sering disebut gerbong aling-aling. Tujuan peraturan "aneh" ini memang bertujuan baik, yaitu untuk meminimalkan jumlah korban jiwa jikalau terjadi kecelakaan kereta api khususnya yang disebabkan oleh tabrakan frontal kereta api dari depan atau pun dari belakang. Menilik dari beberapa kecelakaan KA akhir-akhir ini (Senja Utama vs Argo Bromo dan Mutiara Selatan vs Kutojaya selatan) memang korban terbanyak adalah penumpang di gerbong paling depan dan belakang.

Akan tetapi menurut saya peraturan ini seakan-akan adalah bentuk kepanikan jajaran PT. KAI Persero dalam menyikapi kecelakaan tabrakan frontal yang akhir-akhir ini terjadi. Peraturan gerbong aling-aling ini seakan-akan jajaran PT. KAI Persero yakin bahwa cepat atau lambat kecelakaan tabrakan KA pasti akan terjadi lagi. Apakah bukan lebih baik kita memikirkan kebijakan yang lebih tepat lagi untuk mengindari kecelakaan KA daripada menerapakan peraturan gerbong aling-aling yang menurut saya menimbulkan masalah baru baik terhadap pengguna jasa dan penyedia jasa. Sebuah ironi dimana pada kenyataannya PT. KAI masih mengalami kekurangan gerbong.

Dampak buruk utama dengan diterpakannya peraturan gerbong aling-aling adalah jumlah gerbong yang dapat dinaiki penumpang menjadi berkurang sehingga penumpang berdesak-desakkan dan menjadi sangat tidak nyaman.
Mungkin jika peraturan ini diterapkan di KA Eksekutif tidak terlalu mengganggu penumpang dikarenakan gerbong paling depan adalah gerbong barang sedang paling belakang adalah gerbong pembangkit sehingga tidak mengurangi jatah tempat duduk penumpang. Akan tetapi jika hal ini diterapkan di KA Eksekutif-Bisnis, Bisnis, dan Ekonomi jelas peraturan ini sangat mengganggu. Beberapa hari yang lalu saya naik KA Probowangi dan pada saat itu saya menemui hal yang sanagat aneh, jumlah gerbong Probowangi cuma 4 gerbonng sedangkan gerbong terdepan dan terbelakang tidak boleh dinaiki penumpang tentu saja penumpang saling berdesak-desakkan di 2 gerbong tengah dan bahkan sampai banyak yang tak terangkut. Para penumpang pun cuma bisa terheran-heran dan protes ke kondektur dengan keadaan ini. Lalu bagaimana nasib KA yang cuma memakai 2 gerbong seperti KA Lokal Bandung-cianjur dan Feeder Wonogiri, serta bagaimana pula dengan KRL di Jabodetabek? Apakah peraturan ini juga diterapkan juga?

Saya sangat berharap peraturan gerbong aling-aling ini dapat segera dicabut dan PT. KAI beserta departemen perhubungan bisa memikirkan cara yang lebih baik ntuk mengatasi kecelakaan KA. Contohnya bisa menerapkan manajeman kerja masinis yang lebih baik sperti pengurangan shift ganti masinis setiap dinasan, melakukan pelatihan secara periodik kepada masinis dan PPKA, menerapkan peralatan komunikasi dan alat bantu lainnya yang tepat guna di lokomotif, perbaikan peraturan persinyalan KA, dan berbagai hal lainnya yang bisa memecahkan masalah tanpa menimbulkan masalah yang baru.

Akhir kata, surat ini adalah salah satu bentuk kepedulian dari kami sebagai pengguna setia KA. Semoga kedepannya jajaran PT. KAI Persero dan Departemen Perhubungan berhasil menerapkan zero accident perjalan KA dengan menerapkan kebijakan efektif dan effisien.

Salam Kereta Api Indonesia!!!

Waalaikumsalam Wr. Wb.

Salah seorang pengguna setia jasa Kereta Api

kontak_pelanggan@kereta-api.co.id

Hebat kalo ini dimuat di berbagai media. Maaf,apakah sang penulis udh ngrimin? Kman?
seandainya ada kereta ke Pangandaran... mungkin bisa lebih hidup pariwisata di wilayah priangan timur, sedikit emisi untuk menyelamatkan bumi kita, naiklah kereta api....
Odong2 pun menerapkan aling2


[Image: iw2mug.jpg]
mau tanya,apakah gerbong ling2 khusus buat eko itu kursinya di tiadakan alias ky gerbong barang??? Soalnya tadi liat pasundan bawa ling2 gerbongnya ga da kursi?? Kok gt ya??
seandainya ada kereta ke Pangandaran... mungkin bisa lebih hidup pariwisata di wilayah priangan timur, sedikit emisi untuk menyelamatkan bumi kita, naiklah kereta api....
(25-02-2011, 09:02 PM)gilang pratama Wrote: [spoiler]
(24-02-2011, 05:35 PM)rapih_dhoho Wrote: Kepada
Yth. Jajaran Direksi PT. KAI Persero
di Tempat

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya adalah seorang pelnaggan KA setia, sejak dari saya kuliah sampai saat ini bekerja disalah satu kota di Jawa Timur saya selalu menggunakan angkutan KA. Mulai dari KA eksekutif termahal Argo, Bromo Anggrek, sampai KA lokal ekonomi termurah, KRD Surabaya-Kertosono, sudah pernah saya naiki. Saya selalu menggunakan moda angkutan KA karena sifatnya yang massal dan bebas macet sehingga saya dapat menikmati perjalanan saya.

Beberapa saat ini saya merasa ada hal yang aneh dalam perjlanan KA, dan ini saya rasa sangat mengganggu keselurahan penumpang. Hal ini berkaitan dengan peraturan pengosongan gerbong paling depan dan paling belakang kereta penumpang yang sering disebut gerbong aling-aling. Tujuan peraturan "aneh" ini memang bertujuan baik, yaitu untuk meminimalkan jumlah korban jiwa jikalau terjadi kecelakaan kereta api khususnya yang disebabkan oleh tabrakan frontal kereta api dari depan atau pun dari belakang. Menilik dari beberapa kecelakaan KA akhir-akhir ini (Senja Utama vs Argo Bromo dan Mutiara Selatan vs Kutojaya selatan) memang korban terbanyak adalah penumpang di gerbong paling depan dan belakang.

Akan tetapi menurut saya peraturan ini seakan-akan adalah bentuk kepanikan jajaran PT. KAI Persero dalam menyikapi kecelakaan tabrakan frontal yang akhir-akhir ini terjadi. Peraturan gerbong aling-aling ini seakan-akan jajaran PT. KAI Persero yakin bahwa cepat atau lambat kecelakaan tabrakan KA pasti akan terjadi lagi. Apakah bukan lebih baik kita memikirkan kebijakan yang lebih tepat lagi untuk mengindari kecelakaan KA daripada menerapakan peraturan gerbong aling-aling yang menurut saya menimbulkan masalah baru baik terhadap pengguna jasa dan penyedia jasa. Sebuah ironi dimana pada kenyataannya PT. KAI masih mengalami kekurangan gerbong.

Dampak buruk utama dengan diterpakannya peraturan gerbong aling-aling adalah jumlah gerbong yang dapat dinaiki penumpang menjadi berkurang sehingga penumpang berdesak-desakkan dan menjadi sangat tidak nyaman.
Mungkin jika peraturan ini diterapkan di KA Eksekutif tidak terlalu mengganggu penumpang dikarenakan gerbong paling depan adalah gerbong barang sedang paling belakang adalah gerbong pembangkit sehingga tidak mengurangi jatah tempat duduk penumpang. Akan tetapi jika hal ini diterapkan di KA Eksekutif-Bisnis, Bisnis, dan Ekonomi jelas peraturan ini sangat mengganggu. Beberapa hari yang lalu saya naik KA Probowangi dan pada saat itu saya menemui hal yang sanagat aneh, jumlah gerbong Probowangi cuma 4 gerbonng sedangkan gerbong terdepan dan terbelakang tidak boleh dinaiki penumpang tentu saja penumpang saling berdesak-desakkan di 2 gerbong tengah dan bahkan sampai banyak yang tak terangkut. Para penumpang pun cuma bisa terheran-heran dan protes ke kondektur dengan keadaan ini. Lalu bagaimana nasib KA yang cuma memakai 2 gerbong seperti KA Lokal Bandung-cianjur dan Feeder Wonogiri, serta bagaimana pula dengan KRL di Jabodetabek? Apakah peraturan ini juga diterapkan juga?

Saya sangat berharap peraturan gerbong aling-aling ini dapat segera dicabut dan PT. KAI beserta departemen perhubungan bisa memikirkan cara yang lebih baik ntuk mengatasi kecelakaan KA. Contohnya bisa menerapkan manajeman kerja masinis yang lebih baik sperti pengurangan shift ganti masinis setiap dinasan, melakukan pelatihan secara periodik kepada masinis dan PPKA, menerapkan peralatan komunikasi dan alat bantu lainnya yang tepat guna di lokomotif, perbaikan peraturan persinyalan KA, dan berbagai hal lainnya yang bisa memecahkan masalah tanpa menimbulkan masalah yang baru.

Akhir kata, surat ini adalah salah satu bentuk kepedulian dari kami sebagai pengguna setia KA. Semoga kedepannya jajaran PT. KAI Persero dan Departemen Perhubungan berhasil menerapkan zero accident perjalan KA dengan menerapkan kebijakan efektif dan effisien.

Salam Kereta Api Indonesia!!!

Waalaikumsalam Wr. Wb.

Salah seorang pengguna setia jasa Kereta Api

kontak_pelanggan@kereta-api.co.id
[/spoiler]

Hebat kalo ini dimuat di berbagai media. Maaf,apakah sang penulis udh ngrimin? Kman?

Maaf, kalau hanya sekedar ke PT KA sebenarnya kurang, atau malah bisa dibilang salah sasaran. Mengingat kebijakan ini murni buatan Dirjen KA (pak Hermanto D, orang sama yang membuat penomoran aneh itu).
(26-02-2011, 12:05 PM)bagus70 Wrote:
(25-02-2011, 09:02 PM)gilang pratama Wrote: [spoiler]
(24-02-2011, 05:35 PM)rapih_dhoho Wrote: Kepada
Yth. Jajaran Direksi PT. KAI Persero
di Tempat

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya adalah seorang pelnaggan KA setia, sejak dari saya kuliah sampai saat ini bekerja disalah satu kota di Jawa Timur saya selalu menggunakan angkutan KA. Mulai dari KA eksekutif termahal Argo, Bromo Anggrek, sampai KA lokal ekonomi termurah, KRD Surabaya-Kertosono, sudah pernah saya naiki. Saya selalu menggunakan moda angkutan KA karena sifatnya yang massal dan bebas macet sehingga saya dapat menikmati perjalanan saya.

Beberapa saat ini saya merasa ada hal yang aneh dalam perjlanan KA, dan ini saya rasa sangat mengganggu keselurahan penumpang. Hal ini berkaitan dengan peraturan pengosongan gerbong paling depan dan paling belakang kereta penumpang yang sering disebut gerbong aling-aling. Tujuan peraturan "aneh" ini memang bertujuan baik, yaitu untuk meminimalkan jumlah korban jiwa jikalau terjadi kecelakaan kereta api khususnya yang disebabkan oleh tabrakan frontal kereta api dari depan atau pun dari belakang. Menilik dari beberapa kecelakaan KA akhir-akhir ini (Senja Utama vs Argo Bromo dan Mutiara Selatan vs Kutojaya selatan) memang korban terbanyak adalah penumpang di gerbong paling depan dan belakang.

Akan tetapi menurut saya peraturan ini seakan-akan adalah bentuk kepanikan jajaran PT. KAI Persero dalam menyikapi kecelakaan tabrakan frontal yang akhir-akhir ini terjadi. Peraturan gerbong aling-aling ini seakan-akan jajaran PT. KAI Persero yakin bahwa cepat atau lambat kecelakaan tabrakan KA pasti akan terjadi lagi. Apakah bukan lebih baik kita memikirkan kebijakan yang lebih tepat lagi untuk mengindari kecelakaan KA daripada menerapakan peraturan gerbong aling-aling yang menurut saya menimbulkan masalah baru baik terhadap pengguna jasa dan penyedia jasa. Sebuah ironi dimana pada kenyataannya PT. KAI masih mengalami kekurangan gerbong.

Dampak buruk utama dengan diterpakannya peraturan gerbong aling-aling adalah jumlah gerbong yang dapat dinaiki penumpang menjadi berkurang sehingga penumpang berdesak-desakkan dan menjadi sangat tidak nyaman.
Mungkin jika peraturan ini diterapkan di KA Eksekutif tidak terlalu mengganggu penumpang dikarenakan gerbong paling depan adalah gerbong barang sedang paling belakang adalah gerbong pembangkit sehingga tidak mengurangi jatah tempat duduk penumpang. Akan tetapi jika hal ini diterapkan di KA Eksekutif-Bisnis, Bisnis, dan Ekonomi jelas peraturan ini sangat mengganggu. Beberapa hari yang lalu saya naik KA Probowangi dan pada saat itu saya menemui hal yang sanagat aneh, jumlah gerbong Probowangi cuma 4 gerbonng sedangkan gerbong terdepan dan terbelakang tidak boleh dinaiki penumpang tentu saja penumpang saling berdesak-desakkan di 2 gerbong tengah dan bahkan sampai banyak yang tak terangkut. Para penumpang pun cuma bisa terheran-heran dan protes ke kondektur dengan keadaan ini. Lalu bagaimana nasib KA yang cuma memakai 2 gerbong seperti KA Lokal Bandung-cianjur dan Feeder Wonogiri, serta bagaimana pula dengan KRL di Jabodetabek? Apakah peraturan ini juga diterapkan juga?

Saya sangat berharap peraturan gerbong aling-aling ini dapat segera dicabut dan PT. KAI beserta departemen perhubungan bisa memikirkan cara yang lebih baik ntuk mengatasi kecelakaan KA. Contohnya bisa menerapkan manajeman kerja masinis yang lebih baik sperti pengurangan shift ganti masinis setiap dinasan, melakukan pelatihan secara periodik kepada masinis dan PPKA, menerapkan peralatan komunikasi dan alat bantu lainnya yang tepat guna di lokomotif, perbaikan peraturan persinyalan KA, dan berbagai hal lainnya yang bisa memecahkan masalah tanpa menimbulkan masalah yang baru.

Akhir kata, surat ini adalah salah satu bentuk kepedulian dari kami sebagai pengguna setia KA. Semoga kedepannya jajaran PT. KAI Persero dan Departemen Perhubungan berhasil menerapkan zero accident perjalan KA dengan menerapkan kebijakan efektif dan effisien.

Salam Kereta Api Indonesia!!!

Waalaikumsalam Wr. Wb.

Salah seorang pengguna setia jasa Kereta Api

kontak_pelanggan@kereta-api.co.id
[/spoiler]

Hebat kalo ini dimuat di berbagai media. Maaf,apakah sang penulis udh ngrimin? Kman?

Maaf, kalau hanya sekedar ke PT KA sebenarnya kurang, atau malah bisa dibilang salah sasaran. Mengingat kebijakan ini murni buatan Dirjen KA (pak Hermanto D, orang sama yang membuat penomoran aneh itu).

Di edit saja.. Krim ke media,cantumkan nama ybs..
seandainya ada kereta ke Pangandaran... mungkin bisa lebih hidup pariwisata di wilayah priangan timur, sedikit emisi untuk menyelamatkan bumi kita, naiklah kereta api....
(25-02-2011, 10:04 PM)gilang pratama Wrote: mau tanya,apakah gerbong ling2 khusus buat eko itu kursinya di tiadakan alias ky gerbong barang??? Soalnya tadi liat pasundan bawa ling2 gerbongnya ga da kursi?? Kok gt ya??

hah keliatannya tidak mass....saya juga sering nemu ling2 ekon yang tetep ada kursinya ...apa itu khusus Pasundan/KA ekon jarak jauh yaaa???CMIIWXie Xie
[Image: overstappen.png]
(25-02-2011, 10:04 PM)gilang pratama Wrote: mau tanya,apakah gerbong ling2 khusus buat eko itu kursinya di tiadakan alias ky gerbong barang??? Soalnya tadi liat pasundan bawa ling2 gerbongnya ga da kursi?? Kok gt ya??

hah keliatannya tidak mass....saya juga sering nemu ling2 ekon yang tetep ada kursinya MISAL penataran.dhoho ...apa itu khusus Pasundan/KA ekon jarak jauh yaaa???CMIIWXie Xie
>>SEMBRANI
>>>TURANGGA
>>>>MUTIARA TIMUR
Harus selalu di HATI QULok Merah Biru tuutuuutt
(25-02-2011, 10:04 PM)gilang pratama Wrote: mau tanya,apakah gerbong ling2 khusus buat eko itu kursinya di tiadakan alias ky gerbong barang??? Soalnya tadi liat pasundan bawa ling2 gerbongnya ga da kursi?? Kok gt ya??

bisa lihat dipostingan saya sebelumnya,
bahwa KA 111 Sawunggalih Utama yg ALING2 nya K2 saja dicabut pula kursinya.

kelihatan ny Aling2 yg masih berkursi hanya Argo Jati dan Fajar Utama SMT yang aling2 ny menggunakan K1

-rempong boo...eman2...kursi bagus2 kok dipreteli..-
693-5073-893-673
(25-02-2011, 09:08 PM)BAMBANG EKO Wrote: Odong2 pun menerapkan aling2


[Image: iw2mug.jpg]
apakah ini berfungsi sebagai mana mestinya, Pakdhe....?Bingung
UTAMAKAN KESELAMATAN..........!
Keluarga Anda Menanti di Rumah !

[Image: warteg.png]
Juragan Warteg yang Juga Seorang Aktivis KA
(26-02-2011, 08:19 PM)tomrys Wrote:
(25-02-2011, 10:04 PM)gilang pratama Wrote: mau tanya,apakah gerbong ling2 khusus buat eko itu kursinya di tiadakan alias ky gerbong barang??? Soalnya tadi liat pasundan bawa ling2 gerbongnya ga da kursi?? Kok gt ya??

bisa lihat dipostingan saya sebelumnya,
bahwa KA 111 Sawunggalih Utama yg ALING2 nya K2 saja dicabut pula kursinya.

kelihatan ny Aling2 yg masih berkursi hanya Argo Jati dan Fajar Utama SMT yang aling2 ny menggunakan K1

-rempong boo...eman2...kursi bagus2 kok dipreteli..-
Bira gak disangka "KORUPSI" bawa penumpang gelap/ jual tempat duduk...dll

[spoiler=BRAKE.Emergency use only]

[/spoiler]


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)