Poll: Gerbong paling depan dan paling belakang bukan untuk penumpang. Setuju?
You do not have permission to vote in this poll.
Sangat setuju
5.77%
12 5.77%
Setuju
10.10%
21 10.10%
Tidak berpendapat
2.40%
5 2.40%
Tidak setuju
27.40%
57 27.40%
Sangat tidak setuju
54.33%
113 54.33%
Total 208 vote(s) 100%
* You voted for this item. [Show Results]

Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
[Diskusi] Gerbong Aling Aling
(05-02-2011, 12:36 PM)bagus70 Wrote: Apakah ini kebijakan bodoh kreasi pak Hermanto Dwiatmoko lagi? Mengingat jabatannya di Dirjen KA adalah kepala bagian yang berurusan dengan keselamatan KA.
Sudah sebelumnya membuat penomoran bodoh, sekarang menyuruh mengosongkan gerbong pertama dan terkahir dengan alasan "keselamatan". Duh, kok kesannya seperti anti Tuhan begitu, seakan-akan mati-hidupnya orang ditentukan Dirjen KA.

Kebijakan ini kalau dianalogikan seperti:
- karena bus sering celaka, maka dua deret kursi pertama dikosongkan (begini caranya PO busnya bisa bangkrut!).
- karena korban tewas pesawat seringkali ada di depan, maka business class ditiadakan, dan penumpang dilarang duduk di bagian depan (mampus gini caranya buat airlinenya).
- karena sering terjadi perampokan terhadap pengguna mobil mewah, maka warga masyarakat dilarang menggunakan mobil mewah (enak saja! Memangnya ini negara komunis gitu? Wong di RRC yang negara komunis, nyetir Ferrari boleh kok).

Logikanya dimana gitu? Wong penjaga sekolahan yang belum tentu lulusan SMA bisa berpikir lebih logis, dan mengambil tindakan jauh lebih bijaksana daripada ini!

Kepada moderator, saya mohon maaf kalau ucapan saya kurang berkenan, dan terkesan seperti memojokkan pribadi atau institusi tertentu. Tapi patut diingat bahwa saya berbicara sebagai pengguna jasa KA yang membayar karcis secara penuh, sehingga kalau dianalogikakan, gaji orang-orang itu berasal dari uang saya.
Saya hanyalah seorang pengguna jasa KA, dan penikmat KA, yang merasa gerah dengan tindak-tanduk orang bodoh sok kuasa seperti mereka.

Kalo emang begitu sekalian saja kursi A dan D (Eksekutif, Bisnis, dan Ekonomi AC) atau A dan E (Ekonomi reguler) harus dikosongkan, jadi kalo gerbongnya anjlok ke samping orang yang dipinggir jendela ga jadi korban meninggal (kalo ga salah waktu PLH Argo Dwipangga tahun 2002 apa 2003 yang 2 gerbong nyemplung ke sawah gara-gara jembatan rel diseruduk atap truk ada 1 korban meninggal akibat duduk di kursi pinggir jendela sebelah kanan - soalnya waktu itu gerbongnya jatuh ke sisi kanan rel, truk datang dari kiri)...

Yang namanya PLH itu kan peristiwa yang tidak diduga, ya emang harus diantisipasi. Tapi cara seperti ini justru sangat tidak efektif, paling-paling ya coba cara yang lain donk, kayak taspat 5-10 km/h untuk semua KA ketika akan memasuki sebuah stasiun (sudah pernah dipaparkan di thread ini, kalo ga salah page 2 apa 3 oleh Bravo eling, dan saya salah satu RF yang setuju sekali dengan hal ini), itu kan lebih efektif daripada nambah gerbong kosong buat sekedar menampung angin, padahal gerbong-gerbong itu bisa dipakai untuk hal yang emang kegunaannya, mengangkut penumpang...
Visit my new blog at https://idrailnews.wordpress.com/

Visit also:
YouTube Channel
Twitter
ini nggak menyelesaikan masalah tapi nambah masalah.....
RF jamboapha, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Jan 2011.
instrument paling konyol yang pernah ada, bukan sistem yang diperbaki malah beginian...

[Image: kaatapcopy.jpg]

( Shizier...089671371636 )
Jurig Argo Wilis

kalo petinggi emang gitu enaknya,
klo ada PERISTIWA nyari pelaku dengan tujuan agar reputasi mereka(petinggi tsb) tidak rusak,
kalo ada penghargaan selalu mengatasnamakan karna ini karna itu..
gak ada habisnya dah ngomongin beginian,
kita cuma bisa berkomentar pada web ini, tanpa bisa merapat untuk memberikan solusi apapun
(05-02-2011, 03:22 PM)chidzir Wrote: instrument paling konyol yang pernah ada, bukan sistem yang diperbaki malah beginian...

setuju sekali mas
lama-lama bisa mati perkeretaapian di indonesia kalau kayak begini caranya, ini sama aja mengharapkan plh kembali terulang dan terulang
KA Andalan relasi Yogyakarta - Gambir yang memasukkan fulus ke pundi2 PT. Kereta Api Indonesia (Persero) ini juga melaksanakan kebijakan perusahaan untuk memasang Aling2 di belakang Lokomotip dengan menggunakan kereta K2 . sampai kapan ya kebijakan ini akan berlaku ?

Bingung

[Image: 51d3s5.jpg]
^^ Taksaka untuk sementara jadi Sancaka Barat dulu Ngakak
semoga kebijakan mengenai kereta aling2 segera direvisi kembali. Mubazir rasanya...
Cobalah Cari tahu sendiri dulu baru bertanya bila benar - Benar Bingung dan tidak ada penjelasan, jangan maunya disuapin terus. Gak ada Nubie atau Master, semua sama, sama - sama belajar. Eh iya lupa...
(06-02-2011, 03:06 PM)Dj_Dj_300791 Wrote: ^^ Taksaka untuk sementara jadi Sancaka Barat dulu Ngakak
semoga kebijakan mengenai kereta aling2 segera direvisi kembali. Mubazir rasanya...

kita lihat saja nanti Ngikik
saya yakin kebijakan ini gak akan bertahan lama,
we'll see !!
(06-02-2011, 01:16 PM)BAMBANG EKO Wrote:
KA Andalan relasi Yogyakarta - Gambir yang memasukkan fulus ke pundi2 PT. Kereta Api (Persero) ini juga melaksanakan kebijakan perusahaan untuk memasang Aling2 di belakang Lokomotip dengan menggunakan kereta K2 . sampai kapan ya kebijakan ini akan berlaku ?

Sampai paket celaka di Kemenhub dan Dirjen KA lengser.


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)