Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Jalan tol mengancam potensi kereta api ?
#51
yang pastinya sie pemerintah ngmbil investor yg menjanjikan Bethe ...sbetulnya PT. Kereta Api Indonesia (Persero) jg melakukan investasi jg seperti lahan yg ada d sktr pinggiran rel, oleh pt.ka lahan tersebut d sewakan... seharusnya pemerintah lebih mmperhatikan KA krn utk saat ini KA adalah moda transportasi rakyat yah klo boleh d bilang moda transportasi yg bnyk d minati krn murah...
doain aja yak gw jd pejabat biar bisa menampung aspirasi railfans khususnya OK Grin Grin
After The Love Has Gone
Reply
#52
AGAIN,kejadian yang berkali kali di Semboyan35.saya nemu trit baru yang isinya hampir-hampir sama dengan trit lama.capek deh .... Curiga Baget

Guys,soal TOL yang akan jadi pesaing kuat jalur KA juga sudah saya singgung sebelumnya di trit yangINI dengan mengambil contoh TOL KANCI-PEJAGAN-BATANG-SEMARANG dan nantinya terus ke SOLO yang juga pasti akan mencaplok lahan persawahan dan pasti akan jadi pesaing berat jalur KA.

Secara garis besar juga trit ini punya isi,'pesan' dan 'semangat' yang sama dengan trit yang ITU.

saya jadi bingung untuk kasus 'KA yang dianaktirikan,harus bersaing dengan jalan raya,dan ketidakberpihakan pemerintah kepada KA' saya harus komentar di trit yang mana?ini atau ITU?

tanya ken apa?Mod? Kapan ya...
####My online hours : Saturday PM - Sunday AM/PM####
Reply
#53
Iye...yeh...

Sori.., lepas pengawasan akan digabung....

Trims yeh....

Yoek dilanjut diskusinya....

[Image: spammingsj0.gif]
Reply
#54
Baru saya membaca sebuah berita:

Revitalisasi Kereta Api Tanpa Arah
Senin, 17 November 2008 | 01:14 WIB
Jakarta, Kompas - Program revitalisasi perkeretaapian yang digulirkan Departemen Perhubungan tahun 2008-2010 dinilai tidak mempunyai arah jelas. Tanpa kejelasan arah, sulit membangkitkan peran kereta api untuk mengurangi ketergantungan terhadap angkutan jalan raya yang memboroskan bahan bakar minyak.

”Setelah revitalisasi selesai, saya menduga perkeretaapian malah memburuk sebab efek dari pembangunan tak tepat sasaran, uang pemerintah dan PT KA diboroskan untuk pemeliharaan, dan kecelakaan tetap terjadi,” kata Ketua Masyarakat Pencinta Kereta Api Moch S Hendrowijono, Minggu (16/11) di Jakarta.

Hendrowijono mencontohkan pembangunan yang kurang tepat, misalnya rel ganda dibangun lebih dulu di Kutoarjo-Yogyakarta. Padahal, kereta api (KA) lebih sering terhambat di Cirebon-Prupuk. ”Dan, benarkah PT KA membutuhkan depo kereta listrik sebesar itu di Depok? Saya khawatir malah membebani PT KA untuk pengoperasiannya,” kata Hendrowijono.

Terkait daftar isian pelaksanaan anggaran Ditjen KA, dikatakan Hendrowijono sebagai ”sekadar daftar belanja”. Pemerintah terlihat sekadar membangun proyek fisik, padahal ada aspek-aspek nonfisik lain seperti sosialisasi tentang perkeretaapian yang membutuhkan dana.

Dalam seminar ”Revitalization of Indonesia Railway Sector”, Oktober 2008, Dirjen Perkeretaapian Wendy Aritenang menjelaskan pembagian revitalisasi 2008-2010 dalam dua program, yakni infrastruktur (prasarana) dan pengadaan sarana.

Program infrastruktur terdiri dari rehabilitasi rel (1.369 km), pengoperasian kembali jalur rel non-aktif (187 km), pembangunan rel ganda (388 km), listrik aliran atas (132 km), persinyalan (85 paket), dan rehabilitasi jembatan (150 paket).

Sementara pengadaan sarana adalah kereta rel listrik (176 unit), kereta ekonomi (180 unit), kereta rel diesel (48 unit), lokomotif (87 unit), dan gerbong barang (500 unit). Untuk merealisasikannya, pemerintah menetapkan dana Rp 19 triliun dalam tiga tahun.

Ketika revitalisasi dimulai tahun 2008, anggaran Ditjen KA hanya Rp 3,5 triliun dan tahun 2009 sebesar Rp 3,6 triliun. Jadi, seharusnya alokasi anggaran Ditjen KA per tahun Rp 6,3 triliun, kenyataannya Rp 3,5 triliun per tahun.

Target kuantitatif

Anggota DPR, Enggartiasto Lukita, dan pengamat KA, Taufik Hidayat, sama-sama menyatakan bahwa revitalisasi KA tanpa arah. ”Harusnya ada target posisi perkeretaapian usai revitalisasi. Misalnya, tahun 2011, KA diharapkan mengangkut sekian puluh persen penumpang sehingga beban jalan berkurang, dan biaya APBN untuk jalan dialihkan ke Indonesia timur,” ujar Enggar.

Taufik menjelaskan, kebijakan transportasi Perancis sangat jelas. ”Disebutkan, menurunkan lalu lintas jalan di suatu wilayah sebesar 3 persen, seiring peningkatkan angkutan publik hingga 2 persen. Kebijakan dengan angka membuat aksi revitalisasi terukur,” ujar Taufik.

Data Ditjen KA 2007 menyatakan, moda transportasi jalan mengangkut 2,02 miliar penumpang per tahun (84,13 persen), sedangkan KA mengangkut 150,27 juta penumpang per tahun (7,32 persen). Untuk angkutan barang, transportasi jalan mengangkut 2,51 miliar ton per tahun (91,25 persen), sedangkan KA mengangkut 17,41 juta ton barang per tahun (0,63 persen).
=========================================================================================

Duh kenapa PT KA kayak gini terus
rupanya kereta api kita berjalan tanpa arah Mabok
Jadi ga ada target...
serta d atas jg dibahas masalah kesalahan2 pt ka, dari buat jalur sampai masalah depo depok.
ga tau de smoga pt ka makin maju aja
i hope it.... Xie Xie
Ketika anda berniat mencari pengetahuan atau ilmu, yang harus anda lakukan adalah membaca, mencari informasi, mendengar diskusi, dan memberi pendapat yang logis. Dan itulah gunanya forum :3.

Apakah Hibernasi bisa menghasilkan ilmu dan informasi? Semua orang pun tau jawabannya...

Hibernasi いみは ねていきます. XDa
l


Reply
#55
dapat berita baru lg ni seputar KA

Inka, Revitalisasi Kereta, dan Diversifikasi Bisnis

Tahun 2002-2006, PT Industri Kereta Api atau Inka berada di titik nadir. Saat itu, akibat kondisi keuangan yang seret, Inka diancam akan digabung dengan PT Kereta Api. Gaji direksi, staf, hingga pesuruh dipotong 10-34 persen dan dibayar bertahap dua kali dalam sebulan. Inka pun didorong mendiversifikasi bisnisnya.

Inka, yang didirikan tahun 1981, memang mengalami pasang surut. Hal itu seiring dengan pasang surutnya bisnis kereta api (KA), atau tepatnya bisnis PT KA, sebagai satu-satunya operator KA di negeri ini.

Di seluruh dunia, tidak hanya Indonesia, bisnis operator KA sangat rentan. Ketatnya persaingan dengan moda transportasi lain, yang lebih murah dan lebih cepat, menjadi tantangan utama KA.

Namun, di Eropa, persaingan antarmoda transportasi tidak membuat KA tersingkir. KA masih menjadi transportasi terbaik dan ramah lingkungan, yang disubsidi pemerintah dalam jumlah besar. Namun, situasi itu tidak terjadi di Indonesia. Ketidakjelasan visi transportasi telah membuat nasib KA di Indonesia ”hidup enggan mati tak mau”.

Sulit untuk membuat KA bisa bersaing dengan moda transportasi lain. Untuk perjalanan Jakarta-Yogyakarta, misalnya, dengan harga tiket penerbangan Rp 350.000, masyarakat relatif akan memilih ”terbang” 45 menit daripada 9-10 jam terguncang-guncang di dalam KA, yang harga tiketnya Rp 200.000.

Begitu pula dengan KA Jakarta-Bandung, yang semakin tergeser oleh moda transportasi travel. Memang, Departemen Perhubungan tak tinggal diam dan membatasi jumlah travel. Namun, masih ada travel liar berpelat nomor hitam yang menggerus pangsa pasar KA.

Tatkala KA kehilangan pelanggan, itu berarti pendapatan PT KA berkurang. Ini berdampak pada investasi. PT KA sulit untuk menambah rangkaian kereta apinya. Akibatnya, 2002-2006 PT Inka tidak mendapat pesanan KA dan menghadapi krisis.

”Maka dari itu, saya sangat berharap revitalisasi perkeretaapian berhasil. Sebab, ketika PT KA sehat, pesanan banyak masuk ke Inka, dan perusahaan kami sehat pula,” kata Direktur Utama PT Inka Roos Diatmoko.

Selama revitalisasi 2008-2010, pemerintah menjanjikan Rp 19 triliun. Bila konsisten dengan janjinya, pada 2008-2009 minimal dikucurkan Rp 12 triliun, tetapi realitanya baru Rp 7 triliun. Meski demikian, Inka bisa bernapas lega karena Ditjen Perkeretaapian memesan KA ekonomi.

Tahun 2006, omzet Inka Rp 270 miliar dan 2007 mencapai Rp 370 miliar. Tahun 2008 meroket menjadi Rp 540 miliar, dan 50 persen di antaranya adalah dari pesanan Ditjen Perkeretaapian. Tahun 2009, omzet PT Inka diprediksi Rp 700 miliar.

Bandingkan dengan tahun 1999 yang dianggap tahun puncak bisnis Inka di dekade lalu, omzetnya hanya Rp 200 miliar.

Dengan omzet yang terus meningkat, ada optimisme bahwa kerugian yang diderita Inka sepanjang 2002-2006 dapat tertutupi oleh omzet Inka hingga 2009.

Meningkatnya omzet apakah menjadi pertanda bahwa revitalisasi telah berhasil. Pengamat KA, Taufik Hidayat, dan Ketua Umum Masyarakat Pencinta Kereta Api (Maska) Hendrowijono menyangsikan bahwa revitalisasi perkeretapian telah berhasil.

”Revitalisasi sekadar proyek, tak membangun sistem apa pun,” kata Taufik.

Apabila tujuannya adalah membangun keandalan perkeretaapian, revitalisasi diyakini tak akan membawa perubahan apa pun hingga 2010. Dengan demikian, saat pada 2011 tak ada lagi program revitalisasi, tak ada jaminan jumlah kecelakaan KA akan menurun.

Jika itu terjadi, KA tidak akan menjadi moda transportasi andalan. Bahkan, bisa jadi makin terdesak dan tidak ada ekspansi usaha. Pada gilirannya, Inka juga merasakan dampaknya.

Saat Inka limbung, nasib 832 karyawan dipertaruhkan. Tidak hanya itu, puluhan pekerja industri manufaktur, seperti pekerja pabrik rangka jendela KA di Bandung dan pekerja pabrik komponen karet di Madiun, juga terkena akibatnya.

Diversifikasi bisnis

Diversifikasi bisnis menjadi alternatif agar terhindar dari ”nasib buruk” itu. Bila menyambangi pabrik Inka, ketika berjalan lurus melewati perkantoran, ada gedung besar di sisi kanan. Di dalam gedung itu dapat dijumpai mobil kecil kapasitas lima orang warna oranye, yang diberi nama dagang ”Kancil”.

Harga Kancil pernah dipatok Rp 32,1 juta, relatif murah dibanding Bajaj produksi India. Banyak industri kecil dilibatkan dalam produksi Kancil. Komponen lokal Kancil mencapai 80 persen. Kancil adalah hasil pembelajaran Inka dan mitranya saat krisis.

Diversifikasi bisnis baru menyumbang 5 persen dari seluruh pendapatan. Diproyeksikan, diversifikasi bisnis bisa menyumbang 30 persen dari total pendapatan Inka.

Produsen KA Jepang, Nippon Sharyo, pada 2007 pendapatannya dari pembuatan sarana KA mencapai 57,8 persen, sisanya dari konstruksi, properti, dan pembuatan struktur baja seperti jembatan.

Diversifikasi bisnis juga dikerjakan Inka dengan membuat trem listrik. Di Superblok Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta, pada pertengahan 2009, mulai dioperasikan trem di trek sepanjang 1,5 km. Ini bisa menjadi cikal bakal trem di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Inka juga membangun railbus untuk digunakan di Palembang. Railbus efektif untuk jarak dekat dan biaya pembangunan prasarananya tak mahal sehingga harga tiket bisa relatif murah.

Bus gandeng atau articulated bus juga telah dapat diproduksi Inka. Bus yang dikaroseri Rahayu Sentosa itu mengadopsi mesin Jerman dan siap mengisi jalur busway di Jakarta. Harganya Rp 3 miliar per unit, lebih murah dibanding bus gandeng Komodo produksi PT Asian Auto International, yang mencapai Rp 4 miliar per unit, atau bus gandeng buatan China yang harganya Rp 3,7 miliar per unit.

Dengan segala capaian yang telah dilakukan, tidak berlebih bila dikatakan Inka telah siap membangun transportasi dari hulu ke hilir.

Masyarakat dapat naik Kancil dari rumah ke jalur trem, lalu naik trem, berpindah naik bus gandeng Inka, lalu naik kereta rel listrik atau kereta rel diesel produksi Inka menuju sub-urban. Untuk antarkota, dapat naik KA kelas Argo, yang juga produksi Inka. Tepuk Tangan

Saat Inka telah mampu dan siap, akankah bangsa ini memberdayakannya? Diperlukan kemauan politik untuk membantu mengembangkan industri perkeretaapian dalam negeri, dengan mengembangkan perkeretaapian sebagai moda transportasi yang handal.

Sudah saatnya capaian anak negeri ini dihargai. Buat apa memesan bus transjakarta dari China jika PT Inka dapat memenuhinya dengan harga lebih murah.

Perancis telah menunjukkannya. Meski Nippon Sharyo memproduksi KA yang jauh lebih murah, tetapi Perancis tetap memesan buatan Alstom. China pun melakukan hal serupa.

Memesan KA dari Inka, bukan fanatik, tetapi mengembangkan sikap mandiri dan sekaligus menghargai hasil karya bangsa sendiri. Tentu, Inka mesti meningkatkan kualitas produksinya. Inka harus menjamin bahwa tak ada lagi keluhan tentang buruknya kualitas dempul dan cat atau kereta rel diesel elektrik tiba-tiba kehilangan daya atau mogok.

Selain dari diversifikasi produk, Inka juga mengharapkan order perawatan. Sebanyak 30 persen dari omzet bisnis produsen KA terkemuka Alstom adalah perawatan.

Andai Pasal 114 Ayat (5) UU Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian mengharuskan perawatan sarana KA di Inka bukan di balai yasa atau depo, tentu Inka tak pusing seperti sekarang. Namun, hal itu dapat ”memanjakan” Inka. Kemanjaan hanya akan memerosotkan kualitas kerja...


==========================================================================================
Duh nasib inka kok kayak gini sih kasian gw liat para staf dan karyawannya Nangis
Tapi kedepan inka punya rencana macam2 dari kancil sampai trem dan busway jg Ceria
smoga itu bisa nutupin kerugian inka Xie Xie

Btw disitu ditulis jg 2009 ada Trem
yes kembali ke masa lampau Tepuk Tangan
Ketika anda berniat mencari pengetahuan atau ilmu, yang harus anda lakukan adalah membaca, mencari informasi, mendengar diskusi, dan memberi pendapat yang logis. Dan itulah gunanya forum :3.

Apakah Hibernasi bisa menghasilkan ilmu dan informasi? Semua orang pun tau jawabannya...

Hibernasi いみは ねていきます. XDa
l


Reply
#56
dari dephubnya udah ada niatan, tapi kok dari pemerinthnya belum ya???? Red Bull
Reply
#57
big bro Wrote:dari dephubnya udah ada niatan, tapi kok dari pemerinthnya belum ya???? Red Bull
Itulah Salah satu ketdk seriusan penyelenggara negara ini...Utk menjadikan Moda angkutan massal sbg Angkutan Utama..Masih mengandalkan angkutan jalan Raya..Beban jalan semakin berat disebabkan volume kendaraan makin banyak sehingga rawan akan kmacetan , daya dukung jalan tidak sesuai dgn kendaraan berat yg lewat sehingga jalan2 semakin cepat rusak, Konsumsi Bakar semakin meningkat

[Image: th_IMG_0864.jpg][/URL]
Dilarang keras membawa klonengan di Atas kereta api
Reply
#58
dgn membangun jalur KA dari kawasan industri besar ke pelabuihan juga bisa menarik investor dari jepun,Korsel atau negara lainnya.
misalnya begini : mobil2 untuk market ekspor spt grandmax,APV,innova dll diangkut dari pabrik perakitan menuju pelabuhan dgn KA. tentunya pemerintah harus membuat gudang untuk mengumpulkan mobil2 tersebut.

pan sekalian mengurangi kemacetan spt di tanjung priuk....
Grin Grin

Reply
#59
gua pikir2 sebenranya bisnis perkeretaapian itu gak rugi2 amat....

contohnya gini :

KA komuter dengan jumlah penumpang mencapai 1 juta orang per hari. harga tiket 5rebu, kemahalan?? oke lah 3000. BErarti :

1.000.000 x 3000 x 365 = 1.095.000.000.000 ( 1 trilyun lebih!! ) Red Bull

bayangkan bila jumlah penumpangnya mencapai 2 juta orang per hari!!!

inget tulisan di mana getu. MOnorail MAlaysia yang jalurnya gak sampe 30 KM ( Lebih pendek dari JAKK -DPK ) bisa ngangkut 200.000 orang per hari. KA JABOTABEK yang panjang jalurnya sampe lebih dari 150 KM baru mengangkut 300.000 orang per hari.

prospeknya bakal gede. karena penduduk BODETABEK + SERPONG lebih dari 5 juta jiwa yang mayoritas perjalanannya ke Jakarta.

Kalo gak salah di UU perkeretaapian ada pasal yang memperbolehkan PT KA mencari investor kan??? kenapa PT KA JAbotabek gak nyari investor luar???

ada yang tau???? Red Bull
Reply
#60
big bro Wrote:balik ke BEP.

kalo gua pikir, kenapa KA BEPnya lama, coz perusahaan KA tuh harus bangun Jalur kereta sendiri...

berbeda ama transportasi lainnya yang udah disediain pemerintah......

btw jalur kereta yg ada disini uda dibangunin ma blanda, jadi KAI gak ngluarin duit buat bangun jalan. bea prawatan & pembangunan jalan baru pun dari pemrintah yg notabene duit rakyat, bukan duit KAI. mnurut saya sih swasta gak mau masuk coz sistem yg ngharusin swasta join ma KAI, swasta tu maunya mreka yg ngurus dirinya sendiri, gak mau ada sangkut paut ma oprator lain, apalagi citra KAI di masyarakat uda jelek, otmatis klo swasta join ma KAI, bakal ktularan jelek Tersenyuum
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)