Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Jalur mati Purwokerto-Wonosobo
#61
halo
saya RF daop 5, kemaren juga habis trekking di bekas jalur pwt-wsb, sebelah selatan PJL pwt ada jembatan baja. masih bagus, utuh rel & bantalan, dan baru di ketrek ( cat ulang ) malah jadi jalan setapak warga setempat.
moga bisa di hidupin lagi...tapi kayaknya susah...banyak infrastruktur yang hilang
Reply
#62
Ada pics'a mas?

[Image: 21kkvba.jpg]
Reply
#63
Ini jalur termasuk jalur yg indah dan menawan dengan panorama alam yg menggoda hati para pecinta jalur jadul
Reply
#64
Assalamualaikum wr. wb
Sabtu, 9 Februari 2008, adalah kelanjutan dari penelusuran jalur mati dan direncanakan untuk menyusuri jalan rel dari Wonosobo sampai Purwokerto Timur (Jalur SDS). Jalur ini unik karena kebanyakan jalurnya seperti mengikuti alur Sungai Serayu khususnya dari Wonosobo sampai Klampok. Perjalanan ke Wonosobo di awali dari Temanggung. Setelah seharian Trekking dari Yk-Parakan, kamipun istirahat di wisma yang cukup nyaman namun ringan di ongkos. Pagi hari, saya bangun jam 5 pagi, ternyata Mas Kris dan Pak ADL sudah bangun lebih dulu. Setelah mengumpulkan nyawa, sayapun sholat shubuh kemudian nonton TV sambil menikmati udara pagi dan kudapan gorengan yang dibelikan Mas Kris dan rambutan yang tersisa. Kang Asep yang datang dari Surabaya ternyata sudah sampai di Terminal Temanggung. Mobil belum datang, mana HP Mas Bagas ternyata empty batt, sehingga tidak bisa dihubungi. Akhirnya Mobil dan Mas Bagaspun datang. Ditemani Mas Kris, mobil menjemput Kang Asep yang ternyata sudah tidak berada di terminal namun sudah mulai jalan kaki (Ni Orang g punya cape kali ya....)
Rombongan akhirnya komplit, saya, Pak ADL, Mas Kris, Kang Asep dan driver siap meluncur ke Wonosobo. Namun sebelum ke Wonosobo, kami hunting jembatan tinggi di pinggir kota Temanggung. Selain itu, kami juga pergi ke Parakan untuk mengambil ulang gambar Stasiun Parakan (dengan terlebih dulu ke Stasiun Temanggung lagi). Sesampainya di Parakan hujan menyambut kedatangan kami. Dalam kondisi hujan, kami memoto ulang Stasiun dan jembatan yang patah. Di sini saya menerima pesan dan telepon dari Mas Ersta yang akan menyusul kami. Kami putuskan untuk menunggunya di Wonosobo atau Banjarnegara saja (Tak tutuki kowe Ta, bengine ngomong ra sido jebul sido, hahahahaha.. .). Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dalam kondisi hujan dan memasuki "blank zone" dimana tidak ada jalan rel di antara Parakan-Wonosobo. Meskipun demikian, di sisi kanan atau kiri jalan terdapat tiang telepon yang bentuknya mirip dengan tiang telegraf-nya sepur. Parakan-Wonosobo memang dari kondisi geografisnya kurang memungkinkan untuk dibangun jalan rel. Topografi yang berupa pegunungan dan terdapat dua Gunung yang berdekatan yaitu G. Sindoro dan G. Sumbing. Meski tidak ada jalan rel, saya cukup menikmati indahnya perjalanan.
Memasuki Kota Wonosobo, kami memutuskan untuk putar-putar kota. Menurut Pak ADL, biar insting railfan yang membawa kami ke Stasiun Wonosobo. Saya mencoba bertanya pada Mas Adit Schu, namun dia juga tidak begitu tau "ancer-ancer" -nya meskipun dia sudah pernah ke sana. Setelah berputar-putar sampai alun-alun, kami menemukan patok dari rel, dan ini artinya sudah tidak jauh dari kompleks stasiun atau jalur jalan rel. Akhirnya kami berputar kembali. Sambil mengisi pulsa, saya bertanya kepada si penjaga counter, dari mba'nya kami mendapatkan arah ke Stasiun Wonosobo. Sampailah kami di Stasiun Wonosobo. Kompleks stasiun terdiri dari bangunan gudang dan bangunan stasiun. Stasiun Wonosobo ada di Jalan R. Kol. Karjono, dekat dengan RSU Wonosobo. Di depan Gudang, sekarang menjadi terminal mikrobus sedangkan bangunan stasiun sendiri menjadi ruko, namun bentuknya masih dapat dilihat dengan jelas.
Kamipun bergegas untuk memotret dan melihat-lihat sisa-sisa kejayaan SDS ini. Stasiun Wonosobo memiliki paling tidak 2 sepur pada emplasemen dan 4 sepur ke gudang. Rel dan wesel masih kelihatan meskipun banyak juga yang sudah terkubur atau diambil.
[spoiler]
Bekas Gudang Stasiun Wonosobo

kapanlagi

20100116071101_IMG_0516_4b51041584a21.jpg
Sisa-sisa rel

kapanlagi

20100116071101_IMG_0518_4b5104158bf6b.jpg
Nameplate stasiun Wonosobo

kapanlagi

20100116071101_IMG_0522_4b51041595bc0.jpg
Bekas Stasiun Wonosobo dilihat dari bekas emplasemen

kapanlagi

20100116071101_IMG_0523_copy_4b5104159d0dd.jpg
Dilihat dari depan

kapanlagi

20100116071948_IMG_0543_copy_4b510624adb24.jpg
[/spoiler]
BERSAMBUNG
asep tea

Reply
#65
Top Banget laporannya mantap jaya weh jadi ngiler nih mau treking ke sana hebat kang asep laporannya
Reply
#66
(16-01-2010, 08:00 AM)Semutsdt Wrote: Top Banget laporannya mantap jaya weh jadi ngiler nih mau treking ke sana hebat kang asep laporannya

trims....
Xie Xie

Reply
#67
Jalur ini mulai dari klampok sampe perbatasan wonosobo sebenrnya mengikuti alur jalan. dan mengikut alur sungai, sekarang sudah banyak ditanemi patok2 pt ka.
trekking kemarin pas mudik desember akhir.
Reply
#68
(17-01-2010, 11:19 AM)Purushottama Wrote: Jalur ini mulai dari klampok sampe perbatasan wonosobo sebenrnya mengikuti alur jalan. dan mengikut alur sungai, sekarang sudah banyak ditanemi patok2 pt ka.
trekking kemarin pas mudik desember akhir.

mskdnya di patok2 buat apa ya ? buat hidupin jalur lagi kah atau matokin aset...
out of topic
dulu deket rumah sayah yg di kramat sawah (gangsentiong) tahun 1985-88an (kalo ga salah) juga di pasang patok rel putih biru 10-20 meter dari oleh PJKA (ndulu), apa itu juga termasuk patok aset PT. Kereta Api Indonesia (Persero) ? patok tersebut ada sepanjang rel KA antara senen hingga jatinegara, terpikir dulu di kira buat bikin Jalur Layang yg kyk di JAKK - MRI...
Jadi mikir2 dulu kalo beli rumah deket pinggir rel KA, takut na nanti jadi masalah, walau pun bersertifikat lengkap BPN, kalo di pengadilan bisa kalah krn itu aset dari jaman belanda yg di "hibah"
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelarMarah
Reply
#69
buat nandain aja kali ya? ato sebagai ukuran?
Reply
#70
SAMBUNGAN :

Kebetulan sekali pada hari itu, Pak KS Wonosobo (meskipun sudah bukan merupakan lintas aktif, tapi ada KS-nya lho) sedang berada di stasiun. Beliau bernama Bapak Sudiono. KS Wonosobo juga merangkap sebagai KS Banjarnegara dengan jadwal dinas adalah Senen sampai Rabu di Banjarnegara dan Kamis sampai Sabtu di Wonosobo. Untuk Stasiun yang lain, di Stasiun Sokaraja, terdapat petugas dari Divisi Operasional (Juru Gambar). Kami sempat beramah-tamah dengan beliau dan mendengarkan dengan seksama cerita dan informasi yang beliau sampaikan. Beliau dulu merupakan masinis dan sempat tugas ke Wonosobo, namun tidak merasakan lok uap karena beliau sudah membawa lok-lok DH ke Wonosobo. Pada masa jayanya, angkutan Wonosobo-Banjarnega ra-Purwokerto merupakan angkutan campuran antara barang dan penumpang. 1 Rangkaian dapat mencapai 5 gerbong. Angkutan barang biasanya adalah hasil bumi seperti sayuran dan tembakau. Pada masa lok DH, jadwal kereta adalah 2 kali dari Wonosobo yaitu pagi dan sore, serta 2 kali dari Purwokerto pagi dan sore juga, sehingga ada 2 rangkaian yang digunakan. Diantara stasiun-stasiun, yang memiliki depo adalah Stasiun Banjarnegara dan Stasiun Klampok.
Tugas KS Wonosobo ternyata lumayan berat, karena menjaga aset dan properti PT KA yang terbujur dari Banjarnegara hingga ke Wonosobo. KS Wonosobo dapat dikatakan sebagai orang Ops yang dikaryakan di Divisi Properti. Beliau pernah dinas di Cilacap juga. Rumah beliau di Mrican, Kab. Banjarnegara sekitar 1 jam perjalanan dari Stasiun Wonosobo. Dari informasi yang disampaikan, ternyata di dekat Stasiun, terdapat wisma PT KA yang dapat digunakan untuk umum, jadi apabila ada teman-teman yang pengin main ke Wonosobo dan butuh penginapan dapat menginap di sana. Setelah puas foto-foto dan saling bertukar cerita, kamipun pamitan dan berfoto bersama di dekat pengendali sinyal yang tersisa di dekat pintu stasiun.
Perjalanan dilanjutkan.
[spoiler]
KS Wonosobo dan Banjarnegara Bp. Sugiono

kapanlagi

20100118203949_IMG_0530_copy_4b5464a5a79dd.jpg
Sebelum melanjutkan perjalanan foto bersama dulu

kapanlagi

20100118203949_IMG_0547_4b5464a5b3c44.jpg
[/spoiler]
Diantara Wonosobo-Banjarnega ra, rel beberapa kali menyilang dengan jalan raya. Sebelum keluar kota 1 kali. Di batas kota ada yang membuat saya penasaran (lihat postingan: Jalur Wonosobo). Kami berhenti untuk memoto persilangan jalan rel dimana rel lewat di atas jalan raya. Jalan raya ke arah Banjarnegara adalah menurun dan posisi jalan rel sangat tinggi di atas jalan raya. Namun, beru beberapa ratus meter berjalan, tiba-tiba mobil bergetar khas melewati silang datar kereta api, dan benar, jalan rel ternyata sudah setinggi jalan raya, padahal jalan menurun. Anehnya lagi adalah silang datar ini sejajar dengan silang sebelumnya. Saya jadi ingin menelusuri jalur diantara dua persilangan ini, memutar seperti apa bisa sampai seperti itu.
[spoiler]
Bekas Viaduct

kapanlagi

20100118203949_IMG_0551_copy_4b5464a5bd83c.jpg
Viaduct dari atas

kapanlagi

20100118203949_IMG_0553_copy_4b5464a5ca0c3.jpg
[/spoiler]

Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)