03-05-2011, 09:22 AM
(01-05-2011, 09:11 AM)ArvendoGTASA Wrote: Menurut saya, aling-aling itu:
1. menambah beban lokomotif, yang akan mengurangi umur lokomotif
2. mubadzir karena didalamnya tidak ada apa-apa
3. aling-aling itu seharusnya gerbong b yang diisi kargo saja, seperti Malabar, jadi bisa menambah penghasilan PT. Kereta Api (Persero) .
4. meski ada aling2, tetap saja banyak yang dijebol. terutama pd KA lokal.
Gerbong Aling-aling itu solusi yang SALAH dan NGAWUR, karena BUKAN mencari CAUSA PRIMA nya.
Makanya seharusnya Dirjen KA invest serius sekali di sistem persinyalan, Safety and Control Devise, Sensor dan Deteksi, dan automatisasi sistem KA, untuk meminimalisir HUMAN ERROR.
Faktanya tabrakan karena MASINIS microsleep itu amat sangat sedikit sekali terjadinya, karena semua usaha keras secara serius sekali dipusatkan kesitu, "BAGAIMANA MENCEGAH MASINIS tertidur dalam tugas, dan TABRAKAN KA TIDAK TERJADI".
GERBONG ALING-ALING itu solusi : yang kagetan, yang panik, yang cari selamet sendiri (para bos PT KA), yang mengorbankan ujung tombak operasi yaitu MASINIS, dan tidak menyentuh masalah sama sekali, "MENGAPA MASINIS TERTIDUR (MICRO SLEEP) dalam TUGAS".
Cuma memikirkan diri sendiri, pokoknya jabatan gue SLAMET.
SAMA dengan PENYEBAB JATUH KORBAN AKIBAT PLH ITU TABRAKAN (SEKALI LAGI TABRAKAN KA) dan BUKAN KARENA TIDAK TERSEDIANYA GERBONG ALING-ALING di rangkaian tadi.
Dan menjaga KA agar tidak sampai tabrakan itu (amat) BISA, wong contohnya ada banyak koq dimana-mana.
Benar-benar saya gak ngerti bagaimana sih pola berpikir boss-boss (yang membuat keputusan di PT KA) dan menteri terkait yang membiarkan Logika Bengkok ala Gerbong Aling-aling begini dipakai (atau malah menteri-nya yang ngotot?).
Soal kereta kosong buat buat bawa bagasi/barang yang ditaruh paling depan atau paling belakang itu kan sudah ada dari dulu, angkutan barang itu kan ada yang "barang grobakan", ada yang "barang potongan", tapi itu kan pola berbisnis KA, dan gak ada urusannya dengan PLH sama sekali.
Kalau gak mau PLH ya JANGAN TABRAKAN, TITIK.
Kalau mau berbisnis gerbong bagasi ya bawa kereta bagasi, tapi karena untuk urusan bisnis dan bukan karena untuk aling-aling.
yang telah terjadi ialah DIPLINTIR (LOGIKANYA), karena panik dan ketakutan amat sangat, maka segera nyamber solusi GERBONG ALING-ALING. Ketika di kritik kanan kiri habis-habisan, buru-buru berkilah pakai Logika BENGKOK, "kan bisa dipakai angkutan barang kerja sama dengan expedisi KA". Duh, Jawaban orang kepepet, keliru dan nge-les.
Adu RUSAK antara kondisi Gerbong Aling-aling melawan "akal-akalan anarki" pemakai jasa yang sudah amat sangat frustasi dengan keputusan konyol ini.
Trus dimuat / dikirim ke media cetak atau elektronik, sebagai HAK kritik publik, yang UANGNYA (melalui mekanisme pajak dan PT KA sebagai BUMN) dipakai untuk membiayai Gerbong-ALing-ALing ini.
Itu Duit Rakyat, bukan DUITNYA Boss PT KA itu. Kalau cuma dijadikan sasaran pelampiasan kejengkelan publik dan dihancurkan, itu namanya NGAWUR.
Biar publik yang menilai secara umum dan fair, seberapa "pintar" atau seberapa "blo-on" pembuat keputusan ini, menghambur-hambur-kan duit rakyat.
Kebayang nanti kemungkinan hasilnya :
- SADAR dan mencari solusi yang lebih baik, dan segera menghapus gerbong aling-aling --> pendekatan orang pintar
- tambah sangar, langsung minjam polisi sak-abreg, buat nangkepi pemakai jasa yang "anarkis" karena "frustasi" --> pendekatan tangan besi
- cuek gak peduli sama sekali, mau ngabisin stock kereta, mau hancur remuk kaca, jendela pintu, bukan punya gue, bukan urusan gue --> gak ada pendekatan, wong udah cuek kok.
Gerbong Aling-aling bukan untuk melindungi pemakai jasa KA (itu alasan paling buncit dan salah), yang nomor satu ialah upaya melindungi jabatan para boss PT KA, yang amat sangat ketakutan bila ada PLH lagi dan jatuh korban.
Saya (hanya) menyampaikan apa yang ada di pikiran dan pendapat saya (karena itu hak saya), dan yang saya sampaikan (menurut saya) ada dasarnya.
Dan saya (selalu) berusaha untuk SEIMBANG antara menilai MANAJEMEN Per-KA-an (di satu pihak - Boss / atau yang mewakili Boss) dengan para Operator Lapangan sebagai Ujung Tombak Operasional (karyawan).
Pendapat saya:
KE-SATU
100 persen saya TIDAK SETUJU GERBONG-ALING-ALING, karena itu secara LUGAS dan JELAS pesannya ke MASYARAKAT ialah " AWAS, NAIK KA di INDONESIA ITU BERBAHAYA (makanya perlu Gerbong Aling-aling). Sedemikian burukkah dan tak berdayanya manajemen operational KA di Indonesia ????.
Selain itu, keberadaan gerbong aling-aling itu (kalau amat disukai oleh PT KA) harus sebagai ADD ON, artinya kalau dulunya keretanya 8 kereta, sekarang HARUS = 8 + 2 = 10 alias SEPULUH kereta, TIDAK BOLEH MENGURANGI EXISTING CONFIGURATION, sebab itu artinya MENGURANGI LEVEL PELAYANAN (dengan menjejalkan penumpang ke jumlah kereta yang lebih sedikit karena dikurangi untuk gerbong aling-aling).
KE-DUA
Kalau ada PLH solusinya ya (menurut LOGIKA) di hilangkan PLH nya, prinsip SEBAB - AKIBAT murni dan langsung ke masalahnya.
yang terjadi (setidak nya yang di umumkan ke masyarakat) malah langsung loncat ke SOLUSI PENCEGAHAN TIDAK LANGSUNG yang NOMOR KE-SEKIAN (alias nomor buncit), dan optional, artinya kalau memang PT KA bisa menjamin tidak ada PLH (lagi) lalu ngapain mesti pakai aling-aling. Bukan malahan di plintir "kan bisa untuk usaha bisnis gerbong bagasi/barang". Bisnis ya bisnis, silakan, tapi kalau masalahnya PLH ya hilangkan dan cegah PLH-PLH itu.
RF spoor_jadul, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Jul 2010.




seharusnya, keselamatan masinis juga diperhitungkan kan....... bagaimanapun juga, kalo nggak ada masinis kta kan juga susah. aling2 td usah dihapus. tp diganti saja formasinya seperti ini:![[Image: 219382_200998059935392_100000755978450_4...4537_o.jpg]](http://hphotos-snc6.fbcdn.net/219382_200998059935392_100000755978450_484638_8104537_o.jpg)


maaf kalo kata2 ane kurang berkenan


![[Image: 10p0h7r.jpg]](http://i37.tinypic.com/10p0h7r.jpg)

![[Image: warteg.png]](http://img832.imageshack.us/img832/6434/warteg.png)