Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kompetitor PTKA
#41
(30-12-2013, 07:42 AM)brantas Wrote: Tapi saya yakin jumlah penumpang GMR - BD saat ini masih kalah dibanding tahun 2001

Komparasinya apa nggak kejauhan ya, Kang...? Tahun 2001 dibanding tahun 2013. Ada rentang waktu sekitar 12 tahun lho. Tahun 2001 saya pikir blm ada jalan tol Cipularang, org bepergian dari JKT - BD atau sebaliknya msh favorit menggunakan kereta api atau malah (mungkin) pesawat. Kalo naik bis, travel atau kendaraan pribadi lbh lama krn memutar liwat Puncak.

Nah, tahun segitu jumlah penumpang koridor GMR - BD itu apa sdh termasuk penumpang yg tdk bertiket...? Kan udah jd rahasia umum, tahun segitu cukup beli tiket peron bs naik kereta api sampai BD atau malah bs sampai SB. Ngakak

Setelah dibukanya jalan tol Cipularang apa iya org2 yg awalnya menggunakan jasa kereta api sampai saat ini masih terus menggunakan jasa layanan bis atau travel...? Saya rasa nggak semuanya. Orang itu akan mempunyai kecenderungan utk menggunakan moda transportasi yg lbh baik. Awalnya naik kereta api, tp karena kalah cepat beralih menggunakan bis atau travel. Eh ternyata kepemilikan kendaraan pribadi (mobil) sekarang dipermudah, DP rendah, angsuran ringan, akhirnya kredit mobil dech. Lebih fleksibel & setiap akhir pekan atau hari2 libur bs jalan2 ke JKT atau BD bareng keluarga.


(30-12-2013, 08:05 AM)yusirwan Wrote: Apakah keunggulan KA itu karena tdk macet doang.....?Bingung
Untuk jurusan Bandung - Jakarta (gambir) yg di hapus sebenarnya kelas bisnisnya (parahyangan). Kalo di liat utk penumpang kelas eksekutif sampe sekarang masih tetap eksis...

Kasus Parahyangan kayaknya menjadi pelajaran bagi Manajemen PT KA untuk;
1. Menata lagi bisnis transportasi KA nya, menetapkan standar kelas penumpang, pentarifan.
2. melihat, menciptakan terobosan2 baru dalam transportasi KA.
3. dll

Masih banyak jalur2 KA yg menyimpan potensi yg bisa dikembangkan..

Nggak usah bingung, Kang... Lha terus keunggulan lainnya apa saja menurut sampeyan...?
Kalo soal standar kelas penumpang itu sekarang cuma ada 3, eksekutif, bisnis & ekonomi. Dah nggak ada lg kelas Argo, dah nggak sesuai dgn tuntutan zaman itu... Ngakak
Apalg kelas bisnis, secara jumlah seat cuma beda 14 seat dgn kelas eksekutif, jd nggak bs fleksibel kalo buat nggoyang harga. Coba perhatikan saja, setiap pembukaan rute jarang kelas bisnis yg ditawarkan kan...? Kecuali Sidomukti, biasanya full K3 atau kelas campuran K1 & K3.


(30-12-2013, 08:50 PM)cc 204 18 Wrote: Bapak saya dulu sering ke Bandung nai mobil, sekarang lebih suka naik GoPar, alasannya menghindari macetNgeledek

Semenjak munculnya titik kemacetan di sepanjang jalan tol Cipularangleunyi + Cawang-Cikampek, saya melihat banya orang yangkini condong naik GoPar demi menghindari kemacetan. Mungkin salah satu buktinya adalah banyaknya Gopar tambahan yang kini beroperasi semenjak pertengahan 2013, menunjukkan antusiasme penumpang untuk naik GoPr kini mulai tumbuh kembali, semoga GoPar bisa merintis kembali kejayaan Jalur Parahyangan (tapi entahlah jika KA Cepat Jakarta-Surabaya benar2 bakal lewat Bandung, nasib GoPar bakal mati)

Yg dimaksud KA Cepat itu HST (High Speed Train) ya, Kang...? Biasanya sich nggak akan jauh2 dari ada harga ada rupa... :p
Reply
#42
(30-12-2013, 08:50 PM)cc 204 18 Wrote:
(30-12-2013, 06:17 PM)CC-201-23 Wrote:
(30-12-2013, 08:05 AM)yusirwan Wrote:
(30-12-2013, 07:42 AM)brantas Wrote:
(30-12-2013, 12:12 AM)Logawa_ATB Wrote: Kalo dibilang babak belur saya rasa nggak jg sich, buktinya Gopar masih segar bugar sampai sekarang... :p
Andai saja manajemen KAI di tahun sebelum 2009 bs membaca arah kebijakan politik Pemerintah yg mengutamakan jalan tol & kendaraan pribadi, saya rasa gak akan ada 2 kereta digabung jadi 1 nama yaitu Gopar. Buru2 ajah "membuang" penumpang K2 (Parahyangan) ke moda transportasi lainnya Ngakak

Dulu kereta api dijadikan moda transportasi unggulan, tp oleh manajemen KAI yg sekarang sdh digeser jd moda transportasi alternatif. Bila jalan tol Ciawi - Sukabumi sdh jadi kereta api koridor BOO-SI saya rasa akan baik2 saja, kan fungsinya hanya sebagai alternatif. Lgpl nantinya jalan tol tsb isinya kebanyakan Avanzah, Xeniah, Ertigah, Agyah & Aylah. Nggak yakin jg bis akan sebanyak populasi ke 5 kendaraan tsb.

Nah, kalo jalan raya atau jalan tol sdh mulai macet baru KAI bs bikin slogan trus ditempel di KM. Macet...? Bukan urusan gue gitu looh...! Ngakak

Tapi saya yakin jumlah penumpang GMR - BD saat ini masih kalah dibanding tahun 2001


Apakah keunggulan KA itu karena tdk macet doang.....?Bingung
Untuk jurusan Bandung - Jakarta (gambir) yg di hapus sebenarnya kelas bisnisnya (parahyangan). Kalo di liat utk penumpang kelas eksekutif sampe sekarang masih tetap eksis...

Kasus Parahyangan kayaknya menjadi pelajaran bagi Manajemen PT KA untuk;
1. Menata lagi bisnis transportasi KA nya, menetapkan standar kelas penumpang, pentarifan.
2. melihat, menciptakan terobosan2 baru dalam transportasi KA.
3. dll

Masih banyak jalur2 KA yg menyimpan potensi yg bisa dikembangkan..

Gopar bisa bersaing dgn roda karet karena waktu tempuh ban karet bisa molor di GT Pondok Gede Timur & Pasteur, yg cenderung macet pada masa liburan

Bapak saya dulu sering ke Bandung nai mobil, sekarang lebih suka naik GoPar, alasannya menghindari macetNgeledek

Semenjak munculnya titik kemacetan di sepanjang jalan tol Cipularangleunyi + Cawang-Cikampek, saya melihat banya orang yangkini condong naik GoPar demi menghindari kemacetan. Mungkin salah satu buktinya adalah banyaknya Gopar tambahan yang kini beroperasi semenjak pertengahan 2013, menunjukkan antusiasme penumpang untuk naik GoPr kini mulai tumbuh kembali, semoga GoPar bisa merintis kembali kejayaan Jalur Parahyangan (tapi entahlah jika KA Cepat Jakarta-Surabaya benar2 bakal lewat Bandung, nasib GoPar bakal mati)


Untuk lintas Jakarta-Bandung titik kemacetannya;
Dari Fly over cikunir sampe gerbang tol cikarang utama bisa 1 jam atau lebih..
di tol cipularang, pas lajur pendakian...
di gerbang tol, pasteur, pasir koja, dll...

Kalo di lihat dari tahun ke tahun, penambahan jalan juga semakin banyak, tapi macetnya juga semakin parah....Mikir Dulu

jadi bisa di katakan penambahan jalan tidak sebanding dengan penambahan kendaraan, penambahan kendaraan lebih cepat dari penambahan jalan..

setiap pabrik mobil, motor berlomba-lomba meningkatkan penjualan, meningkatkan produksi...

Dalam seharinya utk jakarta dan sekitarnya bisa puluhan mobil baru turun ke jalan, dan puluhan bahkan ratusan motor baru turun kejalan....

sekarang bukan Jakarta aja yg macet, kota2 lain di indonesia sudah mulai tertular penyakit "macet"...

Nanti semua jalanan di kota2 di indonesia jadi penuh dgn kendaraan bermotor...
Reply
#43
(31-12-2013, 12:19 AM)Logawa_ATB Wrote:
(30-12-2013, 07:42 AM)brantas Wrote: Tapi saya yakin jumlah penumpang GMR - BD saat ini masih kalah dibanding tahun 2001

Komparasinya apa nggak kejauhan ya, Kang...? Tahun 2001 dibanding tahun 2013. Ada rentang waktu sekitar 12 tahun lho. Tahun 2001 saya pikir blm ada jalan tol Cipularang, org bepergian dari JKT - BD atau sebaliknya msh favorit menggunakan kereta api atau malah (mungkin) pesawat. Kalo naik bis, travel atau kendaraan pribadi lbh lama krn memutar liwat Puncak.

Nah, tahun segitu jumlah penumpang koridor GMR - BD itu apa sdh termasuk penumpang yg tdk bertiket...? Kan udah jd rahasia umum, tahun segitu cukup beli tiket peron bs naik kereta api sampai BD atau malah bs sampai SB. Ngakak

Setelah dibukanya jalan tol Cipularang apa iya org2 yg awalnya menggunakan jasa kereta api sampai saat ini masih terus menggunakan jasa layanan bis atau travel...? Saya rasa nggak semuanya. Orang itu akan mempunyai kecenderungan utk menggunakan moda transportasi yg lbh baik. Awalnya naik kereta api, tp karena kalah cepat beralih menggunakan bis atau travel. Eh ternyata kepemilikan kendaraan pribadi (mobil) sekarang dipermudah, DP rendah, angsuran ringan, akhirnya kredit mobil dech. Lebih fleksibel & setiap akhir pekan atau hari2 libur bs jalan2 ke JKT atau BD bareng keluarga.


(30-12-2013, 08:05 AM)yusirwan Wrote: Apakah keunggulan KA itu karena tdk macet doang.....?Bingung
Untuk jurusan Bandung - Jakarta (gambir) yg di hapus sebenarnya kelas bisnisnya (parahyangan). Kalo di liat utk penumpang kelas eksekutif sampe sekarang masih tetap eksis...

Kasus Parahyangan kayaknya menjadi pelajaran bagi Manajemen PT KA untuk;
1. Menata lagi bisnis transportasi KA nya, menetapkan standar kelas penumpang, pentarifan.
2. melihat, menciptakan terobosan2 baru dalam transportasi KA.
3. dll

Masih banyak jalur2 KA yg menyimpan potensi yg bisa dikembangkan..

Nggak usah bingung, Kang... Lha terus keunggulan lainnya apa saja menurut sampeyan...?
Kalo soal standar kelas penumpang itu sekarang cuma ada 3, eksekutif, bisnis & ekonomi. Dah nggak ada lg kelas Argo, dah nggak sesuai dgn tuntutan zaman itu... Ngakak
Apalg kelas bisnis, secara jumlah seat cuma beda 14 seat dgn kelas eksekutif, jd nggak bs fleksibel kalo buat nggoyang harga. Coba perhatikan saja, setiap pembukaan rute jarang kelas bisnis yg ditawarkan kan...? Kecuali Sidomukti, biasanya full K3 atau kelas campuran K1 & K3.


(30-12-2013, 08:50 PM)cc 204 18 Wrote: Bapak saya dulu sering ke Bandung nai mobil, sekarang lebih suka naik GoPar, alasannya menghindari macetNgeledek

Semenjak munculnya titik kemacetan di sepanjang jalan tol Cipularangleunyi + Cawang-Cikampek, saya melihat banya orang yangkini condong naik GoPar demi menghindari kemacetan. Mungkin salah satu buktinya adalah banyaknya Gopar tambahan yang kini beroperasi semenjak pertengahan 2013, menunjukkan antusiasme penumpang untuk naik GoPr kini mulai tumbuh kembali, semoga GoPar bisa merintis kembali kejayaan Jalur Parahyangan (tapi entahlah jika KA Cepat Jakarta-Surabaya benar2 bakal lewat Bandung, nasib GoPar bakal mati)

Yg dimaksud KA Cepat itu HST (High Speed Train) ya, Kang...? Biasanya sich nggak akan jauh2 dari ada harga ada rupa... :p

Setau saya di awal tahun 2000-an Argo Gede dan Parahyangan begitu mendominasi koridor Jakarta (GMR) - BD. Perjalanannya hampir setiap jam. Harga tiket Parahyangan juga jauh lebih mahal dibanding Cireks. Maklum saat itu Cipularang belum ada, jd travel C*p*g*nt* belum menonjol. Satu-satunya angkutan umum ya bus pr*m*j*s* dan b*d*m*n. Jadi saat itu tiap jumat sore Argo Gede dan Parahyangan GMR-BD penumpangnya rata-rata di atas 130%
PS: waktu itu saya pernah minta data okupansi ke sarpen daop 1, argo gede dan parahyangan adalah koridor yang pemasukannya paling banyak dibanding koridor lain (khususnya jumat sore dan senin pagi)
Tambah kecepatan kereta api agar tdk kalah bersaing setelah Toll Trans-Jawa rampung...
Reply
#44
(01-01-2014, 01:44 AM)brantas Wrote: Setau saya di awal tahun 2000-an Argo Gede dan Parahyangan begitu mendominasi koridor Jakarta (GMR) - BD. Perjalanannya hampir setiap jam. Harga tiket Parahyangan juga jauh lebih mahal dibanding Cireks. Maklum saat itu Cipularang belum ada, jd travel C*p*g*nt* belum menonjol. Satu-satunya angkutan umum ya bus pr*m*j*s* dan b*d*m*n. Jadi saat itu tiap jumat sore Argo Gede dan Parahyangan GMR-BD penumpangnya rata-rata di atas 130%
PS: waktu itu saya pernah minta data okupansi ke sarpen daop 1, argo gede dan parahyangan adalah koridor yang pemasukannya paling banyak dibanding koridor lain (khususnya jumat sore dan senin pagi)

Wah, mantap tuch saben jam jalan pd saat itu. Saking bangganya dgn okupansi tsb & tdk ada kompetitor yg berjalan di jalan yg sama akhirnya nggak waspada dgn kompetitor lain yg siap mengancam.

Nah, kalo mau ditelusuri lebih jauh kira2 beralih kemana penumpang KA koridor GMR-BD yg mencapai 130% saat itu di masa sekarang...? Menggunakan bis, travel atau kendaraan pribadi...?

Nyoba browsing2 di Youtube dpt video kayak gini, silakan dinikmati (kalo blm pernah nonton). Agar dimaafkan kalo Pak Dirut jg bs lupa & salah sebut nama KA. Ngakak
▶ YouTube
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)