Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Dan Malaysia pun terinspirasi Indonesia..
#31

[Image: _DSC0376a.jpg]
Reply
#32
Mungkin karena tahun2 kemaren ada studi banding pegawai2 KTMB ke musium Ambarawa ya ? Bingung

http://groups.yahoo.com/group/jalan_jalan/message/84

Quote:KA Bergigi, "The Queen of The Java Mountain"

PAGI itu, pada sebuah pekan di akhir bulan Agustus, Stasiun Ambarawa, Jawa Tengah yang biasa lengang, terlihat ada sedikit keramaian. Para pedagang makanan dan suvenir terlihat aktif menawarkan barang dagangan mereka kepada sekelompok orang berwajah Asia yang baru saja turun dari bus pariwisata. Rombongan orang itu adalah para pegawai PT Kereta Api Tanah Melayu Berhad (KTMB), Malaysia.Kepala Stasiun Ambarawa, Sudono, dan Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daops) IV Suprapto, menyambut tamu istimewa dari negara tetangga yang sedang melakukan wisata sekaligus studi banding ini. Para tamu diterima di ruang kepala stasiun dan dihidangkan teh hangat serta jajanan pasar untuk mengganjal perut mereka.

Stasiun Ambarawa yang bernama asal Stasiun Willem I, merupakan stasiun yang dibangun Nederlandsch Indische Spoorweg Maatscappij. Tujuan pendirian stasiun itu seiring dengan invasi militer Belanda di tanah Jawa. Kota Ambarawa sejak zaman Belanda merupakan daerah militer. Tak heran bila Raja Willem I berkeinginan untuk membangun stasiun kereta api guna memudahkan pengangkutan pasukan. Saat itu Belanda membuka jalur Yogyakarta-Magelang, kemudian merambah ke Secang dan akhirnya sampai Ambarawa dan Semarang.

Namun tahun 1970, Stasiun Ambarawa ditutup. Akibatnya, jalur Semarang-Magelang-Yogyakarta menjadi mati. Tahun 1976, Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Rustam menjadikan Stasiun Ambarawa itu sebagai Museum Kereta Api.

Di dalam museum itu terdapat 21 lokomotif kuno buatan tahun 1891 hingga 1922. Lokomotif kuno ini buatan dari berbagai negara, yaitu Belanda, Inggris, Jerman, dan Swiss. Pabrik pembuatnya pun beraneka ragam, ada buatan pabrik Hartmann Chemnitz Belanda, Beyer Peacock Manchester Inggris, Hanomag Hannover Jerman, Sachistik MF Chemnits Jerman, Wintherthur Scheweis, Werk Spoor Amsterdam, dan Hanshel Shassel Jerman.

Sebelum lokomotif menggunakan mesin diesel seperti sekarang, kereta api zaman dulu menggunakan mesin uap yang bahan bakarnya batubara atau kayu. Lokomotif zaman dulu umumnya terbuat dari baja dengan bentuk mayoritas memiliki cerobong asap. Warna lokomotif hitam kelam. Bunyinya pun khas pluit nyaring yang panjang, tit... tit.... Bunyi itu dikenal dengan istilah Semboyan 35.

***



SEUSAI sarapan pagi, rombongan pegawai kereta api Malaysia ini berkeliling di sekitar bangunan stasiun. Seperti layaknya wisatawan, mereka berfoto bersama. Bangunan stasiun disangga oleh tiang-tiang besi baja yang sangat kuat dengan atap melengkung.

Tiba-tiba terdengar bunyi pluit panjang, yang sungguh nyaring melebihi lengkingan pluit persiapan perjalanan KA modern. Itulah kereta api uap kuno. Lokomotif kereta api itu berwarna hitam kelam dengan cerobong asap besar di bagian depan. Lokomotif buatan tahun 1902 itu menarik dua gerbong kayu berwarna hijau dengan jendela tanpa kaca.

Namun, lokomotif bernomor B 2503 ini berbeda dengan lokomotif-lokomotif lain yang merupakan koleksi museum itu. Lokomotif kereta api uap kuno ini memiliki gigi untuk menjepit bantalan rel khusus yang dipasang di bantalan rel sepanjang Stasiun Jambu, sebuah stasiun kecil yang berjarak lima kilometer dari Stasiun Ambarawa, menuju Stasiun Bedono (berjarak 10 kilometer dari Stasiun Ambarawa).

Dulu merupakan track kereta dari Ambarawa-Secang-Magelang-Yogyakarta. Namun, kini track yang baru dibuka hanyalah Ambarawa-Bedono. Track lainnya dalam keadaan rusak parah karena sudah lama jalur tersebut ditutup.

Begitu kereta api kuno itu datang, rombongan pegawai kereta api Malaysia itu langsung mendekat. Dengan kamera digital yang dimiliki masing-masing, mereka berpose. Saling memfoto satu sama lain.

"Wah, perjalanannya pasti seronok (menyenangkan) sekali," ujar seorang pria setengah baya yang mengenakan kaus merah bergambarkan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Sudono, Kepala Stasiun Ambarawa, melalui pengeras suara mempersilakan para wisatawan untuk naik ke kereta api kuno itu. Para wisatawan segera menaiki kedua gerbong, yang masing-masing gerbong berkapasitas hanya 90 tempat duduk. Seorang pria naik ke gerbong dengan membawa tampah yang berisikan jagung rebus, kacang rebus, ubi rebus, dan talas goreng. Ia pun mempersilakan wisatawan untuk mencicipi makanan itu.

Tit... tit...., bunyi Semboyan 35 yang ditiupkan oleh masinis, sebagai tanda kereta akan diberangkatkan. Roda besi kereta terdengar mulai berputar, menggesek bantalan rel baja. Dari cerobong lokomotif keluar asap putih.

Perjalanan pun dimulai. Sudono terus memandu perjalanan, meski perlahan kereta mulai menjauhi Stasiun Ambarawa, menuju kawasan pedesaan. Stasiun Ambarawa terletak pada ketinggian 474 meter di atas permukaan laut (dpl), sementara Stasiun Bedono berada pada ketinggian 711 meter dpl.

"Alamnya persis seperti di Malaysia. Banyak sawah ataupun kebun," ujar Musa Abdul Rahman, Senior Officer PT Kereta Api Tanah Melayu (KTM) Berhad Malaysia (setingkat Kepala Daops), pemimpin rombongan.

Meski tidak dilengkapi air conditioner (AC), sirkulasi udara sangat bagus. Angin dari jendela tak berkaca menerpa rambut para wisatawan yang sedang asyik bercerita ataupun tertawa. Beberapa wisatawan berdiri di antara sambungan gerbong-gerbong KA itu. Beberapa di antaranya berdiri di belakang lokomotif. Mereka ingin mengabadikan perjalanan dengan kereta api kuno itu.

Kereta api perlahan melewati desa-desa di sepanjang bantalan rel itu. Bunyi Semboyan 35 yang melengking tinggi ternyata membuat anak-anak desa yang tinggal di sepanjang bantalan rel itu keluar. Mereka berlari-lari menuju pinggir rel, sekadar untuk melambaikan tangan mereka ke arah para wisatawan. Beberapa ibu sambil menyuapi anaknya ikut berdiri di pinggir rel, menyaksikan kereta api bergigi yang lewat.

Kawasan menarik lainnya ketika bantalan rel kereta api melewati kawasan kebun kopi yang luas, "Kopi Eva". Bantalan rel itu berada di atas dan bersisian dengan jalan raya Ambarawa-Magelang. Beberapa pengemudi truk tronton ataupun penumpang bus antarkota melambai-lambaikan tangan.

***



TEPAT di Stasiun Jambu, stasiun kecil yang berjarak lima kilometer dari Stasiun Ambarawa, kereta berhenti sejenak. Lokomotif yang tadinya berada di depan kedua gerbong kayu dilepaskan dari sambungan gerbong kereta.

Lokomotif pun dilangsir. Namun, bukan hendak diganti dengan lokomotif yang lain, seperti yang kerap terjadi apabila lokomotif mengalami kerusakan mesin, lokomotif B 2503 itu ternyata dipindahkan ke belakang gerbong.

"Para wisatawan, baru saja lokomotif dipindahkan ke belakang gerbong kereta. Tujuan pemindahan ini, agar lokomotif itu bisa mendorong kedua gerbong kereta, ketika kereta api kita ini mendaki pegunungan. Setelah Stasiun Jambu ini, jalan mendaki menuju Stasiun Bedono. Kalau lokomotif tetap di depan, lokomotif diperkirakan tidak mampu menarik kedua gerbong," jelas Sudono dengan pengeras suara.

Kontan mendengar penjelasan itu, para wisatawan tertarik melihat lokomotif yang berada di belakang gerbong kereta. Uniknya lagi, track setelah Stasiun Jambu merupakan track khusus yang terdiri dari tiga bantalan rel baja. Rel di tengah itu merupakan rel tambahan untuk menahan kereta supaya tidak melorot ke bawah. Lokomotif B 2503 merupakan lokomotif unik yang memiliki gigi-gigi besi yang bisa menjepit bantalan rel yang khusus itu. Bantalan rel khusus ini berbeda dengan bantalan rel biasa yang terdiri dari satu besi baja panjang. Bantalan rel ini terdiri dari dua besi panjang yang di dalamnya terdapat besi-besi kecil yang melintang. Besi-besi kecil inilah yang dijepit oleh gigi-gigi besi lokomotif.

Beberapa wisatawan berjongkok melihat ke roda-roda besi lokomotif. Mereka penasaran ingin melihat cara kerja gigi-gigi besi itu. Beberapa di antaranya mencoba mendokumentasikan, meskipun sulit untuk melihat cara kerja gigi besi itu.

Setelah perjalanan selama 45 menit, akhirnya kereta berhasil sampai di Stasiun Bedono, sebuah stasiun kecil yang berjarak 10 kilometer dari Stasiun Ambarawa. Di stasiun itu, lokomotif diisi air dari pipa saluran air. Menurut masinis, untuk sebuah perjalanan dari Stasiun Ambarawa menuju Stasiun Bedono, kayu yang digunakan untuk merebus air menjadi uap sebanyak 2 ton.

Stasiun Bedono, merupakan stasiun kecil berwarna putih. Bangunan stasiun itu merupakan bangunan tua, yang dicat ulang sehingga terlihat baru. Dari segi kebersihan, bangunan ini sangat bersih dengan mandi cuci kakus (MCK) yang bersih. Sayangnya, stasiun ini sepi dari pedagang, sehingga sulit bagi wisatawan jika hendak membeli minuman, makanan kecil, ataupun rokok. Para wisatawan harus menunda hingga kembali ke Stasiun Ambarawa.

"Saya sungguh kagum kereta api kuno Indonesia masih terawat dan masih bisa beroperasi. Ini sungguh wisata yang menggembirakan, apalagi orang Indonesia ramah," kata Musa Abdul Rahman.

Wisata dengan kereta api uap kuno ini merupakan salah satu wisata menikmati alam pedesaan Jawa Tengah. Sayangnya, kereta api uap kuno ini hanya bisa dinikmati jika dipesan. Kereta api uap kuno ini tidak dijalankan secara reguler dan masyarakat umum tidak bisa mengaksesnya. Harga sewanya relatif mahal yaitu Rp 1,6 juta dengan lama perjalanan 45 menit pulang pergi. Wisata ini pun menjadi eksklusif.... (VINCENTIA HANNI S)
Berharap Rangkas Jaya ditarik lokomotif listrik..
Reply
#33
bravo KA Indonesia!!!
naik kereta api tut tut tut...
siapa hendak turut...
ke bandung... surabaya...
bolehlah turun di KROYA saja...
Reply
#34
Ayo Indonesia bangkit. jd mo di di bohongin mulu sama tetangga. tunjukin bahwa qt yg duluan klo bs smua kereta yg di Indonesia di kasih motif bati ato wayang ato apalah yg berbau Indonesia. Bravo Kereta api Indonesia maju trus jgn sampe kcolongan lg
Suara lokomotif C201 yg bikin kangenLok Merah Biru
Reply
#35
Jangan sampai media internasional menganggap malaysia yang mempelopori wisata ka uap
Reply
#36
(06-01-2011, 10:55 AM)MasRafif Wrote: Jangan sampai media internasional menganggap malaysia yang mempelopori wisata ka uap

Anda pasti kemakan media, sampai kaya dendam dengan Malaysia? NgeledekNgakak

Malaysia saat ini juga sudah punya atraksi wisata loko uap, yaitu di Sabah (Kalimantan Utara). Tapi itu tidak dioperasikan oleh KTMB, karena jalur KA di Sabah itu bukan milik KTMB.

KTMB tadinya pingin bikin KA wisata uap ditarik oleh loko uap "Temerloh". Tapi sayangnya, saat ini loko itu malah teronggok di stasiun Johor Bahru yang lama.
Reply
#37
ya kalau ga bikin masalah lagi sih ga apa2.
Reply
#38
bangkit dan lestarikan loko UAP,
Reply
#39
(31-05-2010, 09:16 PM)bagus70 Wrote: Rupanya kesuksesan Indonesia mengoperasikan KA uap di Ambarawa, serta kesuksesan menghidupkan lagi KA wisata "Sepur Klutuk Jaladara" di Solo, dan khususnya Mak Itam di Sumatera Barat (rasanya dari sini idenya, karena banyak orang besar di Malaysia dari etnis Minang) menginspirasi KTM Malaysia untuk menghidupkan kembali loko uap terakhir mereka yang beroperasi "Temerloh" untuk dioperasikan untuk KA Wisata.

Harapan saya sih, ada baiknya KA wisata kita dioperasikan di media asing kaya Discovery Travel & Living, BBC, atau National Geography, daripada nantinya di media-media itu, malah Malaysia yang dianggap mempelopori preservasi loko uap di Asia Tenggara....

Mohon agar ditanggapi dengan arif, karena orang Malaysia sebenarnya memandang kita (orang Indonesia) sebagai orang yang lebih senior pengalaman, dan selalu berusaha agar hubungan kedua negara baik.

Ini detailnya.
Apa sih yg kita buat mereka gak pengen...???Bye Bye

[spoiler=BRAKE.Emergency use only]

[/spoiler]
Reply
#40
Indonesia BAGOES....
kalo ngga salah INKA lagi ikut tender pengadaan trem di negri upin ipin itu deh. Bingung
twitter : @zulfahmiID
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: