Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kalau Saja Pusat Pemerintahan Bukan di Jakarta
#21
Wah, baca trit ini kaya'y panas bgt debat'y Xie Xie yang pasti ane sebagai rakyat'y cuma bisa kasih saran bt pemerintah, apabila benar jadi pindah ea setidaknya tidak meninggalkan daerah yg hampir parah dgn sia2, harus ada pula perbaikan secara bertahap & merata, truz u/ t4 yg emg bkl d'pilih sbg ganti ( entah hya pindah t4 dinas atw pindah Ibukota ) Jakarta, semoga saja bisa mendongkrak ekonomi masyarakat sekitar dgn di persiapkan sarana & prasarana yg cukup u/ k'laik'an sebuah Ibukota.Bye Bye
[Image: overstappen.png]
tapi emg, kalo d'pQr2 secara materil, jika benar jadi pindah. Otomatis dari tata Kota, Airport, Terminal Bus & mgQn juga ada atau di perlukan'y Jalur KA, harus ada pembenahan total dong sesuai kelayakan standard Internasional. bakal menyedot anggaran yg cukup "Waahh..." dong kalo gitu & imbas'y k'depan bakal ada masalah baru, ntah itu Kemiskinan, Pendidikan menurun, Sembako melambung & msh byk faktor lain mgQn yg bkl terjadi. Oopps... Udah jauh dari topik nih, kaya Menteri Ekonomi aja.NgakakNgakak
MONGGO ( facebok- Pengumuman -flicker ) MAMPIR
Reply
#22
(03-10-2010, 09:59 PM)Mbah Onie Van Spoor Wrote: Wah, baca trit ini kaya'y panas bgt debat'y Xie Xie

Iya kayaknya di semua forum pembahasan ini panas juga. Yang orang Jakarta tak mau kehilangan status Jakarta sebagai pusat segalanya, yang orang daerah minta keadilan.

Makanya panas. Untungnya di sini nggak jadi "meltdown" atau "fallout".
Reply
#23
cuma, pemindahan ibukota itu butuh waktu lho. gak bisa simlalabim besok pindah. paling enggak 30 tahun kedepan baru bisa terealisasi.

saya tetap mendukung ibukota berada diluar jawa. favorit saya tetap palembang. palangkaraya urutan keduanya.

nah, kalau misalnya ibukota dipindah tetapi tetap di jawa, saya tidak setuju dengan jonggol. soalnya terlalu dekat dengan jakarta.

daripada jonggol, kenapa tidak GLENMORE saja? keren kan? Ngakak
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#24
palangkaraya jadi ibukota...?? hebat banget yah kayaknya..... pulau luas, cenderung datar...., ada polusi ....??? langsung disedot hutan belantara (kalo gak dirusak)
pokoknya pusat pemerintahan pindah ke palangkaraya, dan biarkan jakarta dengan kesemrawutannya, (hehehehe)
jadikan kota yg resik, kendaraan dibatasi, kebanyakan transportasi massal yg beroperasi, kebijakan yg kayak di kota besar negara maju sana... asik deh ngebayanginnya
Senangnya kulihat para petani melepas lelah dan berhenti sejenak untuk melihat Kereta Api melewati ladang mereka.....
Terharu
Reply
#25
yang pasti kalau dinas di surabaya, dia bakalan tinggal di surabaya gan...
karena jkt-sby itu jauh gan...
Big Grin
Depok Express
Reply
#26
Kalau jangka pendek, memindahkan ibukota itu mahal sekali. Tapi dalam jangka panjang, itu adalah sangat murah sekali.
Reply
#27
Bung Karno memang seorang planner jenius. Dia tau kalo Jakarta kelak akan menanggung beban berat sebagai pusat segalanya. Pilihannya untuk menjadikan Palangkaraya sebagai ibukota Indonesia memang gak asal2an, karena letaknya yang persis di tengah2 negara, serta sepulau dengan Malaysia dan Brunei (ingat 'kan politik Ganyang Malaysia jaman dulu?).

Untuk itu, ia menugaskan insinyur Belanda, Van der Pijl untuk merancang tata letak Palangkaraya. Makanya kotanya itu bagus dipandang sampe sekarang, walaupun tak seramai Banjarmasin. Van der Pijl juga yang merancang Banjarbaru dan menetap di sana sampe akhir hayatnya. Biasa toh, kota2 rancangan Belanda tu bagus2, kayak Balikpapan, Malang, dan Bandung misalnya. Di samping itu, Bung Karno juga mengundang insinyur asal Uni Soviet untuk membuat jalan raya yang menghubungkan Palangkaraya dengan Pangkalanbun (kota pelabuhan). Jalan tersebut dibuat dengan mengeduk tanah gambut sampe ketemu tanah kerasnya, lalu ditimbuni batu, pasir, dll, truz diaspal. Cara seperti ini memang 3 kali lebih mahal dari cara biasa (hanya dipasang patok2 kayu galam), tapi ketahanannya 5 kali lebih lama. Sayang, iklim politik cepat berubah. Bung Karno terdepak, dan insinyur Uni Soviet tadi terpaksa pulang ke negaranya (catatan: cerita ini pernah dimuat di Kompas, tanggalnya lupa).

Benar kata mas bagus70, ibukota negara memang tidak perlu terlalu ramai. Saya ambil contoh Turki (soalnya pernah ke sini). Ibukotanya Ankara, tapi kota terbesarnya Istanbul, 3 kali lebih besar dari Ankara, tentu saja ramean Istanbul daripada Ankara. Banyakan turis dateng ke Istanbul daripada Ankara, maklum pintu masuk Turki. Dalam masalah transportasi massal dalam kota berbasis rel aja, Istanbul jauh lebih lengkap daripada Ankara. Istanbul punya LRT, Metro, kereta kabel, ama trem (ada 2 macam trem: trem modern ama antik). KA legendaris Orient Express aja berhenti di Istanbul (Sta. Sirkeci tepatnya). Sementara Ankara cuma punya subway aja (Ankaray).
SAYA BERHARAP SEMUA PULAU BESAR DI INDONESIA MEMILIKI JALUR KERETA API
Reply
#28
Makanya saya mendukung wacana pemindahan pusat pemerintahan dari Jakarta. Selama Jakarta pusat segalanya, selama itu pula Indonesia akan mundur terus. Jakarta mestinya hanya fokus untuk pusat jasa keuangan saja, seperti Sydney atau New York.
Reply
#29
Bagaikan seorang penderita penyakit yang dikasih obat buat mencegah saja, bukan mengobati. Itu berarti di kemudian waktu entah bbrp jam lagi bbrp hari lagi akan terserang sakit lagi. Brgitu pun dengan kota Jakarta beserta Bodetabek-nya. Sekali bangun ruas jalan raya, pusat perbelanjaan, gedung2 perkantoran, perumahan, apartemen, RS dan masih banyak lagi, maka akan seterusnya cuma mencegah 2 persepsi yang berbeda. Persepsi pertama, mencegah dari keterpurukan perkembangan zaman. Perkembangan zaman selalu identik dengan kemuktahiran. Makanya mungkin tanpa adanya emol, pelaza, mobil, dsb akan ketinggalan dg negara lain. Persepsi kedua, mencegah dari kekurangan yang ada. Sebut saja itu ruas jalan raya yg dipandang selalu macet oleh arus kendaraan bermotor. Mengapa? Karena kebanyakan lampu lalu lintas, karena bersinggungan dg perlintasan KA, karena melewati ruas - ruas jalan tertentu. Maka itu dibangunlah tol, jembatan, terowongan dan masih banyak lagi. Makanya bukan sekedar memandang kita ini penggemar KA, tapi memang yang sebetulnya harus dikembangkan yah transportasi massal macem KA yg 1x angkut bisa >1000 orang terangkut ketimbang bus Trans Jakarta yg maksimal cuma 85 orang tiap bus. Itu pun kalau ke-85 penumpang keangkut semua...

Reply
#30
(06-02-2011, 05:23 PM)adhitka Wrote: Bung Karno memang seorang planner jenius. Dia tau kalo Jakarta kelak akan menanggung beban berat sebagai pusat segalanya. Pilihannya untuk menjadikan Palangkaraya sebagai ibukota Indonesia memang gak asal2an, karena letaknya yang persis di tengah2 negara, serta sepulau dengan Malaysia dan Brunei (ingat 'kan politik Ganyang Malaysia jaman dulu?).

Untuk itu, ia menugaskan insinyur Belanda, Van der Pijl untuk merancang tata letak Palangkaraya. Makanya kotanya itu bagus dipandang sampe sekarang, walaupun tak seramai Banjarmasin. Van der Pijl juga yang merancang Banjarbaru dan menetap di sana sampe akhir hayatnya. Biasa toh, kota2 rancangan Belanda tu bagus2, kayak Balikpapan, Malang, dan Bandung misalnya. Di samping itu, Bung Karno juga mengundang insinyur asal Uni Soviet untuk membuat jalan raya yang menghubungkan Palangkaraya dengan Pangkalanbun (kota pelabuhan). Jalan tersebut dibuat dengan mengeduk tanah gambut sampe ketemu tanah kerasnya, lalu ditimbuni batu, pasir, dll, truz diaspal. Cara seperti ini memang 3 kali lebih mahal dari cara biasa (hanya dipasang patok2 kayu galam), tapi ketahanannya 5 kali lebih lama. Sayang, iklim politik cepat berubah. Bung Karno terdepak, dan insinyur Uni Soviet tadi terpaksa pulang ke negaranya (catatan: cerita ini pernah dimuat di Kompas, tanggalnya lupa).

wah ini saya setuju kalo dipindah ke tengah Indonesia..Playboy
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)