Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Kompetitor PTKA
#21
(03-05-2013, 03:32 PM)ady_mcady Wrote: maskapai singo mabur (lion air) mau masuk garap kereta bandara.

berita di http://industri.kontan.co.id/news/pemeri...ka-bandara

Btw, singo mabur itu mau sekalian invest infrastruktur / prasarana jalan rel atau nebeng jalan rel punya DJKA ya, Kang...? Kalo invest infrastrukturnya jg kira2 berapa harga tiket yg dijual nantinya...? Kalo dijual Rp 75rb/org sekali jalan kyknya akan ramai status di facebook atau twitter dari para RF dech.... :p Ngakak
Reply
#22
^^^

kalau lihat di sumber beritanya mau garap infrastrukturnya kang. jalur yang diambil yang express line lewat shia-pluit-sudirman-mri-halim. tapi nggak tahu juga apa juga sekaligus jadi operatornya sekalian.

singo mabur kayaknya mau incar halim jadi lcca nya jakarta. makanya ngebet mau bikin high speed line shia-halim. yang bikin saya bingung, itu singo mabur duit dari mana ya? 20 T itu loh bikin express line shia-sud-mri-halim. berani banget apa nggak takut rugi ya?

(di forum tetangga malah ada yang nyeletuk, "jangan2 mau bikin Lion Train?" Ngakak)
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#23
(04-05-2013, 04:06 AM)ady_mcady Wrote: ^^^

kalau lihat di sumber beritanya mau garap infrastrukturnya kang. jalur yang diambil yang express line lewat shia-pluit-sudirman-mri-halim. tapi nggak tahu juga apa juga sekaligus jadi operatornya sekalian.

singo mabur kayaknya mau incar halim jadi lcca nya jakarta. makanya ngebet mau bikin high speed line shia-halim. yang bikin saya bingung, itu singo mabur duit dari mana ya? 20 T itu loh bikin express line shia-sud-mri-halim. berani banget apa nggak takut rugi ya?

(di forum tetangga malah ada yang nyeletuk, "jangan2 mau bikin Lion Train?" Ngakak)

Mungkin ada investor mereka yg hobi main di casino, Kang... Ngumpulin duit 20T bukan hal yg sulit kalo udah level muaster... :p Ngakak
Reply
#24
Yang jadi pertanyaan apa bedanya manajemen perusahaan plat htam dgn manajemen perusahaan plat merah..??? kenapa perusahaan swasta bisa egitu cepat berkembang (kalo gak salah lion air memulai bisnisnya awal thn 2000an dgn cuma beberapa biji pesawat).....sekarang lion air sudah mempunyai pesawat2 boing terbaru (737- 900ER dan 737-800).....lion air sudah masuk hampir di seluruh penjuru nusantara....bagaimana dgn PT. Kereta Api Indonesia (Persero) ???.......
Reply
#25
(20-08-2013, 03:14 PM)yusirwan Wrote: Yang jadi pertanyaan apa bedanya manajemen perusahaan plat htam dgn manajemen perusahaan plat merah..??? kenapa perusahaan swasta bisa egitu cepat berkembang (kalo gak salah lion air memulai bisnisnya awal thn 2000an dgn cuma beberapa biji pesawat).....sekarang lion air sudah mempunyai pesawat2 boing terbaru (737- 900ER dan 737-800).....lion air sudah masuk hampir di seluruh penjuru nusantara....bagaimana dgn PT. Kereta Api Indonesia (Persero) ???.......

Saya rasa nggak ada bedanya, Kang... Ini hanya masalah mismanajemen & faktor kronologi saja. Kalo ditanya kenapa operator KA (dlm hal ini PT. Kereta Api Indonesia (Persero)) tdk bs berkembang dgn cepat karena mismanajemen di masa lalu. Bs di googling koq soal berita2 yg menyangkut operator KA ini (saat perubahan status dari bentuk Perum menjadi PT), dari masalah reimunerasi pegawai, banyaknya aset2 properti yg diperjualbelikan oleh oknum hingga tdk bs berinvestasi utk meremajakan armada2nya.

Kalo dibandingkan dgn Li*n Air yg dah punya 737- 900ER dan 737-800, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) jg nggak mau kalah koq. Buktinya dah bs beli 100 unit loko CC206, 50 unit loko CC205 & 1200 unit GD & GT. Bisnis kereta api yg terpenting kan mesin penariknya, kalo beli kereta2 baru tapi lokomotifnya dah tua & sering mogok malah memperbanyak biaya operasional.



(23-02-2010, 04:54 AM)brantas Wrote: Di Jepang perusahaan kereta api JR East, Central, West, dll beroperasi di wilayah yang berbeda2, jd tdk ada kompetisi langsung antara mereka. Selain itu di Jepang Shinkansen telah sukses dan bisa dibilang telah memenangkan kompetisi dgn pesawat apalagi bus.

Kondisi di Indonesia kan agak sedikit beda, contoh kasus koridor GMR - BD yg dulu jd primadona setelah Cipularang jd dihajar telak oleh Travel dan PO bus Prm*j*s*

Silahkan dilanjut diskusinya supaya kita sharing kekuatan dan kelemahan komparatif PTKA dibanding perusahaan kompetitornya di bidang moda transportasi...

3 tahun yg lalu bolehlah Travel dan bus menghajar sana sini, tapi sekarang menurut saya kondisinya berbalik kereta api siap membayang2i Travel dan bus. Di saat weekend jual tiket K1 seharga 80ribu ajah masih banyak yg minat koq & nggak dikurangi trip perjalanannya apalg ditambah nyebar promoan sebanyak2nya, apa nggak makin termehek2 tuch.... Ngakak
Reply
#26
Ah, singo mabur mah gak udah ditanya.
Maskapai mana lagi di dunia yang gila-gilaan beli sampe' 1000 pesawat B737. Big Grin

Kalo menurut saya, masalah perkeretaapian ini memang tidak sefleksibel angkutan jalan raya, laut ataupun udara.
Untuk angkutan jalan raya, laut dan udara, perusahaan dapat dibilang hanya perlu menyediakan alat transportasi. Bus/truk memang butuh jalan raya, tapi kalo mau lewat jalan rusak juga bisa, mereka fleksibel mau berhenti di mana, mau lewat mana. Pesawat dan kapal butuh bandara/pelabuhan, tapi pesawat jelas menang waktu tempuh; kapal menang kapasitas. Rute, performa, pelayanan dan model perjalanannya pun dapat diubah-ubah dengan mudah, sesuai keadaan. Sedangkan kereta api memerlukan infrastruktur yang ekstensif. Ingin mengubah rute, harus nambah infrastruktur; nambah performa, harus ngubah infrastruktur. Ngubah/nambah pun tidak sederhana. Rel dengan performa tertentu mensyaratkan radius tikungan tertentu, gradien tertentu, dll. Jelas tidak sefleksibel bikin jalan raya. Apalagi infrastrukturnya dimiliki oleh orang lain, jadi tambah susah untuk ekspansi.

Intinya penumpang nyari nilai plus.
Pesawat plus di kecepatan.
Bus/Truk plus di fleksibilitas.
Kapal plus di kapasitas & harga.
Lha KAI?
MENEROBOS PERLINTASAN
DAPAT DIJATUHI
HUKUMAN MATI DI TEMPAT
Reply
#27
Jangan lupa, mental pegawainya. Stasiun Prembun (Daop 5) udah ngga bleh jualan tiket krn ketauan banyak calonya. Zaman dulu mana ada stasiun yang dilarang tiket krn banyak calo? :/
Fanboys are people who are willing to defend and promote the object of their affection. They are rarely objective and disregard facts that contradict their opinions.
Facebook BB: 55FFFBE5
Reply
#28
(21-08-2013, 08:26 AM)ArdWar Wrote: Ah, singo mabur mah gak udah ditanya.
Maskapai mana lagi di dunia yang gila-gilaan beli sampe' 1000 pesawat B737. Big Grin

Kalo menurut saya, masalah perkeretaapian ini memang tidak sefleksibel angkutan jalan raya, laut ataupun udara.
Untuk angkutan jalan raya, laut dan udara, perusahaan dapat dibilang hanya perlu menyediakan alat transportasi. Bus/truk memang butuh jalan raya, tapi kalo mau lewat jalan rusak juga bisa, mereka fleksibel mau berhenti di mana, mau lewat mana. Pesawat dan kapal butuh bandara/pelabuhan, tapi pesawat jelas menang waktu tempuh; kapal menang kapasitas. Rute, performa, pelayanan dan model perjalanannya pun dapat diubah-ubah dengan mudah, sesuai keadaan. Sedangkan kereta api memerlukan infrastruktur yang ekstensif. Ingin mengubah rute, harus nambah infrastruktur; nambah performa, harus ngubah infrastruktur. Ngubah/nambah pun tidak sederhana. Rel dengan performa tertentu mensyaratkan radius tikungan tertentu, gradien tertentu, dll. Jelas tidak sefleksibel bikin jalan raya. Apalagi infrastrukturnya dimiliki oleh orang lain, jadi tambah susah untuk ekspansi.

Intinya penumpang nyari nilai plus.
Pesawat plus di kecepatan.
Bus/Truk plus di fleksibilitas.
Kapal plus di kapasitas & harga.
Lha KAI?

Kalo KAI, penumpang nyari nilai plusnya saat promoan disebar... NgakakNgakak
Nggak percaya...? Cek ajah di thread sebelah... :p
Reply
#29
@ardwar, om kalau railroad company di amrik sana terutama yang kelas 2 dan 3 itu kan banyak banget ya? kalau saya lihat di wiki yang kelas 2 ada 60 an, yang kelas 3 ada sampai 200 an. pertanyaan saya, mereka ini core bussiness nya apa ya? kok bisa survive padahal di sana tingkat persaingan dengan moda lain (airlines, trucks, buses, privat, etc) juga ketat banget.
"Train approaching! Please remain behind yellow line!"
Reply
#30
(23-08-2013, 07:19 AM)ady_mcady Wrote: @ardwar, om kalau railroad company di amrik sana terutama yang kelas 2 dan 3 itu kan banyak banget ya? kalau saya lihat di wiki yang kelas 2 ada 60 an, yang kelas 3 ada sampai 200 an. pertanyaan saya, mereka ini core bussiness nya apa ya? kok bisa survive padahal di sana tingkat persaingan dengan moda lain (airlines, trucks, buses, privat, etc) juga ketat banget.

Lah, kok tanya saya? Heran

Setahuku, RR class II rata-rata melayani daerah yang tidak dilayani RR class-I. RR class III rata-rata berfungsi sebagai feeder untuk RR class I dan class-II. Biasanya ngumpulin muatan dari pabrik-pabrik ke terminalnya RR class I, jadi jangan kaget kalo ada RR class III yang punya rel cuma belasan kilometer dan hanya 1-2 lokomotif jadul (dan mungkin sewaan), atau bahkan hanya sebagai operator langsiran di terminal/yard untuk RR class-I. RR class-III biasanya hanya melayani 1-2 pelanggan. Pelanggan tutup, RR-nya juga tutup.

RR non class I biasanya tidak membangun infrastruktur sendiri, cuma beli jalur mati yang nggak dipake oleh RR gede. Itupun jarang banget dirawat, untuk menekan pengeluaran hingga sesedikit mungkin. (coba aja search MAW rail Big Grin)

Di sana, perkeretaapian lebih kompetitif dari OTR (trucking) untuk barang yang tidak peka waktu (asumsi sudah ada rel feeder), bahan bakar tidak disubsidi.
MENEROBOS PERLINTASAN
DAPAT DIJATUHI
HUKUMAN MATI DI TEMPAT
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)