Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Mengenang Almarhum KA Pandanaran Smc-Slo-Yk
#21
Hehe awalnya kami yang dapet foto itu (Saya, Ipenk, Sendy) jg beranggapan itu Parahyangan, tp smpe sekarang km blm bs menebak jembatan itu di petak mana, kebetulan kita sering hunting di bumi parahyangan, nah pas bu Yono menjelaskan itu foto KA Pandanaran, ya kami langsung percaya....

Mohon yg hafal mati jalur Semarang - Solo, di buktikan kebenaran info dr foto di atas.....
Reply
#22
Semua jembatan di jalur Slo-Smg yg dilalui KA Pandanaran seingat ane pakai dinding di atas boz .
Reply
#23
Kayaknya itu memang KA Parahyangan. Sepertinya itu jembatan yg belok sebelum masuk Padalarang. Mikir Dulu
CMIIW.
Kumpulan poto2 gw di Flickr Xie Xie
Reply
#24
(29-10-2009, 10:00 PM)BAMBANG EKO Wrote: Maaf bila salah entengkyu sebelumnya,Kayanyayg di photoitu rangkaian KA Parahiyangan Jkt > Bdg deh pertimbangannya sbb: Sebelum CC 201 hadir di Indonesia Parahiyangan menggunakan lok BB 304, Rangkaian KA Parahiyangan saat di tarik BB 304 adalah Full Bisnis ( K2 + KM ) . Loko BB 304 ciri-cirinya : pintu samping ada jendela kaca . sedangkan BB 301 tidak pakai jendela ; Di Jalur Semarang - solo ga ada jembatan yang membelok ( semua jembatannya lurus sedang jembatan yg ada dlm pic dengan mudah ditemui di jalur Bdg - Jkt ) Back ground jalur Smg - slo hampir datar dan tandus sedangkan pada pic bergunung-gunung ijo royo 2 , Rangkaian KA Pandanaran saat itu Full Ekonomi .Mungkin tulisandiLoko KA Parahiyangan tapi terlihat seperti KA Pandanaran > Maaf bila koreksi ini salah .Skali lagi trim brat atas pic nya .

mas bukanya
th 80-95an parayahngan masih pake bb304 (thx koresi BBnya) ini foto di balik nya ada kalender th 90an

di petak padalarang-saksaat ane sih ngerasa ga pernah liat spot ini

soal nya udah bolak balik hunting di sini bertiga sama sendy sama rendra dan kalo gak salah rata rat tiang penyagga nya dari rangka besi semua
koleksi jepretan ane
http://www.flickr.com/photos/jhon_ipenk/


[Image: meshoostggyt-1.jpg]
me whit ss-2v5 PInDAD
Reply
#25
(29-10-2009, 09:30 PM)rendrahabib Wrote:
(29-10-2009, 01:10 AM)we supratman Wrote: si rendra ada poto nya nih . dapet dari ibu yono yg suaminya mantan pilot sepur D52 dan sekarang beliau menghuni eks stasiun samarang NIS

uplot dong ren...!!!

gambar nya BB301 lagi bawa K2 liwat jembatan entah dimana??

Hehe....mangap yak...
baru nyampe rumah nih, seharian gak Onlen...

Ini foto KA Pandanaran menurut bu Yono, dan di lok juga ada tulisan nama KA nya "Pandanaran"


[Image: Papandayan.jpg]

ini mah KA Parahyangan ndra.......
wong itu jembatan cimeta jaman dolo kok......
kalo daerah semarang-solo gak ada tuh bentuk jembatan melengkung begitu, semuanya pendek dan lurus......

[Image: bannersaveourearth.png]

My Website Railway Photography www.flickr.com/photos/Agung_Ajunks

My videos on www.youtube.com/user/cc20409
Reply
#26
Reply
#27
Reply
#28

[Image: bannersaveourearth.png]

My Website Railway Photography www.flickr.com/photos/Agung_Ajunks

My videos on www.youtube.com/user/cc20409
Reply
#29
Reply
#30
Hahaha..yuk ah BTT

Dapet dari beberapa sumber:
Quote:Sebelum itu, Dirdjen Perhubungan Darat Soempono Lajuadji djuga meresmikan kereta "Pandanaran", jang menghubungkan Semarang dan Solo dalam waktu 1 djam 50 menit, dan melakukan perdjalanan 5 kali sehari, sehingga'sebanjak 14.000 penumpang jang seharinja bolak balik Semarang - Solo mendapat tambahan pelajanan.
SUMBER

Quote:Saat ini pun jalur KA Tanggung-Semarang masih diharapkan masyarakat karena lebih hemat waktu maupun biaya. Dengan kendaraan umum, dari Tanggung ke Semarang biayanya sekitar Rp 5.000 dan berpindah-pindah kendaraan perlu waktu 1,5 jam-2 jam. Sedang dengan KA ekonomi seperti ketika KA Pandanaran yang beroperasi hingga tahun 1999, ongkosnya Rp 1.000 dalam waktu setengah jam.
SUMBER

Quote:Dulu, kira kira 1 ( satu ) tahun yang lalu, memang ada Kereta Api " PANDANARAN " jurusan Semarang Poncol - Solo Balapan, dan kereta Api dari Pekalongan - Solo Balapan ( lewat Semarang ).

Berhubung ada perbaikan Jembatan ( Jembatan rusak ) antara setasiun KEDUNGJATI dan setasiun GUNDIH, maka KA - KA tersebut sampai sekarang perjalanannya
dibatalkan.
SUMBER

Sebuah kisah di KA PANDANARAN
[spoiler=SRI-SRI DAN KERETA API]
Quote:Ditulis oleh Moch S. Hendrowijono
Senin, 11 Oktober 1993 13:22
KOMPAS, 11-10-1993. Halaman: 10

HARI masih gelap benar, fajar baru saja terbit, dan gerbong dengan tiga lajur bangku berkapasitas 145 penumpang itu belum terisi penuh. Kegelapan di sini lebih terasa dan cahaya dari stasiun Solobalapan cuma seberkas dua yang masuk dan bayangannya membentuk pawai di dinding, pada saat kereta mulai berangkat pada pukul 05.05.
Di satu sudut kereta, dua ibu - Mbok Tarmi dan Mbok Dasirah - sudah mulai bekerja. Sambil bersandar di jendela yang separuh kacanya pecah dilempar orang dan diganti lembar-lembar kardus ditopang bambu, keduanya tampak sibuk. Tumpukan kacang panjang di bangku yang menempel di sepanjang dinding kereta penumpang buatan tahun 1953 itu mereka raba-raba. Beberapa kacang dicabut, lalu diikat jadi satu, ditumpuk di sebelah lain.

Di kolong bangku ada sekarung nangka muda, tomat, kol, bayam, sementara di bangku tengah di depan mereka menumpuk tempe dan tahu, siap untuk dibungkusi. Mereka harus merapikan pekerjaannya sebelum KA sampai di stasiun Tlawah, sekitar 80 km di utara Solo.

Bekerja di dalam kereta yang berjalan, tidak mudah. Badan jalan baja yang tak sempurna membuat kereta terguncang-guncang, ke depan-belakang, ke kiri-kanan. Teh panas yang ditaruh di bangku tengah terguncang, muncrat dari bibir gelas, membasahi bangku kayu.

Guncangan kereta ke kiri-kanan akibat rel yang tidak rata membuat badan ibu-ibu itu berayun maju-mundur. Atau bertabrakan bahu dengan ibu-ibu lain di kiri-kanannya, jika tiba-tiba masinis merem atau menambah tenaga lokomotifnya. Kondektur yang lewat dengan terhuyung-huyung mirip orang mabuk pun belum mau memeriksa karcis karena hari masih gelap.

Pagi yang dingin itu dihangatkan oleh suara roda beradu dengan sambungan rel ditambah bau khas gerbong kelas kambing. Tetapi mereka merasa sudah menyatu dengan suasana dan bau yang bahkan membetahkan.

Di kereta barang, ibu-ibu nglesot di lantai, atau di atas barang dagangan mereka. Di sini ada Wasirah yang genit, atau Mbak Sri "Bledek" Dewi (40) yang dandanannya besus, duduk di ujung pintu yang sangat lebar. Ada banyak Sri di kereta ini, dan untuk membedakannya, masing-masing punya julukan. Beberapa gigi depan Sri ini berlapis platina yang berkilauan kalau ia membuka mulut, mirip bledek (kilat), sehingga namanya pun jadi Sri "Bledek".

"Kita ini semua saling kenal, sebab setiap hari berjumpa," ujar Sri "Pecel" (29), yang jadi satu-satunya ibu muda yang cantik sebab memakai lipstik dan berdandan ala kota di kereta itu. Ibu-ibu lainnya umumnya memakai kain batik dan berkebaya serta menyandang selendang dan rambut digelung. Sri yang naik dari stasiun Salem tak hanya berjualan nasi pecel, tetapi juga nasi gudangan, terik, dan sega tumpang selain jajanan goreng, jeruk dan apel kecil-kecil.

***
BAIK Tarmi, Dasirah, para Sri, Wasirah atau Pak Sawa, sudah jadi satu masyarakat tersendiri, penumpang tetap KA Pandanaran jurusan Solobalapan - Semarangponcol pergi-pulang. Subuh dari Solo, dan sampai di Solo lagi menjelang maghrib.

Kecuali Sri Pecel dan Pak Sawa (60) yang berjualan minuman panas dari Solo, semuanya adalah pedagang-pedagang antara Gundih - Brumbung. Mereka berangkat sore hari ke Solo dengan KA Pandanaran yang berangkat dari Semarang, lalu belanja di Pasar Legi, kembali keesokan subuhnya dengan KA yang sama untuk berjualan di pasar setempat. Ada yang kuat sore itu juga kembali ke Solo mengulang kegiatannya, ada yang berselang satu hari, seperti halnya Sri Bledek yang turun di Jetis, atau Mbok Dasirah (44). Ada pula yang menyesuaikan dengan hari pasar di tempat mereka tinggal.

Di Solo tidur di mana? "Wonten Hotel Perno Sar Legi," kata Warsi, pedagang sayur yang akan turun di Gedangan sambil menunduk dan menutup mulutnya dengan selendang yang ia kenakan. "Perno opo Losmen Glundung, hayo?" timpal Kondektur Wagimin yang kebetulan lewat di sela tumpukan sayuran. Pertanyaannya disambut tawa ibu-ibu lain di kereta barang itu, ketawa khas pedagang sayur di pasar. Tak ada hotel yang namanya Perno, atau losmen namanya Glundung di Sar (pasar) Legi. Bagi mereka, menunggu waktu subuh seusai berbelanja sebelum ke stasiun, cukup dengan duduk atau tiduran bergelimpangan (ngglundung) di emperan (teras) toko Cino.

***
DASIRAH cuma satu sosok dari ratusan ribu manusia penumpang kereta pasar setiap hari di seluruh jaringan Perumka. Ia sama saja dengan Dadang, pegawai DKI yang rumahnya di Cilebut, Bogor, yang harus berdesakan dengan lebih dari 125 penumpang lainnya di KRL (kereta rel listrik) Bogor-Jakarta. Atau juga dengan Soleh yang berjualan manisan mangga di KRD (kereta rel disel) antara Sukabumi - Bogor, bersama si jangkung Ujang yang berjualan lahang (air nira).

Semuanya berserah diri pada kebaikan kereta api, sebab keadaan sudah membentuk mereka menjadi sangat tergantung pada alat transportasi murah itu. Tanpa KA, rasanya mereka tak bisa hidup dengan layak, malah lewat KA-lah mereka meraih hidup lebih baik.

Dasirah (44), sejak masih gadis 30 tahun lalu sudah menjadi penumpang tetap KA Pandanaran antara Solobalapan dan Semarangponcol, membantu suaminya yang pegawai golongan satu menghidupi enam anak dan dua cucu. Dua hari sekali dari Tlawah, Purwodadi, Dasirah naik Pandanaran ke Solo sambil membawa 23 bongkok daun pisang dan 15 bongkok daun jati, seluruhnya bernilai Rp 15.000.

Sampai Solo, dijualnya satu bongkok daun pisang seharga Rp 750 dan daun jati Rp 500. Hasilnya, Rp 24.750, ia belanjakan segala keperluan dapur, sayur mayur dan bumbu, yang ia kemasi lagi selama dalam perjalanan esok harinya di kereta api ke Tlawah. Antara lain ia beli 5 kg kacang panjang Rp 1.500, dipisahkannya menjadi 25 ikat yang akan dijualnya di pasar Tlawahjuweni Rp 100 per ikat. Dari kegiatannya itu, setelah dikurangi ongkos KA dan becak serta makan-minum, ia bisa membawa pulang sekitar Rp 10.000 sekali jalan.

Hal sama juga dilakukan oleh Sri "Bledek", yang salah satu gigi platinanya bermotif hati terbalik. Sri lebih kenes dari Dasirah atau umumnya ibu-ibu di KA Pandanaran, dan sikap duduknya mengingatkan orang pada patung Loro Blonyo. Selain berkain batik sogan genes, ia juga berkebaya yang kutu baru-nya rendah, sehingga belahan dadanya nampak, kadangkala ditutupi selendang batiknya. Sri juga mengenakan cincin emas dan giwang dengan mata American diamond.

Anaknya lima, dan sebenarnya ia berkecukupan, kalau saja sawahnya yang satu hektar terletak di Cianjur yang subur. Tanah yang keringlah, menyebabkan ia harus ikut membenahi ekonomi keluarga. Sri Bledek turun di Jetis. Di sana sudah ada sepeda dengan dua terombong di boncengannya, yang dititipkannya di rumah penduduk kemarin. Dagangannya itu diboncengkannya di terombong dan ia menggenjot sepedanya ke pasar Tlawahwelan, sekitar 2 km dari Jetis.

***
BAGI Dadang, penduduk Cilebut, KRL adalah satu-satunya alat angkut yang paling masuk akal untuk pergi pulang ke kantornya, dekat stasiun Gambir. Naik kendaraan umum, selain harus keluar lebih Rp 3.000 sehari, juga perlu waktu sekitar dua jam. Naik KRL cepat dan murah, tak sampai sejam sudah tiba di kantornya, di sekitar Monas. Ongkosnya kalau bayar tiap kali naik Rp 700 atau Rp 1.400 sehari. Dengan karcis abonemen, ia hanya membayar Rp 11.800 sebulan, cukup murah dibanding pendapatan resminya yang tak sampai Rp 200.000.

Jarak antara kereta dengan kereta di belakangnya yang 15 menit, cukup baginya untuk memilih KRL mana yang akan dinaikinya. Cuma tanpa kenyamanan, sebab KRL selalu penuh penumpang dan keranjang pedagang. "Satu gerbong dipadati lebih 150 orang," kata Dadang.

Padatnya penumpang di kereta api kelas ekonomi, selalu jadi lahan bisnis yang baik bagi pedagang asongan. Soleh dan Ujang pun memperebutkan kesempatan yang sama. Namun, lain dengan penumpang KA Pandanaran yang 95 persen beli karcis, penumpang KRL, KRD atau KA pasar Rangkasbitung - Tanahabang banyak yang tidak beli karcis.

Karcis Jakarta-Depok adalah Rp 400, tetapi banyak orang yang lebih suka membayar Rp 200 kepada kondektur. Akibatnya, banyak kondektur KRL, KRD Bogor - Sukabumi, Jakarta - Tangerang atau KA Rangkasbitung, yang kantung-kantungnya lalu penuh uang receh.

Siang itu, tak banyak calon penumpang menunggu di peron stasiun Bogor, sehingga kesan awal, kereta ini akan lowong. Tetapi Ujang, sambil berjalan ke arah depo, menggamit. "Kalau mau dapat tempat, ikut saya," kata si pedagang lahang itu, sambil menunjuk ke luar peron. Ia berjalan ke arah utara melewati mushalla dan penginapan awak KA, meniti rel. Di sana, KRD sedang parkir di depo, mendapat perbaikan sistem remnya. Banyak orang mengikuti jejak Ujang, dan saat itu hampir semua tempat duduk sudah diisi penumpang. Saat KRD masuk peron untuk siap diberangkatkan ke Sukabumi, penumpang yang baru naik kehabisan tempat dan mereka harus berdiri.

***
KERETA api kelas ekonomi sudah menjelma menjadi satu mata rantai kehidupan ekonomi masyarakat sepanjang sisi jalan bajanya. Tanpa KA, ribuan rakyat sekitar jalur Pandanaran akan menderita.

Penduduk sekitarnya tak bakal merasakan tempe atau tahu segar buatan Solo, atau mie kering. Ibu rumah tangga di Padas tak bisa lagi mendapat kol rempelan (kulit-kulit kol) untuk bahan sayurnya. Denyut nadi masyarakat miskin di sepanjang sisi jalur ini, berdetak karena dirangsang oleh kehadiran kereta api rakyat itu.

Kemiskinan sekitar jalan kereta api ini tampak nyata. Pada musim kemarau seperti sekarang, sawah di mana-mana tak bisa ditanami, karena tanahnya berubah keras dan retak-retak lebar. Pohon pisang tumbuh kurus, demikian pula daun-daun kelapa merunduk layu, lesu kepanasan. Anak-anak bersekolah tanpa sepatu, bahkan dengan pakaian yang dicuci seminggu sekali, cuma di hari libur.

Daya beli jadi saksi dan ukuran. Di kereta ini, juga di warung-warung sepanjang sisi rel, kita bisa makan nasi pecel kenyang dengan hanya Rp 150 sepincuk, hal yang mustahil di kota kecil sekalipun.

Tarmi, hanya perlu membayar Rp 900 untuk perjalanannya dari Solo ke Jetis, sementara Sri Pecel selain modal berdagang, keluar uang untuk karcis seharga Rp 1.100 dari Salem ke Semarangponcol. Marwan yang membawa puluhan klenting dan buyung hanya membayar Rp 2.500, meski ia cuma mendapat satu karcis bernilai Rp 900 dan karcis begasi bernilai Rp 800. "Daripada naik truk Rp 25.000," ujarnya.

Bagi Sri Pecel, Pandanaran adalah sumber hidupnya. Berbekal 60 sampai 80 pincuk nasi dan jajanan titipan orang lain yang semua laris manis, ia bisa pulang dengan membawa Rp 10.000 sehari.

Untuk Marwan, keramahan kereta api tidak membuatnya berseri. Setiap kali membawa sekitar 60 buah gerabah, ia nyaris pulang dengan tangan kosong. Harga satu buah klenting cuma Rp 200 dan buyung Rp 300, diterima di Brumbung Rp 300 dan Rp 400 oleh tengkulak. Pulang hanya dengan Rp 1.500, sebab biaya perjalanannya sampai Rp 4.500, termasuk membayar kuli menaik-turunkan gerabahnya di dua stasiun.

***
MARWAN, Sri atau Dasirah tidak seberuntung sesamanya, antara Bandung - Purwakarta, Jawa Barat. Berbeda dengan KA Pandanaran yang mempunyai kelas KA Cepat, KA sekunder Cibatu-Bandung-Purwakarta itu termasuk kereta pasar, sehingga tarifnya murah. Jika tarif minimal Pandanaran Rp 900 dan termahal Rp 1.300, KA sekunder itu cuma Rp 250 dan Rp 600, beda jarak cuma sekitar 30 km, lebih panjang Pandanaran.

Penampilan kereta pasar Purwakarta juga "lebih baik", tempat duduk gerbong kelas tiganya berlapis jok empuk. Kapasitasnya yang "cuma" 88 penumpang membuat orang duduk dengan selesa, lain dengan KA Pandanaran yang bangku-bangkunya dirancang untuk 145 penumpang.

Tapi kedua kereta menjalani trayek-trayek yang sangat jauh dari jalan raya. Bahkan penduduk dari sekitar stasiun Cisomang, jika akan ke Plered harus ke jalan raya dulu naik ojek yang tarifnya Rp 1.500, sebelum naik kendaraan umum, padahal naik kereta cuma Rp 250. Tak ada kendaraan umum lainnya di sini, sama dengan penduduk sepanjang jalur antara Gundih dan Kedungjati. Di sini, KA menjadi alternatif utama untuk bepergian, meski sehari cuma berjalan satu pp.

Ekonomi penduduk dan hari-hari pasar, banyak dipengaruhi oleh beroperasinya kereta api. Waktu jadwal KA Bandung - Purwakarta berangkat dari Bandung pukul 05.00, pasar Plered sudah ramai sekitar pukul 07.00. Kini, setelah KA berangkat pukul 07.30, karena memberi kesempatan kepada kereta mahal Parahyangan lewat lebih dulu, pasar Plered jadi kurang gairah. Kambing, ayam, singkong, tomat dari Maswati, Cikadongdong dan Rendeh, baru tiba setelah pukul 10.00.
***
BAGI Perumka, pengoperasian kereta pasar semacam Pandanaran, KRL, KRD atau KA sekunder seolah merupakan buah simalakama. "Ini semata-mata penugasan dari pemerintah, sebab penghasilan kereta itu untuk menutup biaya saja masih kurang. Jangankan impas, pendapatannya hanya sekadar cukup untuk membeli bahan bakar," ujar Widjanarko, Kepala Perumka Wilayah Usaha (Kawilu) Jawa.

Di sini, peran sosial KA memang ditonjolkan. Perumka mensubsidinya dengan menjalankan KA-KA kelas komersial yang menguntungkan, misalnya KA Senja, Parahyangan, Bima dan Mutiara.

Dari penampilan Perumka selama ini terlihat bahwa 90 persen adalah penumpang kelas ekonomi, yang tahun 1992 mencapai 59,6 juta orang dari 66 juta penumpang. Tetapi dari segi pendapatan, kelas ekonomi cuma menyumbang kurang dari 49 persen atau Rp 91,9 milyar dari Rp 187,7 milyar. Sisanya yang Rp 95,8 milyar merupakan hasil penjualan karcis kelas komersial.

Komposisi 90:10 untuk penumpang sebenarnya masih bisa diubah menjadi 60:40 untuk menunjang operasinya, sesuai izin pemerintah. Namun yang pasti, menaikkan komposisi untuk kelas bisnis dan ekonomi tidak boleh dilakukan dengan mengurangi peranan KA-KA kelas ekonomi.

Karenanya, KA Pandanaran, atau KA Campuran Kroya - Banjar, KA sekunder atau KA Rangkasbitung, tak akan dihapus. KA-KA demikian ini punya saham tidak kecil dalam menggerakkan ekonomi masyarakat tingkat bawah. "Kereta api justru ikut mendukung program pengentasan rakyat dari kemiskinan rakyat secara langsung," kata Widjanarko.
Terakhir Diperbaharui ( Senin, 07 Juli 2008 13:39 )
SUMBER
[/spoiler]
[spoiler="SAYA SEKRETARIS "WING" ...."]
Quote:Ditulis oleh Moch S. Hendrowijono
Minggu, 16 Januari 2000 17:00

KOMPAS, 17-01-2000. Halaman: 1
PANDANARAN bagai kereta koboi. Rel yang pendek-pendek membuat kereta seolah terantuk-antuk dalam kecepatan maksimum sekitar 35 km/jam melewati persawahan, perbukitan kapur Kendeng dan hutan jati.


Perjalanan antara Stasiun Solojebres ke Semarangponcol, Jawa Tengah sejauh 110 km pun ditempuh dalam waktu hampir empat jam dari pukul 05.45. Semua stasiun, mulai dari Kalioso sampai Brombong lewat Gundih disinggahi, dengan penumpang yang terus bertambah.

Dari segi pelayanan, dibanding dekade lalu ada peningkatan sekaligus penurunan di kereta ini. Waktu itu tiap kereta penumpang terisi tiga lajur tempat duduk, dua menempel di dinding kereta, satu lagi memanjang di tengah, tempat penumpang beradu punggung.
Kini hanya ada satu K3 (kelas 3) yang kursinya berhadapan, tidak dua-dua tetapi dua-tiga, sehingga satu kereta bisa diisi 106 penumpang duduk. Jika padat, lebih 150 lainnya berdiri di gang atau di bordes selain di atap. Dulu tidak disertakan, kini ada satu kereta bagasi, satu gerbong semen yang atapnya sudah tidak ada, dan tiga gerbong barang yang pintu geser lebarnya itu dicopot, diganti jeruji besi. Penumpang yang naik di gerbong barang itu bagai tahanan yang diangkut paksa, yang mengulurkan kepalanya di antara jeruji untuk melihat pemandangan atau mencari udara segar.

Ini memang kereta murah. Solo-Semarang tarifnya cuma Rp 1.700, tetapi kalau terus ke Pekalongan, 90 km dari Semarang, tarifnya jadi Rp 2.400. "Naik bus waktunya sama ongkosnya kacau. Bisa Rp 6.000, bisa Rp 10.000," kata Suadi (35) yang sering naik Pandanaran.

Di kereta pasar ini semua jenis penumpang naik, dari mereka yang bepergian untuk silaturahmi Lebaran, sampai pedagang antardesa yang memaksakan dagangannya naik. Karena Pandanaran merupakan satu-satunya penghubung antara Solo-Semarang lewat jalur timur tanpa ada jalan raya sebagai pendamping, kedatangan dan keberangkatan kereta selalu jadi momen istimewa bagi warga sekitar stasiun.

Penduduk berbondong menikmati pemandangan bagaimana berebutnya orang turun-naik kereta, bagaimana sulitnya Kang Surip menaikkan ikatan daun jati ke gerbong. Juga tengkulak ayam, bebek, angsa, kambing, atau gerabah dan pedagang kayu jati yang memaksakan kayu-kayunya masuk di antara kaki-kaki kursi kereta penumpang. Relatif mudah naik ke kereta K3, meski bordesnya tinggi. Tetapi untuk bisa naik ke gerbong semen atau gerbong barang perlu perjuangan.

Terutama bagi mbok bakul berkain batik yang juga disibukkan oleh tembakau susur yang terancam jatuh karena ekspresi mukanya saat dibantu naik sementara kakinya mencari pijakan. Pandanaran juga merupakan satu restoran dan supermarket. Di sini dijajakan belasan jenis makanan, mulai dari nasi ayam, pecel sampai astor, selain korek api, senter, pulpen, gunting kuku, sepatu bekas, dan buku cerita.

***
PADATNYA penumpang, mungkin sekitar 800 orang, membuat sebagian mereka yang "perkasa" lebih suka naik ke atap gerbong. Semua gerbong ada penumpang di atapnya, kecuali gerbong semen yang kami tumpangi karena memang tidak beratap.

Di gerbong semen ini ditumpuk macam-macam dagangan, mulai dari pisang mentah, daun jati, kelapa bulat, sampai ke kayu bakar. Padahal lantai gerbong sangat kotor, banyak jerami busuk bekas pelindung gerabah, bahkan ada kotoran manusianya. Orang cuek saja, karena tidak ada pilihan, dan penumpang kelas ekonomi umumnya memang siap untuk menderita dan tidak akan protes.

Sri Lestari (23), baru saja naik dari Stasiun Goprak bersama empat rekannya, segera bergabung dengan gadis-gadis yang sudah ada di gerbong yang naik dari Kalioso. Ia mengenakan celana katun khaki yang masih baru, berkaus putih dan dibungkus jaket jins yang tidak dikancingkan, di punggungnya ada tas pakaian biru ukuran 40 sentimeter.

Sri yang berkulit terang dan montok ini sibuk memegangi koran ang itutupkan ke kepalanya untuk menghindari terik matahari tetapi terganggu terpaan angin kencang ketika kereta melaju. Beralaskan tas unggung ia menyandarkan diri ke tumpukan karung kelapa bulat, sambil adannya tak henti-henti bergoyang kiri-kanan dan ke atas-bawah, ihentak irama kereta yang melaju di atas rel pendek itu.

Ia akan ke Semarang untuk terus naik KA Tawangjaya sore hari ke Jakarta, kembali bekerja di Mampang, Jakarta Selatan. Ia baru saja pulang kampung berlebaran, datang naik KA Bangunkarta.

"Saya ini sekretaris wing," katanya singkat sambil melihat mimik saya, ketika saya tanya apa kerjanya. Saya bingung, apakah ia bekerja di pabrik sabun atau wing yang berarti sayap, atau swiwi dalam bahasa Jawa. Tiba-tiba meledak tawa kawan-kawannya.

"Wingking, Mas, wingking (belakang)," ujar Siti (20), kawan Sri. Saya baru maklum maksud Sri, apalagi waktu bersalaman terasa telapak tangannya agak kasar. Istilah sekretaris wing tampaknya sudah dikenal di antara mereka, terutama yang bekerja di rumah tangga orang-orang asing. Gaji mereka umumnya relatif lebih besar daripada "sekretaris wong"-istilah mereka untuk majikan orang biasa-sehingga penampilan mereka pun lebih trendi karena tubuh terawat baik.

Para "sekretaris wing" merasa lebih tinggi dari yang bekerja di rumah tangga wong, apalagi tidak jarang mereka diajari bahasa Inggris untuk bisa komunikasi dengan majikannya. Karena pergaulan, mereka juga terbuka dan tidak rendah diri sehingga lebih mudah diajak bercakap-cakap sepanjang perjalanan.

Saya jadi ingin menggoda mereka, ingin tahu lebih jauh. Saya tanya, apakah dalam pekerjaan mereka ada peningkatan karier setelah sekretaris wing. "Ya dong Mas, kalau sudah swiwi ya terus dodomentok," kata Sri serius sambil mengangkat mukanya, disambut tawa renyah rekan-rekannya.

Saya tidak mau menerjemahkan apa arti dodomentok, sebab bisa menimbulkan salah tafsir dan tidak mau memperpanjang pertanyaan. Paling penting waktu itu, saya ingin kereta segera sampai, karena perjalanan empat jam berdiri di terik Matahari menjelang tengah hari sungguh melelahkan.

KA LEBARAN ISTIMEWA - KA Pandanaran yang menjalani rute Solojebres ke Pekalongan lewat Gundhi, merupakan KA Lebaran yang istimewa. KA kelas ekonomi ini tidak hanya merangkai satu kereta penumpang kelas tiga (K3), tetapi juga gerbong semen dan tiga gerobak barang yang dimodifikasi. Karena merasa membayar murah, Rp 2.400 untuk jarak 205 km, penumpang pun tidak ada yang protes, meski lama perjalanan sampai enam jam.

***
Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 06 Agustus 2008 09:11 )
SUMBER
[/spoiler]
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)