09-05-2013, 10:33 AM
Aku Adalah Lokomotif Kecil
Aku adalah lokomotif kecil.
Merangkai kereta demi kereta yang teronggok sendiri.
Menyatukan mereka, agar tegar menghantam realita.
Melibas jalan yang keras dan panas.
Diantara lajuku yang terengah.
Aku bangga dan kagum akan warna-warni rangkaian yang kusentuh.
Namun, aku tak dapat membawa mereka hingga ke akhir tujuan.
Karena ada yang lebih perkasa.
Akulah lokomotif langsir.
Terdiam dirumah usangku, memandang mesranya rangkaian yang cepat melaju.
Terangkai mesra, dengan lokomotif-lokomotif yang gagah.
Sombong melenggang, kian berpendar.
Meninggalkan diriku setelah apa-apa yang telah aku lakukan hari ini.
Atau mungkin esok dan seterusnya.
Ceceran oli menetes dari jantung bajaku yang termakan zaman.
Namun ku tegar, demi dapat kurangkai gerbong-gerbong yang lemah itu.
Meskipun mereka takkan mengingat jasaku lagi.
Ketika telah jatuh kepangkuan lokomotif besar nan indah, kuat dan bertenaga.
Lagi, aku hanya terdiam sepi.
Menatap siluet, yang melaju meninggalkanku.
Tanpa seonggok kenangan pun terukir.
Aku hanya bisa pasrah.
Mencoba terlelap, sandarkan tubuh letihku setelah mencoba memindahkan rangkaian yang aku kagumi.
Mengantarkan mereka yang telah tersenyum ke gelegar mesin yang telah lebih dahulu mengenalnya.
Aku adalah lokomotif kecil.
Merangkai kereta demi kereta yang teronggok sendiri.
Menyatukan mereka, agar tegar menghantam realita.
Melibas jalan yang keras dan panas.
Diantara lajuku yang terengah.
Aku bangga dan kagum akan warna-warni rangkaian yang kusentuh.
Namun, aku tak dapat membawa mereka hingga ke akhir tujuan.
Karena ada yang lebih perkasa.
Akulah lokomotif langsir.
Terdiam dirumah usangku, memandang mesranya rangkaian yang cepat melaju.
Terangkai mesra, dengan lokomotif-lokomotif yang gagah.
Sombong melenggang, kian berpendar.
Meninggalkan diriku setelah apa-apa yang telah aku lakukan hari ini.
Atau mungkin esok dan seterusnya.
Ceceran oli menetes dari jantung bajaku yang termakan zaman.
Namun ku tegar, demi dapat kurangkai gerbong-gerbong yang lemah itu.
Meskipun mereka takkan mengingat jasaku lagi.
Ketika telah jatuh kepangkuan lokomotif besar nan indah, kuat dan bertenaga.
Lagi, aku hanya terdiam sepi.
Menatap siluet, yang melaju meninggalkanku.
Tanpa seonggok kenangan pun terukir.
Aku hanya bisa pasrah.
Mencoba terlelap, sandarkan tubuh letihku setelah mencoba memindahkan rangkaian yang aku kagumi.
Mengantarkan mereka yang telah tersenyum ke gelegar mesin yang telah lebih dahulu mengenalnya.

