17-02-2012, 08:02 PM
(17-05-2011, 12:57 PM)Ken Aditya Wrote: Mantap banget keterangannya, kalo yang benar-benar cocok untuk Indonesia pake apa? Jika ditinjau:
1. Keahlian SDM perkeretaapian.
2. Biaya operasionalnya.
3. Iklim tropis.
4. Medan yang berbukit-bukit.
5. Infrastrukturnya.
Lok atau EMU?
Mungkin jawaban saya untuk saat ini jarak jauh pake Lok, untuk dekat paket EMU. Alasanya? Liat realitas di lapangan. Teman-teman?
Baru aja nulis reply, laptop overheat

nulis lagi deh
Untuk medan pegunungan, justru EMU/DMU lebih baik karena penggerak tersebar di sepanjang rangkaian. Selain itu kereta bisa bergerak lebih cepat tanpa mengurangi kenyamanan berkat teknologi tilting EMU/DMU yang mengkompensasi gaya sentrifugal akibat gerakan menikung dengan memiringkan kereta (sehingga penumpang tidak terlalu merasa terseret ke samping di belokan).
Dengan EMU, kereta ekonomi jarak jauh bisa berhenti di tiap stasiun (sesuai jadwal seharusnya) karena akselerasinya cepat. Selama ini kereta ekonomi sering skip stasiun-stasiun kecil yang harusnya jadi pemberhentian karena mengejar jadwal kedatangan di stasiun terakhir.
Yang masih saya pikirkan, bagaimana dengan kereta eksekutif? Rasanya aneh kalau ada kereta di rangkaian KRL khusus jadi gerbong bagasi. Melihat dari okupansi yang angin-anginan, mungkin lebih cocok jika menggunakan lok listrik dan rangkaian K1 biasa seperti sekarang. Penambahan jumlah rangkaian EMU/DMU nggak bisa satu-dua kereta tapi harus sekaligus satu set, jadi kalau dipikir sebenarnya kurang fleksibel untuk mengatur panjang rangkaian.
Kereta dengan tempat tidur (kalau Bima dikembalikan seperti dulu) mungkin lebih baik pakai lokomotif. Sementara itu kereta eksekutif dengan medan sulit seperti gopar lebih cocok pakai tilting EMU/DMU.
visit my blog
Obsesi: Menghapuskan 'Api' dari 'Kereta Api'
RF kikansha_otaku, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Sep 2010.
Obsesi: Menghapuskan 'Api' dari 'Kereta Api'

RF kikansha_otaku, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Sep 2010.

