Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Railfanning di Semenanjung Malaya.
Setelah beberapa hari beristirahat di Surabaya, sayapun kembali ke Bandung. Kali ini saya berangkat ke Bandung menggunakan kereta api favorit saya: Argo Wilis. Saya suka sekali naik KA ini karena beberapa hal, seperti bisa melihat pemandangan pulau Jawa, serta praminya yang cakep-cakep.

Tidak seperti beberapa perjalanan naik KA saya sebelumnya, kalau dulu seluruh keluarga ikut mengantar ke stasiun; kini karena ada peraturan dimana pengantar tidak boleh masuk peron, maka yang mengantar ke stasiun hanya ibu saya.

Di stasiun, suasananya cukup ramai, karena KA Penataran pagi dari Malang baru saja masuk Surabaya.


[Image: o1-1.jpg]

Suasana saat boarding.


[Image: o2-1.jpg]

Ternyata sebelum berangkat ada PS (Pemeriksaan Serentak). Ini adalah pemeriksaan oleh petugas PT KA yang non-crew, untuk memastikan bahwa tidak ada penumpang gelap, dan semua petugas KA sudah menyiapkan ID mereka masing-masing.


[Image: o3-1.jpg]

Pukul 7.30 pagi, KA Argo Wilis berangkat menuju ke Bandung. Kelihatan pemandangan gunung Welirang dan Penanggungan yang tertutup awan diantara Sepanjang-Mojokerto.


[Image: o4-1.jpg]


[Image: o5.jpg]

[Image: overstappen.png]
Perhentian pertama adalah Jombang. Sekarang KA Argo Wilis juga berhenti di Jombang dan Kertosono (serta Mojokerto kalau ada yang pesan). Dulu di Jawa Timur dia hanya berhenti di Madiun!

PPKA memberikan clearance.


[Image: o6.jpg]

Jalanan yang paralel jalur KA antara Jombang-Kertosono.


[Image: o7.jpg]

Antara Jombang-Kertosono ada jalan mobil yang paralel dengan jalur KA sejauh hampir 10 kilometer. Dulu waktu kecil ini adalah salah satu tempat favorit saya untuk “balapan” dengan KA yang lewat.

Suasana di dalam KA.


[Image: o8.jpg]

Tak lama kemudian kami sampai di Kertosono. Kelihatan gerbong-gerbong KA Bangunkarta yang stabling di Kertosono.


[Image: o9.jpg]

Jaman dulu, KA ini stabling di Jombang, tapi entah kenapa kok dipindah ke Kertosono?

Selesai menaikkan penumpang, KA melanjutkan perjalanan.


[Image: o10.jpg]

[Image: overstappen.png]
Pak kondektur pun mulai memeriksa karcis penumpang.


[Image: o11.jpg]

Pemandangan pedesaan yang “rustic” di daerah Saradan, yang terkenal karena hutan jatinya.


[Image: o12.jpg]

Gunung Wilis (asal nama KA Argo Wilis) yang tertutup awan.


[Image: o13.jpg]

Menjelang masuk stasiun Babadan, KA kami tertahan sinyal lama sekali. Sampai ada petugas yang iseng keluar.


[Image: o14.jpg]

Rupanya dia menunggu KA Sancaka dari Yogya (lokonya kelihatan samar-samar di latar belakang).

Tak lama kemudian KA kami masuk stasiun Babadan, berhenti disebelah KA Sancaka.


[Image: o15.jpg]

[Image: overstappen.png]
Saya iseng lari kedepan, memotret lokomtif KA saya.


[Image: o16.jpg]

Mobil dan motor yang menunggu KA Sancaka pergi.


[Image: o17.jpg]

Karena pelataran stasiun Babadan dipotong jalan raya, maka kalau ada rangkaian KA yang panjang berhenti di stasiun ini, maka jalannya pasti ditutup.


PPKA memberi clearance KA Sancaka untuk berangkat.


[Image: o18.jpg]

Dan perlintasan pun dibuka.


[Image: o19.jpg]

Pekarangan stasiun Babadan. Tampak sinyal yang mengangkat di sisi kiri gambar, tanda bahwa KA kita boleh berangkat..


[Image: o20.jpg]

[Image: overstappen.png]
Setelah sekitar sejam perjalanan, KA kami masuk Madiun. Tampak beberapa KA yang sedang di finishing touch di INKA.


[Image: o21.jpg]

Pelataran stasiun Madiun. Tampak serangkaian gerbong flatcar (gerbong peti kemas) baru yang diparkir.


[Image: o22.jpg]

Dipo lokomotif Madiun yang kini didominasi lokomotif warna kuning hijau, seperti yang saya lihat di masa kecil dulu.


[Image: o23.jpg]

Tapi saat BB301 26 ini mendekat, kelihatan kalau warnanya ada yang salah.


[Image: o24.jpg]

Setelah agak lama berhenti KA kita berangkat. Kelihatan jalur “street running” di latar belakang.


[Image: o25.jpg]

[Image: overstappen.png]
Karena lapar, saya makan bekal makan Nasi Udang Bu Rudi yang dibelikan ibu saya sebelum ke stasiun.


[Image: o26.jpg]

Pemandangan sawah yang agak kering.


[Image: o27.jpg]

[Image: overstappen.png]
Saya lebih banyak tidur selepas itu. Baru bangun saat kereta lepas dari Solo. Walaupun cuacanya hujan, herannya gunung Merapi dan Merbabu kelihatan cukup jelas!


[Image: o28.jpg]


[Image: o29.jpg]


[Image: o30.jpg]


[Image: o31.jpg]

Tak lama kemudian KA saya sampai di stasiun Yogyakarta. Tak banyak yang saya foto disini, kecuali satu gerbong bekas gerbong tidur kelas 1 KA Bima, yang kini menjadi gerbong tempat duduk.


[Image: o32.jpg]

Rangkaian KRD warna anggur.


[Image: o33.jpg]

[Image: overstappen.png]
Pemandangan di sekitar Wates. Hujan deras terus, bahkan hingga Tasikmalaya!


[Image: o34.jpg]

Suasana saat berhenti di Kebumen. Ada rangkaian gerbong tanker dan ballast yang diparkir.


[Image: o35.jpg]

Melihat ke barat. Tampak ada lampu lokomotif di kejauhan.


[Image: o36.jpg]

Ternyata itu KA Argo Dwipangga yang ditarik CC204 09.


[Image: o37.jpg]

Jadi teringat, pernah memotret mantan saya di depan loko ini, waktu dia masih baru.

Di Kroya, jalur yang menuju ke Purwokerto (dan Jakarta) berpisah.


[Image: o38.jpg]

Persawahan di sekitar Maos yang basah.


[Image: o39.jpg]

[Image: overstappen.png]
Saat lewat Banjar, saya melihah satu pemandangan yang tidak saya duga: Gunung Ciremai!


[Image: o40.jpg]

Saya agak heran juga, bagaimana gunung yang terletak di pantai utara Jawa bisa kelihatan di Banjar yang terletak di selatan Jawa? Apa karena fisiknya yang besar dan tinggi sampai bisa kelihatan dari jarak sangat jauh?

Tak banyak yang saya foto selepas Banjar karena hari mulai gelap. Namun ada hal yang menarik saat kereta berhenti di Cipeundeuy.

Saat saya keluar untuk membeli makan, saya tiba-tiba mengalami vertigo yang cukup mengganggu.
Dugaan saya, karena sebelumnya terbiasa di hawa super panas di Singapore, tiba-tiba harus menyesuaikan dengan hawa pegunungan yang dingin di Cipeundeuy, tibuh saya mengalami alttitude sickness......

Tepat pukul 9 malam, KA Argo Wilis yang saya tumpangi akhirnya sampai di stasiun Bandung.
Dan karena masih ada angkot, sayapun memilih naik angkot ke rumah saya.

Akhirnya berakhir sudah perjalanan yang sangat panjang dan menyenangkan ini.

Terima kasih atas tepuk tangannya.
Reply


Messages In This Thread
RE: Railfanning di Semenanjung Malaya. - by Gege - 27-12-2011, 04:05 PM
RE: Railfanning di Semenanjung Malaya. - by mas_bagus_ajah - 10-01-2012, 01:03 AM
RE: Railfanning di Semenanjung Malaya. - by Gege - 10-01-2012, 04:00 PM

Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)