Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Railfanning di Semenanjung Malaya.
#87
Keesokannya kebetulan adalah hari raya Idul Adha. Oleh karena itu kami memutuskan untuk mengunjungi saudara kami yang tinggal di Bedok.

Karena abang saya tak suka susah payah naik kendaraan umum, maka kami menyewa taxi. Niatan saya dan adik-adik saya untuk menghemat uang, sekaligus merasakan efisiensi transportasi publik di Singapore (dan juga naik bis tingkat) tidak kesampaian. Akibatnya, kartu EZ Link yang saya beli sebelumnya jadi mubazir.

Hari itu adalah libur Idul Adha, maka jalanan di Singapore pada sepi semua. Tidak banyak kendaraan yang berkeliaran.

Tak lama kemudian kami sampai kerumah saudara kami disana. Berhubung saat itu adalah hari raya Idul Adha, maka kami disuguhi daging domba (bukan kambing).


[Image: j1.jpg]

Lama sekali saya tidak makan daging domba. Rasanya lebih manis (padahal tanpa gula loh) daripada daging kambing, serta tidak ada rasa anyir yang identik dengan daging kambing.

Kami juga sempat ngobrol agak lama disana. Abang saya juga mengemukakan keinginannya untuk mencari channel buat usahanya. Saudara saya rupanya banyak koneksi, sehingga memperkenalkan dengan beberapa orang yang dikenal.

Saudara saya juga mencari taxi yang bisa mengantar kami keliling. Kok ya ndilalah sang sopir taxi juga kalau dirununt masih ada hubungan saudara, sehingga otomatis, transportasi kami keliling Singapore untuk hari itu gratis semua!

Wah berarti sudah dua kali naik moda transportasi di Singapore yang biasanya bayar, tapi kali ini gratis!

Sebelum berangkat, kami sempat berfoto bareng.


[Image: j2.jpg]

Setelah itu kami turun kebawah, naik taxi yang sudah dicharter untuk hari itu. Sopirnya adalah bang Yusuf. Beliau aslinya adalah orang Johor, tapi dibesarkan di Singapore.

Banyak sekali cerita yang berbumbu politis keluar dari mulut bang Yusuf. Intinya adalah pertengkaran antara suku Melayu dan Tionghoa di masa silam, ketidak puasan terhadap pemerintah Singapore, serta keluhan beliau bahwa segala sesuatu di Singapore berbayar. Bahkan mengambil buah-buahan yang ditanam di taman-taman bisa ditilang!

Oke, acara pertama kami hari itu adalah jalan-jalan ke Mustafa Center di Little India. Di situ dijual segala pernak-pernik barang branded yang dijual dengan harga murah.

Sesampainya di Little India, kami menemui suasana di sana padat dan ramai oleh para pekerja migran dari Asia Selatan yang memanfaatkan libur panjang. Abang saya berkata, bahwa suasananya sudah mirip kaya Bombay!

Bang Yusuf memarkir kendaraannya di salah satu pojok Little India, dan kamipun berjalan menuju ke Mustafa Center.

Setelah bersusah payah melewani kepadatan Little India, kamipun sampai di Mustafa Center. Tapi karena kami harus menitipkan tas kalau mau masuk (padahal banyak barang berharga di ransel) akhirnya kami memutuskan untuk berpisah sebentar. Abang saya dan adik sepupu saya masuk Mustafa, sementara saya dan adik saya pergi ke toko kue (yang dikunjungi kemarin) untuk membeli Burfi buat dibawa pulang ke Indonesia.

Selama perjalanan, kami menikmati suasana Little India yang padat. Kami juga sempat melihat sebuah Masjid yang langgam arsitekturnya khas Asia selatan. Lebih pas kalau model arsitekturnya ala Tamil.


[Image: j3.jpg]

Saya tidak pernah menemui masjid seperti ini di Indonesia.

Sesampainya di toko kami memborong banyak Burfi untuk dibawa pulang.


[Image: j4.jpg]


[Image: j5.jpg]

Kami membeli kedua jenis burfi diatas, plus ada satu burfi yang terbuat dari bubuk kacang mente yang dipadatkan dengan gula cair.

Begitu kembali ke Mustafa Center, kami menemui abang saya. Rupanya abang saya kecewa bahwa sekarang harga barang-barang di Mustafa Center jauh lebih mahal dari yang diceritakan kakak saya.
Rupanya Mustafa Center tidak semurah dulu lagi.

Usai dari Little India, bang Yusuf mengajak kami ke sebuah tempat dimana kita bisa memotret Marina Bay Sands dengan lebih jelas. Bahkan kalau jujur, sebenarnya lebih jelas daripada waktu kita jalan dengan RMG Tour!


[Image: j6.jpg]

[Image: overstappen.png]
Dari taman ini kita juga bisa melihat hotel-hotel di seperti Ritz Carlton, Mandarin, serta Suntec shopping center, plus tribun penonton Formula 1.


[Image: j7.jpg]

Yang unik dari taman ini adalah atapnya yang diperlengkapi kipas angin.


[Image: j8.jpg]

Kami tidak lama disitu, karena sebenarnya tempat dimana bang Yusuf memarkir kendaraannya terhitung daerah dilarang parkir.

Langsung saja kami menuju ke Marina Bay Sands. Sesampainya disana kami mencari counter tempat membeli tiket untuk naik keatas. Harga tiketnya $ 20 per orang.


[Image: j9.jpg]

Antriannya tidak banyak, sehingga dalam waktu singkat, akhirnya kami sampai juga diatas.

Pemandangannya Brrrr! Oya, taman yang menjorok di sisi kiri gambar adalah taman yang tadi kami kunjungi.


[Image: j10.jpg]

Dari atas sini kita juga bisa melihat gedung garasi Formula 1, lengkap dengan Singapore Flyer di sisinya.


[Image: j11.jpg]

Ternyata jalan start/finish line itu tidak boleh dilewati kendaraan.

Podium permanen buat nonton balapan F1. Di belakangnya tampak hotel-hotel serta Suntec.


[Image: j12.jpg]

[Image: overstappen.png]
Ada cafe juga diatas sini.


[Image: j13.jpg]

Daerah yang sedang di re-develop ini adalah bakal calon area rekreasi Marina Bay, serta terminal ferry Marina Bay yang menggantikan terminal ferry Sentosa yang dibongkar tahun 2007 silam.


[Image: j14.jpg]

Kami pun turun kebawah setelah menikmati pemandangan diatas. Tampak lobby Marina Bay Sands yang tinggi sekali.


[Image: j14b.jpg]

Kami juga menyempatkan diri jalan-jalan di area shopping centernya yang dipenuhi barang branded.


[Image: j15.jpg]

Saya paling suka muka toko ini. Lampu birunya menyala cukup terang.


[Image: j16.jpg]

Inilah area perjudian Marina Bay Sands yang terkenal itu. Rupanya pintu masuk untuk warga Singapore dan orang asing dipisah.


[Image: j16b.jpg]

Ada yang mau mencoba? Hehehe...

[Image: overstappen.png]
Saya agak kaget juga melihat shopping centernya yang padat seperti Pasar Baru di Bandung.


[Image: j17.jpg]

Usai dari Marina Bay, kami langsung bertolak menuju ke Sentosa Island.


[Image: j18.jpg]

Saya agak kagok melihat Sentosa Island yang sekarang, karena kayaknya pintu masuknya sudah dipindah. Jadi kalau dulu begitu kita datang ke pulau Sentosa, kita masuk ke Ferry Terminal, sekarang kita masuknya lewat bundaran di dekat Fort Siloso dan Underwater World.

Sempat terjadi insiden kecil disini. Sewaktu kita baru turun dari taxi, tiba-tiba ada segerombolan orang bule yang menyerbu masuk ke taxi kita. Padahal taxinya sudah kita charter!
Kami semua sudah berusaha untuk menjelaskan ke si bule sialan itu. Tapi sialnya dia tidak mengerti ucapan kami. Rupanya mereka orang Russia yang lagi mabuk berat, jadi nggak ngerti bahasa selain bahasa mereka.

Otomatis bang Yusuf tidak ada pilihan selain mengantar mereka.....

Untung bahwa mood saya hari itu tidak berambisi untuk menikmati atraksi di pulau Sentosa hari itu. Selain karena sudah terlalu sore, saya juga sudah agak terlalu tua untuk menikmati begituan.

Jaman sekarang, atraksi pertama yang anda temui saat masuk ke pulau Sentosa adalah Underwater World.


[Image: j19.jpg]

Padahal saya teringat bahwa dulu disini ada rel monorelnya.


[Image: j20.jpg]

Rupanya rel monorel Sentosa masih ada yang tersisa.


[Image: j21.jpg]

Jadi teringat di jaman dulu....


[Image: j22.jpg]

[Image: overstappen.png]
Karena atraksinya mahal-mahal, maka kamipun lebih banyak menghabiskan waktu dengan nongkrong di sekitaran Underwater World. Apalagi karena sudah gelap, maka kami tidak tertarik untuk jalan-jalan lebih jauh lagi.

Sewaktu kami memanggil bang Yusuf, rupanya beliau sedang terjebak kemacetan di Orchard. Baru sampai ke Sentosa satu jam setelah kami telepon!

Rupanya tadi beliau sempat sedikit bertengkar dengan para pemabuk tadi. Katanya mereka awalnya minta diantar sampai ke Harbour Front. Eh, tahu-tahu minta diantar sampai ke Orchard!
Otomatis perjalanan balik ke Sentosa jadi molornya minta ampun.

Berhubung acara jalan-jalan kami hari itu habis, kamipun akhirnya mencari tempat makan malam, sekaligus mengajak bang Yusuf makan.

Bang Yusuf mengajak kami ke tempat makan yang cukup enak dan Halal di Geylang Serai. Di tempat itu banyak juga orang Indonesia yang makan disana. Walaupun saya agak kecewa dengan pelayanan di salah satu outlet yang lelet dan ngaco!

Di tempat itu kami menemui banyak sekali orang Indonesia yang mampir. Bang Yusuf berkata bahwa salah satu shopping center di dekat situ adalah tempat berkumpulnya TKI di Singapore, seperti halnya Lucky Plaza tempat berkumpulnya pekerja Filipino.

Geylang Serai tempatnya tidaklah megah atau mewah seperti Orchard, tetapi kami cukup terkesan dengan kerapian dan kebersihannya.

Selesai makan, kami bertolak kembali ke hotel kami.


[Image: j23.jpg]

BERSAMBUNG.
Reply


Messages In This Thread
RE: Railfanning di Semenanjung Malaya. - by Gege - 27-12-2011, 04:05 PM
RE: Railfanning di Semenanjung Malaya. - by mas_bagus_ajah - 04-01-2012, 01:39 AM
RE: Railfanning di Semenanjung Malaya. - by Gege - 10-01-2012, 04:00 PM

Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)