15-12-2011, 08:53 PM
[spoiler=Tahun Depan (2012), PT. Kereta Api Indonesia (Persero) akan Bangun Laboratorium Kalibrasi]
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Mulai Januari 2012, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia membangun laboratorium kalibrasi di Balai Yasa Yogyakarta.
Dengan adanya laboratorium ini, maka PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dapat melakukan pengukuran dan pengujian terhadap berbagai macam perangkat perkeretaapian hingga mencapai standar yang pasti.
"Pembangunan laboratorium kalibrasi ini direncanakan berlangsung selama satu tahun. Sesuai dengan International Standard Organization (ISO) 9001:2008, seluruh peralatan yang digunakan di balai yasa harus dikalibrasi," kata Pakar Kalibrasi dari Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi, dan Metrologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wenda Permana, pekan ini di Balai Yasa Yogyakarta.
Menurut Wenda, beberapa peralatan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang perlu dikalibrasi secara berkala, antara lain alat ukur tekanan, torsi, kelistrikan, serta alat ukur panjang. Proses ini penting untuk menjaga operasional kereta api sehingga pelayanan semakin optimal dan keselamatan penumpang terjamin.
Pembangunan laboratorium kalibrasi di Balai Yasa Yogyakarta merupakan yang pertama kali khususnya dalam hal kalibrasi perkeretaapian. Adapun, mulai tahun lalu, Balai Yasa Yogyakarta dan empat balai yasa lain, yaitu Lahat, Manggarai, Tegal, dan Surabaya sudah memenuhi standar manajemen mutu ISO 9001:2008. Penerapan standardisasi ini salah satunya mensyaratkan adanya kalibrasi peralatan secara berkala.
Ketinggalan zaman, Pengamat Perkeretaapian dari LIPI Taufik Hidayat mengatakan, sebagian besar peralatan dan permesinan kereta api Indonesia sudah tua. Bahkan, beberapa di antaranya adalah barang-barang peninggalan pemerintah Belanda. Karena itu, perawatan perkeretaapian menjadi hal yang harus diperhatikan.
"Balai yasa di Indonesia sudah ketinggalan dibandingkan balai yasa-balai yasa di luar negeri. Di Malaysia misalnya, pemerintah turun langsung menggelontorkan dana untuk pembangunan balai yasa sehingga balai yasa di sana maju. Namun, di Indonesia pemerintah belum serius mengembangkan moda transportasi kereta api sebagai angkutan massa," ucapnya.
Di Balai Yasa Yogyakarta, sekitar 60 persen peralatan dan permesinan kereta api adalah peninggalan Belanda. "Lokomotif tertua yang sekarang masih digunakan untuk angkutan umum dibuat tahun 1976," kata Kepala Unit Rencana Balai Yasa Yogyakarta Denny Haryanto.
Meski demikian, selama tahun 2011, Balai Yasa Yogyakarta mampu merealisasikan perawatan akhir (PA) dan semi perawatan akhir (SPA) lokomotif sebanyak 102 program. Jumlah ini melebihi program awal yang telah direncanakan, yaitu sebanyak 94 program.
[/spoiler]
Dengan adanya laboratorium ini, maka PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dapat melakukan pengukuran dan pengujian terhadap berbagai macam perangkat perkeretaapian hingga mencapai standar yang pasti.
"Pembangunan laboratorium kalibrasi ini direncanakan berlangsung selama satu tahun. Sesuai dengan International Standard Organization (ISO) 9001:2008, seluruh peralatan yang digunakan di balai yasa harus dikalibrasi," kata Pakar Kalibrasi dari Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi, dan Metrologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wenda Permana, pekan ini di Balai Yasa Yogyakarta.
Menurut Wenda, beberapa peralatan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang perlu dikalibrasi secara berkala, antara lain alat ukur tekanan, torsi, kelistrikan, serta alat ukur panjang. Proses ini penting untuk menjaga operasional kereta api sehingga pelayanan semakin optimal dan keselamatan penumpang terjamin.
Pembangunan laboratorium kalibrasi di Balai Yasa Yogyakarta merupakan yang pertama kali khususnya dalam hal kalibrasi perkeretaapian. Adapun, mulai tahun lalu, Balai Yasa Yogyakarta dan empat balai yasa lain, yaitu Lahat, Manggarai, Tegal, dan Surabaya sudah memenuhi standar manajemen mutu ISO 9001:2008. Penerapan standardisasi ini salah satunya mensyaratkan adanya kalibrasi peralatan secara berkala.
Ketinggalan zaman, Pengamat Perkeretaapian dari LIPI Taufik Hidayat mengatakan, sebagian besar peralatan dan permesinan kereta api Indonesia sudah tua. Bahkan, beberapa di antaranya adalah barang-barang peninggalan pemerintah Belanda. Karena itu, perawatan perkeretaapian menjadi hal yang harus diperhatikan.
"Balai yasa di Indonesia sudah ketinggalan dibandingkan balai yasa-balai yasa di luar negeri. Di Malaysia misalnya, pemerintah turun langsung menggelontorkan dana untuk pembangunan balai yasa sehingga balai yasa di sana maju. Namun, di Indonesia pemerintah belum serius mengembangkan moda transportasi kereta api sebagai angkutan massa," ucapnya.
Di Balai Yasa Yogyakarta, sekitar 60 persen peralatan dan permesinan kereta api adalah peninggalan Belanda. "Lokomotif tertua yang sekarang masih digunakan untuk angkutan umum dibuat tahun 1976," kata Kepala Unit Rencana Balai Yasa Yogyakarta Denny Haryanto.
Meski demikian, selama tahun 2011, Balai Yasa Yogyakarta mampu merealisasikan perawatan akhir (PA) dan semi perawatan akhir (SPA) lokomotif sebanyak 102 program. Jumlah ini melebihi program awal yang telah direncanakan, yaitu sebanyak 94 program.

