25-10-2011, 11:26 AM
Quote:[spoiler=Tarif Kargo Kereta Api Segera Dievaluasi]
SURABAYA - PT. Kereta Api Indonesia (Persero) merencanakan untuk mengevaluasi tarif sewa gerbong barang yang dikenakan kepada perusahaan ekspedisi rekanan PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Pasalnya tuntutan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk transportasi kian naik, sedangkan hingga saat ini belum ada penyesuaian tarif.[/spoiler]
"Sampai saat ini sewa gerbong barang untuk rekanan ekspedisi belum kita naikkan. Tapi seiring terus naiknya harga minyak dunia, dan sudah diterapkannya fuel surcharge untuk angkutan barang, kami akan melakukan evaluasi harga," ungkap Executive Vice President (EVP) Freight Marketing and Sales PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Rustam Harahap.
Dia menyebutkan, pihaknya kini sedang mengusulkan kepada pemerintah agar KA barang diperbolehkan menggunakan bahan bakar bersubsidi. Selama ini, KA barang memakai bahan bakar industri. "Kalau bisa menggunakan bahan bakar bersubsidi, maka biaya operasional kargo bisa ditekan. Sehingga jadi tidak perlu ada kenaikan tarif sewa," tuturnya.
Rustam menambahkan, beban tambahan bahan bakar atau fuel surcharge untuk angkutan kargo kereta api telah diterapkan sejak April 2011 lalu, namun masih belum berimbas pada kenaikan biaya pengiriman perusahaan ekspedisi.
Fuel Surcharge tersebut sebesar Rp.14,- hingga Rp.28,- per ton per kilometer. Sementara tarif kargo KA yang dikenakan pada end user saat ini masih bertahan dengan tarif lama di kisaran Rp.1.000,- sampai Rp.3.500,- per kilometer, tergantung dengan jarak dan jenis layanannya.
Saat ini, ekspedisi rekanan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang menyewa jasa KA barang mencapai 27 perusahaan. Pengangkutan kargo oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sendiri menggunakan 124 KA barang, dan setiap tahun mengangkut sedikitnya 45 juta ton. Komposisi angkutan barang paling besar adalah komoditas batubara sebanyak 33 persen.
Untuk mendukung sektor pengangkutan, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) akan tambah 82 kereta pada 2012. Sebanyak 54 kereta akan beroperasi di Jawa, sisanya sebesar 28 kereta dijalankan di Sumatera.
"Kalau kontribusi kargo tak signifikan dibanding penumpang, kisaran 6-10 persen dari total pendapatan. Namun, kami yakin potensi bisnis pengangkutan akan cerah. Oleh karena itu kami tambah rangkaian gerbongnya," paparnya.

