05-02-2011, 01:17 PM
(05-02-2011, 12:36 PM)bagus70 Wrote: Apakah ini kebijakan bodoh kreasi pak Hermanto Dwiatmoko lagi? Mengingat jabatannya di Dirjen KA adalah kepala bagian yang berurusan dengan keselamatan KA.
Sudah sebelumnya membuat penomoran bodoh, sekarang menyuruh mengosongkan gerbong pertama dan terkahir dengan alasan "keselamatan". Duh, kok kesannya seperti anti Tuhan begitu, seakan-akan mati-hidupnya orang ditentukan Dirjen KA.
Kebijakan ini kalau dianalogikan seperti:
- karena bus sering celaka, maka dua deret kursi pertama dikosongkan (begini caranya PO busnya bisa bangkrut!).
- karena korban tewas pesawat seringkali ada di depan, maka business class ditiadakan, dan penumpang dilarang duduk di bagian depan (mampus gini caranya buat airlinenya).
- karena sering terjadi perampokan terhadap pengguna mobil mewah, maka warga masyarakat dilarang menggunakan mobil mewah (enak saja! Memangnya ini negara komunis gitu? Wong di RRC yang negara komunis, nyetir Ferrari boleh kok).
Logikanya dimana gitu? Wong penjaga sekolahan yang belum tentu lulusan SMA bisa berpikir lebih logis, dan mengambil tindakan jauh lebih bijaksana daripada ini!
Kepada moderator, saya mohon maaf kalau ucapan saya kurang berkenan, dan terkesan seperti memojokkan pribadi atau institusi tertentu. Tapi patut diingat bahwa saya berbicara sebagai pengguna jasa KA yang membayar karcis secara penuh, sehingga kalau dianalogikakan, gaji orang-orang itu berasal dari uang saya.
Saya hanyalah seorang pengguna jasa KA, dan penikmat KA, yang merasa gerah dengan tindak-tanduk orang bodoh sok kuasa seperti mereka.
Kalo emang begitu sekalian saja kursi A dan D (Eksekutif, Bisnis, dan Ekonomi AC) atau A dan E (Ekonomi reguler) harus dikosongkan, jadi kalo gerbongnya anjlok ke samping orang yang dipinggir jendela ga jadi korban meninggal (kalo ga salah waktu PLH Argo Dwipangga tahun 2002 apa 2003 yang 2 gerbong nyemplung ke sawah gara-gara jembatan rel diseruduk atap truk ada 1 korban meninggal akibat duduk di kursi pinggir jendela sebelah kanan - soalnya waktu itu gerbongnya jatuh ke sisi kanan rel, truk datang dari kiri)...
Yang namanya PLH itu kan peristiwa yang tidak diduga, ya emang harus diantisipasi. Tapi cara seperti ini justru sangat tidak efektif, paling-paling ya coba cara yang lain donk, kayak taspat 5-10 km/h untuk semua KA ketika akan memasuki sebuah stasiun (sudah pernah dipaparkan di thread ini, kalo ga salah page 2 apa 3 oleh Bravo eling, dan saya salah satu RF yang setuju sekali dengan hal ini), itu kan lebih efektif daripada nambah gerbong kosong buat sekedar menampung angin, padahal gerbong-gerbong itu bisa dipakai untuk hal yang emang kegunaannya, mengangkut penumpang...

