26-10-2010, 01:24 PM
TRANSPORTASI
Inilah Masa Depan KA di Asia Tenggara
Laporan wartawan KOMPAS Haryo Damardono
Selasa, 26 Oktober 2010 | 12:59 WIB
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Ilustrasi kereta api di stasiun.
JAKARTA, KOMPAS.com - Berita baik tentang perkeretaapian di Asia Tenggara, datang dari Kamboja. Jumat (22/10/2010). Setelah serangkaian revitalisasi, jalur pertama kereta api di negara itu telah dioperasikan. Itu setelah 80 tahun tanpa perbaikan, dan 30 tahun dilupakan dalam peperangan.
Sebelum revitalisasi, hanya ada dua perjalanan kereta per minggu di negara tersebut. Dan, setelah rute kereta normal dibuka, dengan sangat ambisius, dicanangkan jalur kereta penghubung Phnom Penh ke Saigon pada tahun 2015.
Ketika jalur kereta Phonm Penh-Saigon rampung, maka diharapkan kereta dapat mengangkut komoditas dari China menuju Semenanjung Malaya. Perekonomian pun, diharapkan dapat bergerak lebih kencang dengan kehadiran urat nadi transportasi itu.
Dengan 550 juta penduduk dan kombinasi gross domestik bruto sebesar 1.500 miliar dollar, Asia Tenggara memang membutuhkan urat nadi transportasi untuk lebih dashyat lagi mengembangkan perekonomiannya. Dibutuhkan kanal untuk dengan mudah, memindahkan komoditas dari satu lokasi ke lokasi lain.
Namun The Financial Times melaporkan, pembangunan jalan rel di Asia Tenggara seolah berkompetisi dengan pembangunan jaringan tol. Meski, industri manufaktur mengatakan, kedatangan kereta sangat dinanti.
Contohnya, dari Thailand bagian selatan, diproduksi 275.000 unit kendaraan per tahun, biasanya dikirim mobil dalam 14 hari dari Thailand ke Hanoi menggunakan kapal laut. Namun dengan kereta, diharapkan waktu tempuhnya berkurang menjadi tiga hari.
Ringkasnya, kereta api kini makin dinanti di daratan Asia Tenggara. Amadou Diallo, chief executive of DHL Global Forwading for South Asia Pacific, pun telah menyampaikan, sekitar 15 persen dari nilai perdagangan intra-ASEAN hilang lantaran buruknya infrastruktur.
Asian Development Bank memperkirakan, hanya dibutuhkan sekitar Rp 22 triliun untuk merealisasikan jaringan kereta dari China selatan melewati Vietnam, Kamboja, Thailand, menuju Malaysia dan Singapura. Sementara itu, diperkirakan Rp 560 triliun nilai perdagangan telah hilang akibat buruknya infrastruktur.
Bagaimana dengan perkeretaapian di Indonesia? (BBC/Financial Times)
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/20...nggara..-3
Ayo Indonesia jangan kalah dengan Kamboja....Perbaiki Sarana dan Prasarana KA..kalo perlu Tambah jalur KA lagi...
Inilah Masa Depan KA di Asia Tenggara
Laporan wartawan KOMPAS Haryo Damardono
Selasa, 26 Oktober 2010 | 12:59 WIB
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Ilustrasi kereta api di stasiun.
JAKARTA, KOMPAS.com - Berita baik tentang perkeretaapian di Asia Tenggara, datang dari Kamboja. Jumat (22/10/2010). Setelah serangkaian revitalisasi, jalur pertama kereta api di negara itu telah dioperasikan. Itu setelah 80 tahun tanpa perbaikan, dan 30 tahun dilupakan dalam peperangan.
Sebelum revitalisasi, hanya ada dua perjalanan kereta per minggu di negara tersebut. Dan, setelah rute kereta normal dibuka, dengan sangat ambisius, dicanangkan jalur kereta penghubung Phnom Penh ke Saigon pada tahun 2015.
Ketika jalur kereta Phonm Penh-Saigon rampung, maka diharapkan kereta dapat mengangkut komoditas dari China menuju Semenanjung Malaya. Perekonomian pun, diharapkan dapat bergerak lebih kencang dengan kehadiran urat nadi transportasi itu.
Dengan 550 juta penduduk dan kombinasi gross domestik bruto sebesar 1.500 miliar dollar, Asia Tenggara memang membutuhkan urat nadi transportasi untuk lebih dashyat lagi mengembangkan perekonomiannya. Dibutuhkan kanal untuk dengan mudah, memindahkan komoditas dari satu lokasi ke lokasi lain.
Namun The Financial Times melaporkan, pembangunan jalan rel di Asia Tenggara seolah berkompetisi dengan pembangunan jaringan tol. Meski, industri manufaktur mengatakan, kedatangan kereta sangat dinanti.
Contohnya, dari Thailand bagian selatan, diproduksi 275.000 unit kendaraan per tahun, biasanya dikirim mobil dalam 14 hari dari Thailand ke Hanoi menggunakan kapal laut. Namun dengan kereta, diharapkan waktu tempuhnya berkurang menjadi tiga hari.
Ringkasnya, kereta api kini makin dinanti di daratan Asia Tenggara. Amadou Diallo, chief executive of DHL Global Forwading for South Asia Pacific, pun telah menyampaikan, sekitar 15 persen dari nilai perdagangan intra-ASEAN hilang lantaran buruknya infrastruktur.
Asian Development Bank memperkirakan, hanya dibutuhkan sekitar Rp 22 triliun untuk merealisasikan jaringan kereta dari China selatan melewati Vietnam, Kamboja, Thailand, menuju Malaysia dan Singapura. Sementara itu, diperkirakan Rp 560 triliun nilai perdagangan telah hilang akibat buruknya infrastruktur.
Bagaimana dengan perkeretaapian di Indonesia? (BBC/Financial Times)
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/20...nggara..-3
Ayo Indonesia jangan kalah dengan Kamboja....Perbaiki Sarana dan Prasarana KA..kalo perlu Tambah jalur KA lagi...


