06-08-2010, 12:15 PM
Pemerintah Abaikan Kereta Api
Jumat, 6 Agustus 2010 | 11.37 WIB
http://m.kompas.com/xl/read/data/2010.08.06.11370015
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah dinilai telah mengabaikan kereta api sebagai salah satu moda transportasi di tanah air. Padahal, permintaan dari masyarakat cukup tinggi.
Anggota Komite II DPD RI Bambang P Soeroso mengatakan jika melihat luasnya wilayah Indonesia, seharusnya kereta api menjadi moda transportasi yang paling tepat dan menjanjikan."Di Indonesia, kereta api itu diabaikan yang sebenarnya menurut pendapat kami merupakan moda transport yang harusya menjadi tumpuan pergerakan orang dan distribusi barang dan jasa," tuturnya dalam Talkshow DPD RI Perspektif Indonesia bertajul 'Kereta Api Indonesia: Antara Keselamatan dan Komersialisasi' di Gedung DPD RI, Jumat (6/8/2010).
Buktinya, lanjut Bambang, panjang rel kereta api bukannya bertambah secara signifikan tapi justru merosot jauh dari panjang rel pada masa Belanda.
Selain rel, juga soal lokomotif. Menurut data yang diterimanya, jumlah lokomotif per tahun 2008 sebanyak 341 buah. Menurun dari data tahun 2004 yang menunjukkan jumlah lokomotif 354 buah."Loko-nya tua-tua dan jumlahnya makin menyusut. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) enggak punya anggaran. Jangankan untuk membeli, untuk memelihara saja kurang," tandasnya.
Sebelumnya, Dirjen Perkeretaapian Departemen Perhubungan Tundjung Inderawan mengakui panjang rel saat ini jauh merosot dibandingkan panjang rel pada masa Belanda."Dari panjang rel peninggalan Belanda dan baru alami penurunan baik di Jawa dan Sumatera karena ada lintas yang terpaksa ditutup atau mati karena secara ekonomi sudah tidak laik," katanya.
KOMPAS.com Caroline Damanik
Jumat, 6 Agustus 2010 | 11.37 WIB
http://m.kompas.com/xl/read/data/2010.08.06.11370015
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah dinilai telah mengabaikan kereta api sebagai salah satu moda transportasi di tanah air. Padahal, permintaan dari masyarakat cukup tinggi.
Anggota Komite II DPD RI Bambang P Soeroso mengatakan jika melihat luasnya wilayah Indonesia, seharusnya kereta api menjadi moda transportasi yang paling tepat dan menjanjikan."Di Indonesia, kereta api itu diabaikan yang sebenarnya menurut pendapat kami merupakan moda transport yang harusya menjadi tumpuan pergerakan orang dan distribusi barang dan jasa," tuturnya dalam Talkshow DPD RI Perspektif Indonesia bertajul 'Kereta Api Indonesia: Antara Keselamatan dan Komersialisasi' di Gedung DPD RI, Jumat (6/8/2010).
Buktinya, lanjut Bambang, panjang rel kereta api bukannya bertambah secara signifikan tapi justru merosot jauh dari panjang rel pada masa Belanda.
Selain rel, juga soal lokomotif. Menurut data yang diterimanya, jumlah lokomotif per tahun 2008 sebanyak 341 buah. Menurun dari data tahun 2004 yang menunjukkan jumlah lokomotif 354 buah."Loko-nya tua-tua dan jumlahnya makin menyusut. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) enggak punya anggaran. Jangankan untuk membeli, untuk memelihara saja kurang," tandasnya.
Sebelumnya, Dirjen Perkeretaapian Departemen Perhubungan Tundjung Inderawan mengakui panjang rel saat ini jauh merosot dibandingkan panjang rel pada masa Belanda."Dari panjang rel peninggalan Belanda dan baru alami penurunan baik di Jawa dan Sumatera karena ada lintas yang terpaksa ditutup atau mati karena secara ekonomi sudah tidak laik," katanya.
KOMPAS.com Caroline Damanik
.

