09-06-2010, 02:08 PM
(08-06-2010, 08:14 AM)sepur_lori Wrote: Chabar perkeretaapian dari ranah Jawa Tengah:
Quote:Jateng "Surga" Lokomotif Uap
Kompas, 8 Juni 2010
Semarang, Kompas - Bagi wisatawan Eropa, Provinsi Jawa Tengah merupakan surga lokomotif uap karena masih memiliki sejumlah lokasi yang menyajikan perjalanan dengan lokomotif uap di saat pabrik pembuatnya sudah lama tutup. Namun, potensi itu belum optimal karena minimnya konektivitas antarlokasi.
Di Jawa Tengah, setidaknya ada delapan lokasi yang masih memfungsikan lokomotif uap dengan empat diantaranya bisa diakses wisatawan. Di Ambarawa, Kabupaten Semarang, dengan lokomotif bergigi khusus untuk daerah pegunungan, di Solo dengan loko uap yang melintasi tengah kota, Cepu (Blora) dengan lanskap hutan jati, serta Karanganyar dengan pemandangan Pabrik Gula Tasikmadu.
"Dibanding beberapa daerah lain di Pulau Jawa, Jawa Tengah itu potensinya lebih besar karena memiliki lokomotif dan stasiun yang relatif asli, seperti Ambarawa," kata Steve Noon, pecinta lokomotif uap asal Birmingham, Inggris di Museum Kereta Api Ambarawa, Senin (7/6).
Steve dan tujuh pecinta lokomotif uap dari sejumlah negara Eropa, seperti Jerman, Austria, dan Swiss, berburu loko uap di sejumlah daerah di Pulau Jawa. Mereka juga mengunjungi Ambarawa, Solo, Karanganyar, dan Cepu untuk mengabadikan loko uap ini dalam bentuk video dan foto.
Di Eropa, kata Steve, wisata lokomotif uap menjadi industri yang sangat besar. Jika Jawa Tengah mampu mempertahankan lokomotif ini sebagai pusaka budaya, ia yakin akan banyak turis Eropa datang. Terlebih jika pecinta lokomotif uap memublikasikan hasil foto-foto mereka di majalah. Di Inggris, setidaknya ada tiga majalah khusus kereta uap dan lima majalah kereta api.
Direktur Cepu International Heritage Club, Sisworo, yang mendampingi wisatawan minat khusus itu mengatakan, potensi besar Jateng belum sepenuhnya tergali karena minimnya konektivitas di antara pengelola lokomotif uap tersebut. Selain harga paket yang ditawarkan bisa sangat mahal, semisal loko Ambarawa sekitar Rp5 juta, Cepu Rp15 juta, dan Solo Rp8 juta. "Mestinya bisa ada satu paket Ambarawa-Solo-Karanganyar-Cepu, setidaknya satu bulan bisa lima kali," tuturnya.
Kepala Stasiun Ambarawa Eko S Mulyanto menuturkan, koneksi itu setidaknya bisa diawali dengan saling menukar brosur informasi di antara empat pengelola lokomotif uap. Beberapa kali wisatawan menanyakan lokomotif uap sejenis, tetapi informasi itu terbatas. "Kalau membuat satu paket dengan sekali membayar, itu masih harus dibicarakan dengan kantor pusat PT KA," tuturnya. (GAL)
di sambung beritanya Turis Bikin Film Lokomotif Tua PG Tasikmadu
Rabu, 9 Juni 2010 - 08:49 wib
KARANGANYAR - Keberadaan steam locco kuno di Pabrik Gula (PG) Tasikmadu, Karanganyar, Jawa Tengah, menarik perhatian komunitas pecinta lokomotif dari luar negeri.
Kondisi lokomotif tua yang sampai kini masih dipakai untuk menarik lori tebu tersebut dibuatkan film dokumenter. “Komunitas pecinta lokomotif langka yang membuat film dokumenter berasal dari Jerman dan Swiss,†ujar Manajer agrowisata Sondokoro PG Tasikmadu, Megantoro, Rabu (9/6/2010).
Sedangkan steam locco yang diabadikan adalah kereta uap Tasikmadu 6 buatan pabrik Orenstein & Koppel, Jerman tahun 1929. Sebelumnya mereka juga telah berkeliling ke Tegal, Pekalongan dan Ambarawa guna melihat kereta uap di sana. “Setelah dari PG Tasikmadu, mereka akan melihat sepur Kluthuk Jaladara di Solo dan lokomotif milik perhutani Cepu,†katanya.
Mereka tertarik dengan TM 6 karena keberadaannya kini hanya ada di PG Tasikmadu dan Norwegia. Dalam keseharian, lokomotif TM 6 masih dipakai untuk menarik lori tebu di lingkungan pabrik.
Kereta uap tersebut pada tahun 80-an masih dipakai untuk menarik lori dari perkebunan tebu. Namun pada tahun 90an hanya dipakai di lingungan pabrik setelah fungsinya digantikan angkutan truk.
Keberadaan lokomotif kuno memang sangat menarik turis mancanegara untuk datang ke Sondokoro. Selain Swiss dan Jerman, banyak juga turis dari Inggris dan Jepang yang ingin menyaksikan loko uap menggandeng lori berisi tebu yang siap digiling.
Saat ini agrowisata Sondokoro memiliki sembilan loko uap yang masih aktif.(Ary Wahyu Wibowo/Koran SI/ful)


