(09-12-2009, 10:27 AM)Penjelajah Wrote: [spoiler]
Tahun 1999 saya mendaki ke G. Ciremai berdua dengan teman saya. Sepulangnya saya turun ke Cirebon. Kami naik KA ekonomi (saya lupa namanya, dan juga saat itu belum begitu suka KA) dari Parujakan. Berangkat siang, dan kami ada di bordes gerbong terakhir. Saya dari dulu lebih suka berdiri di bordes daripada di dalam. Dari 8 rangkaian, hanya 6 gerbong di depan yang terisi. Sepanjang lintas CN-SMC itulah awal musibah kami. Kurang lebih di daerah Tegal tiba² saja saya menyadari bahwa kami disudutkan segerombol pemalak. Posisi kami berdiri di pintu kereta, dan jika saya melawan, dengan mudahnya mereka tinggal menendang saya keluar. Sempat mau nekat meloncat keluar, namun kereta sangat kencang. Pilihannya dibunuh atau tewas mengenaskan pikir saya. Hanya sedikit berontak, dan kami sudah digiring oleh sekitar 10 anak ke dalam kereta. Mereka terdiri dari berbagai profesi; pengamen, gelandangan, pengemis, preman, asongan, tukang sapu, dll. Mulailah dari carrier (ransel) kami dijarah. Dirampas dengan utuh. Selanjutnya sepatu, jam, topi, uang, dompet, dan ... hingga baju-celana kami dirampas. Ditukar dengan pakaian mereka yang lusuh dan nggak layak itu. Teman saya bahkan mendapat "bonus", ditendang ketua gengnya setelah merampas sepatunya. Pipinya jadi cap sol sepatunya sendiri hingga kepalanya membentur kaca jendela. Sepanjang jalan, saya sudah tak tahu melewati mana saja kereta itu. Yang jelas mereka turun tahap demi setahap di tiap stasiun.
Result : saya memakai celana kolor pendek dan kaos oblong dengan sandal jepit, dan teman saya juga sama ... tapi telanjang kaki. Kasihan, saya berikan sandal jepitnya ke dia.
Tanpa alas kaki, kami akhirnya sampai juga di SMC dengan yang melekat di badan saja. Di hadapan Polsuska, tak ada yang bisa kami berikan selain cerita, mengingat semuanya dirampas total. Hanya celana dalam saja yang tidak ditukar (glekk!!). Mereka hanya mendengarkan, hanya mengingatkan. Tanpa empati. Saya hanya diantar ke Komandannya. Sama. Jadi pendengar dan basa-basi juga. Bahkan saya memohon sedikit receh hanya untuk rokok atau makan pun tak bergeming. Satu²nya hanya surat keterangan pengganti karcis naik Matarmaja.
Penderitaan belum berakhir. Saat KA itu berangkat menjelang dini hari dari sana, kami lapar, haus dan kedinginan.
Beruntunglah teman selonjor kami seorang gelandangan anak². Karena kasihan, dengan kesana kemari dia mencari makanan, minum dan rokok untuk kami bertiga. Saya tak peduli lagi jika itu air minum Aqua sisa², nasi sisa². Rokok sebatang pun bergiliran.
Sampai di ML, sekitar jam 2-3 sore waktu itu. Kami mengajak dia ikut ke rumah saya. Bertiga jalan kaki dari Kotabaru ke Sawojajar (3.5 km) dalam keadaan lusuh, lapar, haus dan telanjang kaki. Sampai di rumah saya diam, tak bercerita apa² ke keluarga (hingga sekarang).
Sebagai balas budi, saya menawarkan anak itu (saya lupa namanya) untuk tinggal di rumah selama dia mau. Hingga beberapa hari saya bekerja, dia ikut saya. Suatu sore, saya mandi selepas kerja. Setelah selesai dia sudah tidak ada di dalam. Saya tanya ke tetangga, bilang dia barusan keluar gang. Bersamanya, Ericsson A1018s milik saya jadi "uang saku"nya (dulu masih ada roaming, jadi kalo keluar kota malas bawa hp). Padahal itu hp kedua yang saya beli dari uang saya sendiri (seri itu masih mahal banget buat ukuran saya).
Saya ikhlas, tak anggap balas budi. Meskipun kena pepatah; sudah jatuh, tertimpa tangga, saya nggak kapok atau trauma naik kereta. Tak ada hikmah yang saya rasakan, tapi jawaban. Saya sekarang tahu, kenapa penjahat kebanyakan mengambil semua identitas korbannya (SIM, tiket KA dan KTP saya pun juga diminta paksa). Agar tak bisa diusut, atau pihak berwajib kesulitan menangani laporan sang korban. Sedikit flashback, sayapun dianggap penumpang gelap alias kambing, karena tak bisa menunjukkan apa². Mungkin gara² itu saya diacuhkan oleh pihak SMC saat itu. Terlebih lagi, setelah itu saya mencari tahu tentang peta² rawan CN-SMC (juga input dari Pak Purwo, pemilik warung dipo ML). Ternyata saya termasuk beruntung. Saya termasuk dari beberapa yang lolos dengan selamat dari kejahatan mereka . Mereka tak segan² melempar keluar atau membunuh korbannya yang melawan. Saya nggak tahu apakah jalur itu sudah aman sekarang.
Masalahnya juga masih berekor. Perlengkapan kami yang dirampas sebagian adalah pinjaman dan harganya mahal. Tenda yang saya pinjam seharga 700.000 saat itu. Belum lagi yang dipinjam teman saya. Belum selesai menggantinya, dia tewas karena overdosis beberapa bulan setelah itu. Menyesalnya, kenapa bukan saat saya sendirian yang jadi korban, saat solo trek ke G. Raung, Bondowoso (sekitar tahun 2002 saya masih naik KA jurusan Jember-Panarukan). Lengkap sudah penderitaan, beban mental dan materi buat saya. Saya yang mengajaknya ke Ciremai, dia kena musibah, berhutang dan dipanggil Tuhan dengan cara yang mengenaskan.... [/spoiler]
wah parah banged, 1 hal yg harus di jadikan pelajaran " Bordes bukan tempat penumpang " Ga peduli walau bayar karcis sekalipun, bordes wilayah yang sangat berbahaya
Terdampar di Purwokerto setahun gara-gara proyek fiber optik Jateng ga kelar


