Posts: 117
Threads: 0
Joined: Jun 2008
Reputation:
0
Posts: 984
Threads: 0
Joined: Aug 2008
Reputation:
2
Quote:thanks ... tapi sebenarnya maksud gw posisi lokomotif, kalo C3 n C4 sering saya liat posisinya Shorthood - Longhood, kalo C1 Shorthood - Shorthood
menurut saya g juga posisi untuk DT harus seperti ntu...
Posts: 2,972
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
14
Quote: thanks ... tapi sebenarnya maksud gw posisi lokomotif, kalo C3 n C4 sering saya liat posisinya Shorthood - Longhood, kalo C1 Shorthood - Shorthood
oh gitu biasanya yang memakai model kaya gini di lintas kertapati (palembang)- tarahan(lampung) yang biasa di pakai buat menarik kereta babaranjang. jadi biar efektif sehingga tidak perlu memutar lok ketika sudah sampai stasiun tujuan makanya ke arah manapun akan menemukan posisi yang terdekat dan efektif.seandaianya posisi nya short hood dua duanya maka ketika akan balik posisinya jadi long hood dua duanya kan tidak efektif
Posts: 117
Threads: 0
Joined: Jun 2008
Reputation:
0
Posts: 928
Threads: 0
Joined: Jan 2009
Reputation:
3
sebenernya sih ga ada aturan buat posisi lok yang DT tapi mungkin untuk kereta kelas argo yang depannya harus SH tapi mau SH-SH, LH-LH, LH-SH, atopun SH-LH sama aja yang penting fungsi dari DT nya itu sendiri...
Posts: 3,387
Threads: 0
Joined: May 2008
Reputation:
2
12-03-2009, 11:27 AM
(This post was last modified: 30-05-2011, 09:16 AM by Gege.)
Ada info alasan untuk DT/MU...
Santo Tjokro Wrote:Faktornya banyak, yang paling tahu ya kepala Dipo Traksi tempat lok mau berangkat.
Tapi kalau menurut pendapat saya bisa salah satu dari alasan berikut :
- Sesuai kekuatan lok dan medan yg bakal dilewati, makanya (seperti kata pak Dhe) ada tabel daya tarik lok, disitu terlihat kecepatan dihubungkan dng. kekuatan tarik, kalau bebannya lebih berat, maka kecepatannya pasti akan turun dan sebaliknya. Kalau memang jadwalnya punya kelonggaran (dan masih tepat) mungkin gak masalah bebannya sedikit lebih berat, tapi kecepatan puncaknya menurun (sedikit)
- tergantung kondisi jalan, misalnya rel licin, dua lok tentunya akan lebih baik dari satu lok "ngeden" sendirian, licin lagi
- Tergantung SIAPA PENUMPANG nya, kalau penumpangnya SPESIYAL, ya dipasang dua lok, daripada jabatan terancam dicopot karena dimarahi yg diatas.
- Bisa juga sekalian ngirim lok untuk tujuan operasional, daripada jalan sendiri KLB per petak
- Lok nya lagi "pincang" alias kurang sehat jadi terpaksa di dobel
Susanto
Happy reading...:tos:
Posts: 4,120
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
1
dedy vh Wrote:
![[Image: 20090311182231_lebak_jero_282_49b79ef797caf.jpg]](http://upload.kapanlagi.com/images//20090311182231_lebak_jero_282_49b79ef797caf.jpg) om ded koreksi kliatanna itu bukan GBM deh coz K3 nya dipo keretanya SBI,apa mungkin kertajaya??hehehe
Posts: 432
Threads: 0
Joined: Feb 2009
Reputation:
1
Kemaren sore di Lpn liat Pasundan DT LH-LH,belakang C1-97 depane ga sempet liat.
Da pic pi lum isa uploade
--
Sent on a phone using T9space.com
Posts: 4,120
Threads: 0
Joined: Sep 2008
Reputation:
1
barz Wrote:Kemaren sore di Lpn liat Pasundan DT LH-LH,belakang C1-97 depane ga sempet liat.
Da pic pi lum isa uploade
--
Sent on a phone using T9space.com lha kemaren ak juga di LPN om,itu DT karena TEST BEBAN,lok depan narik pasundan ampe SLO,trs balik YK lokkes,trs balik ke BY Pengok lagi...
Posts: 117
Threads: 0
Joined: Jun 2008
Reputation:
0
hedwigus Wrote:Agus Budhy Nugroho Wrote:dear rail fans...
mohon pencerahannya untuk hal ini...
bagaimana cara kerja Loko saat mulai pertama kali throtle posisi 1 (hingga seterusnya) sedangkan Lok keadaan dalam kondisi double traksi (double Lok)... mengapa kedua traksi tersebut (khususnya) mesin dieselnya dapat bekerja ?... :econfused:
Cara yang paling modern untuk multiple traction adalah dengan menggunakan multiple unit (MU) port yang berada di sisi depan/belakang dari lokomotif. Sehingga rangkaian lokomotif dapat dioperasikan oleh 1 man dan 1 jra.
Sementara yang biasanya terjadi di sini, multiple traction tidak menggunakan MU port dan hanya mengandalkan insting dari para masinis yang berada di lokomotif yang aktif. Biasanya dapat dibantu dengan komunikasi radio. Tetapi lebih banyak hanya menggunakan perasaan para masinis aja saat menarik trhotle dan membuka rem udara.
Pernah ada kejadian saat doble lok / doble traksi, salah satu loko terkunci system rem nya karena sang masinis belum biasa menjalankan konfigurasi ini.
Untuk wessel, sebenarnya bisa dilihat apakah sifatnya turn-out atau turn-in.
Saat turn-out, wesel digunakan untuk memindahkan rangkaian ke jalur lain, dimana jarum wesel berfungsi sebagai alat pemindah (muka jarum wesel berada di lintasan kereta yang melaluinya). Dalam kondisi seperti ini, jarum harus terkunci dengan baik sehingga tidak terlepas dan menyebabkan rangkaian anjlog.
Sementara turn-in, jarum wesel berada di akhir lintasan, jadi saat dilalui rangkaian, dia akan ikut tertekan oleh roda-roda rangkaian dan kemungkinan rangkaian anjlog sangat kecil terjadi.
Kalo untuk CC 204 series apakan juga gak pake MU ... karena beberapa kali liat DT di lok yang belakang gak ada masinisnya ......
|