Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Railfanning di Semenanjung Malaya.
#31
lanjut terus mas, ditunggu foto-foto stasiun di Malaysia
Reply
#32
dari foto smpyan yg pose di blue tiger dan cc 204, kyaknya masih lebih besar blue tiger ya, pdhal lebar sepurnya malaysia kan lebih sempit (1000mm),
Silence Is Golden

But My Eyes Still SeeNgeledek
Reply
#33
Setelah segala urusan imigrasi beres, kamipun keluar dari terminal. Di counter di dekat pintu keluar kebetulan ada counter kereta api ERL.

Tadinya saya agak ragu-ragu untuk beli, karena sebelum berangkat saya sempat membaca di Wikipedia kalau tarif naik ERL bisa sampai RM 35, jauh lebih mahal daripada naik bus yang paling mahal cuman RM 15 untuk rute bandara Sepang ke stasiun KL Sentral.

Tapi naluri dan semangat railfans saya yang membara tetap mendorong saya untuk datang ke counter ERL di situ. Setelah tanya harganya, rupanya cuman RM 12.50! Wahahaha asyik!

Setelah membeli tiket kereta api ERL, saya langsung keluar dari terminal dan menuju ke bis jemputan milik ERL. Agak gampang mengenali busnya, karena hanya dia yang warnanya pink.


[Image: fumih4.jpg]

Selama perjalanan, saya melihat suasana di luar yang sangat rapi. Rapi disini bukan dalam artian bebas sampah, karena saya terkadang masih melihat ada sampah berserakan, tapi maksudnya adalah alam di sekitar LCCT tidak “diganggu” oleh keberadaan pabrik seperti yang umumnya saya lihat di pinggir kota besar di Indonesia.


[Image: 9lhp3t.jpg]

Di tengah jalan, bis saya melintas di depan sirkuit F1 Sepang yang terkenal itu.


[Image: wvztpu.jpg]

Tampak di kejauhan atap grandstand Sepang yang khas.


[Image: 29gd0qu.jpg]

Tiba-tiba saya teringat bahwa beberapa minggu sebelumnya ada pembalap motor kenamaan yang meregang nyawa di sirkuit yang megah ini.

Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya saya melihat jalur kereta api. Cuman beda dengan jalur KA milik KTM yang punya gauge 1 meter, rel KA ini menggunakan gauge standard (1,435 mm) yang umum dijumpai di Eropa atau Amerika Utara.


[Image: 14yc1ns.jpg]

Alasan mereka menggunakan gauge ini adalah agar mereka bisa membuat KA super cepat, walaupun “cuman” bisa jalan 160 km/jam. Saat jadi, KA ini adalah KA tercepat di Asia Tenggara. Namun di tahun 2009 rekor tersebut dipatahkan oleh KTM yang meluncurkan KA ETS KL-Ipoh, yang luar biasa berjalan di rel meter gauge!

Eh, tahu-tahu saja ada KA KLIA Express melintas.


[Image: 6xrz81.jpg]

[Image: overstappen.png]
Rupanya bis membawa kami bukan ke terminal KLIA (tempat stasiun awal kereta ini) tapi ke stasiun berikutnya di Salak Tinggi.


[Image: 2ntv5dt.jpg]

Begitu turun, kami langsung masuk ke peron. Perhatikan ticket barrier di latar belakang.


[Image: 288zd5e.jpg]

Karena peronnya di tengah, kamipun naik keatas tangga dulu. Dari atas, saya bisa melihat areal stasiun Salak Tinggi. Pelataran di sebelah kiri jalur utama di latar belakang adalah depo ERL.


[Image: 5lz0yf.jpg]

Pemandangan dari ground level.


[Image: j1516w.jpg]

Melihat yang ke arah bandara KLIA....


[Image: vhg7lc.jpg]

...dan yang ke arah KL Sentral dan kota Kuala Lumpur.


[Image: 1enjnq.jpg]

[Image: overstappen.png]
Tak lama kemudian, datanglah kereta kami. Rupanya ini adala KLIA Transit. Serupa dengan KLIA Express, hanya dia berhenti di tiap stasiun.


[Image: x3zk8n.jpg]

Interior kereta.


[Image: 2lxzejb.jpg]

Wah lama juga nggak naik KA satu ini. Dan rupanya dia masih nyaman seperti dulu.


[Image: 25ezexd.jpg]

Apalagi begitu dia berjalan, wah langsung WHUUSSH! Cepat sekali! Padahal “cuman” 160 km/jam loh.

Tampak pemandangan danau di dekat Putrajaya.


[Image: 2n0j79.jpg]

Menjelang masuk Putrajaya, saya bisa melihat pilar-pilar monorail yang tidak jadi dibangun.


[Image: 2epq2rm.jpg]



[Image: overstappen.png]
Saya pikir sayang sekali bahwa monorail ini tidak jadi dibangun. Padahal kalau jadi, mustinya berpergian keliling Putrajaya terasa nyaman bagi mereka yang tak punya mobil, atau tak mau pusing mempelajari rute bus.

Selepas Putrajaya kereta melesat kembali. Di balik semak-semak anda samar-samar bisa melihat jalur kereta api KTM...


[Image: 2nr0r43.jpg]

Stasiun Serdang. Di dekat stasiun ini ada sebuah mall unik yang ditengahnya ada sungai!


[Image: 2cs9iyu.jpg]

Saya nggak ngerti ini bangunan apa. Kok tampaknya keren banget atapnya.


[Image: fwngqo.jpg]

Ini kalau nggak salah adalah hotel.


[Image: 34xhqmw.jpg]

Beberapa kilometer kemudian, muncul lagi satu jalur KA, yaitu Rapid KL (d/h Star). Jadi antara sini dengan KL, tiga jalur kereta api dari tiga operator yang berbeda berjajar sejauh beberapa kilometer.


[Image: c0opd.jpg]

Tak lama kemudian, kami masuk ke stasiun Bandar Tasik Selatan. Stasiun ini cukup unik karena melayani ketiga jaringan kereta api yang berbeda.


[Image: 5rztd.jpg]

[Image: overstappen.png]
Kok ada kendaraan unik?


[Image: ie14t5.jpg]

Kira-kira beberapa kilometer setelah Bandar Tasik Selatan, jalur Rapid KL berpisah, dan jalur ERL berpindah posisi ke sebelah kanan jalur KTM.

Di perjalanan kereta melintas di sebelah sebuah bandara yang saya tak tahu namanya. Bandara ini kalau nggak salah adalah bandara pertama di Kuala Lumpur, mendahului Subang sekalipun. Masih seangkatan dengan bandara Kemayoran atau Hussein Sastranegara.
Kini dia dipakai oleh Tentera Diraja Malaysia.


[Image: 534j2g.jpg]

Tak lama kemudian, akhirnya kami sampai juga di stasiun KL Sentral.


[Image: i6jg2g.jpg]

Begitu naik keatas, keluar peron, tiba-tiba kita disambut oleh alunan musik Degung Sunda! Wah...wah...wah apa lagi ini? Oh...rupanya iklan restoran Bumbu Desa yang kini sudah melebarkan sayapnya hingga ke Malaysia (dan Singapore). Padahal restoran ini awalnya dari Garut loh.

Suasana dalam KL Sentral.


[Image: e06a7q.jpg]

Kami pergi ke hotel kami di PWTC dengan naik Rapid KL (yang di stasiun KL Sentral dulu disebut Putra). Abang saya yang tak begitu suka jalan-jalan menganggap ini merepotkan. Tapi bagi saya, ini jauh lebih praktis daripada naik bis (yang berbelit) atau taxi (yang mahal).


[Image: t7hisg.jpg]

Moncong LRT. Mana masinisnya? Well, anda bisa kok jadi masinis. He..he..he..


[Image: aw25hu.jpg]

Kami menginap di Wira hotel yang menurut saya agak mengecewakan karena kamarnya jelek, dan tidak ada viewnya. Jadi saya memutuskan untuk tidak memotret hotel kami menginap.

BERSAMBUNG.
Reply
#34
gila, luar bisa bagus stasiun di Malaysia...

jadi mereka juga memiliki maskapai KA swasta nampaknya?
Reply
#35
(27-12-2011, 05:21 PM)mdnboy Wrote: jadi mereka juga memiliki maskapai KA swasta nampaknya?

Kayaknya nggak... Dulu dua perusahaan yang sekarang jadi Rapid KL (Star dan Putra) itu perusahaan Swasta, tapi karena nggak untung-untung ya akhirnya diakusisi pemerintah Malaysia.

Sementara kalau KLIA Ekspress atau KLIA Transit itu punya pengelola bandara Sepang, yang juga perusahaan punya pemerintah.


[Image: overstappen.png]
Sesampainya di Kuala Lumpur, saya jadi teringat dengan masa-masa sewaktu saya kerja disana beberapa tahun silam. Juga hubungan saya dengan si dia yang bisa dibilang kaya “steamy hot romance” di masa silam.


[Image: 6lastp.jpg]

Si dia, walaupun kini berdomisili di Bandung, sudah menikah dengan orang lain dan saya tak sudi untuk menemuinya lagi.

Begitu juga saya tak ada waktu untuk reuni dengan rekan kerja di masa silam karena tempatnya agak keluar Kuala Lumpur.

Hal pertama yang ingin saya lakukan di KL adalah menemui kawan saya, seorang railfans Malaysia, bernama Kelvin. Kelvin kerja di kantor pusat (“ibupejabat”) Keretapi Tanah Melayu yang terletak di jalan Sultan Hishamuddin, pas di seberang stasiun Kuala Lumpur yang lama.


[Image: c1.jpg]

Tidak susah bagi saya untuk mencari lokasinya. Karena pernah tinggal lama sekali di KL, kota ini jauh lebih familiar bagi saya ketimbang Jakarta.
Kalaupun yang mengganggu adalah hujan yang super kolosal di KL sore hari itu. Payung yang saya bawa kayaknya nggak mempan, sampai-sampai dari dada ke bawah basah kuyup semua.
Sesampainya di Ibupejabat KTM, saya masuk ke hall utama dan melapor ke security disana. Sewaktu ditanya saya dari mana, saya ngibul dengan mengatakan kalau saya pegawai PT Kereta Api Indonesia. (Padahal bukan).

Karena tidak familiar dengan bangunan ini, saya sempat tersasar-sasar di dalam bangunan yang mengingatkan dengan gedung Lawang Sewu di Semarang.

Foto hall utama Ibupejabat KTM.


[Image: c2.jpg]

Tak lama kemudian akhirnya ketemu juga dengan Kelvin yang rupanya lagi jalan menuju ke hall utama untuk menemui saya.


[Image: c3.jpg]

Sayapun menyerahkan oleh-oleh saya ke Kelvin. Kami banyak bertukar cerita tentang situasi kereta api di negeri kami masing-masing.

Kelvin banyak mengajak saya untuk ikut kegiatan-kegiatan ala railfanning. Seperti ikut kegiatan tes jalan KRL yang baru datang dari China. Tapi berhubung acaranya diadakan di tengah malam, di tempat yang agak jauh dari Kuala Lumpur, maka saya memutuskan untuk tidak ikut saja.


[Image: c4.jpg]

Kelvin kini juga punya banyak akses ke informasi-informasi vital KA disana, termasuk jadwal-jadwal KA barang disana. Jadwal ini banyak sekali diminta oleh RF disana, karena rata-rata KA yang ditarik lokomotif di sekitar Kuala Lumpur adalah KA barang, seperti KA barang yang saya foto di tahun 2004 ini.


[Image: c5.jpg]

[Image: overstappen.png]
Sebenarnya Kelvin juga mengajak saya untuk ikut kegiatan cab riding naik Blue Tiger, karena dia tahu kalau saya fans berat lokomotif yang satu itu.
Tapi karena saya jalan dengan rombongan, dan terikat jadwal, maka saya tidak bisa ikut.
Dan saya juga agak menyayangkan kalau waktu itu saya juga tidak ada waktu buat trainspotting di sekitaran KL. Dulu saya kalau mau nyari lokomotif in action di sekitaran Kuala Lumpur, ya larinya ke stasiun Jalan Kastam, dimana di tahun 2004 saya bisa memotret Blue Tiger dari Jarak dekat dari bawah.


[Image: c6.jpg]

Selesai ngobrol-ngobrol dengan Kelvin, sayapun pamit untuk balik ke hotel saya.

Dari depan Ibupejabat KTM saya sempatkan untuk memotret bangunan stasiun KL lama yang menarik, karena mirip masjid.


[Image: c7.jpg]


[Image: c8.jpg]

Jalan mobil di depan stasiun Kuala Lumpur.


[Image: c9.jpg]

Di sebelah kiri ini dulu adalah Heritage Hotel, tempat dimana penumpang yang bermalam bisa menginap. Tapi karena persaingan dengan banyak hotel di KL dan mungkin karena terkesan angker, hotel ini belakangan tidak laku dan tutup.


[Image: c10.jpg]

[Image: overstappen.png]
Masuk ke peron, saya membeli karcis KTM Komuter untuk ke stasiun KL Sentral sebelum naik LRT ke hotel saya.
Suasana di peron stasiun KL Old.


[Image: c11.jpg]


[Image: c12.jpg]

Sayang sekali, kali ini saya tidak menemui lokomotif yang berseliweran seperti di tahun 2004 silam.


[Image: c13.jpg]

Bahkan saya juga tidak ketemu KA Orient Express yang super mewah (bahkan tarifnya termahal di Asia Tenggara).
Memang bisa memotret KA yang satu ini merupakan momen langka. Biasanya kalau ke KL, dia akan berhenti di stasiun tua ini, bukan di KL Sentral yang baru.


[Image: c14.jpg]
Reply
#36
ngeliat blue tiger, kok panjang banget ya??
berarti tikungan di malaysia ga setajam indonesia ya mas??
Reply
#37
lok double cabin itu buatan mana mas? barangkali tahu sedikit soal data teknisnya?
Reply
#38
(27-12-2011, 07:12 PM)mdnboy Wrote: lok double cabin itu buatan mana mas? barangkali tahu sedikit soal data teknisnya?

double cabin yang mana?
Reply
#39
(27-12-2011, 07:15 PM)mas_bagus_ajah Wrote:
(27-12-2011, 07:12 PM)mdnboy Wrote: lok double cabin itu buatan mana mas? barangkali tahu sedikit soal data teknisnya?

double cabin yang mana?

yang ini mas


[Image: c6.jpg]
Reply
#40
Kalau yang Blue Tiger bisa dlihat DISINI.
[Image: overstappen.png]
(27-12-2011, 07:10 PM)omaniax Wrote: ngeliat blue tiger, kok panjang banget ya??
berarti tikungan di malaysia ga setajam indonesia ya mas??

Mungkin nggak tajam. Tapi saya dengar lokomotif ini tidak bisa dipakai ke jalur timur Malaysia karena radius belok disana tajam-tajam. Tapi ya tetap saja tidak setajam di jalur sekitaran DAOP 2.
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 2 Guest(s)