24-04-2011, 11:51 PM
slh kmr nie trit.,.,
MENUNGGU DIJALANKANNYA LAGI BANYUBIRU
SETELAH ISTIRAHAT PANJANG
|
Lokomotif vs EMU (KRL & KRD)
|
|
24-04-2011, 11:51 PM
slh kmr nie trit.,.,
MENUNGGU DIJALANKANNYA LAGI BANYUBIRU SETELAH ISTIRAHAT PANJANG
25-04-2011, 11:22 PM
(01-04-2011, 05:28 AM)WOODWARD Wrote: sebenarnya EMU atau DMU itu ada karena alat transpor kereta ini butuh Fleksibilitas. jika penumpang sedang banyak ya rangkaian jadi panjang, jika penumpang sedikit rangkaiannya pendek. kaitannya ke biaya. kl ada DMU/KRD jarak jauh kan enak tuh, kl okupansi lg bagus ya rangkaian ditambah, kl buruk ya dilepas... Di Jepang knp kereta penumpang milik JR East, Central, West jarang pake lok ya? Kayaknya cuma kereta barang milik JR freight yg msh pd make lok...
Tambah kecepatan kereta api agar tdk kalah bersaing setelah Toll Trans-Jawa rampung...
13-05-2011, 04:31 PM
Saya masih kurang paham, setiap EMU punya motor penggerak di setiap bogienya, jika ada motornya yang ngadat, apa operasionalnya kereta juga terpengaruh, artinya keretanya tambah pelan atau tak bisa bergerak sama sekali. Apa EMU biaya perawatannya lebih sulit atau lebih tinggi, karena jumlah motor penggeraknya lebih banyak daripada Lok?
15-05-2011, 12:52 AM
harusnya sih, kekuatan maksimum berkurang... tapi kyknya selama medan gak berat dan yg rusak gak sampai banyak kereta MU masih bisa jalan
klo perawatan kurang tau deh... kereta MU lebih mahal biaya upgrade karena gak bisa cuma upgrade satu kereta tapi harus satu set sekalian
visit my blog
Obsesi: Menghapuskan 'Api' dari 'Kereta Api' ![]() RF kikansha_otaku, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Sep 2010.
17-05-2011, 12:44 PM
Kita lihat saja sejarah kereta dari 'Rocket' buatan Stephenson.
Rocket itu LOKOMOTIF bukan? Karena itu, saya lebih suka LOKOMOTIF dibandingkan EMU dan DMU
17-05-2011, 12:57 PM
Mantap banget keterangannya, kalo yang benar-benar cocok untuk Indonesia pake apa? Jika ditinjau:
1. Keahlian SDM perkeretaapian. 2. Biaya operasionalnya. 3. Iklim tropis. 4. Medan yang berbukit-bukit. 5. Infrastrukturnya. Lok atau EMU? Mungkin jawaban saya untuk saat ini jarak jauh pake Lok, untuk dekat paket EMU. Alasanya? Liat realitas di lapangan. Teman-teman?
02-02-2012, 08:21 AM
(22-09-2010, 11:08 AM)van Baso Wrote: Kalo saran saya sih trit ini mending disimpen di Spoor Badug Intinya masalah gaya.
Tambah kecepatan kereta api agar tdk kalah bersaing setelah Toll Trans-Jawa rampung...
17-02-2012, 08:02 PM
(17-05-2011, 12:57 PM)Ken Aditya Wrote: Mantap banget keterangannya, kalo yang benar-benar cocok untuk Indonesia pake apa? Jika ditinjau: Baru aja nulis reply, laptop overheat ![]() nulis lagi deh Untuk medan pegunungan, justru EMU/DMU lebih baik karena penggerak tersebar di sepanjang rangkaian. Selain itu kereta bisa bergerak lebih cepat tanpa mengurangi kenyamanan berkat teknologi tilting EMU/DMU yang mengkompensasi gaya sentrifugal akibat gerakan menikung dengan memiringkan kereta (sehingga penumpang tidak terlalu merasa terseret ke samping di belokan). Dengan EMU, kereta ekonomi jarak jauh bisa berhenti di tiap stasiun (sesuai jadwal seharusnya) karena akselerasinya cepat. Selama ini kereta ekonomi sering skip stasiun-stasiun kecil yang harusnya jadi pemberhentian karena mengejar jadwal kedatangan di stasiun terakhir. Yang masih saya pikirkan, bagaimana dengan kereta eksekutif? Rasanya aneh kalau ada kereta di rangkaian KRL khusus jadi gerbong bagasi. Melihat dari okupansi yang angin-anginan, mungkin lebih cocok jika menggunakan lok listrik dan rangkaian K1 biasa seperti sekarang. Penambahan jumlah rangkaian EMU/DMU nggak bisa satu-dua kereta tapi harus sekaligus satu set, jadi kalau dipikir sebenarnya kurang fleksibel untuk mengatur panjang rangkaian. Kereta dengan tempat tidur (kalau Bima dikembalikan seperti dulu) mungkin lebih baik pakai lokomotif. Sementara itu kereta eksekutif dengan medan sulit seperti gopar lebih cocok pakai tilting EMU/DMU.
visit my blog
Obsesi: Menghapuskan 'Api' dari 'Kereta Api' ![]() RF kikansha_otaku, telah menjadi warga Semboyan35, Indonesian Railfans sejak Sep 2010.
17-02-2012, 10:26 PM
kalo menurut sudut pandang awam saya, sepertinya PT. KAI lebih cenderung menerapkan kebutuhan lok dan KRL/KRD yang disesuaikan dengan letak geografis suatu daerah. Mungkin pertimbangan utamanya adalah biaya, efektifitas dan fungsionalitas.
Mengingat untuk meng-elektirifikasi seluruh jaringan KA (pake LAA ato pake rel ketiga) di pulau Jawa pastinya akan "memakan" duit yg tidak sedikit. Sedangkan prasarana dan sarana saja masih menunggu antrian, mana yg lebih dulu diurus dan mana yg diurus nanti2 saja. Sebagai contoh karena daerah Jabodetabek sudah terbentang LAA maka yg diutamakan saat ini untuk digunakan bagi para kaum urban dsbnya adalah KRL. Syukur2 jika nanti LAA sudah terbentang sampai Cikarang/Cikampek, pastinya akan semakin banyak penumpang yg menggunakan jasa kereta api, dengan catatan jadwal tidak ngaret. Saya ingat (kalo tidak salah), dulu rute JAKK-CKP kan pake KRD ya, sekarang malah berganti menggunakan rangkaian K3 plus lok. Mungkin karena KRD nya sendiri juga tidak bisa menampung beban penumpang yg berlebih ditambah kondisi KRD itu sendiri, maka dipilihlah K3 plus lok untuk melayani penumpang yg ke Cikampek s/d Purwakarta. Kalo di DAOP 6 dan 8 ada KRDE, hal itu mungkin juga dipengaruhi oleh suatu pemikiran kreatif untuk menjalankan tranportasi massal (komuter) seperti di jabodetabek tapi tanpa LAA, maka lahirlah KRDE2 seperti yg kita kenal saat ini. Baik lok atau KRL/KRD punya keunggulan dan kelemahan masing2 dalam pengoperasiannya di suatu wilayah. Jadi lok vs EMU (KRL/KRD)???? Saya akan menjawab 22nya, tapi dengan catatan, dia dipilih karena lebih cocok dengan karakter penumpang dan kondisi geografis dari suatu daerah dimana dia akan bekerja. Dengan kata lain "si penarik kereta" ini haruslah efektif dan fungsional agar tidak menimbulkan biaya operasi yg berlebihan. Ada yang bisa menjelaskan knp sampai saat ini PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tidak lagi menggunakan lok listrik dan lebih cenderung menggunakan KRL untuk layanan komuternya di jabodetabek???? ![]() Murtini Lahir: Purwokerto, 12 Desember 1950 Wafat: Jakarta, 17 Juli 2012 Selamat jalan mama. Kelak kita akan bertemu kembali. Semboyan 40, 41, mama aman berangkat. |
|
« Next Oldest | Next Newest »
|