Thread Rating:
  • 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
[in memoriam] Jalur Tasikmalaya-Singaparna
#51
Pasar rel itu yg skrg jadi mayasari bukan?
Reply
#52
(23-04-2013, 03:48 PM)paulus Wrote: Pasar rel itu yg skrg jadi mayasari bukan?

iya, sebagian sekarang jadi mayasari
tapi pasar relnya sendiri masih ada, di jalan rel Big Grin
masih menunggu ada K1/K2 Jakarta-TSM
K3 INKA juga boleh sih

twitter: @raihan__aulia
Reply
#53
Assalamualaikum,
Izinkan saya turut nimbrung di ruangan ini. Saya tertarik dengan ruangan ini karena perbincangannya adalah tentang kenangan saya sewaktu kecil dulu iaitu sekitar tahun 1970 an, kebetulan rumah ibu bapa saya berdekatan dekan rel KA itu yang dulu kita sebut Sepur. Masih segar sebahagian kenangan itu berlegar dalam ingatan saya terutama apabila mendengar bunyi jeritan kereta api tersebut. Saya dan kakak-kakak saya berlari menuju Sepur untuk melihat kereta api tersebut. Asap yang mengepu-ngepul keudara memberikan kesan untuk berfikir karena serobongnya yang besar membayangkan saya kepada dandang tempat masak nasi di dapur orang tua dan nenek saya. Apabila berhenti ka[/size][/font]mi akan naik dan melihat-lihat suasana di dalamnya. Kadang-kadang kami melihat masinis memasukkan kayu bakar untuk memastikan api tidak padam. Waktu itu kami kurang mengerti tentang fungsi tenaga uap. Kalau kereta api sudah pulang kembali ke Tasik kami akan bermain-main dan melompat-lompat dari satu papan ke papan yang lainnya, bahkan kami selalu meletakan telinga di rel tersebut untuk mendengar bunyi rel tersebut apabila kereta api sedang bergerak. Menurut orang tua-tua kami jambatan itu di letupkan dengan dynamit untuk menyekat kemaraan tentera Belanda yang tiba ke daerah itu. Wallahualambissawab karena itu hanyalah sebahagian ingatan yang masih tersimpan. Lokasi akhir Sepur itu terletak di belakang Rumah makan Pawon Cikunir. Sekarang sepanjang rel kereta api sudah dipenuhi oleh rumah-rumah penduduk. Mereka duduk secara illegal. Sayang sekali kami tidak mempunyai foto-fotonya untuk di share di ruangan ini. tetapi masih ingat warnanya hitam dan tidak terlalu panjang...................Wallahualam...........terima kasih
[font=Times New Roman][size=medium]
(08-12-2011, 11:41 AM)Kazuya Wrote:
(17-12-2009, 08:05 PM)titotea Wrote:
(11-12-2009, 07:38 PM)asep_0907 Wrote: Satu-satunya kereta yang melintas dikenal dengan nama KA gowengan (gowengan = mata uang RI dulu setengan SEN). Kereta api ini berangkat dari Singaparna ke Tasikmalaya dan berhenti dibeberapa stasiun/halte seperti Borolong, Cibanjaran, Mangkubumi, Padayungan, Nagarawangi, Pasarkolot, Bui (Jl. Soekardjo). Kereta waktu itu multifungsi tidak hanya mengangkut penumpang tetapi barang juga berupa Mangan dan Batubara, nantinya batubara diturunkan di turunkan di Stasiun Tasikmalaya lalu di jual keluar kota. Memasuki tahun 1960an KA Gowengan hanya mengangkut Mangan dan Batubara saja, hal ini dikarenakan KA tidak lagi menuju Singaparna dikarenakan terputusnya jalur di Jembatan Cikunir. Dibangunnya jalaur kereta ini tadinya akan disambungkan dengan jalur Cibatu-Garut-Cikajang, kenapa Belanda membangun jalur ini???? karena pada waktu itu Kota Tasik kaya akan Mangan tetapi entah karena apa jalur ini tidak jadi disambungkan dengan jalur KA Garut

wassalam
asep tea

terputus di jembatan cikunirnya kenapa??

apa karena gunung galunggung meletus???
Reply
#54
(08-12-2011, 11:41 AM)Kazuya Wrote:
(17-12-2009, 08:05 PM)titotea Wrote:
(11-12-2009, 07:38 PM)asep_0907 Wrote: Satu-satunya kereta yang melintas dikenal dengan nama KA gowengan (gowengan = mata uang RI dulu setengan SEN). Kereta api ini berangkat dari Singaparna ke Tasikmalaya dan berhenti dibeberapa stasiun/halte seperti Borolong, Cibanjaran, Mangkubumi, Padayungan, Nagarawangi, Pasarkolot, Bui (Jl. Soekardjo). Kereta waktu itu multifungsi tidak hanya mengangkut penumpang tetapi barang juga berupa Mangan dan Batubara, nantinya batubara diturunkan di turunkan di Stasiun Tasikmalaya lalu di jual keluar kota. Memasuki tahun 1960an KA Gowengan hanya mengangkut Mangan dan Batubara saja, hal ini dikarenakan KA tidak lagi menuju Singaparna dikarenakan terputusnya jalur di Jembatan Cikunir. Dibangunnya jalaur kereta ini tadinya akan disambungkan dengan jalur Cibatu-Garut-Cikajang, kenapa Belanda membangun jalur ini???? karena pada waktu itu Kota Tasik kaya akan Mangan tetapi entah karena apa jalur ini tidak jadi disambungkan dengan jalur KA Garut

wassalam
asep tea

terputus di jembatan cikunirnya kenapa??

apa karena gunung galunggung meletus???

bukan ah, Galunggung meletusnya tahun 1982-1983
Reply
#55
(07-07-2013, 02:17 AM)paulus Wrote:
(08-12-2011, 11:41 AM)Kazuya Wrote:
(17-12-2009, 08:05 PM)titotea Wrote:
(11-12-2009, 07:38 PM)asep_0907 Wrote: Satu-satunya kereta yang melintas dikenal dengan nama KA gowengan (gowengan = mata uang RI dulu setengan SEN). Kereta api ini berangkat dari Singaparna ke Tasikmalaya dan berhenti dibeberapa stasiun/halte seperti Borolong, Cibanjaran, Mangkubumi, Padayungan, Nagarawangi, Pasarkolot, Bui (Jl. Soekardjo). Kereta waktu itu multifungsi tidak hanya mengangkut penumpang tetapi barang juga berupa Mangan dan Batubara, nantinya batubara diturunkan di turunkan di Stasiun Tasikmalaya lalu di jual keluar kota. Memasuki tahun 1960an KA Gowengan hanya mengangkut Mangan dan Batubara saja, hal ini dikarenakan KA tidak lagi menuju Singaparna dikarenakan terputusnya jalur di Jembatan Cikunir. Dibangunnya jalaur kereta ini tadinya akan disambungkan dengan jalur Cibatu-Garut-Cikajang, kenapa Belanda membangun jalur ini???? karena pada waktu itu Kota Tasik kaya akan Mangan tetapi entah karena apa jalur ini tidak jadi disambungkan dengan jalur KA Garut

wassalam
asep tea

terputus di jembatan cikunirnya kenapa??

apa karena gunung galunggung meletus???

bukan ah, Galunggung meletusnya tahun 1982-1983

Menurut orang tua saya Jembatan KA di Halte Cikunir itu di letupkan untuk menyekat kemaraan tentara Belanda ke Singaparna. Nenek dan ibu saya bilang rumah mereka dulu dijadikan markas oleh Belanda. Malah di belakang rumah telah dijumpai rangka seorang lelaki dipercaya dia adalah seorang tentara RI dan setelah disahkan oleh saksi penduduk disitu jasad yang tinggal rangka tersebut telah di kebumikan di TMP. Wallahualam.
Reply
#56
Hasil mudik tahun ini:

Di stasiun TSM, di sebelah barat ada jembatan bendung cimulu. dari arah stasiun, keluar tembok belok kiri maka ketemu gang. gang itu dulunya rel KA. weselnya dah dicabut, rel menuju gang (yang masih dalam tembok/lingkungan stasiun) sekarang jadi lapangan kosong.

kata orang lokal, kereta yang ke cikunir cuma kereta "kwik" yang narik gerobak (bukan penumpang)

kata orang lokal pula, dulu rel ke cikunir ukurannya setengah lebar rel sekarang (R52, jadi mungkin R25)

kalau mampir ke bendungan cimulu, lihat ke arah barat maka ada jembatan. menurut saya konstruksinya agak gak lazim buat jembatan yang "cuma" gang.

bagaimanapun, kalau mau mblusuk berdasarkan rel yang "nyembul" agak mustahil karena sudah lenyap relnya.

kalau ke jalan cihideung balong, ada jalan bercabang. yang kiri lurus, yang kanan nikung. perhatikan ada tiang listrik yang "nancep" di tengah halaman orang. kenapa di halaman orang? kata nenek saya karena tiang itu dulu ada di sebelah rel. katanya "aset PJKA"

itulah yang saya dapat sampai hari ini, besok bisa bertambah atau bisa tetap. sekian Xie Xie

Hasil mudik tahun ini:

Di stasiun TSM, di sebelah barat ada jembatan bendung cimulu. dari arah stasiun, keluar tembok belok kiri maka ketemu gang. gang itu dulunya rel KA. weselnya dah dicabut, rel menuju gang (yang masih dalam tembok/lingkungan stasiun) sekarang jadi lapangan kosong.

kata orang lokal, kereta yang ke cikunir cuma kereta "kwik" yang narik gerobak (bukan penumpang)

kata orang lokal pula, dulu rel ke cikunir ukurannya setengah lebar rel sekarang (R52, jadi mungkin R25)

kalau mampir ke bendungan cimulu, lihat ke arah barat maka ada jembatan. menurut saya konstruksinya agak gak lazim buat jembatan yang "cuma" gang.

bagaimanapun, kalau mau mblusuk berdasarkan rel yang "nyembul" agak mustahil karena sudah lenyap relnya.

kalau ke jalan cihideung balong, ada jalan bercabang. yang kiri lurus, yang kanan nikung. perhatikan ada tiang listrik yang "nancep" di tengah halaman orang. kenapa di halaman orang? kata nenek saya karena tiang itu dulu ada di sebelah rel. katanya "aset PJKA"

itulah yang saya dapat sampai hari ini, besok bisa bertambah atau bisa tetap. sekian Xie Xie
masih menunggu ada K1/K2 Jakarta-TSM
K3 INKA juga boleh sih

twitter: @raihan__aulia
Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)