Semboyan35 Indonesian Railfans
Parahyangan.., Dalam Kenangan.. - Printable Version

+- Semboyan35 Indonesian Railfans (https://www.semboyan35.com)
+-- Forum: Kereta Api (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=5)
+--- Forum: Jalur Barat (https://www.semboyan35.com/forumdisplay.php?fid=16)
+--- Thread: Parahyangan.., Dalam Kenangan.. (/showthread.php?tid=3955)

Pages: 1 2 3 4 5


RE: Parahyangan.., Dalam Kenangan.. - BAMBANG EKO - 21-04-2010

Saat2 menjelang KA Parahiyangan di non aktif kan , banyak warga cibitung yang ingin menyaksikan kayak apa sih KA Parahiyangan ini kok beritanya rame banget , banyak dibicarakan orang . padahal bukan dari kalangan rail fans , mereka menyempatkan diri untuk untuk melihat , menjelang saat2 terakhir KA Parahiyangan ini melintas.


[Image: bgwryf.jpg]


RE: Parahyangan.., Dalam Kenangan.. - Adolph - 21-04-2010

Auf wiedersehen,,,parahyangan,,Sedih
I'm gonna missing you
Sedih
smoga kelak parahyangan bisa reinkarnasi kembali,,amin


RE: Parahyangan.., Dalam Kenangan.. - debi4n_us3r - 22-04-2010

penumpang yang naik parahyangan dari st. cimahi . tapi aneh kok hari ini KA 67 gerbong EXA malah penuh ya ? Bingung
[spoiler]

[Image: IMG0274A.jpg]

[Image: IMG0272A.jpg]

[Image: IMG0271A.jpg][/spoiler]


RE: Parahyangan.., Dalam Kenangan.. - eko winarno - 22-04-2010

Mudah-mudahan non aktif PARAHYANGAN cuma sebentar saja sambil nunggu moment dan strategi or jurus yang jitu untuk menata ulang kekurangan yang ada, ibarat mundur bukan dalam arti kalah tapi mundur untuk nyusun strategi baru..supaya nantinya daya gebuk lebih mumpuni..


RE: Parahyangan.., Dalam Kenangan.. - bagus70 - 23-04-2010

Nih saya berbagi cerita trip report KA Parahyangan pertama di tahun 1989.


[Image: acuyvr.jpg]

Kalau saya pertama kali naik KA Parahyangan adalah waktu saya tinggal di Jakarta tahun 1989 silam.
Pada tahun-tahun ini saya mulai melihat ada KA eksekutif (“Kelas 1”) yang menggunakan AC berbentuk kotak diatapnya, seperti bis-bis malam ber-AC pada waktu itu, di stasiun Gambir (bawah).
Saya penasaran, KA apakah itu. Begitu pengumuman berbunyi, rupanya itu adalah KA Parahyangan jurusan Bandung. Wah, sayapun penasaran ingin sekali naik KA itu. Memang sebelumnya saya sudah pernah naik KA EXA sebelumnya, tapi ACnya loyo semua. Akhirnya keinginan saya dikabulkan orang tua saya.

Kira-kira menjelang akhir tahun 1989 (sekitar bulan September), orang tua saya mengajak saya dan saudar-saudara saya naik KA Parahyangan itu. Saya ingat betul KA Parahyangan yang kami naiki adalah yang berangkat awal dari Jakarta. KA ini sebenarnya berangkat dari stasiun Jakarta Kota, tapi karena rumah kami yang di Pejaten lebih dekat ke Gambir (kebetulan Parahyangan berhenti di Gambir/pada periode ini tak semua KA unggulan berhenti di Gambir), maka kami naik KA ini dari sana.

Saya ingat saat itu kami sekeluarga berangkat dari rumah sesaat setelah subuh (langit masih gelap), dan sampai di Gambir menjelang matahari terbit. Waktu itu kereta datang sekitar pukul 6 pagi di jalur 1 stasiun Gambir lama yang di bawah.

Kamipun langsung naik ke salah satu Gerbong EXA yang terletak di belakang rangkaian KA. Interior KA EXA waktu itu didominasi warna hijau keputihan, seperti warna interior beberapa lokomotif sekarang. Dan rak tas diatas mirip dengan rak tas yang ada di kelas bisnis sekarang. Dan gerbong EXA waktu itu lantainya sudah berkarpet. ACnya terasa cukup dingin, tapi tidak membuat menggigil karena hawa Jakarta yang panas. Saya duduk di jendela sebelah kiri, semantara adik di jendela kanan.
Waktu itu konfigurasi rangkaian KA Parahyangan sudah mirip dengan sekarang (atau sebelum tahun 2000an, sebelum gerbong makan merangkap gerbong pembangkit). Saya tak ingat berapa jumlah gerbong yang dibawa. Yang pasti waktu itu rangkaian ini ditarik oleh sebuah lokomotif CC201 warna kuning-hijau yang berjalan dengan konfigurasi hidung pendek.

Tak lama kemudian kereta berangkat menuju Bandung. Perjalanan berjalan dengan cukup lancar. Kira-kira selepas Cikini/menjelang Manggarai, salah seorang kawan baik bapak saya muncul. Rupanya beliau juga ikut perjalanan naik KA ini. Waktu itu saya agak heran, kok sewaktu teman bapak saya bersandar ke dudukan kursi di depan saya, keretanya kok ya miring ke arah yang sama, seperti karena ditimpa kawan bapak saya itu. Rupanya belakangan saya menyadari karena selepas Manggarai ada sebuah tikungan yang cukup besar.

Saya tak ingat apakah waktu itu keretanya berhenti di Jatinegara, yang pasti begitu keluar dari Jakarta, kereta terasa cukup penuh.

Berbeda dengan perjalanan KA dari Jakarta jaman sekarang, begitu memasuki Bekasi, suasananya sudah terasa mirip pedesaan, dan sudah mulai banyak persawahan yang terlihat. Kalau jaman sekarang, mungkin anda baru merasakan suasana pedesaan selepas Karawang.
Perjalanan dari Jakarta ke Cikampek tak terasa begitu beda dengan perjalanan-perjalanan KA yang saya alami di Jawa Timur pada periode yang sama. Hanya perjalanan menembus persawahan yang alami. Apalagi saat itu belum banyak pabrik-pabrik di kabupaten Karawang.

Di Cikampek, jalur KA yang bercabang, kereta saya dibelokan menuju ke jalur yang ke arah Purwakarta. Tapi yang agak unik, hingga tak terasa seperti naik KA adalah kampung-kampung yang rapat di sekitar rel di Cikampek membuat perjalanan serasa seperti menembus perkampungan daripada naik KA. Oya, juga tikungan selepas stasiun Cikampek juga terasa cukup tajam juga.

Selepas Cikampek kereta api mulai memasuki daerah padang rumput yang cukup luas sekali, hingga melewati bagian bawah jalan tol Jakarta-Cikampek, yang waktu itu memang berakhir di situ. Selepas jembatan tol, kereta memasuki hutan jati yang cukup lebat.
Sekarang ini beberapa bagian padang rumput itu sudah menjadi daerah perumahan dan padang golf, tapi hutan jatinya masih utuh.

Saya tak ingat apa yang saya lihat sewaktu kereta melewati Purwakarta, bahkan waktu itu saya tak ingat kalau melewati stasiun besar itu.

Selepas Purwakarta, jalur kereta mulai berkelak-kelok tajam. Bahkan saya bisa melihat juga lokomotif di depan dengan jelas. Namun saya belakangan insyaf juga. Yang tidak saya ketahui pada saat itu adalah di sisi kanan pemandangan lebih indah, karena kalau sebelah kiri yang anda lihat adalah bukit-bukit yang rapat, sementara kalau di kanan pemandangannya adalah pemandangan lembah yang indah.

Hal pertama yang cukup menyita pemandangan adalah sewaktu kereta melintasi sebuah jembatan yang sangat tinggi sekali. Begitu tingginya sampai saya kaget melihat dasar lembah di bawah. Baru pertama kali itu saya melewati jembatan setinggi itu.
Belakangan saya tahu kalau jembatan itu adalah jembatan Cisomang yang merupakan jembatan tertinggi di Indonesia. Dan jarak dari dasar lembah hingga keatas permukaan rel adalah 100 meter.

Setelah itu yang cukup menyita perhatian adalah sebuah terowongan yang cukup panjang sekali. Baru kali itu saya naik KA melewati terowongan di siang hari. Sebelumnya, saya naik KA Bima melewati terowongan Ijo di malam hari. Seusai terowongan kereta melewati jembatan yang panjang dan tinggi, sehingga kereta api serasa terbang. Belakangan saya mengetahui kalau jembatan itu adalah jembatan Cikubang.

Seusai itu, saya mencoba melihat pemandangan di sebelah kanan, dekat jendelanya adik saya. Saya langsung kaget. Wah, pemandangan lembahnya sungguh spektakuler. Pemandangan di sekitar Cilame sangat indah sekali ,dan baru kali itu saya melihat pemandangan jalan mobil terlihat jauh di bawah lembah di bawah rel kereta api. Kalau saya naik KA ke Malang pemandangannya tak seindah ini.

Waktu itu wacana jalan tol Jakarta-Bandung belum mengemuka, begitu juga penggalian di daerah Padalarang juga masih belum banyak, sehingga pemandangan yang kita lihat cukup alami saat itu.

Menjelang masuk Padalarang saya melihat ada jalur kereta api lain di bukit di seberang lembah. Begitu memasuki Padalarang, jalan kereta api itu bersambung dengan jalur kereta api yang dilewati KA saya.

Tak ada yang istimewa dengan perjalanan dari Padalarang ke Bandung, dan saya rasa pemandangan saat itu tak banyak berbeda dengan sekarang. Beberapa menit kemudian, kereta saya memasuki stasiun Bandung, yang saat itu terlihat lebih rapi dan depo lokomotifnya tidak dipagari seperti sekarang, sehingga meja putar bisa dilihat dengan cukup jelas dari atas kabin KA.

Akhirnya kami sampai juga di Bandung. Sewaktu turun dari KA, saya melihat stasiun Bandung itu pelatarannya seperti taman, sehingga kelihatan cantik sekali. Apalagi tamannya cukup tertata rapi.

Beberapa menit kemudian, sopir jemputan datang dan berakhirlah perjalanan saya naik KA Parahyangan untuk pertama kalinya.


RE: Parahyangan.., Dalam Kenangan.. - gerryrockygelardy - 23-04-2010

wah sedih ya pemandangan indah yg dulu sangat di cari dan dinikmati skrng hanya tinggal sejarah.


RE: kenangaN terakhir di kA parahyangaN - gerryrockygelardy - 23-04-2010

banyak sekali kenangan di KA parahyangan karen KA ini selalu setia mengantarkan ayah saya apabila bekerja di JKT.
kenangan lain saya br tau parahyangan dr umur 5 thn ato thn 1995 an yg gerbongnya msh ijo dan biru tua.Sedih

kpn ya kenangan itu kembali lg?
kpn KA di indonesia berjaya lg?


RE: Parahyangan.., Dalam Kenangan.. - hendraibrahim - 24-04-2010

KA parahayangan ini merupakan bagian yang tidak terpishkan dari hidup saya. Orang tua dan kakek-nenek saya asli orang Bandung, tapi bapak sering pindah2 antara bandung dan jakarta. jadinya saya sering naik KA parahyangan kalau mudik ke bandung. Kebetulan rumah saya, waktu itu, dekat dengan stasiun Bandung, tepatnya di jalan pasir kaliki, masuk ke gang tepat di seberang stasiun bandung Gudang (skrg stasiun ini sudah menjadi Paskal Hypersquare dan rumah saya sudah digusur dijadikan gedung Grand Eastern),. waktu saya kecil, pagi2 langsung jalan ke jembatan pasir kaliki untuk lihat KA parahyangan keberangkatan jam 06.00 dari BD. Sampai sekarang, saya masih mengandalkan KA parahyangan untuk mudik ke Bandung. jadwal langganan saya hari sabtu jam 5an dari gambir dan pergi ke jakarta lagi hari senin jam 4 atau jam 5 subuh trus langsung ngantor.

Tahun 91-98 merupakan masa2 indah menaiki KA parahyangan karena pelayanan KA ini waktu memang benar-benar prima. tiap kursi ada tempat sampahnya sendiri. gang tengah pun masih dilapisi karpet. untuk kelas Eksekutif masih pake TV plus laser disc player plus alat penerjemahnya (yg bermerek Kimura). KA parahyangan ini di pertengahan tahun 90-an pernah juga menjual kelas kompartemen yang menyatu dengan kereta makan.

Pokoknya puas deh naik Ka parahyangan.
KA parahyangan di masa jayanya juga sering ditumpangi artis ngetop. Saya pernah bertemu dengan ulva dwiyanti tahun 96 di stasiun Bandung ketika ia akan berangkat ke jakarta naik KA parahyangan kelas eksekutif.

Almarhumah Nike Ardilla pun sering naik KA parahyangan untuk bepergian dari Bandung ke Jakarta PP.


RE: kenangaN terakhir di kA parahyangaN - hendraibrahim - 24-04-2010

KA parahayangan ini merupakan bagian yang tidak terpishkan dari hidup saya. Orang tua dan kakek-nenek saya asli orang Bandung, tapi bapak sering pindah2 antara bandung dan jakarta. jadinya saya sering naik KA parahyangan kalau mudik ke bandung. Kebetulan rumah saya, waktu itu, dekat dengan stasiun Bandung, tepatnya di jalan pasir kaliki, masuk ke gang tepat di seberang stasiun bandung Gudang (skrg stasiun ini sudah menjadi Paskal Hypersquare dan rumah saya sudah digusur dijadikan gedung Grand Eastern),. waktu saya kecil, pagi2 langsung jalan ke jembatan pasir kaliki untuk lihat KA parahyangan keberangkatan jam 06.00 dari BD. Sampai sekarang, saya masih mengandalkan KA parahyangan untuk mudik ke Bandung. jadwal langganan saya hari sabtu jam 5an dari gambir dan pergi ke jakarta lagi hari senin jam 4 atau jam 5 subuh trus langsung ngantor.

Tahun 91-98 merupakan masa2 indah menaiki KA parahyangan karena pelayanan KA ini waktu memang benar-benar prima. tiap kursi ada tempat sampahnya sendiri. gang tengah pun masih dilapisi karpet. untuk kelas Eksekutif masih pake TV plus laser disc player plus alat penerjemahnya (yg bermerek Kimura). KA parahyangan ini di pertengahan tahun 90-an pernah juga menjual kelas kompartemen yang menyatu dengan kereta makan.


Pokoknya puas deh naik Ka parahyangan.

KA parahyangan di masa jayanya juga sering ditumpangi artis ngetop. Saya pernah bertemu dengan ulva dwiyanti tahun 96 di stasiun Bandung ketika ia akan berangkat ke jakarta naik KA parahyangan kelas eksekutif.

Almarhumah Nike Ardilla pun sering naik KA parahyangan untuk bepergian dari Bandung ke Jakarta PP.


RE: Parahyangan.., Dalam Kenangan.. - Cahya'35 - 27-04-2010

Sebagai pecinta KA.., tentunya haru juga rasanya walau tak merasakan
langsung The Last Trip Parahyangan kemarin..Sedih

Bubuy Bulan dan Perahu Layar Iringi Farewell KA Parahyangan
Avitia Nurmatari - detikBandung

Bandung - Selama perjalanan Jakarta-Bandung, tidak henti-hentinya anggota komunitas pecinta Kereta Api 'Indonesian Railway Preservation Society' (IRPS) beraktivitas dalam kereta.

Seperti yang dilakukan Eri Sukarsih (60), suara merdunya menggema di gerbong bisnis 3 KA Parahyangan. Wanita paruh baya yang masih terlihat lincah itu menyanyikan lagu asal Jawa Tengah 'Perahu Layar'. Beberapa penumpang lainnya pun ikut bernyanyi dan berjoged.

Suasana makin hangat ketika Eri menyanyikan lagu sunda 'Bubuy Bulan'. Sebelumnya anggota pecinta kereta api ini sempat berbagi kesan selama menumpang KA Parahyangan, bahkan ada juga yang sempat membacakan puisi.

Pantauan detikbandung, beberapa penumpang menyempatkan diri berfoto bersama pramugari KA Parahyangan.


Isak Tangis Warnai Perjalanan Terakhir KA Parahyangan
Avitia Nurmatari - detikBandung

Bandung - Riuh suasana Stasiun Gambir langsung menggema saat KA Parahyangan dari Bandung tiba di Stasiun Gambir pukul 16.30 WIB.

Anggota komunitas (Indonesian Railway Preservation Society) IRPS yang sedari tadi menunggu pun langsung mengabadikan kedatangan KA Parahyangan dan berfoto di depan gerbong kereta sambil menunjukan tiket terakhir KA Parahyangan.

Sebentar lagi, para penumpang dan anggota komunitas akan merasakan perjalanan terakhir KA Parahyangan menuju Bandung. Mereka disambut oleh para pramugari kereta yang juga akan menikmati perjalanan KA Parahyangan untuk terakhir kalinya.

Bahkan, salah seorang pramugari Senia Heydi Ningsih menitikan air mata saat diwawancara oleh wartawan. Nia yang sudah tiga tahun bekerja menjadi pramugari di KA Parahyangan ini mengaku sangat sedih. "Sedih banget, enggak rela meninggalkan penumpang kesayangan," tutur gadis asal Rancaekek yang akrab disapa Nia ini.

Dengan terbata-bata diiringi tetesan air mata, Nia menceritakan pengalamannya selama bekerja di KA Parahyangan. "Enggak bisa diungkapkan dengan kata-kata," ujarnya.

Saat itu seorang penumpang langganan menepuk bahu dia sambil berkata kalau Nia adalah anaknya. "Itu penumpang langganan, kita sudah seperti satu keluarga," jelas Nia. Ia menyatakan rasa kehilangan KA parahyangan yang menjadi ciri khas Kota Bandung. "Saya merasa kehilangan karena seperti keluarga," ujarnya.

Pasca dihentikannnya operasional KA Parahyangan Selasa (27/4/2010), para Pramugari dan Pramugara KA bersejarah ini akan dialih tugaskan ke kereta lainnya.

Sementara itu pantauan detikbandung, di gerbong KA Parahyangan terakhir para juru warta mengabadikan momen tersebut, dan hampir semua bangku terisi di perjalanan terakhir KA Parahyangan ini.