Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: Kumpulan Cerpen Kereta Api
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Hidupku di Stasiun Saradan (Part 1)

By : Ryzky Widi Atmaja


Malam yang dingin, aku selalu sendiri di sebuah stasiun kecil di daerah DAOP VII Madiun. Tiap malam, sang angin selalu menemaniku, sang sinar selalu menerangiku dalam pekat dan dinginnya malam, serta ribuan pohon2 penghuni hutan jati 'Saradan' menjadi bentengku. Kadang2 petugas stasiun menemaniku ngobrol-ngobrol ngalor-ngidul, terkadang bercanda sampai tidak terasa melewati tengah malam. Petugas stasiun yang bernama pak Andi, 32, adalah petugas jaga stasiun yang sudah mengabdi sejak dari remaja, sekitar umur 18 tahun-an, seusia ku sekarang ini. Hidupku selalu aku habiskan di stasiun Saradan ini, semenjak kedua orang tua-ku meninggal karena kecelakaan kereta api di Hutan Saradan yang terjadi 10 tahun silam, karena kondisi rel yang sudah tidak layak pakai, seluruh rangkaian kereta api keluar dari rel dengan kecepatan tinggi ditikungan, dan menerjang pepohonan jati serta mengakibatkan ratusan penumpang terluka dan beberapa meninggal, termasuk orang tua-ku. Semenjak itu, aku seperti menjadi anak stasiun Saradan ini.

Kini aku telah lulus SMU, namun aku tidak bisa masuk kuliah karena mengingat aku anak yatim piatu, dan sejak itu aku diasuh oleh petugas2 stasiun yang begitu iba kepadaku, serta santunan dari PT. KA untuk biaya hidup dan sekolahku. Aku bersyukur kepada PT. KA yang sudah memberikan santunan kepadaku, maka aku harus menjawabnya dengan menjadi salah satu pegawai di PT. KA. Oleh karena itu, aku sangat senang pada kereta api, meskipun kereta api telah mengambil kedua nyawa ayah dan ibuku, mesikupun air mata dan rintihan kehilangan selalu membasahi dan terdengar dari dalam ruangan Stasiun Saradan kala itu. Aku masih ingat, ketika kepala stasiun saat itu, bapak Soedirman, mengatakan bahwa, suatu saat nanti, beliau akan merekrutku sebagai pegawai PT. KA secara diplomatik. Tapi, aku ingin berjuang dengan usahaku sendiri, aku tidak ingin dengan cara itu, meskipun aku pasti diterima sebagai pegawai PT. KA dengan koneksi bapak Sowdirman yang sekarang sudah pensiun.


To be Continued...
lanjutkan!!
Nih ceritanya fiksi atau non fiksi ????
Fiksi mas, cerita imajinasi saja. Mencoba tulis-menulis cerita.
Oke. Dilanjut ......
Hidupku di Stasiun Saradan (Part 2)

By : Ryzky Widi Atmaja


4 Tahun kemudian ...

Kini, umurku 22 tahun. Sekarang aku telah menjadi petugas PPKA Stasiun Saradan. Di suatu malam...
"Priiiiitttt...", Seseorang petugas membunyikan peluit untuk memberangkatkan Kereta Api Mutiara Selatan, yang telah bersilang dengan Turangga dari Surabaya.
"Silahkan berangkat Mutiara Selatan, selamat jalan", kataku melalui telepon.
Akhirnya, berangkatlah Mutiara Selatan menuju Surabaya, sekitar pukul 21.15, serta itulah tugas pertamaku sebagai PPKA. Dan, sinyal telah dinyalakan hijau, ular besi malam itupun melaju meliuk-liuk mengikuti jalur di lintasan Saradan. Begitu stasiun telah sepi dari lalu-lalang kereta api, aku pun istrirahat sejenak, mengingat Stasiun Saradan adalah stasiun kecil yang jarang kereta berhenti, jadi tugasku sedikit lebih mudah daripada Stasiun Madiun.

"Bagaimana tugas pertamamu, Adi...?", tanya seorang yang aku kenal wajahnya biarpun sudah menjelang senja.
"Pak Soedirman...!", kataku kaget melihat mantan Kepala Stasiun Saradan itu kini datang untuk melihat kerjaku dihari pertama menjadi PPKA.
Lantas, aku menyalami tanga pak Soedirman, dan dengan penuh hormat, aku menundukkan kepala, sembari berkata, "Terima kasih pak. ATas jasa bapak selama ini, saya telah menjadi PPKA dan saya bisa membalas jasa2 bapak serta PT.KA"
"Sudahlah, sekarang semuanya menjadi tanggung jawabmu, berusahalah menjadi PPKA terbaik, maka nanti kau pasti akan ditarik ke stasiun besar seperti Stasiun Madiun atau Stasiun Surabaya Gubeng".
Aku sangat terharu mendengar kata-kata bapak Soedirman, mengingat beliau dahulu banyak berpesan tentang perkereta-apian kepadaku disaat aku masih kecil dahulu.


To Be Continued...

Siip.. cerita yg bagus ... kalo aku punya cerita apa bisa langsung share disini atau nunggu episode kang Ryzky selesai.. !!
Hidupku di Stasiun Saradan (Part 3)

By : Ryzky Widi Atmaja


Setelah sekian lama aku menjadi seorang PPKA, akhirnya datanglah tawaran dari Stasiun Surabaya Gubeng (SGU), untuk menjadi Masinis Kereta Api Bima, karena salah satu masinisnya sudah pensiun, serta asisten masinis-nya enggan menjadi masinis. Tawaran itu datang atas rekomendasi seorang temanku, yang juga pecinta kereta api dan bekerja sebagai pegawai di Stasiun Surabaya Gubeng. Aku sempat merenung sejenak di dalam kamar, sembari berkata dalam hati, "Aku terima atau tidak ya tawaran dari Kepala Stasiun Gubeng...?"

Keesokan harinya, pak Budi, mengajak ngobrol denganku di ruang PPKA, sembari menunggu Kereta api Pasundan datang.
"Bagaimana Di...? Apa kau terima tawaran dari Gubeng...?", tanya pak Budi.
"Aku juga bingung pak, kalau aku terima, nanti aku akan meninggalkan Stasiun Saradan yang sudah menjadi tempat tinggalku selama ini".
Lantas, pak Budi menjawab, "Tidak masalahkan, toh setiap dari kita punya jalan sendiri-sendiri walaupun harus meninggalkan apa yang melekat dalam diri kita selama ini. Lagipula, lihat sisi positifnya, Adi bisa bepergian ke Jakarta, nantinya Bima juga melewati Stasiun ini meskipun tidak berhenti", ujarnya dengan penuh harapan.

Setelah 4 hari aku berpikir, akhirnya aku putuskan untuk hijrah ke kota Surabaya. Hari itu, selasa, 25 Mei 2010, aku berpamitan dengan seluruh jajaran pegawai Stasiun Saradan, termasuk mantan Kepala Stasiun yang selama ini aku anggap sebagai ayahku, pak Soedirman.
"Hati-hatilah Di. Jangan lupakan Saradan", kata pak Budi dengan sedikit meneteskan air mata perpisahan.
"Tentu pak, saya akan selalu ingat Stasiun ini, serta teman-teman semuanya. Semoga sehat dan hidup bahagia", balasku dengan penuh harapan dihari terkahir aku bekerja ini.

To be continue to Part 4 (Ending)...



Hidupku di Stasiun Saradan (Part 4 - Ending)

By : Ryzky Widi Atmaja


Setelah bersalam-salaman, akhirnya aku pamit betolak menuju surabaya dengan Bus. Lambaian tangan serta air mata perpisahan itu akan aku kenang selamanya, toh nantinya aku juga bisa kembali lagi ke Stasiun Saradan ini.

Sesampainya di Surabaya, aku kaget begitu melihat Dimas, kawan lama ku pecinta kereta api itu adalah seorang asisten masinis Bima. Kemudian, aku mengerti kenapa asisten masinis Bima enggan jadi masinis, karena dia adalah kawanku sendiri. Aku dan Dimas menginap di salah satu kontrakan di daerah Ngagel, Surabaya, tak jauh dari Gubeng.

2 Hari kemudian...

"Priiiittt.."
Suara peluit panjang dibunyikan oleh petugas Stasiun Surabaya Gubeng, untuk memberangkantan Kereta Api Bima. Pukul 18.00 tepat, aku menjalankan Kereta Api Bima untuk pertama kalinya, untunglah aku pernah menjadi juru langsir, jadi sudah mengerti apa yang harus aku lakukan.
"Selamat jalan Bima, semoga selamat sampai tujuan", kata salah seorang PPKA melalui telepon di kabin masinisku.
"Terima kasih, Bima berangkat," balasku singkat.

Pukul 20.10, Kereta Api Bima mendekati Saradan. Emosiku bergejolak. Aku lantas mengeluarkan kepalaku dari balik jendela lokomotif sisi kanan. Ternyata tak lama berselang, aku melihat beberapa teman-teman sesama pegawai Stasiun Saradan, melambaikan tangan kearahku begitu Kereta Api Bima melintasi Stasiun Saradan dengan kecepatan 60 km/jam. Aku sempat menangis melihat mereka yang masih sempat-sempatnya menghormatiku. Terima kasih teman-teman... Terima kasih Saradan...


FIN...

Yang mau kirim cerita atau tulisan mengenai Kereta Api, silahkan. Harap antri ya tunggu giliran. Xie Xie
Top Banget ceritanya ..ayo share ceritanya lagi dong
Waduh....kok bagus banget ceritanya...
Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15