Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: Mblusuk Jalur Lori jaman Belanda
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.

Bingung juga apa di kira KPK atau mau nyolong besi tua dan sudah jelas jelas kalau RF kok juga di larang, padahal harus bersyukur masih ada yang peduli dengan sejarah.
[/quote]

Ini mungkin bisa menjelaskan kekakuan orang kita dlm hal sejarah

Quote:Tjuplikan Madjalah KA bulan Djuni 2010:

Di akhir perbincangannya, de Jong kemudian membandingkan manajemen pengelola museum di Indonesia dengan Eropa. Di Eropa, setiap museum itu punya mekanik yg paham bertugas untuk merawat. "Tapi Indonesia tidak, museum hanya dijaga satpam yang tidak mengerti terhadap barang koleksi museum," ujar de Jong tersenyum ...

Beginikah keadaan masyarakat kita yg hanya tunduk pd perintah tapi tdk ada kreativitas sedikitpun?

Bingung juga apa di kira KPK atau mau nyolong besi tua dan sudah jelas jelas kalau RF kok juga di larang, padahal harus bersyukur masih ada yang peduli dengan sejarah.
[/quote]

Ini mungkin bisa menjelaskan kekakuan orang kita dlm hal sejarah

Quote:Tjuplikan Madjalah KA bulan Djuni 2010:

Di akhir perbincangannya, de Jong kemudian membandingkan manajemen pengelola museum di Indonesia dengan Eropa. Di Eropa, setiap museum itu punya mekanik yg paham bertugas untuk merawat. "Tapi Indonesia tidak, museum hanya dijaga satpam yang tidak mengerti terhadap barang koleksi museum," ujar de Jong tersenyum ...

Beginikah keadaan masyarakat kita yg hanya tunduk pd perintah tapi tdk ada kreativitas sedikitpun?
[/quote]


Falsafah kelihatannya lain kok ...kalau di Eropa orang menjaga karena ada ilmu yang berbentuk aset, nah kalau di Indon orang menjaga biar tidak di maling..padahal malingnya tidak dari luar....Ngakak
Chabar dari ranah Spoor Teboe:

Quote:Memburu Si Hitam Manis
Kompas Jawa Tengah, 10 Juni 2010

Suara peluit membahana diikuti semburan uap dari atas cerobong lokomotif buatan Jerman tahun 1929. Serombongan turis bergegas menyiagakan kamera mereka untuk mengabadikan gerak Si Hitam yang bersiap mengangkut hasil panen untuk diolah menjadi gula di Pabrik Gula (PG) Tasikmadu, Karanganyar, Selasa (8/6).

PG Tasikmadu tercatat memiliki 15 kereta uap dan 5 kereta diesel yang dulunya digunakan untuk mengangkut tebu, tetes, dan gula. Sembilan kereta uap masih dapat dijalankan, dua diantaranya dimanfaatkan untuk Agrowisata Sondokoro, usaha yang dikembangkan PG Tasikmadu.

Si Hitam yang disebutkan di atas adalah lokomotif terbesar yang ada di PG Tasikmadu dan dinamai TM VI. Di dunia, hanya tersisa dua atau tiga lokomotif sejenis, temasuk yang ada di PG Tasikmadu. Di Indonesia, hanya ada satu, yaitu di Tasikmadu. Lokomotif ini buatan perusahaan Orenstein & Koppel, Berlin, Jerman.

"Setiap tahun, kami datang untuk melihat-lihat kereta uap yang ada di sini. Kami hobi melihat kereta uap, terutama yang masih digunakan untuk kehidupan sehari-hari, bukan yang untuk pariwisata," kata turis dari Jerman, Bernd Seiler.

Siang itu, ia datang bersama enam turis lainnya dari Swiss, Inggris, dan Belanda. Total, mereka bertujuh datang dari Eropa. Selain ke Tasikmadu, mereka juga datang melihat-lihat dan mendokumentasikan kereta uap di Ambarawa, Solo, dan Cepu. Mereka juga akan melihat kereta uap di Jawa Timur, seperti di Kediri.

"Kondisi lokomotif di sini cukup baik, hanya treknya yang kurang baik namun masih dapat digunakan. Di Eropa, masih banyak kereta uap, namun semuanya digunakan untuk pariwisata, sudah tidak ada seperti yang di Jawa. Misalnya untuk mengangkut tebu," kata Bernd Seiler yang bersama beberapa penulis lainnya mengeluarkan buku Tales of Asian Steam.

Manajer Agrowisata Sondokoro, Megantoro, mengatakan, kereta uap merupakan aset berharga PG Tasikmadu. Selain kereta uap TM VI yang hanya satu-satunya di Indonesia dan langka di dunia, PG Tasikmadu juga memiliki stoom walls yang digerakkan oleh mesin uap yang menarik perhatian pehobi kereta uap.

"Setiap pertengahan musim, kami banyak dapat kunjungan turis wisata minat khusus kereta uap. Setelah rombongan ini, akan ada kunjungan turis dari Jepang dan Eropa," kata Megantoro. (SRI REJEKI)

Lokomotif uap di PG Tasikmadu yg masih bisa dioperasikan adl:
TM I (wisata), TM III (reguler), TM IIIB (wisata), TM V (reguler), TM VB (langsiran), TM VI (reguler), TM VIIB (reguler) dan TM XIV (reguler). Akan menjadi 9 apabila C 1 eks PG Jatibarang berhasil dioperasikan setelah penggantian lebar trek dari 600mm menjadi 750mm. Semoga berhasil.


La wong nunggu sampean fotone malah ilang to mas Yoga..habis kelamaan di simpan..tut..tut..tut..tut..tut..tut..tut..tut..kobong kabeh.Sedih
[/quote]

wkwkwk besok rabu saya mau ke PG Tasik Madu lagi..
ada yang mau ikut..?Playboy


La wong nunggu sampean fotone malah ilang to mas Yoga..habis kelamaan di simpan..tut..tut..tut..tut..tut..tut..tut..tut..kobong kabeh.Sedih
[/quote]

wkwkwk besok rabu saya mau ke PG Tasik Madu lagi..
ada yang mau ikut..?Playboy
[/quote]


@ mas Lori : sayang tidak bersamaan dengan RF kita jadi bisa di dokumentasi..Sedih
@ mas Yoga : nitip saja borong semua loko uap poto habis saja ya..Sedih


La wong nunggu sampean fotone malah ilang to mas Yoga..habis kelamaan di simpan..tut..tut..tut..tut..tut..tut..tut..tut..kobong kabeh.Sedih
[/quote]

wkwkwk besok rabu saya mau ke PG Tasik Madu lagi..
ada yang mau ikut..?Playboy
[/quote]

@ mas Lori : sayang tidak bersamaan dengan RF kita jadi bisa di dokumentasi..Sedih
@ mas Yoga : nitip saja borong semua loko uap poto habis saja ya..Sedih
[/quote]

O iya, sekalian foto C 1 eks Jatibarang apakah sdh siap operasi atau belum


Nama lainnya ya...Ngakak
Cerita lagi dari dunia lori tebu

Quote:Lori-lori Mini yang Terengah-engah Berlari

Arnold Jung telah menua. Dia tergeletak tak berdaya tanpa mesin, tanpa roda, dan tanpa plakat nama serta asal negara di bengkel dan garasi lokomotif Pabrik Gula Rendeng, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Senin (7/6).

Lori uap tua buatan Perancis tahun 1908 itu bersanding dengan saudara kembarnya serta dua lori kembar lain asal Jerman dan Amerika Serikat, yakni Orenstein & Koppel Arthur Koppel (Jerman 1913) dan Vulcan Iron Works atau VIW (USA 1925).

"Keenam lori tersebut diistirahatkan sejak tahun 1975. Lori-lori itu digantikan dengan lori-lori diesel buatan Jerman, Schoema (1973), dan Jepang, Hokuriko (1982)," kata Administratur PG Rendeng Suwito.

Kisah lori-lori tua ini tidak terlepas dari sejarah PG Rendeng yang dibangun pada 1840. Lori-lori tersebut didatangkan secara bertahap, baik pada saat pabrik dikelola Belanda maupun ketika jatuh ke tangan Jepang.

Lori-lori itu berfungsi untuk menarik rangkaian gerbong tebu dari lahan-lahan di seluruh Kabupaten Kudus. Masyarakat Jawa, terutama Kudus, kerap menyebut lori bersama rangkaian gerbongnya sebagai gotrok atau sepur tebu.

Masinis lori uap dan diesel PG Rendeng, Ahmad Yatin (54), mengatakan, biasanya lori-lori itu dikendalikan empat karyawan musiman PG Rendeng. Mereka mempunyai peran yang berbeda-beda, yaitu masinis (pengendali lokomotif), stoker (asisten masinis bagian perapian), tukang gandeng gerbong, dan pengawal.

"Pengawal lori sangat diperlukan karena kerap kali sejumlah warga mengambil batang tebu selama perjalanan menuju pabrik, terutama ketika ada tumpukan tebu yang jatuh dari gerbong dekat permukiman warga," kisah Yatin.

Menurut Yatin, lori-lori tersebut mampu menarik 20-25 gerbong tebu. Satu gerbong tebu berisi lebih kurang satu ton batang tebu. Di Kudus, lori uap dan diesel beroperasi hingga lahan-lahan petani tebu yang berjarak 6-10 kilometer dari PG Rendeng. Waktu tempuhnya 1-2 jam.

"Lantaran daya jelajahnya terbatas, pengangkutan tebu dengan lori digantikan dengan truk. Kini lori-lori diesel beroperasi di sekitar kompleks pabrik, sedangkan lori-lori uap diistirahatkan," kata Yatin.

Ganti suku cadang

Suwito mengemukakan, keenam lori uap tua dapat dioperasikan lagi jika sejumlah suku cadangnya diganti. Kerusakan banyak terjadi pada pipa dan ketel uapnya. Biaya perbaikan per lori mencapai Rp300 juta-Rp500 juta.

"Kami berencana memperbaiki salah satu lori uap itu untuk mendukung agrowisata berbasis pendidikan yang sedang dirintis PG Rendeng. Namun, rutenya masih terbatas hanya di kompleks pabrik karena rel di luar pabrik sudah mangkrak dan sebagian besar hilang atau tertutup bangunan dan jalan-jalan," kata Suwito. (HENDRIYO WIDI)

Sebenarnya dari bacaan ini ternyata ada kesalahan, yaitu pabrik Arnold Jung tdk terletak di Perancis, namun di Jerman, dan armada lok uap PG Rendeng saat ini ada 6 buah dgn perincian nomer 2-7, semua kelas D, serta 5 buatan OK dan 1 buatan JA Maffei AG, Muenchen. Juga no. 2-5 itu bergauge 900mm, lainnya 700mm. Tdk ada lok buatan VIW di PG Rendeng. Kalau lok dieselnya jelas betul keterangannya.


10 milik PG Sumberharjo menuju kebun...

Loko uap PG Sumberharjo emang hebat, setiap musim giling masih setia kluyuran ke kebon tebu narik lori. Fotonya yg lain masih ada mas?