Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: Mblusuk Jalur Lori jaman Belanda
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.
tapi ya tidak semua jalur yg memotong jalan raya itu terkenal kejem mas, contohnya di pg poerwodadie tuh ...

itu masih mending 1 ruas tanpa terotoar..
kalo YK-SLO 2 ruas pake trotoar pula..Ngakak

itu masih mending 1 ruas tanpa terotoar..
kalo YK-SLO 2 ruas pake trotoar pula..Ngakak
[/quote]


Yang ke Jombor itu susah karena juga jalur lori yang lama sudah jadi jalan umum dan bangunan,..oh ya saya tidak punya pesbook yang ada cuma Flickr dan forum S.35...doang..Ngakak
jadi apakah proyek ke djombor itu akan tetep dilanjutkan, mas Eko? Bingung kalo katanya aja di jalurnya tuh udh didirikan rumah penduduk.


Jadi critanya begini pada waktu ngobrol-ngobrol dengan karyawan di waktu istirahat banyak yang setuju kalau lok uap D.8 sudah bisa di fungsikan ada usulan sampai ke Jombor sekalaian untuk wisata jarak jauh, ini kan gagasannya yang peduli dengan lori dan wisata akan tetapi belum sampai ke managemen perusahaan. Karena yang baru di proses oleh managemen adalah gagasan untuk wisata loko uap jalurnya di bikin keluar dari PG yaitu ke arah utara.
Ini inpoh yang ada mas Lori.
oalah, jdi memang baru diproses sama manajemennya. ya kalau bisa dilaksanakan lumayan bgus tuh prospeknya, itung2 wisata keluar pabrik, tdk muter2 saja yg bikin bosan pengunjung. tapi klu wisata jarak jauh ya perlu disiapkan utk jalurnya, waktu perjalanannya dan bekal utk lok uapnya (tender/tangki air). oh ya, mas Eko sdh dengar pg djatibarang membuat Agro Wisata Spoor Tebu blum?

Ngakak saya tahu baru baca di forum ini...terusterang saja ini suatu hal yang sangat bagus untuk PG.Jatibarang salut karena bernuansa sangat compleks ada Haritage, wisata, bisnis dan pendidikan.
Nah yang saya sayangkan adalah PG Colomadu dimana posisi yang sangat strategis malah tidak ada lori wisata padahal kalau di bikin so pasti akan menjadi income besar sekali karena dekat dengan kota besar.
Untuk pecinta lori pada hakekatnya ya baru sebatas individual karena hobby ya sama dengan RF lainnya, cuma yang spesifik saya belum pernah tahu secara organisasi atau wadah. Kalau seperti Mbah Rob Dickinson itu memang specialis loko uap dan itu terjadi karena di luar negri semua yang punya bakat spesifik itu ada suatu lembaga yang memberi sponsor sehingga tidak mikirin yang lain-lain, gaji, fasilitas, pensiun, benefit dan ll. sekarang kalau di Indon masih sebatas senang, cinta dan hobby yang di tampung di suatu wadah ( organisasi ) karena kebutuhan sehari-hari masih mencari sendiri.
Sebagai contoh PT.DJARUM kudus merekrut 2 orang spesial lori dengan memenuhi semua persyaratan, alhasil pasti orang tersebut akan profesional bahkan bisa melacak semua loko uap serta seri numbernya sekaligus, dinasannya di mana serta lama masa baktinya bahkan sifat-sifat tiap loko pun pasti akan terdata.
Kita berada di posisi yang mana ya....?...Bingung
Monggo para lori-is di pun senggaki sing sakeco kemawaon.Xie Xie
menurut saya, kita masih sebatas nge-fans saja ama lori tebu, belum seperti pakdhe Rob Dickinson yg sdh lama wira-wiri di Indonesia hanya utk memotret dan merasakan kehidupan lok uap besar maupun lori di Indonesia. mereka sdh jadi railfans betulan, sedangkan kita? belum bung! ya memang ada sedikit dari kita yg menguasai dunia per-lori-an, tapi sebagian besar memang baru sebatas seneng ama lori tebu ...

ttg pg tjolomadoe yg diceritakan mas Eko, status nya sekarang ditutup total dan kegiatan lori tebu dipindahkan ke pg tasikmadoe (chusus lok 750mm), kecuali utk D 4 yang pindah ke pg bandjaratma dan kemudian dirucat (lok buatan thn. 1938, sebelum PD II). sedangkan menurut data terakhir, masih ada 2 lok uap di dipo tjolomadoe yg dulu berasal dari PG KARTASOERA, yaitu KS 2 dan KS 6 (bergandar 0-8-0T dan lbr gauge 700mm). sdg-kan eks loko tjolomadoe yg pindah ke tasikmadoe adalah:
D 1 RM ACHMAD PARTOMO (Henschel), skrg jadi pompa air utk pemandian di sondokoro
B 3 (Borsig), utk operasional spoor wisata. sukses di-overhaul tahun 2008
D 5 (Orenstein & Koppel), diubah menjadi TM VB. dinas reguler
D 7 (Henschel), dibuah mjd TM VIIB. dinas reguler

sebagian besar mesin di dlm pabrik sdh rusak berat, bahkan ada yg rusak sama sekali ...

foto2 ketika pg tjolomadoe masih beroperasi (foto oleh Pakdhe Rob Dickinson)

B 3 ketika dinas di emplasemen lori pg tjolomadoe


KS 2 ketika pulang dari kebon tebu, di belakang kelihatan sedikit cerobong asap pg tjolomadoe


D 4 bersama petugas pg tjolomadoe


D 4 di sore hari, sebelum pulang ke pabrik (diapit Gn. Merapi dan Gn. Merbabu)


D 7 di tahun2 terakhir hidupnya pg tjolomadoe


SUMBER:


Itu posisi gambarnya 3 dan 4 di ambil pada jalan antara desa klegen sampai ngasem, dan gambar no.5 di depan desa madoh serta tahun 1987 saya sempat menyaksikan kejataan ini.