Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: Mblusuk Jalur Lori jaman Belanda
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.

Ane juga bingung, karena cabangnya ke N.I.S. Bukan karena apa, soalnya rel N.I.S lintas (Solo) Balapan - Klaten - Toegoe (Djocjakarta) itu double gauge (1435 mm dan 1067 mm). Jadinya bingung yg mana cabangnya. Bisa jadi keduanya. Coba kalau cabangnya yg ke SS, pasti sudah jelas cabangnya 1067 mm.
Sundul aaahh nih thread. Sepertinya lama sekali tidak ada yg membalas.

[/quote]

Tambahin penampakan jembatannya. Ini penampakan dari jalan kampung dari sebelah jembatan.

[spoiler][/spoiler]


Ini penampakan dari dasar Kali Brantas.

[spoiler][/spoiler]

Tambahi lagi nih. Kali ini saya akan ulas eks jalur decauville yg pernah lewat di sebelahnya Carrefour Blimbing, yg sekarang terlihat seperti jembatan.

Ini perbandingan peta jadul tahun 1930 dengan Google Earth tahun 2014. Garis merah putus2 menandakan lokasi eks jalur decauville. Garis biru putus2 menandakan lokasi eks jalur Malang Stoomtram. Garis kuning menandakan jalur SS yg sekarang masih aktif. Yg saya kasih lingkaran dan kotak berwarna kuning adalah lokasi yg saya tinjau. Ini petanya.

[spoiler][/spoiler]


Eks railbed jalur decauville Sf. Kebon Agoeng dilihat dari sisi Barat underpass, dari atas underpass (samping Barat jalan raya Kayutangan - Blimbing).

[spoiler][/spoiler]


Eks railbed jalur decauville Sf. Kebon Agoeng dilihat dari sisi Timur underpass, dari atas underpass (samping Timur jalan raya Kayutangan - Blimbing).

[spoiler][/spoiler]


Eks railbed jalur decauville Sf. Kebon Agoeng dilihat dari dasar railbed (bawah underpass), menghadap kearah Modjolangoe (arah Barat).

[spoiler][/spoiler]


Eks railbed jalur decauville Sf. Kebon Agoeng dilihat dari dasar railbed (bawah underpass), menghadap kearah Ardjosari (arah Timur).

[spoiler][/spoiler]
Tambahi lagi nih fotonya. Saya yakin mungkin rekan2 belum banyak yg pernah kesini. Saya saja taunya dari sama2 penggemar lori, mas Indra Tjahjana. Tapi langsung 'to the point'. Di waduk Selorejo yg berlokasi di Kabupaten Malang yg sudah berbatasan dengan Kabupaten Blitar (Kabupaten Malang bagian Barat Daya), terdapat monumen lokomotif decauville bermerk Schoema/Diema yg dibuat untuk mengenang jasa2nya yg membantu membangun waduk Selorejo. Sayang sekarang lokomotif tersebut terabaikan dan terlihat seperti onggokan besi tua.

[spoiler="Lokomotif dilihat dari kompartemen mesin, dimana mesin2nya sudah diambil entah sama siapa dan kemana."][/spoiler]


[spoiler="Lokomotif dilihat dari depan."][/spoiler]


[spoiler="Lokomotif dilihat dari belakang."][/spoiler]


[spoiler="Lokomotif dilihat dari dalam kabin masinis yg menunjukkan kursi masinis dan tuas penggerak."][/spoiler]


[spoiler="Lokomotif dilihat dari dalam kabin masinis yg menunjukkan tuas penggerak dan (sepertinya) roda untuk pengereman."][/spoiler]
mas yg ka tanya tuas penggerak itu sebenarnya Rem & yg sprtiroda itu sebenarnya throtleNgikik

BingungDi selorejo bagian mana mas

Ente ngomong ke siapa mas? Maksudnya apa?
prnh liat lok merana d besi tua sblh trminal tmbak osowilangun sby.psisi d sblh jln pas.foto mnyusul

mas, lebar/gauge nya berapa ini? 700mm kah?
Heran
Hmm, lumayan juga, ternyata ada yg balas. Ane kira forum ini jadi mati dan cuma ane doank yg jawab. Ngikik

Hmm, ya, coba ane jawab pertanyaannya satu per satu.


Oh iya, tolong banget donk mas! Malaikat Ane lagi butuh tuh fotonya!, kapan hari jadi diskusi sama RF luar. Ane bolak balik lewat Jl. Kalianak, bolak balik naik motor Surabaya - Gresik menuju ke tempat kerja ane di Gresik, ane ga pernah lihat tuh lok. Apa ane yg kelewatan ya? Ane minta juga ya mas fotonya. Tolong kirimin ke ane via email, di aditya_cholisi@yahoo.co.uk.


Pas ane ke lokasi sih, ane ga bawa meteran soalnya ga kepikiran utk bawa meteran. Tapi kalau dilihat sepintas sih sepertinya iya, gaugenya 700 mm, karena gauge decauville pada umumnya dan yg sering dipakai adalah 700 mm.
Ane tambahin lagi nih foto2 eks jalur decauvillenya. Kali ini ane update liputan jalur decauvillenya eks Sf. Sempalwadak yg kemudian diakuisisi Sf. Kebon Agoeng, daerah Kabupaten Malang bagian Selatan, Jawa Timur.

Utk awal2, ane kasih foto jembatan jalan dan eks decauville milik Sf. Kebon Agoeng yg berada di sebelah Selatan terminal angkot Gadang (sekarang namanya dirubah menjadi terminal Hamid Rusdi).

[spoiler="Difoto dari atas jembatan, alias tampak dari atas jembatan."][/spoiler]


[spoiler="Difoto dari (hampir) dasar Kali Brantas."][/spoiler]


3 foto berikutnya adalah foto eks jembatan jalur decauville eks Sf. Sempalwadak (yg kemudian digunakan oleh Sf. Kebon Agoeng) yg lokasinya di desa Jambearjo, sebelah Timur desa dan pasar Bululawang, Kabupaten Malang Selatan, Jawa Timur. Jembatan ini menghubungkan afdeeling di Tangkilsari dan Karangrejo dengan afdeeling di Krebetsenggrong. Jembatan ini melewati dua kali yg sejajar, satu kalinya lebih kecil dan lebih dangkal, dan yg satu lagi melewati Kali Manten yg lebih lebar, dalam dan alirannya lebih deras.

[spoiler="Foto Google Earth tahun 2014 utk menunjukkan lokasi jembatan decauvillenya. Garis merah putus2 menandakan eks jalur decauville Sf. Kebon Agoeng/Sf. Sempalwadak. Garis biru putus2 menandakan eks jalur Malang Stoomtram."][/spoiler]


[spoiler="Eks jembatan decauville di desa Jambearjo di foto dari bawah pondasi jembatan."][/spoiler]


[spoiler="Masih di jembatan yg sama, tapi difoto dari agak kejauhan."][/spoiler]


Selamat menikmati. Tersenyuum