Semboyan35 Indonesian Railfans

Full Version: Mblusuk Jalur Lori jaman Belanda
You're currently viewing a stripped down version of our content. View the full version with proper formatting.

Di Madiun saja ada 6 pabrik gula yaitu PG Redjoagung yg dulunya milik "Raja Gula" Oei Tiong Ham, PG Kanigoro, PG Pagottan, PG Poerwodadie, PG Redjosarie a.k.a. Gorang-gareng dan PG Soedhono yg letaknya condong ke Ngawi. Kebanyakan msh mengoperasikan lok uap, bahkan PG Soedhono baru saja menghidupkan 1 lok uapnya yaitu C 3. Sebenarnya ada 2 yaitu C 6 namun lok yg terachir ini dinilai terlalu panjang shg batal dioperasikan. PG Poerwodadie jg unik krn relnya menyebrangi jalan AKAP Solo-Madiun via Magetan serta jembatan sbg penghubung antara truck yard dgn pabrik.

PG Redjosarie selain sbg pemilik lok unik D 10 SALAK jg saksi bisu Madiun Affair thn 1948. PG Pagottan tercatat smp sekarang msh mengoperasikan 2 lok uap Luttermoller-nya yaitu E 6 dan E 7 serta lokasinya dkat dgn pasar, dan pd jaman dulu relnya berseberangan dgn rel Madiun-Ponorogo-Slaung. PG Kanigoro msh mengoperasikan 3 lok uap berwarna biru yaitu D 2, D 6 dan D 11 ex Redjosarie. Pokoknya bnyk hal unik di PG-PG Madiun.

kalau saya mendengarkan keluh kesah para pegawai pabrik gula mereka pada mengeluhkan tentang sulitnya untuk mencari tebu dikarenakan minat para petani yang sudah tidak tertarik lagi untuk menanam tebu karena kurang menguntungkan, nah dari permasalahan itu kalo' terjadi dalam jangka waktu yang lama efeknya pabrik gula kekurangan bahan dan berdampak pada penutupan pabrik gula satu demi satu, itu yang tidak kita sadari bahwa akan berdampak juga kepada kelangsungan hidup loko uap koleksi negara kita ini, beberapa waktu lalu sudah saya lemparkan sebuah wacana diskusi di facebook2 pecinta kereta uap tapi ga' ada respon,bahwa kita harus merubah keadaan ini yang mana dengan membicarakan langkah yang konkrit bahwa sumbernya dari tebu sebagai bahan utama, makanya saya punya gagasan untuk kerjasama dengan dinas pertanian serta semua perguruan tinggi fakultas pertanian untuk mencoba mengadakan penelitian & pengembangan tentang kwalitas tebu dan untuk rekayasa genetika sehingga bisa memperoleh varian baru bibit tebu yang bisa cepat dipanen & berkwalitas bagus, dan kalo' bisa hasil terbaik ato hak cipta dibeli oleh dinas pertanian dan dikembangkan untuk ditanam,sehingga bertanam tebu bisa menjadi primadona bagi para petani untuk mendapatkan hasil ato keuntungan yang memadai, itu nanti efeknya saya kira besar bagi bangsa ini yaitu dari segi pemenuhan kebutuhan gula nasional yang mana produksi nasional masih kekurangan sekitar 1juta ton per tahun akan tercukupi, yang kedua akan berdampak pada ketenaga kerjaan yang akan bisa menyerap lebih besar, yang ketiga pabrik gula yang ada bisa tetap bertahan syukur bisa menghidupkan yang sudah mati, yang keempat tentunya loko uap akan selalu bisa kita lihat mondar-mandir setiap saat karena kesibukannya untuk proses giling seperti kita lihat sejarah bangsa ini kira2 100 tahun yang lalu, bahwa indonesia adalah termasuk pusat produksi gula terbesar dunia...Kapan ya...
Ni gambar salah satu lok uap yg dipakai di bekas jalur lori yang ada Kadirojo (di postingan awal threat ini) yang sudah saya janjikan



Sekarang lok uap ini menjadi pajangan di depan sebuah rumah makan yang terletak tidak jauh dari lokasi bekas rel lori ini. Ada ralat informasi juga kalau jalur lori ini tidak langsung ke Pabrik Gula Gondang tetapi ke Pabrik Gula Tanjung Brebah, Kalasan (Sekarang sudah tidak ada) dan dahulu di Kadirojo bukan pabrik gula namun hanya gudang tebu dan kantor perusahaan pabrik gula

Kalo kita lihat scr seksama lok uap ini sepertinya buatan JA Maffei scr umum ya... Maffei 0-4-0T tapi dari PG mana? Pernah nyoba ngukur lebar relnya gak, mas Baskoro?
wah belum mas...tapi saya lihat kayaknya 1067 mm. Pokoknya lebih besar dari lebar lori biasanya (katanya yg punya dulu nyambung ke stasiun kalasan baru ke PG Tanjung di daerah Brebah, Kalasan) tapi relnya kecil kaya rel2 lori tebu biasanya. Mohon dibantu juga mas...

Tapi menurut saya (pendapat) itu loko lebar relnya tdk sampai 1067 deh, boilernya kecil banget... paling antara 600-750 mm lah kalo buat lok perintis semacam ini.

Tak tampilin foto panjenengan versi gedhenya

Tapi menurut saya (pendapat) itu loko lebar relnya tdk sampai 1067 deh, boilernya kecil banget... paling antara 600-750 mm lah kalo buat lok perintis semacam ini.

Tak tampilin foto panjenengan versi gedhenya

[/quote]


Ya ya betul loko perintis ini mas Lori..kok saya sampai tidak tahu posisi loko ini kalau di daerah sekitar kalasan ya.Bingung
terimakasih mas. Iya mas 750 mm...bru inget saya! lagipula dulu jalur antara Yogya-Solo ada 3 buah sepur dengan ukuran berbeda. 750 mm, 1067 mm, dan 1435 mm. Tapi yg saya heran yang punya dpt darimana ya? Saya lupa tanya yg punya...Terimakasih mas atas pencerahannya...

PG.SEMBORO msh gling cm wkt lebrn libur slama 1minggu n tgl 16 kemaren udah mulai giling.
kndisi lok uapx lg bu2 semua dg nyenyak d dalam dipo.n be2rapa lok dieselx lg kluyuran.
kykx untuk ngecek rel aja.

memang masalah tebu jd kendala utama,tp PG yg akan brtahan adl jatiroto cz dia punya puluhan ribu hektar sawah sndiri.tp sayangx jatiroto g punya lok uap yg aktif.

@wildan: pnelitian tentng masa depan PG sudah dilakukan dri dulu.
wkt q maen k PG.JATIROTO q dapet info lo ada rencana perubahan tebu menjadi aren(klo g salah cz q lupa).
karena tanaman itu lebih optimal untuk d manfaatkn menjadi gula.tp itu msh d teliti lg n dalam tahap rencana saja.
mohon koreksix.

Di Madiun saja ada 6 pabrik gula yaitu PG Redjoagung yg dulunya milik "Raja Gula" Oei Tiong Ham, PG Kanigoro, PG Pagottan, PG Poerwodadie, PG Redjosarie a.k.a. Gorang-gareng dan PG Soedhono yg letaknya condong ke Ngawi. Kebanyakan msh mengoperasikan lok uap, bahkan PG Soedhono baru saja menghidupkan 1 lok uapnya yaitu C 3. Sebenarnya ada 2 yaitu C 6 namun lok yg terachir ini dinilai terlalu panjang shg batal dioperasikan. PG Poerwodadie jg unik krn relnya menyebrangi jalan AKAP Solo-Madiun via Magetan serta jembatan sbg penghubung antara truck yard dgn pabrik.

PG Redjosarie selain sbg pemilik lok unik D 10 SALAK jg saksi bisu Madiun Affair thn 1948. PG Pagottan tercatat smp sekarang msh mengoperasikan 2 lok uap Luttermoller-nya yaitu E 6 dan E 7 serta lokasinya dkat dgn pasar, dan pd jaman dulu relnya berseberangan dgn rel Madiun-Ponorogo-Slaung. PG Kanigoro msh mengoperasikan 3 lok uap berwarna biru yaitu D 2, D 6 dan D 11 ex Redjosarie. Pokoknya bnyk hal unik di PG-PG Madiun.
[/quote]

Saat lebaran pulang kampung tahun 2005, saya mblusuk rel PG. Rejoangung.. ke arah barat.. saya menemukan rel lori diatas jembatan bengawan madiun (ga sempet foto).. saat ini sepertinya tidak dipakai, namun saksi menyatakan klo dulu ini satu2nya rel lori yang menyebrangi sungai bengawan madiun ???Bingung
Madiun.. kota penuh dengan rel lori Xie Xie bangga punya nenek tinggal disana..