Salam,
Beberapa saat lalu (4 Nopember 2009) ane naik Bantek (Jakk-Serpong). Biasanya waktu ada kondektur, tinggal nunjukin KTB kartu udah beres.
Tapi barusan kebetulan kondektur ngomong kalo KTB ane itu adalah KTB Jabotabek, sedangkan harusnya adalah KTB yang bentuknya lembaran kertas. Katanya itu masuknya ke KAI (mungkin yang dimaksud keuangan/pendapatannya kali ya???).
Nah, ane mulai bingung nih...., emangnya beda ya pengelolaan uang KA Jabotabek dengan KA Lokal?? Tanpa sosialisasi dari KAI, mana tahu penumpang umum harusnya beli KTB jenis yang mana???
Mungkin RF atau pihak KAI bisa bantu menjelaskan....
Ini memang yang kurang disosialisasi, sementara para penumpang tahunya hanya Naik Kereta dan diantar sampai tujuan.
Sebagai railfans, sebenarnya gampang saja membedakannya. Rangkaian dengan lokomotif dan KD pasti milik PTKA, sedangkan seluruh KL adalah milik PTKCJ.
Tinggal naiknya disesuaikan dengan KTB yang dimilikinya ajah.
(04-Dec-2009 06:16 PM)hedwigus Wrote: [ -> ]Ini memang yang kurang disosialisasi, sementara para penumpang tahunya hanya Naik Kereta dan diantar sampai tujuan.
Sebagai railfans, sebenarnya gampang saja membedakannya. Rangkaian dengan lokomotif dan KD pasti milik PTKA, sedangkan seluruh KL adalah milik PTKCJ.
Tinggal naiknya disesuaikan dengan KTB yang dimilikinya ajah.
ooo... thks om Hed, sekarang untuk membedakan ane jadi tahu. Cuman untuk terkait kata "milik" ini ane belum ngeh nih.... bukankah semuanya di bawah PTKAI ataukah PTKCJ ini di-sub-kan di bawah PTKAI....??? btw income dari penjualan tiket beda juga masuknya?? Sudah adakah thread yang bahas ini??
yang saya tahu..rangkaian KRL masih tetap dibawah kendali PT. Kereta Api Indonesia (Persero),tapi "dipinjamkan" untuk dipakai KCJ melayani penumpang komuter..
kalau pendapatan sepertinya berbeda..uang dari non KRL masuk ke KAI,sedangkan dari KRL masuk KCJ..
CMIIW
kasus klasik = dilarang pakai karcis KRL untuk numpang odong-odong walaupun hanya sampai stasiun Bekasi.
(05-Dec-2009 12:43 AM)Shin Muhammad Wrote: [ -> ]kasus klasik = dilarang pakai karcis KRL untuk numpang odong-odong walaupun hanya sampai stasiun Bekasi.
Tapi waktu O-o terakhir diberangkatkan dari Kota aku pernah denger "Penumpang Tujuan bekasi bisa menaiki KA Patas tujuan Purwakarta"
(05-Dec-2009 10:44 AM)titotea Wrote: [ -> ] (05-Dec-2009 12:43 AM)Shin Muhammad Wrote: [ -> ]kasus klasik = dilarang pakai karcis KRL untuk numpang odong-odong walaupun hanya sampai stasiun Bekasi.
Tapi waktu O-o terakhir diberangkatkan dari Kota aku pernah denger "Penumpang Tujuan bekasi bisa menaiki KA Patas tujuan Purwakarta"
dulu ada juga kejadian, anak SMA atau SMP itu, dia naek odong-odong pake KTB KRL, padahal cuman sampai stasiun Bekasi. Tapi, disuruh bayar denda.
Entah PKD/KLnya yang brengsek, atau kebijakan dari Daop 1 yang begitu.
Kalimat menjebak ni
Quote:"Penumpang Tujuan bekasi bisa menaiki KA Patas tujuan Purwakarta"
Maksudnya penumpang yang mau ke bekasi bisa naik PATAS purwakarta dengan syarat beli tiket ka odong2 PWK

barusan ane ke st serpong untuk menukar KTB komuter dengan KTB langsam, ee...ternyata di st serpong yang ada cuman KTB comuter...trus penjaga loket malah bilang "kondekturnya aja yang gak ngerti mas..., gak apa-apa (naik kereta odong2) pake KTB itu"...Lah.... ini gimana sih PTKAI harusnya jual juga KTB langsam dong di stasiun serpong... masak orang serpong harus belinya ke parung atau rangkas????
masih kacau nih..banyak yang miss komunikasi..kalau mau enak ya tanya ke KS apakah KTB COmmuter bisa dipake lokal...
Tapi selama ini saya pake KTB commuter buat naik odong2 rangkas dari JAKK-Duri ampe sekarang gak pernah didenda
trit idup lg neh....nah yang punya daptar KTB KOmuter dan LOkal tolong di share disini yah, ane jg butuh info neh, ane kan pengguna lintas komuter JAKK - JNG, kenapa KTB nya harus JAKK - BKS ?
(17-Jul-2010 08:37 AM)bonbon Wrote: [ -> ]trit idup lg neh....nah yang punya daptar KTB KOmuter dan LOkal tolong di share disini yah, ane jg butuh info neh, ane kan pengguna lintas komuter JAKK - JNG, kenapa KTB nya harus JAKK - BKS ?
Begini, karena komuter JAKK-JNG terintegrasi dalam lintas JAKK-BKS, maka sistem ticketing KTB-nya disatukan menjadi lintas JAKK-BKS agar penumpang yang menuju BKS tidak perlu repot lagi membeli tiket kedua di JNG.
Quote:dulu ada juga kejadian, anak SMA atau SMP itu, dia naek odong-odong pake KTB KRL, padahal cuman sampai stasiun Bekasi. Tapi, disuruh bayar denda.
Memang begitu saya cross-check ke salah satu petugas KL di SRP beberapa waktu yang lalu, ada aturan bahwa sistem ticketing KRL Commuter itu terpisah dari KA lokal, dalam artian pendapatan dari KRL Commuter masuk ke kas PT. KCJ sedangkan pendapatan dari KA eko lokal masuk ke kas PT. KAI Daop I, sehingga KTB atau "abu" Commuter tak berlaku di dalam KA lokal dan penumpang yang nekat dapat dikenai suplisi.
KTB untuk KA lokal itu sebenarnya berupa secarik kertas karton seperti tiket harian namun ukurannya sedikit lebih besar, ukurannya +/- seperti KTB Prameks (CMIIW, karena saya tahu ini dari wawancara dengan KL di SRP).
Quote:"kondekturnya aja yang gak ngerti mas..., gak apa-apa (naik kereta odong2) pake KTB itu"
Itu menandakan ada miskoordinasi antara petugas loket SRP dan KP dengan KS setempat, sehingga penjualan KTB KA eko lokal dianggap sudah diwakili oleh KTB untuk KRL Commuter oleh petugas loket tsb, yang mana sebenarnya tidaklah demikian karena tarif masing-masing berbeda jauh dan kepemilikan rangkaiannya juga berbeda.
Sekali lagi, CMIIW.
kenapa nggak sekalian aja..Yang naik odong-odong rangkas dengan tiket KRL didenda..
padahal tarif nya 1500 juga. kebijakan tidak populer
udeh sering banged kyk gini jadi ribet aja sejak komuter terpisah

rejekinya di pisah2 gitu
"Out of Topic"
Yang aneh tuh Stasiun Kampung Bandan, ane beli tiket KRL Ekonomi di kasih tiketnya KA Lokal, bijimane neh ? lebih baek KA Lokal permberangkatannya dari ujung stasiun komuter aja, misal KA Lokal dari Bekasi buat yg ke Cikampek/Purwakarta, Parung panjang buat yg ke Rangkasbitung, mksdnya jgn masuk wilayah komuter, jd pengen bikin polling neh 